
Suamiku menyukai wanita muda yang cantik namun bodoh, yang naif, yang dapat dikekang dan mudah dikendalikan. Tapi dia malah menjadikanku sebagai pasangannya. Betapa bodohnya dia.
Kudengar putra tiriku mati dibunuh oleh Ratu Penyihir Utara. Dan kini ribuan pasukan kami telah siap untuk menuntut balas. Biar lah mereka menumpahkan darah dan berperang. Qin tidak akan tinggal diam. Dia mungkin akan ikut serta ke Utara untuk mencincang Raja Utara yang baru saja kembali dari kematian itu beserta istrinya yang seorang penyihir itu. Yi sejak dulu adalah putra favoritnya. Selalu begitu, karena putraku, putra kami, penyakitan. Haru terlahir dengan kondisi kesehatan yang membuatnya tidak bisa berlama-lama berada di bawah sinar matahari. Fisiknya lemah. Kulitnya sepucat orang-orang utara. Tapi, Demi Para Naga, putraku secerdas diriku.
Yi mirip dengan ayahnya. Pencinta wanita yang tidak akan tinggal diam saat tahu Ratu Utara yang memiliki kecantikan tiada tara itu menjanda. Dia berpikir bahwa akan mudah merebut Negeri Es itu dari tangan Sang Ratu. Dia pikir mudah merayunya ke atas ranjang. Semua juga tahu Eleanor Winterthur tidak bodoh dan merupakan salah satu penyihir paling berbakat. Entah bagaimana Sang Ratu berhasil membuat Yi menunggu dengan tenang dan kemudian membawa suaminya dari kematian. Mungkin sejak awal Raja Xavier tidak mati. Mungkin sejak awal mereka memang memiliki rencana mereka sendiri. Bukan urusanku.
Urusanku adalah dengan calon Ratu Selatan. Penyihir muda dengan bakat luar biasa dan harus kuakui, sangat cerdik seperti rubah. Siapa namanya? Luna? Entah lah. Tapi katanya Raja Selatan yang masih muda belia itu akan segera menikahinya segera setelah kakaknya yang sudah tidak bisa bicara itu dinikahkan dengan entah pria sial mana.
Haru, putraku, memberitahuku bahwa calon Ratu Selatan itu menunjukkan barang yang sangat bagus padanya. Morta. Racun yang dibuat dengan sihir dan dapat mematikan dengan sangat cepat. Sangat ampuh. Dia menjualnya dengan harga yang terjangkau dengan syarat kami tidak akan menggunakannya untuk menyerang Schiereiland. Tentu saja dia tahu target kami adalah Nordhalbinsel. Kuduga dia ingin balas dendam dengan Negeri Es itu. Entah dendam kesumat apa yang dia miliki hingga ingin menghancurkan suatu kerajaan.
Pangeran Yi bukan dibunuh oleh Ratu Eleanor, tentu saja. Dia terlalu bersemangat mendatangi penyihir cantik itu hingga tidak menyadari bahwa sebagian pasukannya sebenarnya berpihak pada putraku. Mereka memasukkan Morta dalam anggurnya. Dan kuduga, Haru sudah mengurus orang suruhannya itu. Haru pintar. Dia tidak pernah meninggalkan jejak. Siapa pun yang meracuni Yi pasti sudah mati agar tidak dapat mengkhianati kami dan memberi saksi. Tidak ada saksi hidup yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Dan dengan tertuduhnya Ratu Eleanor sebagai pembunuh putra kesayangan Kaisar, kami akhirnya menemukan alasan untuk menyerang Negeri itu saat keadaannya sedang sangat lemah. Qin tidak akan memaafkan mereka yang telah membunuh putranya. Dan sementara Qin beserta pasukannya berperang untuk membalas dendam, aku hanya perlu duduk manis sambil mendengarkan alunan dawai para pemusik Istana. Qin akan mati dalam perang itu—akan kupastikan hal itu—kemudian putraku lah yang akan menjadi Kaisar.
Rencanaku sempurna.
"Ibunda..." Suara putraku yang lembut membuyarkan lamunanku.
Haru berusia empat puluh dua tahun ini. Tapi siapa pun yang melihatnya dapat percaya kalau dia mengatakan usianya dua puluh empat sekalipun. Bahkan aku tak akan menyangkal bahwa Qin juga tidak menua usai ulang tahunnya yang ke tiga puluh beberapa puluh tahun silam. Orang-orang yang memujiku mungkin adalah para penjilat, tapi aku tahu yang mereka katakan bukan kebohongan, aku masih secantik dan semuda diriku sebelum menikah dengan Qin. Rahasianya bukan karena leluhur kami. Bukan karena darah Naga seperti yang dikatakan orang-orang. Tapi teknologi kami. Orient jauh lebih maju dari negara mana pun. Kami menyatukan sihir, kekayaan alam kami dan teknologi tingkat tinggi untuk membuat krim serta minuman yang dapat membuat kami awet muda. Tentu saja hanya untuk para bangsawan dan orang-orang yang mampu membelinya.
"Bicaralah, Putraku." Ucapku selembut mungkin.
"Saya mendapat kabar kurang mengenakan hati."
Haru tidak pernah terlihat ragu. Fisiknya memang lemah, tapi dia tidak pernah ragu. Dia selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kecerdasannya berasal dariku, tentu saja. Sayangnya, dia masih belum punya keturunan. Istrinya tidak berguna, menurutku. Hanya cantik dan berasal dari keluarga bangsawan terhormat. Tapi sampai sekarang masih belum menghasilkan apa pun. Padahal sudah kubilang pada Haru untuk mencari selir, tapi anak baik itu tidak mau. Dia bilang aku terlihat sangat sengsara karena Qin memiliki banyak selir, jadi dia tidak akan melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Nanti saja kupikirkan soal hal itu. Segera setelah Haru menjadi Kaisar, akan kumusnahkan wanita tak berguna itu.
"Putraku, katakan lah. Apa yang membuatmu begitu gusar di hari yang cerah ini?" Desakku.
"Naga kembar..." Haru menelan ludah sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. "Menghilang. Kaze dan Shuu menghilang, Ibunda."
Aku harus tenang. Naga Kembar adalah kekayaan kekaisaran. Harta paling berharga. Senjata paling mematikan. Dengan menguasai Naga Kembar, rakyat sepenuhnya percaya pada kami. Pada Kaisar. Bahwa Kaisar adalah pilihan Sang Raja Naga. Bahwa Kaisar adalah keturunan Naga Api Agung dan Ratu Agung Zhera—Demi Para Naga, rakyat masih saja percaya pada dongeng lama itu. Tapi jika Naga Kembar tidak ada, di saat Haru menjadi Kaisar, maka kami akan sangat kerepotan. Rakyat hanya mendukung Kaisar yang mendapat berkah dari para Naga. Bisa-bisa mereka mengungkap dosa lama Qin yang menghabisi keluarga Kaisar yang sebelumnya.
Soal itu, ada jalan keluarnya. Kami hanya perlu mengutus para Pelacak Naga. Orang-orang yang terlahir dengan Mata Naga. Mereka dapat membantu kami menemukan kembali Naga Kembar. Seharusnya Haru juga tahu akan hal itu. Jadi kenapa dia masih terlihat sekalut ini?
"Ada lagi, Putraku?"
"Benar, Ibunda." Haru kemudian memberi isyarat padaku. Aku tahu maksudnya. Pembicaraan selanjutnya tidak boleh didengar siapa pun. Aku segera memerintahkan semua orang untuk pergi meninggalkan ruanganku.
"Apa gerangan yang membuatmu resah, Putraku? Ceritakan padaku semuanya."
"Saya mendengar desas-desus di ibukota." Haru memulai. Suaranya pelan seolah tembok Istana dapat membeberkan rahasianya. "Putri Seo-Hwa... Putri Kaisar sebelum ayahanda... sepertinya akan datang dan merebut kembali takhta yang menjadi miliknya."
...****************...