
Anna dan Xavier melanjutkan perjalanan menuju luar gua dengan mengikuti jejak Earithear. Perjalanan kini terasa lebih mudah baginya setelah Earithear menyembuhkannya. Anna tidak lagi berpegangan pada Xavier dan mereka berjalan agak berjauhan. Seharusnya mereka bisa melangkah lebih cepat dan keluar dari gua itu lebih cepat. Tapi isi pikiran Anna yang semrawut membuat dirinya tidak bisa melangkah dengan cepat. Dia memikirkan banyak hal terutama setelah Earithear tadi berusaha mengembalikan seluruh ingatannya. Dia memikirkan suara tangis yang tadi didengarnya. Dia memikirkan suara Xavier yang berbisik padanya—pada mayatnya. Kenapa Earithear ingin dia mengingat semuanya? Kenapa Xavier mencegahnya?
Tapi di atas semuanya, Anna memikirkan kembali perkataan Xavier saat dia mencegah Anna mengikuti Earithear. Anna memang tidak ingin memanfaatkan kekuatan Earithear maupun naga lainnya untuk kepentingan apa pun. Anna juga tidak berniat mengumpulkan jantung naga. Anna hanya ingin mencari naga untuk menemukan Alexis. Karena Alexis sedang mencari para naga. Karena Anna ingin Alexis dapat segera menduduki takhtanya di Schiereiland serta mengembalikan kerajaan mereka seperti sedia kala. Tapi betulkah begitu? Anna sendiri bertanya-tanya apakah dia mungkin memiliki keinginan lain yang tidak dimengertinya. Dia memang ingin menemukan para naga. Sesuatu, sebagian dari dirinya ingin bertemu kembali dengan para naga, merindukan mereka. Tapi dia tahu dia harus membiarkan mereka pergi dengan bebas.
"Kata-katamu tadi..." Kata Anna akhirnya.
Xavier menoleh, "Yang mana?"
"Biarkan pergi."
"Kenapa dengan itu?"
Kini Anna menghentikan langkahnya. Dia tahu harus membahas ini dengan Xavier cepat atau lambat. Hal ini sudah lama mengganggu pikirannya dan dia harus mengutarakannya segera. Anna memberanikan diri menatap kedua mata emerald itu. Xavier menanti.
"Aku tidak akan mengambil jantungmu. Aku juga tidak mau memanfaatkanmu. Kau seharusnya bisa pergi, Xavier."
Xavier mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung. "Bukankah kita harus menemukan Putra Mahkota Alexis terlebih dahulu?"
"Benar. Tapi Nordhalbinsel membutuhkanmu. Ratu Eleanor mungkin menunggumu. Dan kau seharusnya mementingkan kerajaanmu dan Ratumu di atas apa pun. Kau seharusnya bisa kabur diam-diam dan pergi meninggalkan kami. Kenapa tak melakukannya?"
Ratu Eleanor, pikir Anna. Xavier sudah menikah. Anna kembali mengingatkan dirinya.
"Kalau kau benar-benar mengingatnya dengan baik, kau tentu tahu bahwa selain dirimu dan keinginanmu, tidak ada yang lebih penting bagiku."
Ini terasa salah bagi Anna. Seharusnya Xavier senang saat Anna menyuruhnya kembali ke kerajaannya. Kenapa dia malah berkata seperti itu? Batin Anna kembali berdebat.
Pertahankan dia. Dia akan membantumu. Lepaskan dia. Dia bukan milikmu.
"Itu dulu." Ucap Anna dengan tegas. "Kenapa disebut ingatan, karena itu sudah terjadi. Sudah lama sekali. Seribu tahun yang lalu. Sekarang situasinya berbeda. Kau memiliki kerajaanmu sendiri dan Ratumu sendiri."
"Elle bukan—“
"Kalau pun kalian hanya menikah untuk formalitas dan untuk menjadikannya Ratu, untuk menjaga takhtamu, dia tetap Ratumu. Dia tetap istrimu. Kau tetap milik Nordhalbinsel. Milik kerajaanmu. Musuh kerajaanku."
Anna akhirnya dapat mengucapkannya dengan tegas. Menarik batas antara dirinya dengan Xavier yang sudah seharusnya menempati takhtanya sebagai Raja dari kerajaan musuhnya. Tapi bagian lain dari dirinya, yang mengingat masa lalu yang indah seperti dalam dongeng, yang menginginkan Xavier, ingin Anna menarik kembali ucapan itu.
"Kau mau aku kembali ke kerajaanku? Lalu memerangi kerajaanmu? Itukah keinginanmu?"
"Bukan itu yang kumaksud. Jika kau kembali ke Nordhalbinsel, kau bisa menjadi Raja di sana. Kau punya kuasa untuk melepas Schiereiland sehingga tidak perlu ada perang."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
Kini Xavier berpaling. Dia menjauh dari Anna. Seolah takut padanya. "Selena tetap ada. Schiereiland bukan direbut oleh Nordhalbinsel. Melainkan oleh Selena. Orang-orangnya lah yang saat ini menduduki posisi-posisi penting dan menguasai Schiereiland. Atas perintahnya."
Perkataan itu membuat Anna kembali teringat pada perkataan Tuan Schmidt. Negeri itu kini sudah hancur karena dikuasai Nordhalbinsel.
Dan dia jelas ingat bahwa Xavier mengatakan kalau Sang Raja sekarat. Bahwa selama ini dirinya lah yang melakukan pekerjaan Raja. Tapi bukan Xavier yang membuat negerinya hancur. Bukan pula Raja Vlad yang sekarat yang membuat negerinya hancur. Selena lah yang menguasai Schiereiland. Selena tidak bekerja sendiri. Dia memiliki orang-orang yang mengikutinya. Dan orang-orang itu kini menduduki posisi-posisi penting di Schiereiland. Mereka mungkin juga penyihir, atau bangsawan yang memiliki kekuasaan atau anggota Black Mamba, Anna tidak tahu. Mereka mungkin mengalahkan para bangsawan Schiereiland beserta pasukan mereka. Entah apa yang terjadi pada para bangsawan di Schiereiland.
Anna membayangkan wilayah Smirnoff yang dahulu dikuasai oleh keluarga ibunya kini dikuasai oleh salah satu orang kepercayaan Selena. Bukan hanya wilayah itu saja. Mungkin juga semua wilayah di Schiereiland sudah dikuasai oleh para pengikut Selena. Itukah sebabnya tidak banyak pengikut Selena di wilayah Nordhalbinsel? Itukah sebabnya Eleanor dapat menjadi Ratu? Suara pendukungnya lebih banyak dari pada pendukung Selena dalam ruang rapat karena para pendukung Selena sudah ditempatkan di Schiereiland. Karena mereka sudah menguasai Schiereiland.
Memikirkan semua itu, perut Anna rasanya melilit seperti habis menelan bola api yang siap meledak dan menghancurkan organ dalam tubuhnya.
Negerinya sehancur apa saat ini? Bagaimana dengan para bangsawan? Apakah mereka semua mati? Atau diasingkan? Dipenjara? Disiksa? Para bangsawan adalah kerabat dekat Raja. Saudara-saudara dari Raja terdahulu. Mereka tidak semuanya baik, namun Anna mengenal mereka. Mereka lah yang akan mendukung Alexis untuk menempati takhta sekembalinya Alexis ke Schiereiland. Kalau begitu, percuma saja dirinya kembali ke kerajaannya dengan membawa Alexis. Tidak akan ada yang mendukung mereka.
Lalu bagaimana nasib para rakyat? Anna mengingat para rakyat yang membantunya membuat aliran air sungai. Yang berjuang bersamanya mempertahankan kepemilikan air sungai Scheine. Anna mengingat para ibu yang ditemuinya di pasar di hari saat dia akan menjual kalung dari ibunya, mereka menjadi teman mengobrol Anna hari itu setelah lama dia tidak bicara pada siapa pun. Anna mengingat kakak laki-laki Louis yang pintar dan ayah Louis di Kleinesdorf. Kepala desa dan para warga yang telah berbaik hati memberikan bekal berupa hasil jerih payah mereka untuk Anna dan Leon saat mereka akan berangkat ke Nordhalbinsel. Para rakyat tetap mau berjuang meski ditinggal mati oleh Raja mereka. Apakah perjuangan mereka saat itu sia-sia belaka?
"Kau tidak memberitahukan itu pada kami sebelumnya. Apa lagi yang belum kau beritahu?" Tanpa sadar Anna meninggikan nada suaranya.
"Anna—“
"Kalau begitu kenapa tidak melawannya? Lawan Selena. Aku dan Leon akan membantumu kalau perlu." Anna memutar otak. Selena memang penyihir hebat. Tapi Leon Jenderal yang tak terkalahkan dan Xavier adalah Naga Api Agung. Seharusnya tidak sulit untuk mengalahkan Selena.
Xavier tertawa getir. "Kau tahu kenapa Elle memberi Selena hukuman pengasingan alih-alih hukuman mati?"
Anna menggeleng.
"Dia tidak boleh di bunuh. Aku melarang Elle untuk membunuhnya. Dia harus tetap hidup paling tidak sampai... Sampai aku sudah..."
Ada lagi, pikir Anna. Berapa banyak kebenaran yang Xavier ucapkan selama ini? Dan berapa banyak lagi rahasia yang belum dia beritahu?
Tentu saja ada banyak rahasia. Anna sudah memikirkannya. Itulah yang mengganggunya selama ini sehingga dia belakangan ini sering melamun. Dia tidak mau mencurigai Xavier. Dia tahu Xavier selama ini benar-benar tulus berbuat baik padanya. Tapi mungkin hanya padanya.
"Katakan." Tuntut Anna. "Jangan menyembunyikan apa pun lagi dariku."
Xavier tampak terkejut. Seolah dia akhirnya sadar bahwa Anna mungkin saja tahu apa saja yang dia rahasiakan darinya. "Apa?"
Anna menghela napas. "Tujuan awalmu bukan aku, Xavier. Sejak awal, kau membuat pengumuman terkait pemilihan pengawal pribadimu, kau sudah menargetkan seseorang. Dan orang itu bukan aku."
Xavier terdiam. Anna tahu itu artinya dia benar. Dan Xavier enggan mengatakannya. Entah karena dia merasa bersalah telah menyembunyikan rahasia dari Anna, atau karena dia merasa rencananya mungkin akan gagal jika dia mengatakannya.
Saat tahu Xavier tidak akan mengatakan apa pun, Anna memutuskan untuk melanjutkannya. Membongkar apa saja yang mungkin dirahasiakan oleh Xavier darinya. Tapi dalam hati Anna berharap dia hanya terlalu curiga. Anna berharap tuduhannya salah.
"Bahkan mungkin kau sudah merencanakannya sebelum itu." Lanjut Anna. Dia mengingat kembali pembicaraannya dengan Leon di bawah pohon Goddess Tear. Salah satu potongan puzzle yang sempat luput dari perhatiannya. "Grand Duke Wolfgang Winterthur tidak setua itu. Beliau masih sehat dan masih cukup kuat serta mahir dalam berpedang untuk menjadi Jenderal yang menjaga wilayah utara Nordhalbinsel. Tidak ada alasan baginya untuk melepas kuasanya sebagai Jenderal. Seharusnya paling tidak dia bisa bertugas sampai lima tahun ke depan. Tapi tiba-tiba saja beliau menyatakan menyerahkan tanggung jawab itu pada putranya. Awalnya aku bahkan tidak memperhatikannya. Kupikir itu hal yang lumrah di utara. Sekarang semuanya jelas."
"Apa maksudmu?"
Anna menyadari Xavier bukan bertanya karena tidak tahu atau karena berpura-pura tidak tahu. Xavier sedang mencari tahu apa saja yang sudah Anna ketahui.
"Kau meminta Grand Duke Winterthur untuk mundur dari posisinya sebagai Jenderal serta menyerahkan tanggung jawab itu pada Elias. Elias menjadi Jenderal sehingga dia harus pergi ke wilayah utara dan tidak bisa lagi menjadi pengawal pribadimu. Itu juga bagian dari rencanamu. Padahal kau bahkan tidak memerlukan pengawal pribadi. Kau Naga Api Agung. Tidak ada yang benar-benar bisa membunuhmu." Saat itu Anna mengingat perkataan Elias Winterthur saat mereka berkuda bersama di hutan Fiore mencari Jenderal Arianne Montreux yang menghilang tiba-tiba. Tidak ada orang yang bisa melukainya. Saat itu Anna tidak terlalu mengerti. Tapi sekarang dia tahu maksudnya.
Anna melanjutkan, "Kau sengaja memasang pengumuman itu di mana-mana yang menyatakan baik pria maupun wanita, dari segala usia dan dari berbagai tempat boleh ikut serta dalam pemilihan pengawal pribadi putra mahkota. Kau..." Anna tidak langsung melanjutkan perkataannya. Jika tuduhanku salah, sekarang lah saatnya kau menyangkalnya. Kumohon. Katakan kalau aku salah. Anna memohon dalam hati.
"Teruskan."
"Kau menginginkan Leon atau sesuatu dari Leon. Kau sengaja memasang pengumuman itu bahkan sampai ke pasar di desa kecil yang mayoritas penduduknya tidak bisa membaca. Kau berharap Leon masih hidup di suatu tempat dan melihat pengumuman itu, lalu mengikuti pemilihan itu. Kau semakin yakin bahwa Leon masih hidup setelah kau menemukan emblem singa miliknya. Leon akan berhasil dengan mudah, dia akan menjadi pengawal pribadimu. Dia akan masuk ke Istana."
Kini Xavier menunduk. Tahu lah Anna bahwa dia benar. Kecurigaannya selama ini bukan tanpa alasan. Dia mengenal Xavier sebagaimana Ratu Agung Zhera mengenal Naga Api Agung. Dia tahu betapa cerdasnya Xavier sejak kehidupan mereka yang sebelumnya. Pandai bersiasat dan merahasiakan sesuatu. Sebelum ini pun dia adalah Raja para naga yang sudah hidup lebih lama dari para manusia. Apa yang membuat Anna percaya dengan gamblang bahwa semua yang Xavier lakukan adalah hal yang baik? Baik baginya, mungkin saja. Anna sendiri tahu Xavier tidak akan melakukan hal buruk padanya. Tapi belum tentu hal itu adalah baik bagi kerajaannya atau orang-orang di sekitarnya.
Anna sendiri terkejut saat dia akhirnya menarik garis besar kesimpulan dari semua ini.
Dia menatap Xavier yang masih menghindari tatapan Anna. Amarah menyeruak masuk mengisi rongga dalam dirinya, memenuhinya. Anna masih berdoa dalam hati mudah-mudahan ini hanya kecurigaannya saja.
"Jebakan kah itu, Xavier? Apakah Ibuku dan Adikku hanya sebagai umpan? Kau menyelamatkan mereka, menyembunyikan mereka di Istana Ratu, agar Leon datang untuk mengeluarkan mereka dari Istana? Aku adalah variabel yang tak ada dalam perhitungan rencanamu sebelumnya, bukan? Kau tidak menyangka bahwa alih-alih seorang Jenderal terkenal yang kuat dan tak terkalahkan, seorang putri lemah yang tak dikenal dari kerajaan yang sudah ditaklukkan ternyata masih hidup dan malah ikut dalam pemilihan pengawal pribadi putra mahkota. Dan kenyataan bahwa aku adalah Ratu Agung Zhera juga tidak ada dalam perhitunganmu sehingga membuat rencanamu jadi berantakan. Sehingga kita berdua hampir mati saat itu di tebing. Apa itu benar?"
"Anna..."
"Katakan!"
"Itu benar." Jawabnya.
...****************...