The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 25 : Les Elphènes et Les Esthers



Karena Nicholas belum juga sampai usai sarapan mereka, Anna memutuskan untuk berjalan-jalan di taman samping Istana. Taman itu merupakan versi kecil dari taman mawar yang dia miliki di Istana Schiereiland. Nicholas berencana membuat taman itu jadi semirip mungkin dengan taman miliknya agar setelah mereka menikah dan pindah ke Istana tersebut, rasa rindunya terhadap Istana Schiereiland dapat terobati. Rencana itu mestinya berhasil jika mereka benar-benar jadi menikah. Taman itu benar-benar mirip dengan miliknya.


"Anna?"


Anna menoleh, mencari sumber suara.


Xavier tidak jauh di belakangnya. Mengikuti langkahnya sejak tadi tanpa dia sadari. Lagi-lagi dia terlarut dalam pikirannya hingga tidak menyadari hal-hal di sekitarnya.


"Kau melamun." Kata Xavier sambil mempercepat langkah, menyusulnya. "Aku sejak tadi memanggilmu."


"Maaf." lagi-lagi hanya itu yang bisa dia katakan.


Sebenarnya, banyak kata maaf yang ingin dia ucapkan pada Xavier sebanyak kata maaf yang sudah Xavier ucapkan padanya. Dan setelah mimpi semalam, daftar permintaan maaf itu sepertinya semakin panjang.


Maaf karena telah menjadi hukuman untukmu. Maaf karena telah membuatmu kehilangan keabadianmu.


"Kau melakukannya lagi. Belakangan ini kau jadi lebih sering meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuatmu sampai perlu minta maaf." Xavier kini sudah ada di sampingnya, menyamakan langkahnya. Anna mengamati Xavier yang tampak terkesan dengan taman tersebut seolah baru pertama kali melihat taman penuh dengan bunga mawar. Tapi pemandangan di tempat itu memang menakjubkan. Musim semi di Schiereiland selalu menakjubkan, dengan langit biru cerah, burung-burung bercuit di pepohonan, diiringi suara debur ombak samar tidak jauh dari Istana dan mawar-mawar yang bermekaran sepanjang mata memandang. "Di Nordhalbinsel tidak ada yang seperti ini. Aku tidak bisa berhenti mengagumi keindahan alam kerajaanmu. Dan Nick sepertinya punya selera yang bagus. Kudengar dia membuat Istana dan taman ini khusus untukmu."


"Dia meniru taman di Istanaku." Anna mengurungkan niat untuk menjelaskan lebih lanjut.


Mereka menapaki jalanan di taman mawar itu seperti saat dulu mereka berjalan-jalan di taman Tulip kristal di Nordhalbinsel. Seperti saat dulu mereka berjalan-jalan bersama di taman Istana mereka seribu tahun yang lalu.


Anna tidak mau mengingatnya, tapi ingatan itu muncul begitu saja.


Dulu kami memang sering berjalan-jalan di taman usai waktu sarapan dan sebelum memulai rapat pagi bersama para petinggi negara lainnya. Atau sebelum Zuidlijk mencariku. Atau sebelum Nordlijk yang masih bayi terbangun dan menangis.


"Biar kutebak..." Xavier berkata sebelum Anna benar-benar terhanyut pada ingatannya.


"Apa?"


"Dulu, seribu tahun yang lalu, aku tidak makan dan minum. Aku tidak butuh semua hal manusiawi itu. Jadi aku tidak punya kebiasaan makan apa pun. Tadi itu... Apa Jenderal Leon tidak bisa makan keju juga?"


Jeda lama sebelum Anna benar-benar bisa menjawab. "Benar."


Xavier mengangguk paham, seolah satu misteri baru terpecahkan. "Untungnya kau langsung mencegah pelayan tadi. Terima kasih. Sungguh. Aku sangat berterima kasih. Kau baru saja menyelamatkanku dari apa yang bisa diperbuat oleh semangkuk keju yang keji itu padaku." Dia menoleh ke arah Anna di sampingnya, mengalihkan pandangannya dari mawar-mawar yang bermekaran di hadapannya.


Anna tersenyum, rona kemerahan muncul di wajahnya. "Kuanggap kita impas."


"Tentu saja. Kita impas." Xavier tidak dapat mengalihkan pandangannya. Sudah lama dia ingin melihat senyuman itu lagi di wajah Anna. Dia ingin melihat senyuman itu lebih sering lagi, setiap harinya, selama sisa hidupnya jika bisa. Tapi dia tahu dia tidak bisa. "Mau ikut denganku? Ada yang ingin kutunjukkan padamu."


Anna mengikutinya.


Dan Xavier ternyata membawanya ke kamarnya.


Kamar itu tidak lebih luas dari kamar yang Anna tempati. Dan jika kamar Anna menghadap langsung ke pemandangan pesisir pantai, kamar Xavier yang berseberangan dengan kamarnya menghadap langsung ke pemandangan pegunungan. Dari balkon kamar itu, Anna dapat melihat hamparan luas rumput hijau yang bagaikan permadani emerald. Di kejauhan, Anna dapat melihat rombongan sapi yang sedang merumput serta para gembala yang sedang beristirahat di bawah rindangnya pepohonan sambil memakan bekal makanan. Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu sederhana tampak mengisi padang rumput tersebut, mengelilingi sebuah danau besar yang sangat jernih. Saking jernihnya, ikan-ikan yang ada di sana dapat terlihat jelas. Di sekitar rumah masing-masing terdapat lahan kecil yang dipagari yang ditanami beraneka sayur dan tanaman berbunga beraneka warna. Lebih jauh lagi dari rumah para penduduk dan danau, terdapat deretan pegunungan Elphènes yang membentang luas. Di balik pegunungan hijau Elphènes, terdapat pegunungan yang puncak-puncaknya lebih tinggi dan ditutupi salju. Anna tidak tahu ada pemandangan seindah ini di kerajaannya.


Sangat indah.


"Itu adalah Esthers." Jelas Xavier. "Pegunungan bersalju yang ada di belakang pegunungan Elphènes."


"Elphène dan Esther. Aku pernah membaca tentang mereka. Kisah yang tragis." Kata Anna tanpa mengalihkan tatapannya dari pemandangan indah di hadapannya. "Elphène adalah Dewa yang jatuh cinta pada manusia, seorang gadis desa yang wajahnya secantik hatinya. Dia turun ke bumi dan menjadi manusia, seorang pemuda desa biasa. Tapi Esther sudah dijodohkan dengan seorang saudagar kaya dari kota. Mereka diam-diam bertemu setiap malam diantara padang hijau dan tanah bersalju. Suatu malam, Esther tidak datang. Elphène mendapat kabar bahwa Si Saudagar tahu hubungan mereka dan membunuh Esther. Elphène mengakhiri hidupnya malam itu di padang rumput. Esther belum mati. Dia hanya datang terlambat karena berusaha melarikan diri dari rumah. Dia bersiap untuk kabur dengan membawa seluruh tabungannya untuk hidup bersama Elphène di tanah bersalju yang sepi penduduk. Saat melihat mayat Elphène, Esther hanya bisa menangis di sana, di antara padang rumput dan tanah bersalju. Badai salju membuatnya mati kedinginan. Jasad mereka berubah menjadi dua pegunungan itu."


Hening sesaat. Anna menangis saat pertama kali membaca cerita itu dulu di perpustakaan istana. Leon sempat mengejeknya, 'kenapa kau suka sekali membaca dongeng seperti ini?' lalu dia mengatakan bahwa cerita itu konyol dan tidak masuk akal. Kini setelah dia lebih dewasa, Anna setuju pada pendapat Leon. Dia berpikir Elphène dan Esther mungkin bisa hidup lebih baik jika saja mereka bisa lebih berpikir jernih. Jika saja Esther memberitahu kabarnya, jika saja Elphène menunggu sedikit lebih lama dan tidak mudah percaya pada kabar burung yang belum tentu benar adanya, tapi, mungkin cinta membuat mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih.


Xavier memecah keheningan, "Jadi, kau sering membaca dongeng rupanya." Tatapannya beralih dari pegunungan ke Anna yang masih memandangi pegunungan itu.


Anna menoleh, tatapannya penuh tanya, "Jadi... itu benar-benar hanya dongeng?"


"Sayangnya, tidak." Xavier kembali menatap Elphènes dan Esthers. "Itu sungguhan. Mereka berdua sungguhan. Aku mengenal Dewa Elphène, jauh sebelum aku bertemu denganmu, sewaktu aku masih membenci manusia. Aku juga sempat memperingatkannya sebelum dia turun ke bumi, bahwa dia seharusnya tidak mencintai manusia. Bahwa manusia cepat mati. Tapi dia tidak mendengarkanku."


"Tidak juga. Harapan Dewa Elphène terkabul. Dia hanya ingin berada di sisi wanita yang dia cintai selamanya. Dewi Langit mengabulkannya, kurasa. Meski sebagai dua pegunungan yang telah berdiri selama berabad-abad, yang penting mereka bersama selamanya. Mereka beruntung." Xavier menghela nafas. "Sebenarnya, tujuanku mengajakmu ke sini bukan untuk mengenang kisah mereka. Aku hanya mau menunjukkan pemandangan itu. Dan memberitahu bahwa dibalik Esthers, ada kerajaan Nordhalbinsel. Rumahku. Negeri Musim Dingin Abadi. La cour de l'hiver éternel.”


Anna paham maksud perkataan Xavier.


Di balik pegunungan bersalju itu, ada Leon. Entah sedang melakukan apa. Apa sarapannya pagi ini? Apa dia bahkan sudah makan? Apakah dia baik-baik saja di sana? Anna memandangi deretan pegunungan bersalju itu dengan penuh rindu.


"Kelihatannya tidak terlalu jauh." Komentar Anna akhirnya.


"Memang tidak. Kau bisa mengirim surat untuknya kalau kau mau."


Anna menoleh ke arah Xavier. Tidak mengatakan apa pun dan hanya memperhatikannya. Bertanya-tanya apa maksud tersembunyi dibalik kata-katanya itu.


Karena Anna tidak mengatakan apa pun, maka Xavier melanjutkan, "Memanggil Elias untuk membawa Jenderal Leon atau menyampaikan surat melalui dia memang lebih cepat. Tapi kurang efisien. Dia sedang sibuk karena tugas-tugas yang kuberikan padanya. Pekerjaannya ada banyak dan dia mudah marah kalau diganggu saat sedang sibuk. Kita sebaiknya tidak terlalu sering memanggilnya." Xavier kemudian berbalik, Anna mengikuti arah pandangnya. Di salah satu sudut ruang kamarnya, terdapat seekor elang sedang bertengger di dalam sangkar. Anna bertanya-tanya kapan Xavier membawa elang tersebut. "Dia bukan elang sungguhan. Salah satu makhluk sihir ciptaan Elle. Elang itu hanya akan mengirimkan surat pada salah satu dari si kembar Winterthur dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik, suratnya akan sampai pada salah satu dari mereka dan mereka akan menyampaikannya pada Jenderal Leon. Kalau kau ingin merahasiakan isi suratmu, kau bisa menggunakan pena Grimoire jadi hanya Jenderal Leon yang dapat mengetahui isinya. Jangan khawatir, kau tidak akan menanggung kutukan pena itu karena aku, sebagai pemegangnya saat ini, sudah mengizinkannya."


"Kenapa kau memberitahuku hal ini?" Tanya Anna akhirnya.


"Kau merindukannya dan mengkhawatirkannya. Terlihat sangat jelas." Anna memalingkan wajahnya saat Xavier menatapnya, kembali menatap pegunungan bersalju itu. Xavier mengamati perubahan emosi Anna dengan hati-hati sebelum melanjutkan, "Kau tidak perlu meminta prajurit bayangan keluarga Rochelle untuk menjemputnya. Mereka takkan bisa melewati para serigala keluarga Winterthur. Lagi pula Jenderal Leon seharusnya tidak lama di sana jika Elle berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Aku meminta Elle mengajarinya sihir agar dia tidak benar-benar 'buta' saat berhadapan langsung dengan sihir Selena."


"Kau menguping pembicaraanku dengan Rumelle di ruang ganti?"


Anna memang sempat berbicara dengan Rumelle saat Sang Duchess membantunya memakai gaun pengantin cadangan di kamarnya. Rumelle juga sudah tahu bahwa dia adalah Putri Anastasia yang dikabarkan telah mati. Anna meminta bantuannya saat itu, sebagai rencana cadangan. Tidak dia sangka bahwa Xavier sudah mengetahui hal itu.


"Tidak. Bukan itu." Jawab Xavier dengan tenang.


"Lalu apa? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku sudah tahu Leon berada di Nordhalbinsel? Dari mana kau tahu—“


Seperti ini.


Anna menghentikan kata-katanya, terperangah. Xavier tidak menggerakkan bibirnya sama sekali tapi Anna dapat mendengar perkataannya dengan jelas di kepalanya.


Xavier menelengkan kepala, setelah beberapa waktu tidak ada respons apa pun dari Anna, dia kembali berkata. Kau mendengarku?


Anna mengangguk pelan. Masih bingung.


Coba katakan sesuatu. Apa saja.


Sejak kapan kau bisa membaca pikiranku? Balas Anna.


Xavier tertawa.


Jika ada yang melihat mereka saat itu, pasti akan terlihat aneh. Mereka tidak saling mengatakan apa pun, berdiri di balkon, bertatapan cukup lama lalu tiba-tiba Xavier tertawa. Siapa pun yang melihatnya akan berpendapat bahwa Sang Putra Mahkota sudah gila.


Seandainya saja aku bisa... Tidak. Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Ini berbeda dengan membaca pikiran. Ini mirip seperti saluran komunikasi rahasia diantara kita, tapi hanya kau yang bisa membuka dan menutupnya. Kau membukakan pintu itu belakangan ini dan dibiarkan terbuka begitu saja, jadi saat kau bicara, aku mau tak mau bisa mendengarnya. Pintu menuju saluran ini hanya bisa diakses oleh kami, para naga, atas izinmu tentu saja. Dan... kurasa hal-hal seperti ini terjadi setelah kejadian dengan Earithear di gua.


Tentu saja. Seharusnya ini bukan kejutan baginya. Seperti halnya kemampuan berpedangnya yang tiba-tiba meningkat drastis, kemampuan memanahnya yang tiba-tiba muncul, dia kini dapat menghubungi para naga dengan saluran komunikasi rahasia di kepalanya. Semua itu terjadi setelah Earithear berusaha mengembalikan ingatannya di gua itu.


Anna mengangguk-angguk. Aku ingat sekarang. Seperti ini lah cara kita dulu berkomunikasi dalam perang.


Benar.


Mereka diam beberapa saat, sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Anna menutup saluran itu, hal yang ternyata sudah sangat dikuasainya dengan baik. Sangat alami seolah sudah terbiasa melakukannya. Dia hanya memandangi pemandangan dari balkon kamar Xavier. Pegunungan hijau Elphènes yang berdampingan dengan pegunungan salju Esthers. Pasangan yang selalu berdampingan tapi tidak pernah bisa bersatu.


"Apa kau bisa mendengar naga lainnya?" Tanya Xavier akhirnya. "Karena aku hanya mendengar suaramu."


Anna menggeleng. "Tidak ada. Hanya ada kau dan aku di sana."


...****************...