
Mereka terus berlari sambil bergandengan tangan. Tanpa sepatah kata pun, mereka sudah berjanji akan diam dan melupakan hal yang baru saja mereka saksikan.
Orang-orang utara itu sepertinya tidak terlalu memperhatikan sepasang remaja Orient berusia lima belas dan tiga belas tahun yang berlari keluar dari mansion mewah yang mereka tempati selama berada di Nordhalbinsel. Yang mereka awasi adalah orang yang berusaha masuk, bukan orang-orang yang keluar dari sana.
Akan lebih mudah jika mereka dapat merubah wujud dan terbang di langit atau berenang di samudra, namun mereka sedang berada di pusat kota Noord. Terlalu banyak orang yang akan melihat mereka. Mereka juga tidak yakin orang-orang itu akan bersujud dan menyembah jika melihat dua naga di hadapan mereka seperti orang-orang Orient. Orang-orang utara mungkin memang tidak asing dengan legenda empat naga dan Ratu Agung Zhera, tapi belum tentu Naga Kembar itu akan disembah sebagaimana mereka disembah di Orient.
"Kita akan terus berlari, Shuu. Kita bisa kembali ke Orient, atau bersembunyi di Westeria. Aku tidak peduli asalkan kita bisa pergi dari sini."
"Kita sebenarnya tidak perlu lari. Bukan kita pelakunya."
"Tapi kita saksi! Kita saksi hidup. Orang-orang yang jahat bisa memutarbalikkan fakta dan menuduh kita sebagai pembunuh. Kita bisa mencari Raja dan Ratu kita. Atau ke mana pun yang penting kita harus pergi jauh." Kaze sudah bersikeras, jadi Shuu pun akan mengikuti kemauan gadis kecil itu.
Jadi itulah yang mereka lakukan. Berlari dan terus berlari hingga mereka menemukan tempat yang cukup tersembunyi untuk merubah wujud mereka menjadi dua naga. Naga Kembar. Air dan Angin. Lautan dan Langit. Itulah mereka.
Saat Kaze menyatu dengan udara, terbang di langit bebas, Shuu berenang di lautan dingin Nordhalbinsel. Entah sudah berapa lama mereka tidak merasa sebebas itu. Di Orient, mereka terus menerus berada di dalam Istana. Mereka memang dipuja di sana, tapi mereka lebih merasa seperti peliharaan Kaisar alih-alih menjadi semacam dewa dan dewi. Di langit dan di lautan lah tempat mereka dapat benar-benar hidup bebas. Tapi mereka tidak akan selamanya seperti itu. Mereka sedang kabur dari Pasukan Pangeran Yi. Mendiang Pangeran Yi. Pangeran Yi telah tewas dan mereka menjadi saksi. Orang-orang akan mulai mencari mereka entah untuk menuduh atau untuk menginterogasi, jadi mereka harus pergi. Mencari suaka. Mencari tempat aman bagi dua remaja. Mencari saudara dan saudari mereka. Mencari Sang Raja dan Sang Ratu yang konon sudah hidup kembali.
Tapi saat Sang Naga Angin sedang menikmati terbang di langit, dia merasakan sakit pada jantungnya, sehingga dia mau tak mau terbang rendah menuju samudra di bawahnya. Sang Naga Air yang turut merasakan sakit yang serupa pada jantungnya, berenang lebih dekat ke permukaan air.
"Apa itu?" Tanya Kaze, masih dalam wujud naganya.
"Kau merasakannya juga?" Tanya Shuu.
Kaze menggeram sebagai ganti anggukan. Petir menyambar-nyambar di langit saat dia menggeram. "Earithear... Naga Bumi..." Bisiknya, lirih. Tapi dia tidak mau menyebutkan kata-kata mengerikan selanjutnya. Dia tidak sanggup. Dia tahu apa yang terjadi pada saudarinya itu. Kehampaan yang dia rasakan mustahil salah dikenali. Air matanya mengalir, jatuh ke samudra.
Hari itu, meski di seluruh daratan yang memiliki empat musim sedang musim semi, tapi di Nordhalbinsel turun salju.
"Aku tahu." Kata Shuu. Suaranya tenang dan terkendali, tapi di saat yang sama, air bergejolak, membentuk ombak-ombak besar. Para nelayan mengurungkan niat mereka untuk berlayar karena badai yang datang tiba-tiba. Badai yang muncul akibat duka Naga yang kehilangan saudari mereka.
"Kita harus menemukan Raja dan Ratu kita segera."
...****************...
Anna mengingat masa kecilnya di Istana.
Putri kecil itu menggigil kedinginan di balik selimutnya. Padahal Raja sudah mengumumkan bahwa musim semi datang lebih awal tahun ini, tapi udara masih terlalu dingin meski matahari sudah bersinar cerah.
Anastasia... Putriku... Suara lembut Sang Ratu membangunkannya.
Saat dia bangun, senyuman Sang Ratu menyambutnya. Sang Ratu tersenyum saat melihat putrinya yang sangat dia sayangi itu. Suara Sang Putri kecil itu memanggilnya, "Ibu?"
Sepertinya Sang Ratu tahu bahwa Putri kecilnya kedinginan, jadi Sang Ratu mendekapnya. Dekapan itu terasa seperti matahari musim semi yang menghangatkan. "Musim semi sudah tiba, putriku. Lihat lah..."
Itu bukan mimpi. Seharusnya Anna sudah tahu sejak awal bahwa apa yang dia ingat samar-samar dari masa kecilnya itu bukan mimpi.
Ibunya adalah Earithear. Perwujudan alam. Pembawa musim semi. Pelindung bumi. Ibunya lah yang membuat musim semi selalu datang lebih awal di Schiereiland. Ibunya juga yang membuat mawar-mawar di tamannya di Istana selalu mekar dengan indah setiap harinya. Dia membangunkan pohon-pohon yang tertidur sepanjang musim dingin, memekarkan bunga-bunga di taman dan menyebar kehangatan ke seluruh bumi.
Saat dia menanyakan bagaimana ibunya bisa melakukan semua itu, ibunya hanya tersenyum sedih. Tanpa membuka mulutnya sama sekali, Sang Ratu berkata dalam saluran mereka, Ini adalah bakat rahasia ibu. Sekarang ini akan jadi rahasia kita berdua.
Baru sekarang Anna mengetahui, itulah pertama kalinya Ratu Isabella, Ibunya, menyebutnya sebagai 'bakat' setelah selama seumur hidupnya, mendiang Grand Duchess menyebut karunianya itu sebagai 'keanehan'. Sesuatu yang tidak biasa dan tidak bisa diterima. Sesuatu yang harus dia sembunyikan selamanya. Saat itu, di depan putrinya, Sang Ratu dapat menunjukkan jati dirinya sendiri tanpa perlu merasa takut.
Ingatan itu membuatnya kesulitan bernafas.
Fajar sudah menyingsing. Semburat merahnya menghiasi langit. Anna masih duduk di atas tanah basah hutan itu.
Saat Naga mati, jasadnya akan menghilang bersama udara. Jadi tidak ada jasad yang tersisa di bumi untuk dikuburkan maupun ditangisi. Tidak ada tangan lembut ibunya yang dapat dia genggam untuk terakhir kalinya. Tidak ada pusara yang dapat dia kunjungi di kemudian hari setiap kali dia merindukan ibunya.
Anna masih menggenggam kalung permata emerald itu. Paling tidak hanya itu yang tersisa dari Earithear. Dari ibunya. Tapi tidak ada denyut. Jantung yang ada di dalamnya sudah berhenti berdetak.
Xavier masih mendekapnya, berusaha mengumpulkan serpihan hati Anna yang pecah dan hancur karena kematian ibunya, berusaha membuatnya utuh kembali. Tapi sepertinya itu akan sulit baginya karena Anna merasa benar-benar hancur. Air mata masih belum berhenti mengalir dari matanya yang berwarna merah. Kematian ibunya terasa seperti mimpi. Mimpi buruk. Tapi bedanya, dia tidak bisa terbangun. Mimpi buruk itu tidak pernah berakhir dan dia terjebak di dalamnya untuk selamanya.
Entah sudah berapa jam berlalu. Anna akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan sisa energinya dan berdiri. Langit sudah terang. Tapi dia masih menatap ke kekosongan di hadapannya. Di tempat seharusnya jasad ibunya berada. Sekarang tidak ada apa pun di sana. Bahkan tidak ada bercak darah. Hanya ada sisa-sisa panah yang sebelumnya menancap di sekujur tubuh ibunya. Anna mengambil salah satu anak panah itu, mengamatinya. Anna tahu panah siapa itu.
"Maafkan aku..." Kata Xavier saat melihat anak panah itu seolah itu adalah anak panah miliknya. Seolah dia lah yang menembakkan anak panah itu pada Earithear. Xavier mengenali panah itu lebih dari siapa pun, tapi Anna juga mengenali anak panah itu sebaik Xavier. Itu bukan panah merah, tapi ujung anak panahnya berwarna hitam. Bukan panah milik anggota Red Queen. Bukan milik Constanza. Itu adalah panah prajurit Nordhalbinsel. Panah dari negara yang seharusnya Xavier pimpin sebagai Raja. Panah yang dilumuri racun Morta itu adalah milik negaranya.
"Mereka membunuhnya." Anna mengalihkan pandangannya dari anak panah itu ke Xavier, "Mereka membunuh ibuku... Setelah ayahku, kini ibuku juga... Lalu siapa lagi?"
"Maafkan aku, Anna... Saat aku lewat, mereka sudah tidak ada di sana. Mereka sudah pindah ke tempat lain. Aku harusnya bisa membakar dan menghanguskan mereka—“
"Bukan itu." Anna menggeleng. Tatapan matanya memberitahu Xavier hal mengerikan selanjutnya yang bisa terjadi setelah kematian ibunya. "Kalau kau juga..." Anna berhenti sejenak, tidak benar-benar bisa melanjutkan kalimatnya. "Kalau kau juga mati, aku harus bagaimana?" Suaranya pecah. Sulit baginya untuk mengucapkannya. "Aku tidak akan punya siapa-siapa lagi jika kau juga pergi."
Xavier menyeka air mata Anna. Jemarinya menghangatkan dan menenangkan. "Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan mati. Aku berjanji. Aku akan selalu ada untukmu."
Anna mengangguk. Mempercayai kata-kata itu, sekaligus berharap bahwa itu bukan sekedar janji kosong. Dapatkah seseorang benar-benar berjanji untuk tidak mati?
"Ayo kita kembali." Anna tidak mengenali suaranya sendiri. Suaranya terdengar begitu jauh, begitu hampa hingga dia sendiri tidak tahu apa benar-benar dirinya yang mengucapkannya. "Constanza dan yang lainnya pasti menunggu."
...****************...
Saat mereka keluar dari hutan menuju tempat reruntuhan menara, peperangan tengah menanti di depan mata.
Dari tempat yang lebih tinggi mereka dapat melihat betapa kacaunya situasi di hadapan mereka saat ini. Seolah keheningan di hutan tadi hanyalah mimpi. Pasukan Nordhalbinsel melawan para Pasukan Ratu dan anggota Red Queen. Jumlah mereka terlampau banyak, mungkin ratusan, sehingga Pasukan Ratu merasa kewalahan menghadapi mereka. Dari kejauhan sekali pun Anna dapat melihat Constanza tak hentinya berusaha menembakkan sebanyak mungkin anak panah yang berlumur Morta pada musuh mereka. Tapi mereka kalah jumlah. Mereka akan kalah.
Saat Anna sudah meraih busur dan anak panahnya dengan tangannya yang masih gemetar, Xavier menahannya. "Kau sedang tidak stabil. Bahaya kalau meleset. Mereka akan menyelesaikan semuanya. Mereka saja cukup." Katanya.
Anna mengikuti arah pandang Xavier. Dari kejauhan, dari tiap sela pepohonan hutan, muncul ratusan serigala dengan ukuran yang lebih besar dari serigala yang selama ini Anna lihat. Serigala yang paling depan, yang memimpin mereka, tampak sebesar kuda dan berbulu seputih salju. Serigala itu melolong, disambut dengan lolongan kawanannya. Dan dalam sekejap saja, taring-taring mereka, cakar-cakar mereka sudah mencabik-cabik para prajurit Nordhalbinsel. Mereka membantu Pasukan Ratu dan Red Queen. Berbeda dengan manusia, para serigala itu menyerang tanpa ampun. Tidak ada sifat kemanusiaan dalam diri mereka, mereka menyerang tanpa memberi kesempatan pada musuh. Bulu-bulu mereka dipenuhi cipratan darah. Taring-taring mereka mengoyak tubuh-tubuh musuh mereka seperti sedang pesta makan steak. Sebagian prajurit berteriak dan lari dari serangan para serigala, sebagian lagi bahkan tidak punya waktu untuk berteriak.
Anna tidak sanggup melihatnya. Dia tidak ingin lagi melihat pertumpahan darah, bahkan meski itu darah musuhnya. Sudah cukup.
"Seperti ini lah kita..." Suara Anna yang pelan tenggelam dibalik suara-suara pertempuran sengit di hadapannya.
Tapi Xavier di sampingnya dapat mendengarnya dengan sangat jelas. "Apa maksudmu?"
"Sampai kapan ini semua akan terus terulang? Darah dibalas dengan darah. Nyawa dibalas dengan nyawa. Sampai kapan kerajaan kita akan terus saling menyerang? Mereka, para prajurit itu, adalah rakyatmu. Sebagaimana Pasukan Ratu dan Red Queen adalah rakyatku. Harus berapa banyak nyawa lagi yang gugur? Apakah setelah semua orang mati, baru kerajaanmu dan kerajaanku dapat berhenti saling menyerang?"
Anna tidak dapat mengalihkan pandangannya dari situasi di hadapannya. Beberapa pasukan Nordhalbinsel yang berlari terjatuh seperti tersandung sesuatu. Lalu yang lain turut merasakan tanah yang mereka pijak mulai bergoyang. Satu persatu dari mereka jatuh berlutut. Bahkan para serigala menghentikan pesta makan pagi mereka.
Mereka semua terjatuh, tidak sanggup berdiri dengan kedua kaki mereka—dengan keempat kaki mereka, apalagi untuk kembali saling serang. Lalu dari tanah yang mereka pijak, muncul sulur-sulur duri mawar. Sulur-sulur duri itu memanjang, tumbuh sangat cepat dan membelit kaki serta tangan mereka. Tidak ada yang dapat kabur dari sulur-sulur duri mawar itu karena ke mana pun mereka pergi, selalu ada tanah yang dipijak. Di mana pun ada tanah, sulur-sulur duri itu tumbuh dan menangkap kaki serta tangan mereka. Dan jika mereka memberontak, duri-durinya akan mencengkeram dan menusuk menembus kulit mereka, menembus jantung mereka hingga mereka tidak punya pilihan lain selain diam. Bau anyir darah dari pertempuran dalam sekejap hilang begitu saja, digantikan aroma mawar yang harum dan memabukkan di udara.
"Anna... jangan..." Itu bukan perintah. Xavier dengan perlahan menggenggam tangannya. Sentuhannya sehangat perapian di malam bersalju. "Mereka bukan musuhmu. Beberapa, memang. Tapi ada orang-orang Schiereiland juga, anggota Red Queen, dan para serigala—mereka adalah Pasukan Serigala Winterthur. Kumohon, hentikan... Itu akan menyakiti mereka."
Anna tidak sadar bahwa dirinya lah yang memunculkan sulur-sulur duri mawar itu. Bahwa dia yang membuat getaran di tanah, membuat mereka semua jatuh berlutut di hadapannya dan menumbuhkan jerat berupa taman duri mawar di sekitar mereka.
"Aku yang melakukan itu semua?" Anna terbelalak ngeri.
Xavier mengangguk, mencoba menjelaskannya perlahan tanpa bermaksud menakutinya. "Kalung ibumu. Jantung Earithear." Xavier menunjuk kalung emerald yang kini sudah Anna kenakan. "Kau memegang kekuatan Naga Bumi dan tanpa sadar, menggunakannya. Kau sedang sedih dan marah, emosimu sedang tidak stabil, jadi kekuatan itu yang menguasaimu bukan kau yang menguasainya. Kau tidak bermaksud menyakiti siapa pun, aku tahu, tapi kalau tidak kau hentikan, akan berbahaya untuk semuanya."
"Mereka tidak akan saling menyerang lagi. Mereka juga sudah lelah. Duri-durimu bukan hanya menusuk dan menyakiti, tapi juga menghisap energi mereka. Dan kalau kau tidak berhenti, mereka bisa mati kehabisan energi."
Anna tidak tahu cara menghentikannya. Semakin dia melihatnya, semakin dia dikuasai oleh kekuatan itu. Semakin banyak sulur duri mawar yang tumbuh di sekitar mereka, membelit dan mengurung semua orang dalam hutan duri. Dan di hadapannya semakin banyak orang-orang yang mati atau sekedar pingsan akibat tusukan durinya maupun akibat kehabisan energi.
"Bagaimana cara menghentikannya?"
Xavier berdiri di hadapannya, menghalangi Anna dari pemandangan mengerikan di hadapannya. Jangan lihat. Semakin kau melihatnya, kau semakin tidak terkendali. Tatap aku...
Anna menatapnya. Sepasang mata emerald itu berubah menjadi merah seperti api. Bukan. Seperti kelopak mawar.
Saat Xavier kembali menggenggam kedua tangannya, mengalihkan perhatian Anna dari semuanya, apinya membakar hutan duri mawar Anna. Bukan api besar, melainkan hanya api-api kecil yang merambati sulur-sulur berduri, membakar dengan sangat perlahan tanpa melukai siapa pun. Hanya membebaskan mereka yang ingin Xavier bebaskan. Pasukan Ratu, Red Queen dan para Serigala mereka semua terbebas dari sulur-sulur duri.
"Tarik nafas perlahan..."
Anna menurutinya. Dia bahkan baru sadar sejak tadi nafasnya cepat dan tidak teratur. Mungkin juga hal itu yang membuatnya tanpa sadar menggunakan kekuatan Earithear dengan sangat brutal sehingga menyakiti semuanya.
"Hembuskan perlahan..."
Anna menghembuskan nafasnya perlahan. Mengatur nafas dan menata emosinya ternyata cukup ampuh. Dan dengan itu, sulur-sulur yang masih membelit tangan dan kaki mereka yang ada di sana, menghilang, kembali ke dalam tanah, menunggu perintah selanjutnya.
"Lebih baik?"
Anna mengangguk. Mengakui bahwa kini setelah dirinya lebih tenang, kepalanya terasa lebih ringan dan sesaknya hilang. "Lebih baik."
Tapi saat kini mereka kembali menoleh ke hadapan semua orang, mereka dikepung.
Bukan oleh pasukan Nordhalbinsel. Bukan juga oleh para penyihir. Mereka adalah Pasukan Serigala milik keluarga Winterthur, Pasukan Ratu dan Red Queen yang tampak waspada. Mereka semua menghunuskan senjata masing-masing. Para Serigala berdiri dengan keempat kaki mereka, tampak patuh dan siaga, namun memperlihatkan gigi taring mereka yang tampak tidak lazim. Noda darah di moncong mereka mengingatkan Anna bahwa para Serigala itu berbahaya dan mematikan. Pasukan Ratu dalam baju zirah lengkap dan pedang terhunus siap menunggu perintah. Anggota Red Queen yang dipimpin oleh Constanza dengan anak panah beracun mereka membidik ke arah Xavier.
Mereka pasti melihatmu terbang di langit sebelumnya. Kata Anna. Atau mungkin karena perbuatanku tadi.
Aku akan mengatasi ini. Jangan khawatir.
"Ada apa ini?" Tanya Xavier. Di sampingnya, Anna mengeratkan genggaman tangannya.
"Putri Anastasia, kau tidak apa-apa?" Constanza bertanya memastikan, tapi masih belum menurunkan panahnya. Luka di beberapa tempat di tubuhnya, darah menodai pakaiannya, tapi dia tampak sangat mengkhawatirkan Anna.
"Aku baik-baik saja. Turunkan senjata kalian." Perintah Anna. Dalam sekejap, mereka semua menurunkan senjata masing-masing. "Apa yang terjadi?"
"Nordhalbinsel menyerang. Bukankah itu sudah jelas? Orang itu pasti yang memerintahkan mereka untuk menyerang kami." Kata-kata Constanza setajam anak panahnya. Dia memang sudah menurunkan anak panahnya, tapi tatapannya pada Xavier seolah dapat menusuknya.
"Bukan aku." Kata Xavier dengan tenang.
"Lalu siapa? Kau mau menyalahkan serangan tadi pada siapa? Kau mau aku menagihkan nyawa mereka yang telah gugur pada siapa?" Nada suara Constanza kian meninggi.
Anna mau tak mau kembali mengedarkan pandangannya ke sisa-sisa pertempuran. Ke mayat-mayat para prajuritnya. Ke mayat-mayat rakyatnya. Dan beberapa mayat prajurit Nordhalbinsel. Beberapa mati karena serangan pedang. Beberapa mati karena serangan anak panah. Ada juga yang mati karena racun Morta dari panah Constanza. Banyak di antaranya mati karena serangan brutal para Serigala. Namun lebih dari semuanya, yang jumlahnya ratusan, mati atau pingsan karena duri-durinya. Anna tidak bisa mengesampingkan fakta bahwa dirinya baru saja membunuh ratusan orang. Di antaranya mungkin masih sangat muda. Ada orang-orang yang menunggu kepulangan mereka. Ada keluarga yang harus mereka nafkahi. Ada yang memiliki anak-anak kecil dan istri yang akan menangisi kematian mereka. Mereka semua hanya manusia yang mengabdi pada suatu negara.
Jangan... Suara Xavier terdengar di salurannya*. Jangan dilihat lagi.*
Aku membunuh mereka, Xavier. Aku yang telah membunuh mereka.
Kau membela negaramu. Membela rakyatmu.
Begitu pun dengan mereka.
"Lihat? Kau tidak bisa menjawab." Kata Constanza lagi.
"Constanza, hentikan." Tatapan Anna memohon pada sepupunya itu. "Sudah cukup."
Hal itu berhasil membungkamnya, tapi tatapan Constanza masih berapi-api. Tangannya yang memegang busur panah terkepal di samping. "Rawat mereka yang terluka. Kubur mereka yang tewas." Perintah Constanza pada Pasukan Ratu. Mereka mengangguk patuh seolah Constanza adalah Jenderalnya.
Namun berbeda dengan yang lainnya, Pasukan Serigala masih berdiri siaga. Anna menyadari bahwa mereka siaga bukan untuk melawan Xavier, melainkan untuk melindunginya jika Pasukan Ratu dan Red Queen menyerangnya. Semua tampak diam dengan gelisah, hingga akhirnya salah satu serigala maju ke depan.
Serigala itu, serigala yang tadi memimpin mereka, sebesar kuda, berbulu seputih salju dengan mata sebiru es. Dalam ayunan langkah terakhirnya, Serigala itu berubah menjadi sosok aslinya.
"Elias, ada apa?" Tanya Xavier. Suaranya terdengar tenang seolah kekacauan tadi adalah hal yang biasa dia lihat.
Anna tidak ingat sudah berapa lama dia tidak melihat Elias. Tapi Sang Jenderal terlihat berbeda. Ada beberapa bekas luka dan noda darah di wajahnya. Kulitnya memucat. Dia belum bercukur. Rambut pirangnya tampak berantakan. Tatapannya... Sesuatu telah terjadi sehingga dapat membuat seorang Elias Winterthur yang sesempurna saudari kembarnya, terlihat sehancur itu. Tatapannya kosong.
Elias berlutut di hadapan Xavier, nada suaranya dingin, "Salam hormat kami kepada Baginda Raja Xavier, Penguasa Nordhalbinsel, Schiereiland, Clera dan Wilayah Utara. Penguasa Samudra Tygriss dan tujuh lautan. Semoga jaya selamanya. Panjang Umur Sang Raja." Saat mengatakan itu, semua Serigala yang jumlahnya mungkin mencapai ratusan atau lebih turut menekukkan kaki depan mereka dan merendahkan kepala mereka sampai ke tanah.
Mau tak mau, semua Pasukan Ratu yang tadi tengah bersiap untuk melaksanakan perintah Constanza tampak terkejut dan turut menyimak.
"Elias! Apa yang kau lakukan?"
Elias mendongak, menatap Xavier. Sorot matanya tak terbaca. "Ayahmu, Raja Vlad, telah meninggal dunia semalam. Ratu Eleanor dituduh telah membunuhnya dan saat ini dikurung di penjara bawah tanah. Seluruh keluarga Winterthur akan dieksekusi hari ini. Titah terakhir dari Sang Ratu adalah untuk mencarimu dan mengawalmu kembali ke Istana, Baginda Raja."
"Itu fitnah! Eleanor ada di sini bersama kami sepanjang malam. Bukan dia yang melakukannya." Protes Anna, masih menggenggam tangan Xavier dengan erat. Seolah jika dia melepasnya, Xavier mungkin hilang.
Elias tidak mengalihkan pandangannya dari Xavier. "Tugas terakhirku sebelum kepalaku dipenggal siang ini adalah untuk membawamu pulang, Baginda Raja. Tolong, biarkan aku menyelesaikan tugas terakhirku dengan baik."
Xavier mengangguk, mengerti. Dia menoleh ke arah Anna di sampingnya. Tidak ada kata terucap. Tapi dengan berat hati dia melepaskan tangan Anna.
Aku turut berduka cita... Ucap Anna. Tahu bahwa keinginannya agar Xavier tetap di sisinya adalah hal paling egois. Elias telah menjelaskan semuanya. Negerinya membutuhkan kehadiran Raja mereka.
Aku juga turut berduka cita.
Semua akan baik-baik saja.
Xavier masih menatapnya. Tahu bahwa kata-kata itu bukan suatu kepastian, bukan janji, melainkan sebuah harapan.
Aku tahu. Semua akan baik-baik saja, Anna.
Benarkah itu? Pagi ini saja sudah berapa banyak kematian yang mereka hadapi? Kematian Ratu Isabella. Kematian Raja Vlad. Kematian ratusan orang di hutan duri mawar ciptaannya. Anna mulai bertanya-tanya apa arti dari 'baik-baik saja' itu.
Tapi kemudian Xavier menjelaskan sedikit arti 'baik-baik saja' itu di saluran mereka. Memberitahunya kabar yang belum dia dengar. Sebuah harapan. Sebuah jalan keluar.
Anna, dengarkan aku. Ada yang belum sempat aku katakan padamu tadi... Adikmu... Alexis saat ini ada di Eze, di Istana Anastasia. Rencanamu berhasil. Louis beserta utusan kita berhasil membawanya dengan selamat tanpa sepengetahuan siapa pun sehingga tidak ada pasukan Nordhalbinsel yang tahu. Dia aman dan tak terluka. Dia sedang menunggumu sekarang. Pasukan Ratu telah berhasil mengumpulkan semua keluarga bangsawan dan mereka siap merebut kembali gelar dan kekuasaan mereka dari para bangsawan Nordhalbinsel yang ada di pihak Selena. Mereka akan siap bertarung dengan pasukan masing-masing keluarga kalau perlu. Tapi itu tidak perlu terjadi. Seperti yang dikatakan ibumu, proyek Menara yang didirikan dengan dana dari para bangsawan Nordhalbinsel di Schiereiland sudah hancur sehingga mereka tidak punya alasan untuk tetap berada di sini. Mereka juga tidak punya dana untuk perang sehingga mereka pasti akan menyerah. Belum lagi situasi di Nordhalbinsel pasti sedang tidak bagus karena... Karena kematian ayahku. Dan ancaman dari Orient. Juga karena Ratu mereka dipenjara. Negaraku tidak akan siap untuk konflik apa pun dengan negaramu. Sekarang setelah ditemukannya Alexis, hanya ada satu hal yang perlu kulakukan.
Xavier mengalihkan pandangannya ke semua yang ada di hadapan mereka. Kepada para Serigala, kepada Pasukan Ratu, dan anggota-anggota Red Queen, bahkan pada Constanza. Terutama pada Constanza yang masih murka padanya. Anna memperhatikannya dari samping, itu adalah tatapan seorang Raja.
"Sebelumnya, aku akan menyampaikan titah pertamaku sebagai Raja." Suaranya bergema ke seluruh hutan duri mawar. "Aku, Raja Nordhalbinsel, akan mengembalikan Schiereiland kepada pewaris sah takhta Schiereiland dan akan memberikan kompensasi ganti rugi akibat kerusakan-kerusakan yang terjadi di negara ini, mengembalikan para tahanan serta budak yang dibawa ke Nordhalbinsel, menarik seluruh bangsawan yang menempati wilayah-wilayah Schiereiland, serta menandatangani perjanjian perdamaian antar dua negara. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat, dan kalian semua yang ada di sini akan menjadi saksinya."
...****************...