The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 23 : Yeux d'Aletheia



Harapan Leon untuk merasa tidak berada di Istana tidak terkabulkan karena ternyata Kediaman Winterthur adalah versi lain dari Istana Utama. Lebih biru dan lebih dingin karena letaknya di wilayah paling dingin di Nordhalbinsel. Elias dan Eleanor tidak ikut bersamanya dan baru akan tiba di rumah itu sebelum waktunya makan malam. Salah satu Pengawal Ratu yang ditugaskan mengantarnya, menjelaskan bahwa Jenderal Elias memiliki tugas mendesak sedangkan Sang Ratu harus menyambut kedatangan Pangeran Yi dari Orient.


Leon bertanya-tanya apakah dirinya akan bertemu dengan Sang Raja Serigala yang terkenal itu, tapi rasa penasarannya langsung terjawab setelah melihat rumah yang lebih mewah dari Istana itu tampak sepi. Kepala pelayan menjelaskan bahwa Grand Duke dan Grand Duchess tinggal di kediaman mereka yang lain yang lebih jauh dari rumah itu. Keluarga Winterthur punya lebih dari lima tempat tinggal di wilayah yang berbeda-beda namun rumah inilah yang diwariskan untuk Eleanor Winterthur. Leon kemudian dibebaskan untuk menjelajahi rumah itu sendiri sambil menunggu kedatangan Ratu Eleanor.


Mendengar penjelasan itu, Leon tidak membuang-buang waktunya. Dia mencari tahu apa saja yang bisa dia temukan dalam rumah yang saking luasnya, satu hari tidak akan cukup untuk mengelilinginya. Tapi setelah satu jam kemudian dia kecewa menyadari tidak ada hal yang aneh. Tidak ada hal-hal ganjil yang menandai bahwa rumah itu adalah salah satu tempat tinggal keluarga paling bersejarah sekaligus paling diwaspadai di Nordhalbinsel. Di luar penampakannya yang kelewat mewah dan luas untuk ukuran salah satu rumah yang diwariskan untuk anak perempuan mereka, ternyata keluarga Winterthur tampak cukup normal. Meskipun tidak senormal 'normal' yang sebenarnya.


Leon sendiri sudah tahu rahasia keluarga Winterthur dari pelajaran sejarah yang dia terima di Istana Schiereiland. Diantara keluarga-keluarga terkenal di berbagai negara, sejarah keluarga Winterthur adalah yang paling menarik yang pernah dia pelajari. Dikatakan bahwa setiap putra dari keluarga Winterthur dapat berubah menjadi serigala pada malam-malam tertentu. Makanan mereka bukan hanya makanan manusia, mereka juga dapat memakan manusia meski mereka dapat bertahan hidup berbulan-bulan tanpa memakan manusia. Mereka umumnya berparas rupawan, memiliki mata biru es serta rambut pirang dan kulit seputih salju. Mereka juga sudah biasa menikahi saudara mereka sendiri untuk melestarikan keistimewaan mereka. Bahkan pernikahan sesama anggota keluarga sangat dianjurkan bagi mereka. Mau tak mau Leon jadi mengingat bahwa Xavier adalah putra dari Ratu Irene. Jenderal Irene. Irene Winterthur. Seorang Winterthur juga. Pernikahannya dengan Eleanor mungkin diatur karena hal tersebut.


Leon juga sudah tahu soal pasukan Serigala. Di medan perang, mereka disebut Serigala, bukan hanya karena serigala adalah lambang keluarga Winterthur, melainkan karena semua ksatria yang bersumpah di bawah kepemimpinan keluarga Winterthur dapat merubah wujud menjadi Serigala sewaktu-waktu apabila dikehendaki oleh pemimpin keluarga. Mereka juga akan selalu patuh dan setia pada keluarga kerajaan layaknya anjing peliharaan keluarga kerajaan. Leon bersyukur tidak harus berhadapan dengan salah satu Serigala yang merepotkan itu di rumah tersebut.


Saat sedang melihat-lihat isi rumah, Leon sampai di salah satu lorong panjang menuju sebuah ruangan. Ruangan itu tidak ditutup. Pintunya terbuka lebar. Satu-satunya ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka dan tanpa penjaga. Leon merasa ada suara-suara yang memanggil dan tangan-tangan yang menarik dirinya untuk masuk ke dalam ruangan itu.


Ruangan itu tidak terlalu luas, tidak seluas kamarnya di Istana Utama maupun kamarnya di Istana Schiereiland. Ruangan itu lebih seperti gudang penyimpanan barang-barang antik yang aneh. Dinding-dindingnya ditutupi oleh rak-rak tinggi yang menjulang sampai ke langit-langit. Di salah satu rak itu ada sangat banyak buku yang sudah sangat tua. Ada meja panjang yang berada di tengah ruangan, mirip seperti meja makan yang tadi Leon lihat di ruang makan keluarga di lantai dasar. Di atas meja tersebut, terdapat berbagai pernak-pernik yang memenuhi meja. Guci dengan lukisan-lukisan pembunuhan yang sadis, topeng serigala, pisau yang sudah berkarat, botol-botol kaca kosong beraneka warna yang diikat menjadi satu, beberapa kerucut pinus beraneka ukuran tergeletak di berbagai tempat, beberapa keping koin emas yang tampak sudah sangat usang, gelas-gelas berisi lilin serta batu-batu permata. Semuanya tampak aneh dan tidak lazim berada di atas meja itu. Ruangan itu juga memiliki aroma yang tidak biasa. Seperti campuran antara tanah basah di musim hujan serta jeruk lemon dan vanila. Ruangan itu seperti teka-teki tak terpecahkan.


Namun di antara semua benda aneh dan keanehan yang ada di ruangan itu, ada satu benda yang paling menarik minat Leon. Sebuah bola kristal berwarna biru menyala yang terletak di salah satu sudut ruangan. Leon mendengar suara yang sama yang memanggilnya ke ruangan itu dari arah bola kristal tersebut.


"Putra Winterthur lainnya..." Bisik bola kristal itu. Ada sangat banyak suara—suara-suara wanita—yang dapat Leon dengar dari bola kristal tersebut. Mereka berbisik dengan sangat berisik.


"Yang ini matanya tidak sebiru es. Rambutnya juga tidak pirang."


"Si tampan yang terakhir kemari juga berbeda. Yang memiliki mata seperti permata emerald itu."


"Bukan turunan murni!"


"Bukan darah murni!"


"Darah campuran hina!"


"Siapa peduli! Yang penting tampan!"


"Benar... Aku jadi ingin melahap semua rahasianya."


"Kemari lah nak, biar kami lihat rahasiamu. Tunjukkan pada kami semua kebenaran yang tersembunyi itu. Akan kami beritahukan semua kebenaran tentangmu yang belum kau ketahui."


"Kemari lah..."


"Kemari lah..."


"Apa yang Anda lakukan di sini, Jenderal Leon?" Leon tersadar mendengar suara sedingin badai salju itu. Saat dia menoleh, dia melihat Eleanor berdiri di pintu. Tangan disilangkan di depan dada, tatapan penuh kecurigaan yang bahkan lebih terkesan ketakutan daripada menakutkan. "Bagaimana Anda bisa masuk ke sini?"


Suara-suara berisik itu langsung diam begitu Eleanor berdiri di sana.


"Pintunya tidak dikunci. Bahkan tidak ditutup." Kata Leon, melirik ke arah satu-satunya jendela di ruangan itu dan sadarlah dirinya bahwa hari sudah gelap. Dia tanpa sadar sudah berdiri di ruangan itu, tidak melakukan apa pun selama berjam-jam. Sihir, pikir Leon.


"Bagaimana bisa Anda masuk ke sini?" Eleanor mengulang pertanyaannya. Kali ini dia bahkan tidak repot-repot bersikap ramah layaknya seorang Ratu pada tamunya. Eleanor melangkah masuk. Ujung gaun hitamnya yang panjang menyapu lantai marmer biru. Dalam setiap langkahnya, angin es bertiup kencang di luar sana. Mata biru es itu tampak jauh lebih dingin dari sebelumnya.


Tapi Leon tidak tampak terusik sama sekali. Dia masih berdiri di tempatnya. "Saya rasa saya sudah menjawabnya tadi, Baginda Ratu. Jika ruangan ini terlarang untuk dimasuki, sebaiknya Anda menguncinya."


"Kami tidak perlu kunci. Ruangan ini dipasangi sihir kuno berusia ratusan tahun. Hanya anggota keluarga Winterthur atau mereka yang merupakan keturunan Winterthur yang dapat memasuki ruangan ini."


"Kalau begitu sihirnya pasti sudah sangat tua dan rusak."


Eleanor menggeleng. "Sihir bukan kunci dari besi yang akan berkarat setelah ratusan tahun berlalu. Sihir tidak seperti itu, Jenderal Leon. “Eleanor mendekat, mengamati tiap jengkal wajah Leon. Alisnya bertaut seolah sedang membaca sesuatu yang sulit. "Anda terlihat tidak asing. Dari keluarga mana Anda berasal? Barangkali saya mengenal orang tua Anda. Saya mengenal hampir semua keluarga bangsawan di berbagai negara."


"Saya tidak tahu." Jawab Leon dengan jujur.


"Saya tidak berniat menginterogasi. Saya hanya merasa pernah melihat wajah yang mirip dengan Anda di suatu tempat. Atau mungkin di buku pelajaran."


"Dan saya tidak berniat menyembunyikan apa pun. Saya benar-benar tidak tahu."


"Oh..." Eleanor terdiam canggung. Raut wajah seorang Ratu yang tenang itu kembali. Anak perempuan dari keluarga bersejarah yang mencurigai tamunya menghilang dalam satu kedipan mata. "Maaf. Meski saya sudah dengar rumor bahwa Anda diangkat menjadi anak oleh mendiang Raja Edward sejak masih kecil, saya tidak tahu kalau Anda benar-benar tidak tahu siapa orang tua Anda."


Leon mendengus kesal, melangkah keluar lebih dulu, "Sudah lah. Ayo cepat mulai pelajarannya." katanya dengan ketus.


Tapi saat Leon belum jauh pergi dari ruangan itu, saat Eleanor sudah mulai keluar dari ruangan itu, Leon masih dapat mendengar suara-suara menyebalkan mereka.


"Galak sekali!"


"Lady kami tidak suka diperlakukan seperti itu. Berbicara lah dengan baik padanya."


"Sampai jumpa lagi Putra Winterthur..."


...****************...


Leon tahu dia seharusnya mengorek informasi terkait hasil pertemuan pertama Ratu Eleanor dengan Pangeran Yi. Tapi saat melihat raut wajah Sang Ratu yang tampak tidak tenang selama makan malam yang mana tidak disentuhnya sama sekali itu, Leon mengurungkan niatnya untuk mencari tahu.


Elias datang terlambat saat acara makan malam sudah berlangsung. Dia langsung mengambil tempat di samping Eleanor, di hadapan Leon.


"Makan lah. Kau seperti mayat." Komentar Elias saat melihat saudari kembarnya tidak menyentuh makanannya. "Kita di rumah, Elle. Tidak akan ada yang meracunimu di sini."


"Aku tidak bisa." Eleanor kemudian memanggil salah satu pelayan, "Tolong bawakan aku buah itu."


"Yang dari Xavier itu?"


"Hanya buah itu yang bisa kumakan sekarang." Kata Eleanor yang beberapa menit kemudian langsung melahap potongan-potongan kecil buah berwarna kuning segar itu setelah pelayan membawakannya dan tampak sangat menikmatinya. "Jadi apakah dia sudah sampai di kediaman Nicholas Francis? Atau justru dia sedang berada di Istana Schiereiland?"


Elias tidak jadi memasukkan potongan daging ke mulutnya saat mendengar pertanyaan itu. "Dari mana kau tahu?"


Eleanor tersenyum kecut. Dia kemudian melirik ke arah Leon yang sejak tadi hanya mengamati dua bersaudara itu sambil diam. "Begini lah hubungan kami, Jenderal Leon. Xavier akan merencanakan segala sesuatunya, memberitahu Elias segalanya dan merahasiakan segalanya dari saya. Tapi saya akan selalu berhasil menebaknya. Jadi Anda tidak perlu khawatir kalau saya akan merasa tersinggung karena Anda curigai. Anda bebas berkeliaran di rumah ini dan mencari tahu rencana jahat kami jika itu bisa membuat Anda mempelajari sihir lebih cepat. Anda bebas mencurigai saya. Saya tahu semua orang mencurigai saya."


"Xavier bukan mencurigaimu, Elle. Dia melindungimu. Semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik." Kata Elias. "Jadi siapa yang memberitahumu?"


"Aku tidak perlu diberitahu. Daun yang kau bawa beberapa hari yang lalu itu berasal dari tanaman langka yang hanya bisa tumbuh di wilayah Cleteland. Jadi dia pasti sudah sampai di Schiereiland hari itu. Dia pasti akan langsung menuju Duchy Francis karena hanya Nicholas bangsawan Schiereiland yang bisa dia percayai. Jadi dia mungkin sudah sampai di kediaman Duke Francis hari ini. Mengenai rencananya atau apa yang dia lakukan di sana, aku belum tahu apa pun."


Hening sesaat di antara mereka. Masing-masing sibuk dengan makan malam mereka. Tapi kemudian Elias memecah keheningan itu dengan bertanya pada saudari kembarnya. Pertanyaan yang sejak tadi ingin Leon tanyakan.


"Jadi bagaimana pertemuanmu dengan Pangeran Yi?"


Leon menunggu Eleanor menjawab pertanyaan itu, ikut penasaran. Dia mengawasi wajah Sang Ratu yang tiba-tiba memucat.


"Aku bisa mengatasinya." Kata Eleanor akhirnya. Tapi wajahnya yang memucat mengatakan sebaliknya.


"Apa yang dia inginkan?"


Eleanor menelan buah yang sudah dia masukan ke mulutnya, lalu berkata pelan, "Aku."


Elias tersedak. Eleanor segera menggunakan sihirnya untuk membereskan kekacauan itu.


"Aku belum selesai bicara." Kata Eleanor. "Dia ingin menikah denganku. Dan menjadi Raja. Kubilang aku perlu waktu untuk menjawab lamarannya. Kubilang aku masih berduka, dan dia percaya. Itu hanya untuk mengulur waktu, tentu saja. Mengulur waktu sampai Xavier kembali."


Elias tampak geram, "Dimana mereka menginap?"


"Sabar lah sedikit. Belum saatnya membunuh dia." Suaranya tenang seperti biasa, tapi bahkan Leon dapat melihat tangan Sang Ratu muda itu gemetar saat menaruh garpu yang digunakannya untuk memakan buah. "Dia sepertinya sudah menyiapkan pasukannya jika aku menolak lamaran itu. Biar bagaimana pun, dia sudah bertekad menguasai kerajaan ini."


"Jangan khawatir, Elle. Xavier sudah menugaskanku untuk menyiapkan pasukan juga. Aku sudah menghubungi Jenderal Arianne Montreux dan Tyros. Tyros sudah bersiap. Jenderal Arianne masih belum memberikan balasan. Montreux masih dalam tahap pemulihan usai wabah itu. Tapi para Serigala sudah siap. Baru-baru ini juga aku merekrut beberapa Serigala baru. Mereka masih sangat muda, tapi cukup terampil. Dan jika situasinya benar-benar jadi buruk, Ayah dan Ibu akan pergi ke Istana Utara meminta bantuan para tetua Grimoire."


"Bagaimana dengan Orthion Richterswill?" Tanya Leon. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut membicarakan masalah darurat ini. Dari empat Jenderal di Nordhalbinsel, dia hanya pernah berhadapan langsung dengan Orthion Richterswill dan dia tahu kemampuan Orthion tidak bisa diremehkan.


Elias tidak langsung menjawabnya. Dia tampak menimbang-nimbang apakah bijak membicarakan strategi militer pada negara musuh. Tapi saat ini Nordhalbinsel dan Schiereiland bisa dibilang sudah menjadi satu negara dan jika mengingat perkataan Xavier, mereka memiliki musuh yang sama. Jadi dia berkata, "Orthion sudah mati. Orthion yang ada saat ini adalah pengikut Selena. Kita tidak bisa memercayainya."


"Xavier harus pulang. Segera." Kata Eleanor dengan pelan. Sekarang suaranya mulai bergetar. Dia sudah kehilangan topeng Ratu yang tenang itu. Matanya tampak berkaca-kaca saat dia menatap saudara kembarnya. Suaranya yang seperti serpihan es itu tidak lebih keras dari bisikan saat berkata, "Semua persiapan itu akan percuma, Elias. Kerajaan ini akan hancur. Manusia tidak dapat melawan naga."


"Apa maksud—“


"Pangeran Yi datang bersama Naga Kembar. Naga Air dan Naga Angin. Mereka akan menghancurkan semuanya. Kita tidak punya banyak waktu."


...****************...


Mereka  tidak punya banyak waktu.


Eleanor mengatakan pada Leon bahwa dia akan memberikan sebagian kemampuan sihirnya untuk mempercepat proses pembelajaran. Tapi sebelum itu, Eleanor menetapkan ada hal penting yang harus mereka lakukan terlebih dahulu.


"Ini adalah bola mata Aletheia." Kata Eleanor saat mereka kembali ke ruangan yang penuh dengan benda sihir itu. Bola kristal berwarna biru menyala itu kini sudah ada di hadapan mereka. Kali ini bola kristal itu diam, tidak mengeluarkan suara apa pun saat berada di tangan Eleanor, seolah takut dan tunduk padanya.


"Dewi Kebenaran?"


"Benar." Kata Eleanor, tampak takjub karena Leon ternyata mengetahui siapa itu Aletheia. "Saya tidak tahu Anda mempelajari kitab itu juga."


"Jadi apa yang dilakukan bola ini?"


"Dia melahap rahasia dan mengutarakan kebenaran. Keluarga dari pihak ibu saya memanggilnya Aletha. Bola ini hanya menunjukkan kebenaran. Tidak ada kebenaran yang dapat disembunyikan dari Aletha."


"Lalu apa yang mau Anda lakukan dengan itu?"


Kali ini Eleanor menatapnya dengan serius sebelum bicara, "Jenderal Leon, kita akan bekerja sama. Untuk itu, perlu kepercayaan. Dan tidak ada kepercayaan tanpa kejujuran. Bagaimana saya bisa yakin Anda tidak akan membunuh saya setelah saya mengajari Anda dan memberi Anda sebagian sihir saya? Tidak ada yang dapat menjaminnya."


Leon mengangkat bahunya, "Memang benar."


"Saya akan menunjukkan semua kebenaran saya pada Anda dan Anda juga harus melakukan hal yang sama. Melalui Aletha."


Leon tidak langsung menyetujuinya. Semua kebenaran. Dia mengulang kata-kata itu dalam hati. Dia tidak yakin ingin memberitahu Ratu dari negara musuh semua kebenaran yang dia ketahui. Tapi dia juga memahami jika Eleanor tidak dapat memercayainya begitu saja sama seperti dia tidak memercayai Eleanor. Mereka saling mencurigai, tapi untuk hal ini mereka harus bekerja sama. Sebagai balasannya, Leon juga akan mengetahui semua kebenaran yang mungkin disembunyikan Sang Ratu.


"Apa Putra Mahkota Xavier juga melakukan semua hal ini sebelum mulai bekerja sama dengan Anda?" Tanya Leon kemudian.


Eleanor tidak langsung menjawab pertanyaannya. Tahu bahwa Leon sedang tawar menawar untuk hal ini. Dia tersenyum menanggapi, "Aneh sekali mendengar Anda menyebutnya Putra Mahkota sedangkan saya adalah Ratu. Untuk pertama kalinya, akhirnya posisi saya lebih tinggi darinya." Leon menunggu Sang Ratu sampai pertanyaannya benar-benar di jawab. Akhirnya Eleanor mengatakan,  "Tidak. Xavier dapat mengatakan kebohongan apa pun pada saya dan saya akan tetap harus menerimanya sebagai kebenaran serta memercayainya. Seperti itulah kami. Tapi dia tidak pernah berbohong. Hanya menyembunyikan kebenaran jika memang perlu." Ada kepahitan dalam nada suaranya. Tapi Sang Ratu pandai menyembunyikan kekecewaannya. "Nah, saya sudah mengatakan satu kebenaran, sekarang giliran Anda. Apakah Anda memang selalu mempertanyakan seluruh permintaan untuk Anda seperti ini atau Putri Anastasia adalah satu-satunya pengecualian?"


"Tidak juga." Jawabnya langsung.


Tapi saat mengatakan itu, bola kristal biru itu berubah warna menjadi merah dan terdengar suara mendesis. Leon tidak tahu Eleanor mendengar ini atau tidak, tapi bola kristal itu seperti tertawa. Pembohong! Bola kristal itu mengejeknya, membuatnya ingin langsung memecahkannya.


"Lihat, Aletha mendeteksi kebohongan bahkan hanya dari dua kata yang Anda ucapkan." Eleanor tersenyum sinis. Dia kemudian mengusap-usap bola kristal itu, dan berbisik pada Aletha, "Elias pernah menangis seminggu penuh karena dicampakkan oleh seorang gadis." kemudian bola kristal itu kembali berubah warna menjadi biru setelah melahap sebuah rahasia. Eleanor kembali beralih pada Leon. "Sekarang, untuk mempersingkat waktu, kita harus bersama-sama meletakkan tangan di atas Aletha. Dan kebenaran apa pun itu, akan menjadi rahasia diantara kita saja. Saya tidak akan memberitahunya pada siapa pun begitu pun dengan Anda. Anda bersumpah?"


Jika Leon memiliki banyak waktu, dia tidak akan langsung menerima ajakan itu. Jika Leon punya pilihan lain dia pasti akan menolaknya. Rahasia apa yang dia sembunyikan, yang tidak pernah diketahui siapa pun, Leon juga tidak benar-benar tahu. Dan apakah rahasia itu akan berbahaya jika diketahui penyihir di hadapannya ini, Leon tidak tahu. Tapi saat itu, Leon mengingat Putri Anastasia yang dengan berat hati dia tinggalkan. Dia melakukan semua ini untuk menepati janjinya pada Xavier yang sudah berhasil menyelamatkan nyawa Sang Putri ketika Putri Anastasia sekarat dan seperti tidak akan pernah membuka matanya lagi. Jika dia berhasil memutus sihir hitam yang mengikat Ratu Irene dengan Selena, maka Xavier akan membunuh Selena tanpa ragu dan membebaskan Schiereiland. Nyawa yang akan diselamatkannya adalah nyawa ibu Xavier, Ratu yang tidak dikenalnya. Ratu Irene. Jenderal Irene. Orang yang tidak pernah dia kenal kecuali dari cerita-cerita seniornya. Tapi bukan untuk itu dia melakukan semua ini. Ini semua demi Putri Anastasia dan demi Schiereiland.


"Percayalah pada kami..."


Suara-suara itu muncul kembali. Kali ini suara-suara itu tidak terdengar seperti penggosip yang menyebalkan. Suara-suara itu terdengar bersahabat. Aletha berkelap-kelip di tangan Eleanor.


"Percayalah pada Lady kami..."


"Kau mungkin akan menemukan sebuah kebenaran yang tak pernah kau duga."


Leon kembali menatap mata biru es milik Eleanor. Tidak ada trik, tidak ada tipuan di sana. Dia tahu Eleanor pun tidak mau melakukan ini. Tapi Leon akhirnya berkata padanya, "Saya bersumpah."


...****************...