The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 33 : Le Lourd de La Couronne



Eleanor Winterthur, yang masih dalam penyamarannya, tersenyum lembut pada Anna. Kesan Ratu Utara yang dingin hilang dari wajahnya. Dia turut menunduk hormat padanya. "Senang bertemu denganmu lagi, Putri Anastasia. Dan... tolong, jangan bersikap terlalu formal seperti itu. Akan lebih menyenangkan kalau kau bersedia bersikap lebih santai padaku." Eleanor kemudian menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Dalam waktu singkat, Riz sudah siap dengan pedang yang entah darimana datangnya, Diana dengan dua bilah pisau dapur di kedua tangannya, dan Constanza sudah siap dengan busur dan anak panahnya mengarah ke jantung Eleanor. Anak panah yang sudah dilumuri racun Morta. Senyuman mencemooh mengembang di wajah cantik Sang Ratu. "Sungguh sambutan yang meriah. Tapi belum cukup." Saat mengucapkan itu, semua senjata yang mereka pegang lepas dari genggaman dan jatuh ke lantai. Suara  berkelontang logam-logam senjata itu saat berjatuhan ke lantai menggema ke seluruh ruangan.


Constanza berusaha mengambil kembali busur dan anak panahnya, tapi kedua benda itu seolah sudah menempel di lantai. Tidak bisa digerakkan sedikit pun. Dia pun menyerah. "Bagaimana caranya kau bisa masuk ke sini, penyihir?" Constanza melemparkan tatapan penuh kebencian itu pada Eleanor.


Eleanor mengabaikan tatapan itu seolah dia sudah sangat terbiasa dengan orang-orang selatan yang membencinya. Dengan satu helaan nafas, Eleanor merubah wujudnya. Rambutnya kembali pirang dan matanya kembali sebiru es. Wujud Ratu Negeri Musim Dingin Abadi yang dingin, jelita dan tanpa cela.


"Aku hanya masuk begitu saja." Dia mengangkat bahu, tanpa peduli. Langkahnya ringan saat mendekat pada Constanza."Mereka semua, pasukanmu itu, diam di tempat dan tak tahu menahu bahwa aku sudah melewati mereka." Eleanor melirik ke arah Diana dan menambahkan dengan senyuman, yang anehnya, terkesan ramah, "Anak-anak perempuanmu benar-benar manis. Aku jadi iri."


"Constanza, dia sekutu kita." Kata Anna.


Constanza menatapnya tak percaya. "Kau yang mengundang Ratu Penyihir itu ke sini? Jadi dia sekutu yang kau maksud akan datang membantu kita?"


"Kita saja tidak akan cukup untuk mengalahkan para penyihir menara. Ratu Eleanor akan membantu kita dengan sihirnya. Kita membutuhkannya."


"Jadi Ratu Es ini termasuk tamu juga?" Tanya Riz. Anna mengangguk padanya. Dalam sesaat, Riz dan Diana sudah kembali tenang dan duduk di tempat mereka. "Kalau begitu, silahkan duduk, Baginda."


Eleanor berterima kasih pada Riz dan duduk di kursi di samping Anna. "Aku baru tahu ada beberapa sebutan untukku di selatan sini."


"Ratu Es. Penyihir Salju. Dan yang paling populer belakangan ini, Ratu Penyihir. Setahuku hanya tiga julukan." Riz menimpali.


"Tidakkah kau bermain terlalu jauh dari rumahmu, Tuan Navarro? Aku sudah dengar soal putra bungsu Navarro yang hilang bertahun-tahun lalu. Aku tidak yakin kenapa Klan mu masih belum menyeretmu kembali pulang sampai sekarang."


Klan Navarro dari Westeria. Kenapa rasanya nama itu tidak asing di telinga Anna. Dia berusaha kembali mengingat pelajaran-pelajarannya di Istana terkait keluarga-keluarga paling berpengaruh di Westeria. Navarro. Mata Amethyst. Dia yakin ada sesuatu yang harusnya bisa diingat, tapi entah apa.


"Riz saja, Baginda." Ada ketegangan dalam suara itu, tapi Riz tetap berusaha terlihat santai. Dia sengaja menghindar dari topik tentang keluarganya.


Diana menuangkan segelas anggur lainnya dan memberikannya pada Eleanor. Dengan sopan dan sambil tersenyum ramah, Eleanor menolaknya. "Terima kasih, tapi, aku sedang berusaha menghindari alkohol untuk bayiku." Katanya, tanpa sadar memegang perutnya yang belum terlihat membesar. Sang Pewaris yang mengamankan takhta Xavier.


Diana tampak terkejut sesaat, tidak menyangka bahwa wanita dengan tubuh yang terkesan kurus dan ringkih itu sedang mengandung, tapi kemudian dia tersenyum lembut. "Maaf jika saya kurang sopan, tapi jika Baginda Ratu mengizinkan, saya akan membuatkan minuman lainnya yang bagus untuk kehamilan. Ini ramuan warisan dari mendiang ibu saya yang rutin saya minum saat hamil."


Dalam diam Anna mengamati Diana dan Eleanor bergantian. Jika Diana memiliki wajah cantik sederhana yang lembut yang dapat membuat siapa pun yang melihatnya ingin menjadi temannya, Eleanor sebaliknya. Sang Ratu memiliki paras cantik sempurna yang terkesan dingin seperti dewi yang bisa membuat semua orang bertekuk lutut padanya secara sukarela. Tapi diluar dugaan, tatapan Eleanor melunak pada Diana. Pada ketulusannya.


"Saya akan meminumnya, kalau begitu. Terima kasih banyak." Kata Sang Ratu sambil tersenyum. Senyum bersahabat.


Diana pergi untuk membuatkan minuman. Riz pergi mengikutinya, untuk menemani istrinya atau untuk menghindari Eleanor yang sepertinya mengetahui sesuatu tentang keluarganya. Mungkin keduanya. Sementara itu dari sudut matanya, Anna masih dapat melihat tatapan kebencian itu terpancar di mata Constanza yang sedang memandang Eleanor. Anna turut memandang Eleanor, bukan dengan tatapan kebencian, melainkan dengan penuh tanya. Ada banyak sekali hal yang ingin Anna tanyakan, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Terakhir kali mereka berbincang-bincang secara langsung adalah saat mereka sedang berlindung dari badai salju di Villa keluarga Winterthur, dan saat Eleanor memintanya menyamar menjadi dirinya pada pesta pengumuman pernikahan. Rasanya sudah sangat lama sekali, padahal itu baru terjadi beberapa minggu yang lalu. Atau mungkin sudah lebih dari sebulan. Anna sendiri tidak terlalu yakin.


"Dia aman. Baik-baik saja. Aku memberinya makanan enak dan tempat tidur yang nyaman. Aku mengurungnya dengan baik di rumahku." Eleanor memulai percakapan diantara mereka bertiga. Kalimat-kalimatnya itu ditujukan pada Anna. Jawaban atas pertanyaan yang belum Anna lontarkan.


"Apa?" Anna bertanya bukan karena tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Eleanor, melainkan karena dia berharap dia salah mendengar kalimat terakhir itu. Mengurungnya. Leon dikurung. Constanza di sampingnya mengepalkan tangan seolah siap melemparkan pukulannya pada Eleanor kapan pun.


Tapi Eleanor bersikap acuh meski melihat tangan Constanza yang terkepal. Dengan tenang, dia melanjutkan, "Aku memberikan sebagian kekuatan sihirku padanya agar dia bisa menghadapi sihir hitam itu. Tapi jika dia tidak bisa menguasainya, maka mungkin dia akan gagal dalam tugasnya." Dan mati. Tapi kata itu tidak diucapkan oleh Sang Ratu. Anna bersyukur Eleanor tidak mengucapkannya. "Jadi selama aku pergi, ku pastikan tidak ada yang bisa melukainya di sana. Aku mengurungnya dengan sihirku di rumahku, jauh dari bahaya. Cara yang sama yang aku dan Xavier gunakan untuk melindungi Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis di Istana Ratu saat itu. Cara yang sama yang digunakan Selena untuk mengurung tubuh Ibunya, maksudku, Ratu Irene di menaranya saat ini." Eleanor terdiam sesaat dan melirik ke arah Anna yang masih diam mendengarkan. "Anggap saja ini sebagai pelatihan untuknya. Jika dia berhasil keluar dari sana, maka artinya dia sudah berhasil menguasai sihirku dengan sempurna. Dan itu artinya tidak ada hal yang akan cukup berbahaya untuknya. Dia harus bisa menguasai sihirku. Dia harus melepaskan ikatan sihir itu dari Ratu Irene. Hanya dia yang bisa."


Anna tidak tahu apakah harus bersyukur atau tidak atas apa yang dilakukan Eleanor untuk Leon. Eleanor memang bermaksud melindunginya dan melatihnya, bahkan memberikan kekuatan sihir padanya, tapi Leon terkurung di sana. Tapi sekali lagi Anna mengingatkan dirinya dalam hati bahwa Leon akan aman di sana. Leon akan kembali dengan selamat setelah berhasil menguasai sihir Eleanor dan memutus sihir Selena pada Ratu Irene. Anna percaya pada kemampuan Leon seperti halnya Leon yang percaya bahwa Anna bisa melalui ini semua tanpanya.


"Bagaimana keadaannya?" Kali ini giliran Eleanor bertanya padanya.


Anna tahu siapa yang dimaksud. Anna sudah menceritakan pada Eleanor terkait keadaan Xavier melalui surat-suratnya. Dia ingin sekali mengatakan bahwa Xavier baik-baik saja. Tapi dia tahu bukan saatnya berbohong. "Masih sekarat. Tapi dia akan aman di sana. Kau tidak perlu khawatir. Ada banyak pengawal yang menjaga Istanaku. Dia akan baik-baik saja, aku berjanji."


"Kau tidak perlu berjanji padaku, tapi... Terima kasih." Kata Eleanor, suaranya memelan. "Terima kasih banyak. Karena sudah berusaha untuk menyelamatkannya. Karena sudah memberitahuku keadaannya." Suaranya kini tersendat seolah sedang menahan tangis. Anna melihat mata Eleanor berkaca-kaca saat menatapnya. "Aku tidak tahu apakah kau sudah tahu ini atau belum atau apakah dia sudah menceritakannya padamu atau belum. Xavier itu... Dia tidak punya siapa pun. Sejak dulu selalu begitu. Saat dia masih kecil dan sakit, ayahnya terlalu sibuk menjadi seorang raja, dan ibu tirinya... maksudku, para ibu tirinya justru adalah penyebab dia jatuh sakit, entah karena racun atau sengaja memberinya makanan basi. Para selir raja biasa berkomplot agar pewaris utama kerajaan mati muda sehingga anak mereka bisa naik takhta. Dan mereka tidak membiarkan satu pun dokter mengobatinya agar dia bisa mati selagi masih kecil, selagi dia masih belum punya kekuatan maupun kuasa untuk melawan. Jadi biasanya Xavier akan datang ke kediaman Winterthur diam-diam, dalam keadaan sakit, bahkan di tengah badai salju sekalipun, untuk meminta tolong padaku dan Elias agar merawatnya. Kami sudah seperti pengganti orang tuanya. Karena dia tidak punya siapa pun. Itulah sebabnya saat melakukan perjanjian denganku dan Elias, dia hanya meminta kami untuk membantunya dan setia menemaninya."


Perjanjian itu. Anna tahu apa maksudnya. Alasan kenapa Xavier bersikeras menjadikan Eleanor sebagai Ratu, alasan kenapa Xavier sangat mempercayai Elias dan Eleanor melebihi apa pun. Eleanor sudah memberitahukan tentang perjanjian Grimoire yang mereka buat sejak kecil lewat surat-surat itu.


Tapi Anna sama sekali belum tahu tentang kisah Pangeran Kecil yang terkucilkan di rumahnya sendiri. Dia sudah diberitahu tentang perlakuan Selena pada Xavier sejak kecil. Tapi dia tidak tahu bahwa semua keluarganya di Istana memperlakukannya dengan buruk. Dia membayangkan seorang anak laki-laki, tanpa siapa pun di sisinya, berjuang sendirian untuk bertahan hidup di tengah intrik dan politik dalam Istana. Rumahnya adalah Nerakanya. Diabaikan oleh ayahnya dan dibenci oleh para ibu tirinya. Tidak ada yang menolongnya dan melindunginya. Anak laki-laki itu tumbuh dengan baik meski diperlakukan dengan tidak adil oleh keluarganya sendiri. Xavier bertahan hidup melewati semua itu hingga akhirnya mereka dapat dipertemukan kembali di kehidupan kali ini.


Tapi dia mungkin tidak dapat bertahan hidup karena bertemu dengan seorang gadis yang dia selamatkan berkali-kali. Seorang gadis yang selama ini berusaha mengabaikan hubungan mereka di masa lalu dan apa yang ada di antara mereka, karena adanya konflik antar-negara.


Anna ingin menanyakan keadaannya lewat saluran mereka. Ingin tahu apakah Xavier sudah sadar. Tapi dia takut menghadapi saluran mereka yang hening. Takut mengetahui bahwa usahanya percuma. Takut kehampaan itu akan mengganggu pikirannya sehingga dia jadi tidak fokus padahal mereka sedang berada dalam misi penting. Jadi dia menutup saluran mereka rapat-rapat.


Constanza masih menatapnya dengan kebencian. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. Dendam masih berkobar di matanya. "Kau tidak tahu apa pun. Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya."


"Keluarga besar Winterthur dihukum mati di hari saat Raja Vlad mengumumkan bahwa kami lah penyebab kematian Ratu Irene. Kami difitnah, padahal itu perbuatan Selena. Bahkan sebelum itu, keluarga dari pihak ibuku, sebagian besar keluarga Grimoire dibantai karena ulah beberapa orang dalam klan kami yang mempraktikkan sihir hitam yang dapat membahayakan rakyat kami. Dan belum lama ini aku harus menyaksikan orang yang kucintai dibakar hidup-hidup dan aku bahkan tidak boleh berteriak atau menggerakkan satu jari pun untuk menyelamatkannya. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan orang yang disayangi." Eleanor menatap Constanza dan Anna. Ada rasa sakit dan menderita dalam tatapan itu. Dia kemudian melanjutkan, "Aku sadar betul pada apa yang tengah terjadi di tanah air kalian saat ini. Tapi aku juga tidak dapat berbuat banyak. Saat ini negeriku juga sedang berada di ujung tanduk dengan adanya ancaman penyerangan dari Orient. Kita tidak akan bisa menyelamatkan siapa pun jika kita terus menyimpan dendam dan saling menyalahkan dalam keadaan berduka. Kita hanya bisa bertahan dan terus berusaha dengan bekerja sama. Itulah sebabnya aku menyetujui ajakanmu, Putri Anastasia. Aku ingin berusaha memperbaiki semuanya. Menjadi Ratu yang lebih baik."


Anna mengangguk. "Aku tahu. Xavier sudah memberitahuku bahwa kau juga tidak berada dalam posisi yang aman. Aku sama sekali tidak menyalahkan mu."


"Lalu siapa yang bisa kita salahkan? Salah siapa kondisi negeri kita jadi seperti ini kalau bukan salah Ratu mereka?" Constanza menaikan nada suaranya.


"Calon ibu mertuamu, Lady Smirnoff. Dia yang mendirikan menara itu tanpa sepengetahuanku. Aku terlalu disibukkan dengan konflik internal, peralihan penguasaan serta kedatangan Orient sehingga aku lengah dan tidak tahu bahwa mereka, para penyihir yang berada di bawah kuasa Selena, mendirikan menara dan menahan anak-anak."


Sebelum Constanza membuka suara lagi, sebelum mereka bertengkar lebih jauh lagi, Anna langsung angkat bicara mewakili Constanza. "Mereka sudah tidak bertunangan lagi. Atau paling tidak Constanza sudah mengembalikan cincinnya pada Pangeran Ludwig."


Eleanor tampak terkejut mendengarnya. Di Nordhalbinsel, pertunangan dengan anggota keluarga kerajaan tidak dapat dibatalkan dengan alasan apa pun. "Kalian para gadis selatan mudah sekali membatalkan pertunangan seolah itu bukan apa pun." Tapi dia kemudian beralih pada Anna saja, "Omong-omong soal cincin, apakah kau sudah meninggalkan cincin itu padanya?"


Anna tahu cincin apa yang dimaksud. Dia tidak memberitahu siapa pun tentang ikrarnya. "Sudah. Tapi dia masih belum pulih saat aku meninggalkannya."


"Bagaimana dengan ramuannya? Dia sudah meminumnya?"


"Sudah."


Eleanor tampak ragu beberapa saat sebelum kembali bertanya pada Anna, suaranya kembali memelan, "Kenapa kau tidak... Kau tahu... Maksudku... Aku bukannya mau ikut campur--"


"Oh, percaya atau tidak, aku sudah berusaha." Kata Anna langsung setelah tahu apa yang sedang berusaha ditanyakan oleh Eleanor. Tentu saja Eleanor sudah tahu tentang semuanya. Anna sudah menceritakannya lewat suratnya karena Eleanor memang sempat menyarankan cara itu. "Dia melarang ku menciumnya."


Constanza, yang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, tersedak anggur yang sedang dia minum. Eleanor buru-buru menggunakan sihirnya untuk membersihkan tumpahan anggur di pakaian Constanza dan karpet bulu binatang yang sedang mereka pijak.


"Siapa?" Tanya Constanza pada Anna. "Siapa yang sedang kita bicarakan?"


"Ceritanya panjang." jawab Anna langsung.


"Dia melarang? Jadi dia sudah sadar?"


"Hanya suaranya. Di saluran kami. Aku yakin sudah menceritakan tentang itu padamu di surat terakhir." Anna kemudian melirik Constanza yang masih menuntut penjelasan, "Aku akan segera menceritakan semuanya padamu jika kau memang ingin tahu."


"Aku benar-benar tidak memahami dirinya padahal aku sudah mengenalnya sejak lahir." Kening Eleanor berkerut bingung. "Kenapa dia menolak? Aku benar-benar tidak mengerti. Jadi kau masih belum memberinya 'penyembuhan ajaib' itu?"


Anna menunduk malu saat mendengar Eleanor membicarakan tentang 'penyembuhan ajaib' yang sudah pasti tidak dimengerti oleh Constanza. Wajahnya memanas, merona merah saat mengingat ciuman yang dia berikan sebelum pergi pagi ini. Jantungnya berdegup kencang entah mengapa. Dia menjawab sepelan mungkin, "Sudah. Tapi aku belum tahu keadaannya saat ini." Anna kemudian sadar sedang bicara dengan siapa. Meski hanya di atas kertas, status Eleanor saat ini adalah istri sahnya Xavier. Dia merasa aneh membicarakan hal ini pada Eleanor. "Aku seharusnya minta maaf padamu-"


"Tidak." Jawab Eleanor langsung sebelum Anna menyelesaikan kalimatnya. Seolah tahu apa yang ada di pikirannya. "Astaga. Sama sekali tidak perlu minta maaf. Kau pasti sudah tahu hubungan kami tidak seperti itu. Aku justru bersyukur dia akhirnya bertemu dengan seseorang." Eleanor menatap Anna, senyumnya penuh arti.


"Hubungan kami tidak seperti itu." Anna meniru ucapan Eleanor. Dia sendiri bertanya-tanya sebenarnya bagaimana hubungan mereka.


"Kenapa tidak? Kalian ditakdirkan untuk satu sama lain. Kalian adalah pasangan sehidup semati. Di Schiereiland mungkin tidak banyak yang tahu, tapi kisah tentang kalian sangat terkenal di negaraku. Kalau alasannya adalah karena aku, kau harus tahu bahwa aku berniat untuk mengajukan perceraian segera setelah dia kembali ke Nordhalbinsel dan menjadi Raja. Aku selalu memimpikan hidup bebas dan berkeliling dunia. Aku berencana untuk segera melepas mahkotaku. Terlalu berat."


"Kalian benar-benar membicarakan sesuatu yang tidak ku mengerti." Constanza akhirnya berkomentar. Tangannya dilipat di depan dada, menuntut penjelasan.


"Aku berjanji akan menjelaskan semuanya padamu jika kau benar-benar siap mendengarnya. Tapi nanti. Setelah kita menyelesaikan urusan di menara."


"Dan sebelum itu..." Diana tiba-tiba memasuki ruangan dengan nampan dan segelas cairan berwarna cokelat pekat seperti teh. Anna dapat mencium aroma vanilla dan kayu manis dari kejauhan. "Silahkan diminum, Baginda Ratu." Kata Diana sambil menaruh gelas itu di hadapan Eleanor.


Eleanor bahkan tidak tampak curiga sama sekali saat melihat cairan cokelat pekat itu. Dia tidak meminta siapa pun untuk mencicipi minumannya terlebih dahulu. Dia langsung meminumnya hingga habis. Dia percaya tidak ada racun dalam ketulusan. "Terima kasih banyak. Ini enak sekali. Bolehkah aku meminta resepnya?"


...****************...