
Anna pergi ke Schere bersama Constanza dan anggota Red Queen lainnya pagi itu dengan menunggangi kuda. Berkat Louis yang memimpin mata-mata mereka di Schere, yang memberi mereka akses masuk kota Schere tanpa sepengetahuan orang-orang utara, perjalanan mereka berlangsung lancar. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir seharian itu, Anna harus berusaha keras untuk menahan dirinya sendiri agar tidak berlari kembali ke Istana Anastasia dan tetap berada di samping Xavier, menunggunya membuka mata.
Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Seharusnya aku tetap di sana.
Tapi ada banyak orang yang berjaga di Istana. Bahkan jika mereka membenci Putra Mahkota Nordhalbinsel itu, Ratu Isabella sudah memerintahkan Pasukan Ratu untuk melindungi Istana Anastasia dan menjaga Xavier. Semua akan patuh pada perintah itu.
Dia akan baik-baik saja. Kami akan baik-baik saja. Anna kembali meyakinkan dirinya sendiri.
Pikirannya dipenuhi dengan Xavier. Dan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Firasatnya tidak baik. Sehingga dia harus meminta Constanza untuk terus mengajaknya bicara mengenai rencana mereka sepanjang perjalanan untuk membuatnya tetap waras dan fokus.
Rencana mereka adalah membuat para bangsawan Nordhalbinsel mendengar desas-desus tentang Putri Schiereiland yang masih hidup dan akan segera pergi ke Istana Schiereiland. Itulah sebabnya Louis berada di Schere selama beberapa hari terakhir. Dia menyebarkan rumor palsu, sehingga mereka mengokohkan pertahanan di Istana Schiereiland.
Anna memang awalnya berencana pergi ke Istana, tapi merubah tujuannya itu karena Red Queen. Alih-alih pergi ke Istana Schiereiland, dia dan Constanza akan pergi ke Menara Schere untuk membebaskan para budak anak-anak.
Anna sebelumnya sudah saling berkirim surat dengan Ratu Eleanor melalui elang milik Xavier. Setelah beberapa kali saling berkirim surat, Eleanor bersedia membantu Anna dan akan menggunakan sihir teleportasi ke Schere. Eleanor juga akan meninggalkan salah satu pengawalnya untuk menyamar sebagai dirinya sementara dia pergi tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk Elias dan Leon.
Kemarin Eleanor sudah memberitahu Anna untuk mengembalikan cincin permata Ruby pada Xavier untuk mempercepat pemulihannya. "Mungkin karena cincinnya. Aku memasukkan inti jantungnya di cincin itu. Dia mungkin akan kecewa kalau tahu kau mengembalikan cincin itu padanya, tapi kurasa itu memang harus dilakukan. Ini menyangkut nyawanya. Kuharap kau bisa mengerti." Kata Eleanor dalam salah satu suratnya.
Setelah itu, mereka membahas lebih lanjut tentang rencana mereka ke Menara Schere.
Anna dan Eleanor akhirnya membuat kesepakatan. Bukan perjanjian Grimoire, hanya kesepakatan rahasia diantara mereka. Eleanor akan datang dan membantu Anna membebaskan budak anak-anak dari Menara Schere bagaimana pun caranya dan apa pun risikonya, dan sebagai gantinya, Eleanor diperbolehkan memberitahu tentang keberadaan Anna dan Xavier pada Naga Kembar. Anna membutuhkan penyihir yang cukup kuat dan seseorang yang cukup berkuasa untuk misi mereka di Menara Schere. Sedangkan Eleanor membutuhkan Anna dan Xavier atau salah satu dari keduanya untuk meyakinkan Naga Kembar agar tidak menyerang Nordhalbinsel.
Matahari sudah terbenam saat mereka sampai di sebuah kedai minuman bernama Bloody Rose di Schere. Anna mengetahui tempat itu dari Leon meski belum pernah datang ke sana sebelumnya. Setiap kali Leon sedang libur, atau punya waktu luang saat malam, dia akan pergi ke Bloody Rose sekedar untuk minum dan bertemu beberapa kenalannya.
"Kau punya kekasih di sana? Tidakkah kau terlalu sering pergi ke sana?" Protes Anna suatu malam saat Leon berpamitan padanya di balkon kamarnya. Waktu itu usianya masih enam belas tahun jadi kalau pun dia ingin, dan kalau pun dia nekat untuk pergi keluar Istana, dia tidak akan diperbolehkan pergi ke kedai minuman karena belum mencapai usia dewasa.
"Punya." Jawab Leon langsung.
"Siapa namanya?"
"Carina."
Saat itu Anna benar-benar mematung. Berharap Leon melanjutkan perkataannya, bahwa itu hanya candaan. Tapi itu benar-benar nama seorang gadis. Dan nama itu sangat umum di Schiereiland. Anna berusaha mengingat-ingat putri bangsawan mana yang memiliki nama Carina. Atau mungkin juga bukan bangsawan. Anna tahu Leon bukan tipe orang yang suka membeda-bedakan antara rakyat biasa dengan bangsawan jadi ada kemungkinan Leon benar-benar berkencan dengan seorang gadis dari kalangan rakyat biasa.
"Oh... Begitu rupanya. Dia cantik?" tanyanya kemudian. Berusaha keras untuk tidak terdengar peduli, tapi dia gagal. Dalam hati dia memaki diri sendiri. Pertanyaan bodoh. Gadis itu bisa membuat seorang Leon meliriknya, tentu saja gadis itu pasti cantik!
Leon menaikkan sebelah alisnya. "Yang Mulia... Kau tidak benar-benar berpikir aku punya seorang kekasih kan?"
"Kenapa tidak? Kau kan populer. Banyak yang suka padamu."
"Kau pikir benar-benar ada seseorang? Dengan semua kesibukanku? Dan jadwalku yang hampir dua puluh empat jam sehari bersamamu?"
Anna hanya diam.
Kemudian Leon tertawa. Dan pergi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, saat itu Anna ingin berteriak padanya.
Saat Leon kembali beberapa menit kemudian, dia membawa sesuatu bersamanya. Sebuah botol berisi cairan berwarna merah pekat yang Anna yakini pasti anggur. Tapi Anna belum mengenal minuman keras saat itu. Leon menaruh botol itu di hadapan Anna.
"Yang Mulia Putri Anastasia... perkenalkan, ini adalah cinta dalam hidupku, Carina." Kata Leon. Wajah Anna langsung memerah, semerah Carina, si anggur merah dalam botol kemasan. Carina adalah merek anggur yang diproduksi oleh kedai Bloody Rose dan sudah dijual hingga ke luar Schiereiland karena rasanya yang unik. Padahal Anna sudah tahu itu, tapi dia lupa. "Cantik sekali, bukan?" Leon menahan tawa. Tapi kemudian gagal.
Anna menatapnya dengan iba, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau menyedihkan." Tapi kemudian dia ikut tertawa juga. Tawa lega karena tahu dia baru saja cemburu pada sebotol anggur. Tahu bahwa dia baru saja bersikap kekanakan. Tentu saja dia tahu Leon tidak pernah punya waktu untuk berkencan. Waktu untuk dirinya sendiri saja hampir tidak ada, jadi sekalinya punya waktu untuk diri sendiri Leon akan pergi ke Bloody Rose untuk minum. Leon hampir selalu ada bersamanya jika tidak sedang pergi ke medan perang atau urusan kenegaraan dengan Raja Edward, jadi mana mungkin dia punya waktu untuk bertemu dengan seorang gadis. "Pergilah." Kata Anna. "Temui seseorang. Siapa pun. Kau benar-benar butuh bersosialisasi agar tidak menikah dengan sebotol anggur."
"Kata seorang putri yang tidak pernah keluar Istana dan bersosialisasi." Balas Leon.
"Aku pernah bersosialisasi."
"Berdebat dengan Lady Constanza Smirnoff tidak bisa disebut sebagai bersosialisasi, Yang Mulia."
"Aku pernah keluar Istana." Protes Anna.
"Kediaman Francis sama saja bagian dari Istana." Tahu bahwa membahas keluarga Francis—yang digadang-gadang akan menjadi besan dengan keluarga kerajaan—dapat membuat Anna kesal, Leon buru-buru mengalihkan topik. "Kau mau ikut?"
Anna tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "Aku belum cukup umur!"
"Kau putri Raja, Yang Mulia. Kau bisa merubah peraturan itu kalau kau mau. Lagi pula tidak akan ada yang tahu." Dia tersenyum jail sebelum menambahkan, "Bukankah peraturan ada untuk dilanggar?"
Tawaran itu begitu menggiurkan. Menyelinap keluar Istana saat larut malam dan mencoba minuman beralkohol. Anna tahu dia akan aman karena pergi bersama Leon. Jadi tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Tapi saat itu Anna menolaknya. Bukan karena dia tidak mau, melainkan karena dia ingin Leon memiliki waktu untuk dirinya sendiri. "Bersenang-senang lah. Sampaikan salamku pada Carina."
Leon tersenyum. "Akan kusampaikan, Yang Mulia." Leon menunduk hormat padanya, lalu melompat turun dari balkon menuju taman mawarnya. Hal itu sudah biasa dia lakukan, jadi Anna sudah tidak kaget lagi.
Anna mengawasinya dari balkon kamarnya. Tapi sebelum Leon benar-benar pergi, dia berbalik menghadapnya. "Kalau kau berubah pikiran, Bloody Rose berada tepat di ujung belokan kedua Jalan St. Jose. Ada simbol bunga mawar yang meneteskan darah ke gelas wine di atas pintunya. Tempatnya kelihatan kecil, tapi dalamnya luas dan bagus. Kau akan menyukai tempat itu. Kau tinggal bilang pada seseorang bernama Riz bahwa kau mengenalku, kau akan langsung diizinkan masuk tidak peduli berapa umurmu. Pemilik tempat itu bisa dibilang cukup dekat denganku."
Anna baru saja membuktikannya. Anna mengirimkan surat kepada Louis untuk menemukan Bloody Rose. Louis berhasil bertemu dengan pemiliknya dan menyampaikan pesan rahasia dari Anna. Pemilik Bloody Rose, Riz, segera membalas surat itu dan mengizinkannya untuk menggunakan kedai minumnya sebagai tempat berkumpul mereka. Setelah itu, mereka saling berkirim surat dan Riz menceritakan tentang dirinya dan bagaimana dia bisa mengenal Leon.
Riz ternyata berasal dari Westeria. Dia berasal dari keluarga bangsawan ternama, bungsu dari tujuh bersaudara. Ayah dan ibunya cukup terkenal di Westeria dan dia dikirim untuk belajar berpedang saat berusia 12 tahun. Saat itulah dia bertemu dengan Leon. Dia baru masuk sedangkan Leon sudah hampir selesai berguru pada Si Ahli Pedang Westeria yang misterius itu. Meskipun hanya bertemu selama kurang dari satu tahun, mereka cukup dekat. Suatu hari saat Riz hampir lulus, Riz mengunjungi Schiereiland saat libur untuk menemui Leon. Saat itu dia belum tahu bahwa Leon adalah anak angkat Raja Schiereiland dan tinggal di Istana karena Leon memperkenalkan dirinya sendiri sebagai seorang yatim piatu. Riz juga terkendala bahasa karena belum lancar berbahasa Schiereiland saat itu. Jadi dia mengalami kesulitan menemui Leon dan akhirnya bertemu dengan Diana yang saat itu bekerja sebagai penerjemah. Diana menolongnya, dan sejak itu Riz jatuh cinta padanya. Riz melepaskan diri dari keluarganya, membuang gelar bangsawannya, pindah ke Schiereiland, membangun kedai minuman dan menikahi Diana.
Riz mungkin seusia dengan Leon, tapi Riz sudah menikah dan memiliki dua anak perempuan yang manis dan lucu. Camilla yang berusia dua tahun dan Estelle yang berusia delapan bulan. Sang istri, Diana, adalah wanita muda yang cantik dan lembut yang berusia sama dengan Anna. Dia yang membukakan pintu untuk Anna, Constanza dan anggota Red Queen lainnya. Saat melihat Diana dengan senyum ramahnya dan matanya yang tampak berbinar bahagia ketika menatap anak-anaknya, entah kenapa Anna merasa iri. Dia selalu memimpikan kehidupan berkeluarga yang sederhana seperti yang dimiliki oleh Diana. Tapi dia tahu dia tidak bisa. Leon sudah menolaknya. Anna ingin menghargai keputusannya itu dan berhenti mengejarnya.
Anggota Red Queen berjaga di sekitar kedai dan di pintu masuk sementara Anna dan Constanza mengikuti Diana menuju ruang bawah tanah, tempat yang dipersilahkan oleh Riz untuk mereka pakai sebagai tempat berkumpul.
Berbeda halnya dengan interior kedai Bloody Rose di lantai dasar, saat menginjakkan kaki ke ruang bawah tanah yang dimaksud, Anna diingatkan bahwa Riz bagaimana pun adalah putra seorang bangsawan Westeria.
Ruang bawah tanah itu mirip seperti interior kediaman bangsawan. Lantai marmer dilapisi oleh karpet beludru hijau, dinding semen kokoh yang dilapisi cat serta kertas dinding bermotif dedaunan. Air mancur berlapis emas berdiri kokoh di tengah ruangan. Selain itu, ada lampu gantung kristal yang mewah, serta berbagai perabotan mewah lainnya yang hanya bisa ditemukan di rumah seorang bangsawan Westeria. Keseluruhan interior bawah tanah itu dipenuhi warna-warna khas Westeria, hijau dan emas. Bahkan ruangan itu memilik aroma seperti taman bunga. Siapa pun yang masuk ke ruang bawah tanah itu pasti akan lupa bahwa mereka ada di bawah tanah.
"Oh, Putri Anastasia! Dan, uhm... Lady Constanza Smirnoff yang terkenal. Selamat datang!" Sapa Riz dari sofanya saat melihat Anna dan Constanza datang. Dia buru-buru berdiri dan menunduk penuh hormat, tapi tidak melepaskan gelas anggur dari salah satu tangannya. "Suatu kehormatan dapat menyambut Yang Mulia sekalian di sini. Mari, silahkan duduk."
"Terima kasih." Kata Anna. Constanza hanya duduk sambil diam menatap Riz dengan tatapan curiga.
Anna memperhatikan sang tuan rumah. Riz memang terdengar seperti orang Schiereiland, namun dia jelas terlihat seperti orang Westeria dengan kulit gelap dan warna mata yang tidak biasa. Matanya seperti permata Amethyst. Mata yang juga sudah Anna lihat pada anak-anak perempuannya—Camilla dan Estelle.
"Sayangku, duduklah di sebelah sini." Kata Riz pada Diana saat istrinya itu baru akan kembali ke lantai atas. "Biarkan Camilla dan Estelle bermain di atas bersama para prajurit wanita itu—anggota Red Queen, maksudku."
Diana kemudian duduk di samping Riz dan menuangkan anggur untuk mereka semua termasuk untuk dirinya sendiri. "Yang Mulia tidak perlu khawatir, kami tidak akan meracuni anggurnya." Kata Diana, memaksudkan kata-kata itu untuk Constanza yang tampak masih mencurigai mereka. Anna mempercayai mereka, jadi tanpa ragu, dia meminum anggur yang sudah dituangkan untuknya. Anna jadi memahami kenapa Leon sangat menyukai Carina dan kenapa anggur kemasan itu sangat terkenal hingga ke luar Schiereiland.
"Jadi, dimana Leon?" Tanya Riz.
Anna belum siap untuk pertanyaan itu, tapi Riz adalah teman Leon. Pertanyaan itu wajar ditanyakan olehnya. Jadi Anna hanya menjawab seadanya, "Dia berada di Nordhalbinsel."
"Bolehkah aku—saya—tunggu, kita boleh bicara lebih santai kan?"
"Riz!" Diana menegur suaminya. Memelototinya.
Riz mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"
"Tidak apa-apa. Aku lebih senang jika kita bisa bicara lebih santai." Kata Anna.
Riz tampak puas dengan perkataan itu. Dia tersenyum pamer pada istrinya, sementara Diana memutar bola mata. Riz kembali beralih pada Anna dan bertanya, "Jadi, kenapa Leon berada di wilayah musuh?"
Constanza di samping Anna tampak menegang. Tapi dia masih diam mengawasi. Membiarkan Anna yang bicara menghadapi Riz.
Constanza sudah tahu, tentu saja. Anna memberitahunya. Dan dia sangat marah saat tahu Leon berada di Nordhalbinsel untuk belajar sihir pada Eleanor Winterthur dan untuk memutus sihir Selena pada Ratu Irene. Kata-kata itu masih terngiang di kepala Anna, "Kenapa dia malah pergi ke sana dan membiarkanmu di sini dalam bahaya bersama orang itu!" Constanza masih menyebut Xavier dengan sebutan 'orang itu' seolah enggan menyebut namanya apalagi gelarnya. Seolah apa yang sudah dilakukan anak panahnya pada Xavier masih belum cukup. Tentu saja Anna mengerti betapa sulit bagi Constanza untuk menerima kenyataan bahwa Xavier benar-benar berniat membantu mereka.
Anna berdehem, "Leon sedang ada urusan."
"Dan dia meninggalkanmu, orang yang paling penting dalam hidupnya, untuk urusan itu? Pasti urusan ini segawat perang atau kiamat."
Anna mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
Riz sepertinya mengetahui sesuatu, karena dia kemudian menaruh gelas anggurnya dan menopangkan dagunya dengan satu tangan di atas meja, menatap Anna dari dekat. Seolah dia sedang mencari tahu apa yang tersembunyi dari kata-kata Anna. "Kau tidak perlu merahasiakan apa pun, Yang Mulia. Leon sudah bercerita banyak tentangmu padaku. Aku tahu cukup banyak."
"Benarkah?" Anna tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Tapi dia buru-buru tersadar dan menjaga nada bicaranya tetap tenang. "Apa yang dia ceritakan padamu, Tuan..."
"Riz saja. Aku sudah lama membuang nama belakangku sampai kadang aku sendiri lupa, hingga Camilla dan Estelle memakai nama keluarga Diana."
Anna melirik ke arah Diana yang tampak sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.
"Baiklah, Riz, apa yang kau ketahui?"
Riz kemudian tersenyum. Bukan senyum ramah. Itu jenis senyuman pembuka untuk sebuah cerita penuh rahasia yang akan dia bongkar. Anna menyadari bahwa sifat Riz sangat bertolak belakang dengan Leon. Leon hanya banyak bicara jika bersama orang yang sudah lama dia kenal, sedangkan Riz senang bicara dengan siapa saja bahkan pada orang yang baru dia kenal. Jika tidak mengetahui dari surat-suratnya bahwa Riz berasal dari Westeria, Anna pasti akan mengira Riz benar-benar orang Schiereiland karena bahasa Schiereiland-nya sangat lancar. Anna jadi sulit percaya bahwa awalnya Riz bertemu dengan Diana karena kesulitan berbahasa Schiereiland saat berusaha mencari Leon beberapa tahun yang lalu.
Riz menoleh pada istrinya, tatapannya penuh cinta, "Sayangku, kau masih ingat bukan? Saat dia datang malam-malam ke sini padahal kedai kita sudah tutup. Kalau tidak salah itu malam sebelum Putri Anastasia bertunangan dengan Duke Francis."
Anna langsung teringat malam itu. Dia ingin Leon berada di sampingnya saat itu, untuk menemaninya mengobrol semalaman karena malam itu dia tidak bisa tidur. Tapi Leon tidak ada di mana pun di Istana. Ternyata saat itu Leon pergi ke Bloody Rose.
"Dia minum banyak sekali. Padahal biasanya tidak sampai seperti itu." Kata Diana. "Biasanya dia datang ke sini untuk minum secukupnya saja, tidak sampai mabuk, lalu mengobrol dengan Riz sampai larut. Tapi malam itu dia benar-benar mabuk."
"Aku memberitahunya untuk menghentikan pertunangan itu. Tapi dia bilang tunanganmu itu orang baik dan sempurna. Oh, mantan tunangan ya sekarang? Kudengar Duke Francis sudah menikah dengan wanita lain. Maaf kalau perkataanku menyakiti hatimu, Yang Mulia, meski aku yakin sekali kau tidak sakit hati." Riz kembali menoleh ke arah istrinya. "Sayangku, kau ingat kan apa yang kukatakan padanya saat itu?"
"Kalau kau menyukainya sampai sebegitunya, kau tolol kalau datang ke sini! Lebih baik cepat katakan padanya sebelum dia benar-benar bertunangan dengan Si Tuan Sempurna itu. Kenapa malah datang ke sini! Cepat kembali ke Istana!" Diana menirukan Riz dengan sempurna. Mereka benar-benar tercipta untuk satu sama lain.
Riz melanjutkan, "Kemudian sambil setengah terpejam, dia mengatakan, 'Dia itu adikku. Aku tidak menyukainya dengan cara seperti itu. Aku dan Yang Mulia tidak seperti itu. Lagi pula aku bisa apa? Mereka pasangan yang serasi dan sempurna. Seorang putri raja dengan seorang Duke. Mereka cocok sekali.' Lalu dia tertidur di kursi. Atau mungkin pingsan karena kebanyakan minum." Riz menggeleng mengingatnya. "Dasar bodoh. Dia tidak mengerti perasaannya sendiri. Dia tidak tahu apa pun tentang cinta karena tidak pernah dekat dengan siapa pun. Dan jika boleh kutebak dari ekspresimu saat ini, Yang Mulia, temanku itu pasti belum menyatakan perasaannya padamu."
"Sudah." Jawab Anna langsung. "Tapi... dia juga sudah dua kali menolakku."
"Baiklah. Dia memang bodoh." Komentar Riz yang kemudian kembali menenggak anggurnya.
"Tapi dia murid yang cerdas." Itu suara seorang wanita dengan aksen utara yang sangat Anna kenal. Cara bicaranya mirip dengan Xavier. Serempak mereka semua menoleh ke sumber suara. Seorang gadis berambut cokelat gelap dengan mata berwarna kelabu dan gaun sederhana sewarna mata kelabunya baru saja memasuki ruangan. Mereka semua tidak mengenalinya, terlebih dengan pakaian rakyat jelata seperti itu, tapi Anna mengenalnya bahkan meski dia sedang menyamar. Dia memang terlihat seperti gadis jelata, tapi cara bicara itu, cara berjalan itu, bahkan caranya menarik nafas, benar-benar tampak anggun tanpa cela, mencerminkan seorang bangsawan dengan kedudukan yang tinggi. Gadis itu terlalu rupawan hingga bahkan penyamarannya tidak benar-benar dapat menyembunyikan kecantikan wajahnya yang sesungguhnya. Gadis itu menatap semua yang ada di ruangan itu dengan tatapan angkuh. Bukan karena dia angkuh, tapi memang dia selalu terlihat seperti itu. Kemudian dia melanjutkan, "Dia juga cepat belajar dan berkeinginan kuat. Untuk urusan perasaannya sendiri, jika dinilai dari bincang-bincang yang baru saja tak sengaja kudengar, aku harus menyetujui pendapatmu, Tuan Arizona Navarro."
Anna yang pertama berdiri untuk menyambutnya. Dia menunduk untuk memberi penghormatan pada gadis yang baru datang itu. "Salam hormat saya kepada Ratu Nordhalbinsel."
...****************...