
Saat malam sudah larut, mereka mulai meninggalkan Bloody Rose menuju menara.
"Sederhana saja. Kita semua akan masuk dan membebaskan anak-anak di Menara. Dan kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. Kau boleh menghancurkan menara itu kalau kau mau. Kau juga boleh menghukum para penyihir itu. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bersedia melakukannya." Jelas Anna saat Eleanor menanyakan detail rencana mereka.
"Terdengar mudah." Komentar Constanza, sambil mengangguk mengerti.
"Tapi aku yakin akan sulit dilakukan." Timpal Eleanor. Dia sudah kembali dalam mode penyamaran, menyembunyikan rambut pirang dan mata biru es yang dapat langsung dikenali oleh para penyihir menara bila mereka melihatnya.
"Red Queen pernah membebaskan anak-anak malang itu sebelumnya." Anna memberitahu, yang langsung membuat Eleanor menoleh ke arah Constanza dengan tatapan tak percaya.
"Kami membebaskan mereka yang belum masuk ke menara. Saat mereka masih di dalam kereta dalam perjalanan menuju menara. Sama sekali tidak sulit."
"Kau dan teman-temanmu mengalahkan para penyihir? Tanpa sihir?" Eleanor bertanya pada Constanza, memastikan.
Senyum miring menghiasi wajah Constanza, bahkan nada bicaranya jauh lebih congkak sekarang, "Mengelabui lebih tepatnya. Tidak ada pertarungan. Mereka semua pingsan sebelum sempat melihat kami. Dengan racun dan anak panah semuanya dapat diatasi."
"Baiklah. Katakan lah bahwa kita berhasil masuk dengan mengelabui para penyihir menara." Kata Eleanor. Kali ini, dia menoleh pada Anna, "Setelah itu apa? Apa kau sudah tahu dimana mereka mengurung anak-anak itu? Berapa banyak penjaga? Dan hal lainnya seperti kapan mereka akan berganti jadwal jaga? Aku bahkan jadi ragu apa kita benar-benar bisa masuk ke menara."
"Tidak bisa. Tentu saja, kita semua tidak akan pernah bisa masuk ke menara. Tapi Pangeran Ludwig mungkin bisa." Jawab Anna.
Eleanor mengernyit. Dia menatap Anna dengan bingung. Tapi saat melihat Anna yang mengedikkan kepala ke arah Constanza, Eleanor langsung paham artinya. Matanya melebar. Mulutnya membentuk huruf o besar.
"Sihir transformasi." Anna tersenyum setelah tahu Eleanor mulai memahami rencananya. "Benar. Itulah sebabnya aku membutuhkan bantuanmu."
"Kau mau aku mengubahmu menjadi Pangeran Ludwig? Bahkan jika aku bisa merubah suaramu, kau tidak dapat menirukan aksen utara dengan benar."
"Oh, bukan aku. Maksudku, Lady Constanza Smirnoff yang akan menjadi Pangeran Ludwig." Anna kemudian menoleh ke arah Constanza. "Aku percaya kau bisa menirunya."
"Mudah. Aku menghafal hampir semua kebiasaannya. Cara berjalannya, cara bicaranya, dan kebiasaan minumnya setiap dia punya masalah. Semuanya." Kata Constanza dengan penuh percaya diri. Meski sebenarnya hal itu di luar pengetahuan Anna bahwa Constanza dan Ludwig benar-benar dekat hingga Constanza bisa mengetahui segala hal tentang tunangannya itu. Constanza kemudian beralih pada Eleanor yang tampak masih ragu. "Silahkan lakukan, Ratu Penyihir."
Eleanor pada akhirnya merubah wujud Constanza menjadi sangat mirip dengan Pangeran Ludwig. Dengan sihirnya, bahkan meski saat ini dia hanya memiliki setengah dari kekuatan sihirnya yang biasa, Eleanor dapat membuat Constanza menjadi replika tanpa cela putra kedua Raja Vlad itu. Tak butuh waktu lama, kini di hadapan Anna, berdiri sosok Sang Pangeran Negeri Es. Tampan, licik dan dingin. Persis seperti yang terakhir kali Anna lihat malam itu waktu Ludwig membantunya membawa pergi Ratu Isabella dari Istana Ratu. Anna belum menceritakan tentang hal itu pada Constanza karena sepertinya Constanza tidak ingin membicarakan tentang mantan tunangannya itu.
Menara Schere terletak di tengah hutan pusat kota. Eleanor memberitahu bahwa penyihir mendapat kekuatan dari elemen-elemen alam. Sementara Klan Grimoire mendapat kekuatan dari udara dingin dan es, beberapa penyihir lain justru mendapat kekuatan dari pepohonan dan tanaman-tanaman di hutan. Itulah sebabnya Klan Grimoire dahulu tinggal di wilayah paling utara di Nordhalbinsel—di tempat paling dingin—dan mendirikan Istana Utara yang masih ada hingga sekarang. Lain halnya dengan penyihir lainnya, Permaisuri Selena memperoleh kekuatan dari sinar bulan. Sementara itu, berbeda dengan ibunya, Pangeran Ludwig yang diketahui merupakan satu-satunya keturunan raja yang menjadi penyihir mendapat kekuatan dari panas alami seperti api dan cahaya matahari. Eleanor menjelaskan semua itu seperti seorang guru pada murid-muridnya yang sedang tur melihat menara.
Menara itu adalah bangunan mirip kastil kuno yang sangat tinggi. Terbuat dari bebatuan hitam, menara itu lebih tinggi dari kastil mana pun yang pernah Anna lihat. Bahkan mungkin bisa menjadi lebih tinggi lagi karena menara itu masih belum selesai di bangun. Bagian atasnya masih dalam tahap pengerjaan, dan Anna yakin, separuh pekerjaan itu dilakukan oleh sihir. Saat Anna menanyakan tentang itu pada Eleanor, Sang Ratu memberitahunya bahwa menara di Nordhalbinsel tidak setinggi Menara Schere dan itu pun butuh waktu bertahun-tahun untuk menciptakannya karena dulu sihir pembangunan belum sesempurna sekarang. Jadi Eleanor yakin menara itu memang hampir sepenuhnya dibuat dengan sihir.
Gerbang yang mengelilingi menara terbuat dari beton dan baja—dan sihir pelindung, Eleanor memberitahu Anna. Penjaganya berpakaian seperti prajurit Nordhalbinsel lengkap dengan seragam dan pedang, tapi Anna yakin mereka juga seorang penyihir. Meski begitu, mereka hanya melirik sekilas, lalu buru-buru membungkuk rendah saat sosok Pangeran Ludwig melewati mereka. Bukan Pangeran Ludwig yang sebenarnya.
Constanza melenggang masuk ke dalam menara. Sebelumnya dia sudah minum cukup banyak anggur di Bloody Rose dan dengan sengaja menumpahkan sedikit anggur di pakaian yang dia kenakan sebagai Ludwig. Perannya malam ini adalah Pangeran Es yang setengah mabuk. Langkahnya cepat dan teratur dengan gerakan yang sangat anggun, begitulah cara berjalan para bangsawan di utara. Constanza mengingat bagaimana Ludwig masih tetap bisa berjalan dengan lurus meski dalam keadaan mabuk. Saat dia lewat, semua penyihir di menara itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, menunduk penuh hormat padanya. Jika ada penyihir yang berjalan di hadapannya, mereka akan buru-buru menyingkir dan mempersilahkannya lewat. Tatapannya terlihat bosan, tidak melirik ke mana pun, hanya menatap lurus ke depan.
"Y-yang Mulia... ada keperluan apa Anda datang di jam ini. Bukankah sekarang sudah sangat larut untuk kunjungan?" Kata seorang penyihir laki-laki di depan sebuah pintu. Hidungnya tampak mengernyit saat mencium aroma tajam minuman beralkohol dari pakaian Constanza—pakaian Ludwig. Tapi si penyihir laki-laki yang sudah tua itu tidak berani menegurnya.
Baik Anna maupun Constanza tidak ada yang tahu denah menara karena tempat itu dijaga ketat oleh para penyihir. Constanza hanya asal melangkahkan ke kaki ke salah satu ruangan sampai ada seseorang yang mengajaknya bicara. Jika dia melakukan kesalahan, siapa pun akan memaklumi dengan alasan bahwa Sang Pangeran sedang mabuk. Sementara itu, para anggota Red Queen berjaga tidak jauh dari menara, mengawasi jika Pangeran Ludwig yang asli benar-benar datang.
"Buka." Suara itu benar-benar terdengar persis seperti suara Pangeran Ludwig. Bahkan aksen utara itu terdengar sangat meyakinkan.
"T-tapi apa yang mau Anda lakukan di jam ini di ruang tidur murid-murid perempuan?"
Constanza menahan diri untuk tidak tampak terkejut. Dia sama sekali tidak tahu bahwa murid-murid tidur di dalam menara. Dia mempertahankan ekspresi bosan itu di wajahnya. Mempertahankan citra dingin itu. Dan menambahkan sedikit arogansi saat berkata, "Kau mempertanyakan tujuanku?"
Beberapa penyihir lainnya yang sejak tadi tidak menyimak kini berhenti dan memperhatikan dari kejauhan. Beberapa di antaranya berbisik. Constanza menangkap beberapa perkataan mereka.
"Ah, dia datang lagi."
"Bukankah belakangan ini selalu begitu sejak tunangannya mencampakkannya dan ibunya diberi hukuman pengasingan oleh Baginda Ratu?"
Mendengar itu, Constanza jadi punya ide.
Si penyihir laki-laki di hadapannya tampak ketakutan. "B-bukan begitu, Yang Mulia... Saya hanya—“
"Kalau begitu panggilkan dia untukku." Katanya dengan nada memerintah.
"D-dia? Saya tidak tahu siapa yang Anda maksud, Yang Mulia."
Constanza sendiri juga tidak tahu. Dia hanya menerka-nerka dari bisik-bisik yang dia dengar. "Belakangan ini selalu begitu sejak tunangannya mencampakkannya..." dan "Dia datang lagi." dari dua kalimat itu saja Constanza dapat menyimpulkan bahwa Ludwig memang sering mendatangi ruang tidur murid-murid perempuan di menara. Ludwig pasti bertemu dengan seseorang, mungkin salah satu murid di sini. Meski memikirkannya membuatnya marah, dia tetap fokus pada tugasnya. Berusaha mendalami perannya sebagai mantan tunangannya.
Tapi sebelum Constanza mengatakan apa pun lagi, pintu di belakang penyihir laki-laki itu, pintu kamar tidur para murid penyihir perempuan terbuka sedikit. Seorang pemudi—murid penyihir—yang usianya pasti lebih muda dari Constanza, keluar. Tubuhnya langsing dan tinggi, dengan kulit eksotis dan bibir penuh. Dia menutupi gaun tidurnya dengan jubah panjang. Dia tampak terkejut saat melihat Sang Pangeran di hadapannya. Matanya berkilauan seolah senang dapat melihat Sang Pangeran. Gadis muda itu tersenyum padanya. Senyumnya sensual.
Constanza tidak mengenal murid itu, tapi Constanza tahu arti tatapan itu. Tatapan menginginkan.
"Yang Mulia, Anda datang lagi rupanya. Saya pikir—“
"Ikut aku." Kata Constanza langsung, dengan sengaja merendahkan nada suaranya. Dia menarik tangan gadis itu dengan paksa meski sebenarnya Constanza tahu gadis itu memang akan mengikutinya tanpa paksaan.
Constanza tahu betapa populernya mantan tunangannya itu di kalangan para murid penyihir. Tapi dia tidak tahu bahwa benar-benar ada seseorang yang sering ditemui Ludwig di menara pada malam hari saat sedang tidak bersamanya. Bahkan jika diingat-ingat lagi, tidak banyak malam yang mereka habiskan bersama karena jarak yang cukup jauh dan kesibukan masing-masing. Kata-kata murid itu terus terngiang-ngiang selama mereka menyusuri lorong menara lebih jauh, 'Anda datang lagi'. Meski sudah bertekad akan melupakannya, Constanza tidak bisa tidak memikirkan dan bertanya-tanya seberapa sering Ludwig menemui murid itu di malam hari. Sejauh apa hubungan mereka. Sejak kapan. Apakah sejak pembatalan pertunangan secara sepihak olehnya, atau bahkan jauh sebelum itu?
Constanza tidak menjawabnya. Benaknya dipenuhi pikiran yang tidak ingin dia pikirkan. Dia ingin menangis sekaligus mengamuk. Padahal dia tahu dia harus fokus saat ini. Mereka dalam misi penting.
Tapi pertanyaan dari murid itu mengganggu pikirannya. Melakukan apa? Di tempat biasa?
"Anda masih juga belum bisa tidur tanpa bantuan saya? Bukankah sudah lebih dari sebulan setiap malamnya kita melakukan ini? Meskipun saya tidak keberatan jika itu bisa membantu Anda terlelap, tapi pasti Anda tahu ini menghabiskan energi saya hingga saya terus bangun kesiangan esok harinya. Padahal saya harus segera lulus dari menara." Murid itu terus bicara padanya. Tapi semakin lama dia semakin tidak mengerti apa maksudnya.
Jadi Constanza berhenti melangkah. Mereka kini berdiri di sebuah lorong gelap. Tidak ada siapa pun di sekitar mereka.
Tidak sepenuhnya benar. Anna dan Eleanor ada bersamanya, dalam keadaan tak kasat mata. Penangkal sihir yang dipasang Eleanor di sekeliling mereka membuat keberadaan mereka tidak terdeteksi bahkan oleh sihir kuat sekalipun. Jadi mereka sejak tadi hanya berjalan mengikuti Constanza dalam diam sambil turut mendengarkan perkataan-perkataan si murid sihir itu.
Murid itu menatapnya dengan serius. Dalam kegelapan, mata murid itu menyala terang berwarna perak. "Anda mau melakukannya di sini? Tidakkah lebih baik jika ada tempat duduk atau tempat tidur?"
"Di sini saja." Jawab Constanza. Masih tidak mengerti ke mana pembicaraan ini mengarah. Dan apa yang dimaksud oleh murid itu. Kecurigaannya semakin lama semakin membesar. Kebenciannya pada mantan tunangannya semakin tak terbendung seiring tiap perkataan dari murid itu. Dia jadi menyesal hanya menampar Ludwig sekali dan melemparinya dengan cincin pertunangan mereka. Seharusnya dia menikamnya dengan pisau berlumur racun Morta saat itu juga.
"Feyna." Kata murid itu. Tegas, namun lembut. "Saya sudah meminta Anda untuk memanggil saya dengan nama saya. Nama yang Anda berikan untuk saya yang memiliki arti 'bebas'. Feyna. Saya sangat berterima kasih sejak Anda menemukan saya di wilayah perbatasan dan membebaskan saya dari perbudakan setelah mengetahui bahwa saya memiliki bakat. Jadi Anda tidak perlu ragu memanggil saya. Karena bakat saya, diri saya, bahkan nyawa saya adalah milik Anda, Tuanku." Feyna, gadis itu menunduk penuh hormat. Bukan menggoda, Feyna justru tampak memujanya seolah Ludwig adalah dewanya.
Constanza semakin bingung. "Bakat..." Dia sengaja menggantungkan kata-kata itu. Sebuah permintaan untuk Feyna agar menjelaskan lebih lanjut, tanpa benar-benar memintanya.
"Bakat menghapus ingatan terkait sesuatu atau seseorang secara permanen. Bakat sihir yang tidak semua orang bisa menguasainya bahkan setelah puluhan tahun mempelajarinya, kecuali para penyihir dari Klan Grimoire. Karena bakat itulah Anda membebaskan saya dari perbudakan dan membantu saya agar bisa ikut belajar di menara. Anda semabuk apa sampai jadi terlihat kebingungan begini?"
"Aku sangat mabuk." Constanza berbohong, tapi Feyna sepertinya percaya. Ludwig tidak akan pernah menjadi 'sangat mabuk' karena toleransi alkoholnya sangat tinggi. Dan sepertinya hanya Constanza yang tahu akan hal itu.
Feyna menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. "Alkohol tidak akan bisa membuat Anda melupakannya. Bakat saya saja tidak mempan pada Anda. Baru kemarin Anda datang ke sini untuk meminta saya menghapus ingatan Anda tentang Lady Smirnoff. Tapi baru satu hari berlalu, ingatan itu sepertinya sudah kembali, ya? Bahkan sihir tidak bisa menghapuskan jejak mantan tunangan Anda dari pikiran Anda. Efek buruknya, saya jadi mendapat reputasi buruk dan dicap sebagai gadis licik yang menggoda seorang pangeran. Mereka pikir saya tidur dengan Anda. Meski saya dapat dengan mudah mengabaikan mereka tapi—“
"Feyna..."
"Ya, Tuanku."
"Coba jelaskan lagi kenapa aku ingin menghapus Constanza dari ingatanku?"
"Anda benar-benar mabuk sampai kehilangan akal rupanya. Semakin hari Anda menjadi semakin aneh, Tuanku. Anda tidak bisa tidur sejak kejadian yang menimpa Lady Smirnoff dan keluarganya. Anda terus dihantui rasa bersalah dan penyesalan. Jadi Anda mendatangi saya dan meminta saya untuk menghapuskan ingatan Anda tentang Lady Smirnoff agar Anda bisa tidur dengan tenang. Tapi tentu saja bakat sihir saya tidak akan berfungsi menghapus orang yang berada di hati Anda, bukan sekedar pikiran Anda. Anda seharusnya menemuinya, memohon maaf padanya dan mengatakan padanya bahwa adik-adiknya sudah Anda amankan agar tidak perlu menjadi budak di menara."
Constanza bungkam. Dia kesulitan mencerna kata-kata yang dilontarkan oleh Feyna. Kata-kata berisi kejujuran yang lebih terdengar seperti dusta belaka. Esperanza, Belleza dan Meriza—ketiga adiknya—ternyata selama ini diamankan oleh Ludwig. Itu artinya adik-adiknya tidak ada di menara ini.
Melihat Sang Pangeran yang masih terdiam membisu, Feyna melanjutkan, "Anda seharusnya memberitahu padanya bahwa Anda bersikap seperti ini, dan berhenti berusaha menemuinya adalah untuk kebaikan Lady Smirnoff sendiri. Agar Lady Smirnoff tidak diganggu dan disakiti oleh ibu Anda maupun oleh musuh-musuh Anda. Dia pasti akan memahami dan memaafkan Anda kalau Anda jujur padanya."
"Aku tidak—“
Tiba-tiba terdengar suara lolongan. Mirip lolongan hewan malam—tapi bukan itu. Itu adalah tandanya. Tanda yang mereka sepakati jika Pangeran Ludwig yang asli datang.
"Sial..." Constanza tanpa sengaja mengumpat. Sesuatu yang tidak pernah sekalipun dilakukan oleh Ludwig yang asli.
"Maaf?" Feyna menatapnya tak percaya.
"Yang Mulia, sekarang!"
Eleanor dan Anna yang sejak tadi dalam mode tidak kasat mata dan hanya diam mengamati kini menampakkan diri. Anna dengan sangat cepat mengunci pergerakan Feyna dan menodongkan pisaunya ke leher murid itu, tanpa benar-benar berniat menyakitinya. Sementara itu, Eleanor memberinya jerat ikat sihir yang dapat membuat Feyna tidak dapat bergerak dan menggunakan sihirnya.
"Beritahukan kami di mana para budak itu dikurung?" Perintah Anna. Feyna bergeming. Sama sekali tidak gentar meski pisau itu hampir menggores lehernya. Dia tampak tenang seolah tahu Anna tidak akan benar-benar melukainya. "Cepat katakan!"
"Turunkan pisaumu, Putri Anastasia." Tanpa menoleh pun mereka sudah tahu siapa yang mengatakannya. Dalam sekejap, seluruh pasukan berseragam Nordhalbinsel sudah mengepung mereka. Pedang mereka terhunus, siap mengakhiri rencana mereka dan hidup mereka.
"Atau Anda mau rekan Anda terluka?" Ludwig sudah ada di belakang Eleanor dengan pedang terhunus ke leher Sang Ratu yang masih menyamar. Tapi tatapannya hanya terpaku pada Anna.
Anna balas menatapnya. Yang membantunya membebaskan Ratu Isabella dari Istana Ratu malam itu adalah Ludwig. Dia juga lah yang memperingatkan Anna bahwa Xavier merencanakan sesuatu. Ludwig memang benar, Xavier memang merencanakan sesuatu, tapi itu bukan rencana jahat seperti yang dikiranya. Xavier hanya ingin seseorang membantunya menyelamatkan ibunya. Xavier hanya ingin meminta bantuan Leon. Anna tidak tahu apakah Ludwig mengatakan hal itu untuk menghasutnya dan menghilangkan kepercayaannya pada Xavier, atau karena murni tidak tahu sama sekali. Anna juga tidak tahu apakah Ludwig benar-benar tulus menolongnya untuk menyelamatkan Ratu Isabella malam itu, atau mungkin dia sudah merencanakan semua itu agar Anna dan Xavier pergi dari Istana, untuk memudahkan pembunuhan terhadap mereka berdua.
Biar bagaimana pun, Ludwig adalah putra Selena. Tapi jika mengingat kembali perkataan Feyna tadi... Ludwig tidak terdengar sekejam yang dia pikirkan. Ludwig membebaskan seorang budak untuk kemudian disekolahkan agar dapat memaksimalkan bakat sihirnya. Ludwig juga yang mengamankan tiga adik perempuan Constanza agar tidak menjadi budak di menara.
Lalu Anna menoleh ke arah Eleanor.
Eleanor masih dalam mode penyamaran sehingga orang-orang tidak mengenalinya. Tapi saat Eleanor berusaha menggerakkan tangannya untuk melawan dengan sihirnya, tangannya tidak dapat digerakkan. Sihir Ludwig menahannya. Dan dengan begitu, sihirnya yang menahan Feyna terputus. Feyna bebas dan dengan tenang melangkah menjauh dari Anna menuju ke belakang Ludwig. Gadis muda itu tampak siaga, tangannya terangkat siap merapalkan sihir sambil menatap Ludwig palsu dan kawanannya—Constanza, Anna dan Eleanor. Dia siap untuk menyerang dengan sihirnya kapan pun Ludwig memerintahkannya.
Tapi Ludwig mengisyaratkannya untuk menurunkan tangannya, untuk segera pergi dari tempat itu. Feyna mematuhinya tanpa sepatah kata apa pun.
"Feyna..." Saat Ludwig memanggilnya, Feyna berhenti dan berbalik dengan patuh. "Pastikan hal ini tidak diketahui siapa pun. Hapus ingatan mereka yang melihat si palsu ini. Tidak ada yang boleh tahu bahwa Menara baru saja kemasukan penyusup. Itu hanya akan memperlihatkan betapa lemahnya keamanan di sini."
Feyna mengangguk, kemudian pergi dengan cepat.
Ludwig yang asli menoleh ke arah tiruannya. Dia tampak terkejut sesaat, tapi buru-buru mengatur ekspresinya kembali dingin saat menatap replika sempurna dirinya hasil karya sihir Eleanor. Matanya yang sekelam malam seolah dapat melihat menembus sihir itu. "Halo, Constanza." Sapanya, sambil tersenyum mengejek. Saat dia menyebut nama itu, tidak ada perasaan apa pun dari nada suaranya. Seolah nama itu tidak memiliki arti apa pun untuknya. Berbeda dari apa yang baru saja dikemukakan oleh Feyna, bahwa gadis dengan nama itu membuatnya tidak bisa tidur sampai lebih dari sebulan terakhir. "Tidak ku sangka kau akan menyusup masuk ke sini."
Sihir transformasi akan hilang jika ada orang yang memanggilnya dengan nama aslinya. Jadi saat Ludwig menyebut namanya, Constanza langsung berubah menjadi dirinya sendiri. Tapi bahkan sebelum dia kembali ke wujudnya, dia sudah siap dengan busur dan anak panahnya yang mengarah tepat ke jantung Ludwig. Serentak semua pengawal Ludwig mendekatkan ujung pedang mereka pada Constanza. Hanya butuh satu perintah, atau satu isyarat dari Ludwig untuk mengakhiri hidupnya.
...****************...