
Xavier. Pikirnya. "Tidak mungkin..." Xavier belum sembuh. Dia masih terbaring pagi ini.
"Aku tahu kau tidak akan percaya. Tapi aku melihatnya. Dan bukan hanya aku, semua anggota Red Queen melihatnya!" Mata Constanza berbinar-binar takjub bahkan sebelum dia mulai bercerita lebih lanjut, "Seekor naga berwarna hijau seperti seluruh hutan membentang di sepanjang kulitnya dengan sepasang tanduk yang dikelilingi bunga-bunga Goddess Tear datang dan menggetarkan bumi saat mendarat. Dia mengibaskan ekornya pada Menara. Satu kibasan singkat saja, dan Menara itu hancur."
"Earithear..."
"Apa?"
"Ke arah mana naga itu pergi?"
"Ke sana." Constanza menunjuk ke dalam hutan. "Tapi sepertinya naga itu terluka. Dia terbang rendah sekali. Sepertinya saat menuju ke sini dia berhadapan dengan prajurit Nordhalbinsel. Di tubuhnya ada banyak anak panah—“
"Panah?"
Constanza mengangguk.
"Tunggu sebentar di sini. Jangan ke mana-mana. Tunggu di sini. Aku..." Anna tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Constanza, jadi dia tidak melanjutkan kalimatnya dan langsung pergi menuju kedalaman hutan dengan terpincang-pincang. Berusaha mencari-cari tanda keberadaan Earithear di sekitar hutan itu.
Anna terus mencoba berjalan secepat yang dia bisa dengan satu kaki, menyusuri hutan itu. Bukan tanpa tujuan, dia mencari Earithear. Ada sesuatu yang dia rasakan, sesuatu yang salah, seperti saat Xavier terkena panah beracun dari Constanza. Anna merasa hal yang sama saat ini. Perasaan seperti kehilangan dan kehampaan. Seperti bernafas dengan sebelah paru-paru. Tapi dia sendiri tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Sejak pagi keberangkatan mereka, firasatnya tidak baik. Sesuatu yang buruk—sangat buruk—akan terjadi, tapi dia masih tidak tahu apa itu.
Dia berjalan dengan sebelah kakinya bertumpu pada kayu yang dia temukan hingga beberapa kali terjatuh tersandung akar pohon atau terpeleset batu berlumut. Tapi itu semua tidak menghentikannya. Dia terus berjalan dengan cepat mengikuti kabut tipis berwarna hijau yang menyelubungi hutan itu seperti sebuah jejak. Anna kini paham apa arti dari kabut-kabut tipis beraneka warna yang dia lihat beberapa kali selama ini. Itu adalah jejak keberadaan para naga yang hanya bisa dilihat oleh para pemilik mata naga.
"Earithear!" Anna berteriak memanggil sambil terus mengikuti jejaknya. Dia terus berteriak ke penjuru hutan sampai tenggorokannya terasa perih. Sampai akhirnya dia ingat bahwa dia punya cara lain untuk berkomunikasi dengan para naga.
Earithear! Dia berteriak dalam saluran itu.
Anna? Itu bukan suara Earithear yang menjawabnya.
Air matanya tanpa terasa mengalir saat akhirnya dapat mendengar suara itu lagi. Semua kerinduan yang dia pendam, kekhawatirannya, rasa takutnya—semua itu terobati begitu mendengar suaranya. Betapa dia sangat merindukan suara itu dan pemilik suara itu.
Xavier... Anna menghentikan langkahnya, berusaha mengatur nafasnya yang masih terengah. Sekarang setelah dia berhenti bergerak, dia baru merasakan perih di tangan dan sakit di kakinya. Saat dia menunduk, melihat kakinya, dia baru sadar betapa parah kondisi kakinya.
Anna! Astaga! Kau di mana sebenarnya? Apa yang terjadi? Kenapa baru memberi kabar sekarang? Aku mencarimu sejak berjam-jam yang lalu. Tidak ada yang tahu kau ada dimana. Kupikir kau... Kupikir kau—
Maaf... Maafkan aku. Kau baik-baik saja? Kau sudah sembuh? Syukurlah...
Sekarang bukan saatnya menanyakan keadaanku. Kau terluka. Apa yang terjadi?
Anna hampir lupa Xavier dapat merasakan rasa sakitnya. Ini bukan apa-apa. Aku baik-baik saja—tunggu... Kenapa kau bilang tidak ada yang tahu aku ada di mana? Aku sudah memberitahu Ibuku.
Ratu Isabella tidak ada di sini. Saat ini di Istana hanya ada beberapa bangsawan dan para pengawal dan... Nanti saja kuberi tahu lengkapnya. Tapi di antara mereka semua, tidak ada yang tahu keberadaanmu. Kau di mana?
Schere. Dekat Menara. Di hutan... Anna melihat sekelilingnya. Dia sama sekali tidak tahu dimana dia berada sekarang atau sudah berapa jauh dia berjalan dari Menara. Aku mencari Earithear. Sesuatu pasti terjadi padanya. Aku merasakannya. Dia tadi terlihat di Menara. Dia menghancurkan menaranya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Aku berusaha memanggilnya tapi dia tidak menjawab panggilanku. Padahal dia seharusnya ada di sekitar sini. Anna kembali mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Mencari jejak-jejak keberadaan Earithear. Kabut-kabut itu... Jejaknya menipis. Dia tidak ada—
Baiklah... Tenangkan dirimu. Jangan ke mana-mana. Tunggu aku di sana. Tidak akan lama.
Dan benar saja, dalam hitungan detik, sesosok naga terlihat kembali di langit malam Schere.
...****************...
Tidak ada kata-kata yang terucap. Meski ada banyak sekali hal yang ingin dia katakan, semuanya hilang dalam sekejap saat Anna melihatnya berdiri di sana.
Hidup. Utuh. Sehat. Tanpa jejak-jejak Morta dalam pembuluh darahnya. Seolah kematian tidak pernah hampir menjemputnya.
Gelombang perasaan lega menerpanya hingga kakinya terasa lemas. Anna hampir jatuh berlutut di atas gundukan tanah basah hutan itu, tapi Xavier segera berlari ke arahnya dan menahannya dalam pelukannya.
"Kau membuatku takut." Ucap Xavier sebagai sapaannya.
"Kau yang membuatku takut. Jangan pernah terluka lagi seperti itu." Anna melepaskan diri untuk menatap kedua mata emerald itu. Dia baru sadar betapa dia sangat merindukan mata itu yang menatapnya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun. "Jangan pernah lagi." Ulangnya.
Anna mengingat cerita Eleanor tentang pangeran kecil yang terus dikejar kematian. Diracuni para ibu tirinya dan diperlakukan dengan kejam di rumahnya sendiri, di tempat yang seharusnya aman untuknya. Sudah berapa kali Xavier mengalami kejadian hampir mati seperti itu selama ini?
Anna menunggu, berharap Xavier akan berjanji padanya untuk tidak pernah membiarkan dirinya sendiri terluka lagi. Tapi itu tidak terjadi. Sebagai gantinya, dia merasakan sapuan lembut bibir Xavier pada bibirnya. Ciuman itu begitu spontan dan singkat. Tapi itu berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan, dan semua lukanya, patah tulangnya, keresahan hatinya, rasa takut dan lelah, hilang seperti tak pernah ada.
Mungkin karena singkatnya ciuman itu, atau karena jantungnya yang masih berdetak sangat kencang, atau karena kerinduannya pada sepasang mata emerald itu, atau karena perasaan leganya—atau kombinasi semuanya, atau malah tidak satu pun dari semua itu, karena dia memang mendambakannya sekian lama tanpa disadarinya, dia memang merindukannya, menginginkannya dan membutuhkannya—Anna balas menciumnya.
Tidak ada lagi hutan. Tidak ada lagi tanah berbatu, langit gelap dan pepohonan di sekitar mereka. Tidak ada apa pun. Hanya ada mereka berdua. Dan nafas mereka yang menyatu. Serta detak jantung mereka yang seirama.
Tidak ada negara-negara yang berselisih. Tidak ada perang. Tidak ada air mata dan pertumpahan darah. Tidak ada kematian. Begitu mudah rasanya menghilangkan semua itu, melupakan semuanya saat mereka sedang bersama. Ilusi kedamaian mutlak membuatnya terlena sehingga Anna tidak menemukan cara untuk berhenti.
Sejak kapan? Anna bertanya-tanya. Sejak kapan dia telah mencari Xavier tanpa menyadarinya. Kenapa dia begitu ingin ikut pergi dengan Leon ke pasar itu di hari dia melihat selebaran pengumuman pemilihan pengawal pribadi Xavier, padahal sebelumnya selama berhari-hari dia hanya diam di pondok mereka usai kematian ayahnya. Kenapa dia yang biasanya takut, tiba-tiba memiliki keberanian untuk ikut dalam pemilihan itu meski kemampuan berpedangnya masih belum seberapa. Kenapa dia sampai menentang Leon yang melarangnya. Mungkin jauh di dalam dirinya, tanpa dia sadari, dia tahu siapa yang dia cari. Dia mengikuti kata hatinya untuk menemukan pasangan jiwanya.
Dia terus menyangkalnya selama ini. Terus memberitahu dirinya sendiri bahwa Xavier adalah musuhnya. Musuh kerajaannya. Beragam alasan yang dia munculkan oleh akal sehatnya untuk menentang kehendak hatinya. Tidak masuk akal rasanya jika dia jatuh cinta pada orang yang baru dia temui sekitar sebulan yang lalu. Salah rasanya menginginkan seorang pria yang sudah bertunangan—bahkan sudah menikah. Terlebih lagi orang itu adalah putra dari Raja yang membunuh ayahnya. Dia terus memberitahu dirinya sendiri bahwa ini semua tidak tepat. Lalu kenapa dia sekarang merasa bagian dari dirinya yang hilang telah kembali dan merasa lengkap?
Rasanya seperti pulang. Seperti kembali setelah sekian lama pergi. Semua terasa kembali ke tempatnya semula. Anna baru menyadari betapa selama ini dia telah menyangkal perasaannya sendiri. Betapa selama ini dia merindukannya. Merindukan semua tentangnya. Tentang mereka. Semuanya. Ciuman-ciuman mereka, sentuhan-sentuhannya, kebersamaan mereka dan kehidupan mereka sebelumnya. Dia hampir dapat merasakan angin sejuk pagi hari di balkon Istana saat mereka berdansa tanpa musik. Hampir mendengar suara tawa riang Zuidlijk dan Nordlijk yang sedang bermain di halaman Istana. Hampir melihat dunia yang sempurna di matanya. Hampir merasa kembali ke kehidupannya yang lalu seolah selama ini dia hanya bermimpi mati dan terpisah dari Xavier—mimpi yang sangat mengerikan. Hingga...
Anna... Suara itu membawanya kembali ke masa saat ini di sela ciuman mereka.
"Ya?"
Mereka masih belum saling melepaskan. Belum bisa. Tapi paling tidak Anna mulai mengingat di mana dirinya berada.
Di hutan. Kami di hutan. Ini belum usai. Anna mengingatkan dirinya sendiri. Menyadarkan dirinya sendiri. Memantapkan pijakannya di tanah setelah kini kakinya tidak patah lagi. Setelah kini dia ingat untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Anna membuka matanya untuk melihat sepasang mata emerald itu lagi. Jantungnya berdebar karenanya. Tangannya masih melingkar di leher Xavier. Wajahnya merona saat menyadari betapa dekatnya mereka. Saat menyadari apa yang baru saja mereka lakukan.
"Earithear." Kata Xavier. Kata-katanya hanya berupa hembusan nafas tapi Anna dapat mendengarnya dengan jelas. Meski begitu, Anna masih belum sepenuhnya mengerti apa yang dikatakannya. "Tadi kau sedang mencarinya. Apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu benar-benar mengembalikan kesadarannya. Anna menceritakan semuanya pada Xavier yang mendengarkan dengan seksama.
"Kau bisa menemukannya. Coba panggil dia." Xavier mengusulkan.
"Sudah kucoba."
"Coba lagi."
Anna mengangguk. Dia memejamkan matanya untuk berkonsentrasi pada seluruh hutan. Earithear adalah Naga Bumi. Angin di sela-sela dahan, tanah berlumut, bahkan gemeresik dedaunan, semua itu akan memberitahu keberadaannya. Semua itu adalah esensinya.
Saat Anna kembali membuka matanya, kabut-kabut itu tampak lagi. Dia tahu matanya sudah kembali semerah langit fajar. Sebagian kabut berada di dekatnya, semerah kobaran api, memberitahunya bahwa Naga Api Agung sedang bersamanya. Kabut lainnya, yang berwarna hijau seperti hutan, membentuk jalan setapak. Anna mengikuti jalan setapak itu bersama Xavier.
Earithear, tolong jawab kami. Xavier turut memanggilnya.
Di sini. Suara itu terdengar sangat jelas dan jernih seolah Earithear sedang ada di dekat mereka. Suara itu, anehnya, sangat familier hingga Anna percaya dirinya pasti sudah sangat mengenal Sang Naga Bumi baik di masa lalu maupun di kehidupan sekarang. Tapi suara itu meringis seperti sedang menahan sakit. Seolah sedang kesulitan bernafas. Aku di sini.
...****************...
Naga itu tergeletak di atas tanah. Napasnya tersengal. Matanya hampir terpejam seolah sangat sulit bagi makhluk indah nan kuat itu untuk membuka kedua matanya.
Lusinan anak panah menancap di berbagai tempat pada sekujur tubuhnya—termasuk di jantungnya. Earithear berbeda dengan Naga Api Agung yang dilindungi sisik-sisik tebal dan keras yang bahkan dapat dijadikan pedang. Anak panah dapat melukainya.
Anna jatuh berlutut di hadapannya. Melihat Naga Bumi itu sekarat di hadapannya, menghancurkan hatinya. Pandangannya buram oleh air mata. Tangannya yang jauh lebih kecil daripada mata sang naga, menyentuh wajah Earithear, berusaha menghapus air mata sang naga. Benar-benar tidak ada sisik. Kulitnya ternyata jauh lebih lembut dari yang dia duga.
Earithear... apa yang terjadi?
Menaranya... Aku menemukan bahwa para bangsawan Nordhalbinsel yang menempati Schiereiland, yang berada di pihak Permaisuri Selena, menginvestasikan sebagian besar harta mereka pada proyek menara. Dengan hancurnya menara, maka mereka tidak punya alasan lagi untuk menetap di Schiereiland. Mereka tidak punya harta lagi dan kita dapat mengusir—
Bukan itu yang kutanyakan... Apa yang terjadi padamu?
Ratuku... Naga Bumi menatapnya dengan kedua mata yang anehnya terasa sangat familier baginya. Anna bersumpah dapat melihat senyuman yang sangat dia kenal dari wajah Sang Naga. Putriku...
Anna menoleh pada Xavier. "Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Kita harus menyelamatkannya."
Xavier masih memandangi Earithear—sedih, marah dan terkejut—tatapan itu adalah campuran dari ketiganya. Dia menggeleng lemah. "Tidak ada." Katanya. Dia kemudian berlutut mengambil sesuatu dari cakar Earithear. Sebuah kalung permata emerald. Permatanya sudah retak. Salah satu anak panah menghancurkan jantungnya. "Inti jantungnya ada di sini. Dia sudah memindahkannya." Xavier menyerahkan kalung permata emerald yang retak itu pada Anna.
Anna merasakannya, denyutnya sangat lemah dalam permata emerald itu.
Tunjukkan padanya... Suara Xavier yang bergetar berupa perintah dalam saluran mereka.
Anna menoleh padanya, tapi Xavier masih menatap Earithear. Air mata menggenang di matanya yang kini semerah mata Anna. Apa—
Aku bicara padamu, Earithear. Tunjukkan padanya. Dia berhak tahu.
Apa maksudmu, Xavier?
Kalung itu, Anna... Aku pernah melihatnya. Dia memakainya pagi itu di Istanamu saat sarapan. Kau mengenalnya, Anna. Kita mengenalnya. Tapi dia selama ini menyembunyikannya darimu. Dari kita semua. Alasan kenapa Selena mengatakan dia merasakan kekuatan naga dari arah Istana Schiereiland malam itu. Kupikir Selena hanya membuat alasan untuk menyerang Schiereiland. Kupikir itu hanya taktiknya. Alasan kenapa ayahmu terbunuh malam itu... Selena tidak membohongi ayahku. Ayahku lah yang salah menafsirkan maksud Selena. Bukan Rajanya, melainkan Ratunya. Bagaimana bisa kau menyembunyikan semua itu darinya selama ini, Baginda Ratu?
"Apa—“
Tapi sebelum Anna menyelesaikan kalimatnya, cahaya putih menyelimuti hutan itu. Begitu terang hingga dia harus menutup matanya. Saat Anna membuka matanya, tubuh Naga Bumi telah menghilang seolah dia tidak pernah ada di sana. Tidak. Tidak menghilang. Sama seperti Xavier, Naga Bumi juga memiliki wujud manusianya.
Wanita itu masih terlihat muda untuk seusianya. Dengan rambut pirang madu dan mata biru kehijauan seperti samudra. Ratu Isabella tersenyum lemah pada putrinya sambil menahan erangan sakit di sekujur tubuhnya. Anak panah itu, sebagian sudah terlepas, sebagian masih menancap pada tubuh manusianya. Sebagian masih bersarang di dadanya, menghentikan detak jantungnya—jantung fananya. Sedangkan jantung naganya, yang dia simpan di kalung permata emerald tadi sudah berhenti berdetak.
"Ibu... Kenapa..." Anna tidak dapat menyelesaikan perkataannya. Dia tidak sanggup. Dadanya terasa sesak seolah ada anak panah bersarang di sana. Tangisnya pecah.
Ini tidak nyata. Ini tidak nyata! Tidak mungkin!
Putriku... Ratuku... Ratu Isabella tersenyum sedih sambil mencoba mengangkat tangannya untuk menghapus air mata putrinya. Tapi tubuhnya sudah terlalu lemah, jadi Anna yang mengangkat tangan ibunya dan menempelkannya ke wajahnya, merasakan sisa-sisa kehangatan kehidupan yang masih tersisa dari tangan ibunya. Aku sangat senang kita terlahir kembali sebagai ibu dan anak di kehidupan ini. Aku sangat bahagia menjadi ibumu... Aku sangat menyayangimu.
Tidak! Jangan pergi... Kumohon... Aku sangat menyayangi ibu, jadi jangan pergi. Tetaplah bersamaku...
Baginda Ratu... Kenapa tidak memberitahu kami sejak awal?
Rajaku... Kali ini Ratu Isabella tersenyum pada Xavier. Anna melihat wajah Earithear di kehidupannya yang lalu. Wajah gadis muda yang cantik jelita berusia belasan tahun yang tak pernah menua meski sudah hidup ribuan tahun. Wajah seorang adik perempuan yang penyayang dan berhati lembut, yang menangis saat melihat para manusia di bumi hidup dengan sengsara. Senang bertemu denganmu kembali. Di kehidupan sebelumnya dia adalah Ratuku, tapi kini dia putriku. Kuharap kau bisa terus bersamanya dan menjaganya. Kuharap kalian bisa berbahagia di kehidupan kali ini. Kuharap kalian bisa merubah takdir kejam yang akan memisahkan kalian. Berjanjilah, kau tidak akan pernah melepaskannya. Berjanjilah padaku kau akan terus bersamanya. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkannya.
Aku berjanji, Baginda Ratu... Aku berjanji.
"Ibu... Jangan tinggalkan aku. Bertahanlah..."
Sang Ratu menghapus air mata yang mengalir di wajah putrinya. Dan dalam sentuhan singkat itu, Earithear memberitahukan semuanya. Anna melihat semuanya. Semua yang telah disembunyikan Earithear, ibunya, selama bertahun-tahun. Seluruh rahasianya. Seluruh kehidupannya.
...****************...
"Isabella, putriku, ingat ini baik-baik." Grand Duke Smirnoff tersenyum pada putri tunggalnya, "Kau adalah kebanggaan keluarga Smirnoff. Kau adalah putri Grand Duke." Begitulah Sang Grand Duke selalu berkata pada putri semata wayangnya.
"Tentu, papa. Aku akan selalu mengingatnya." Jawabnya selalu.
Meskipun kebanyakan bangsawan menginginkan seorang putra untuk menjadi pewaris mereka, Alberto Smirnoff berbeda. Baik itu seorang putra maupun seorang putri, anaknya sudah pasti akan mewarisi gelarnya. Dia tidak mempermasalahkan gender. Suatu saat nanti putrinya akan menjadi Grand Duchess Smirnoff dan semua orang akan menghormati putrinya sebagaimana semua orang menghormatinya.
Tapi ibu Alberto tidak sependapat. Dia terus menyalahkan menantunya yang tidak dapat memberinya seorang putra. Grand Duchess Smirnoff menderita penyakit langka yang membuatnya terus sakit-sakitan usai melahirkan Sang Putri. Isabella adalah anak pertama mereka sekaligus anak terakhir. Karena Grand Duchess tidak bisa lagi memberi keturunan hingga penghujung usianya.
Tapi bukan itu yang membuat Grand Duchess jauh dari putrinya. Grand Duchess mengetahui sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun tentang putrinya.
Saat musim dingin dan salju menutupi seluruh kota, Isabella kecil dapat memunculkan kehangatan seperti mentari pagi dan hembusan angin musim semi ke sekitarnya. Saat kunjungan kenegaraan singkat keluarga Smirnoff ke Nordhalbinsel, Isabella pernah menumbuhkan bunga mawar dari tanah bersalju di utara sana. Dia bisa mematangkan apel yang baru menghijau di awal musim semi. Serta berbicara dengan alam—tumbuhan, hewan, bahkan sinar matahari dan angin musim semi. Isabella dapat menyembuhkan lukanya sendiri dengan cepat dan membuat orang lain mengingat sesuatu yang terlupakan. Merasa bahwa putrinya memiliki keanehan yang tidak akan diterima oleh masyarakat, Grand Duchess selalu berpesan pada putrinya,
"Isabella, ingat ini baik-baik. Kau harus menyembunyikan keanehanmu. Hal-hal tidak lazim seperti sihir dan semacamnya tidak diterima di Schiereiland. Bahkan di utara sana, ada keluarga penyihir yang dibantai. Tidak boleh ada orang yang tahu. Bersikaplah senormal mungkin.."
"Baik, Yang Mulia." Sahutnya selalu dengan patuh.
Bahkan saat ibunya akan menghembuskan nafas terakhir di atas tempat tidurnya, saat Isabella membawakannya bunga mawar kesukaan ibunya pada pertengahan musim dingin, ibunya melemparkan bunga itu ke perapian.
"Tidak ada bunga di musim dingin! Jangan biarkan siapa pun tahu tentang keanehanmu!"
Itu menjadi pesan terakhir dari ibunya, sekaligus pesan yang selalu dia ingat hingga beranjak dewasa. Isabella tumbuh menjadi gadis normal seperti gadis bangsawan lainnya. Menyembunyikan jati dirinya dari siapa pun. Tidak ada lagi yang tahu tentang apa yang bisa dia lakukan. Bahkan ketika ayahnya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu, bahkan meski ibu tiri dan kakak tirinya memperlakukannya dengan sangat baik, dia tidak menceritakan tentang 'keanehannya' itu pada mereka.
Saat dia menginjak usia dewasa dan menikah dengan Edward yang kemudian naik takhta menjadi Raja, Edward memberitahunya seluruh rahasianya.
"Bella... Kita sudah menikah, jadi aku ingin berbagai rahasiaku denganmu. Aku sebenarnya memiliki jam pasir Grimoire. Aku mencurinya. Dan aku pernah menggunakannya untuk menyelamatkan seseorang."
"Bella... Ratuku... Sesungguhnya aku berhutang nyawa pada orang tua dari bayi ini. Kita akan merawat bayi ini dengan baik hingga dia tumbuh dewasa. Setelah itu dia boleh memilih untuk pergi atau menetap di Istana."
"Bella... Istriku tercinta... Belakangan ini aku sangat takut. Aku takut aku benar-benar sudah sangat jatuh cinta padamu. Aku takut, kalau aku mencintaimu, aku tidak akan bisa kehilanganmu."
"Bella, saat kau mengandung Anastasia, sebenarnya aku bermimpi bertemu dengan Naga. Dan jika pelajaran yang kuterima benar, dia adalah Naga Api Agung. Dia memintaku untuk melindungi putri kita. Katanya dia akan menjadi Ratu yang hebat di masa depan."
Isabella sudah mendengar semua rahasia Edward hingga tak ada yang tak diketahuinya tentang suaminya itu. Tapi sampai akhir hidup suaminya, Isabella tetap merahasiakan tentang siapa dirinya sebenarnya. Dan tidak ada penyesalan yang lebih besar dari itu.
...****************...