
Anna perlahan mengingatnya. Dia mengingat gadis jelita yang mengenakan gaun yang terbuat dari dedaunan dan bunga-bungaan, bermata merah dan berambut pirang madu yang mengajarinya memanah untuk pertama kalinya. Gadis itu adalah Sang Naga Bumi, Earithear. Anna mengingat menurunkan ilmunya juga kepada salah satu dayangnya, yang kemudian menikah dengan Kaisar Orient dan menghasilkan keturunan-keturunannya yang merupakan pemanah terbaik generasi selanjutnya. Dia adalah wanita pertama yang belajar memanah dan satu-satunya murid Earithear. Dia juga lah yang membuat Orient dikenal dengan para pemanah andalnya. Dia hampir saja melupakan fakta bahwa dia adalah salah satu bagian penting dalam sejarah.
"Aku mungkin akan bisa menyemburkan api dari mulutku suatu hari nanti. Atau mungkin juga terbang." Kata Anna saat mereka selesai mendirikan tenda di dekat padang rumput.
"Aku jadi ingin melihatnya. Pasti menarik sekali." Komentar Leon.
"Aku saja tidak bisa menyemburkan api dari mulutku." Kata Xavier. Matanya terpaku pada tumpukan kayu bakar di depannya yang belum dinyalakan, tampak seperti sedang melamun.
Hari masih terang, mereka belum membutuhkan api unggun, tapi mereka akan segera membakar daging sapi yang mereka beli tadi pagi di pasar dekat penginapan, jadi Leon menyiapkan dua batang kayu untuk membuat api unggun. Tiba-tiba saja, kayu bakar itu memunculkan percikan-percikan kecil api dengan sendirinya. Lalu menjadi api yang lebih besar, cukup besar untuk membakar daging.
"Demi Dewi! Apa itu?" Louis memekik kaget karena tiba-tiba saja api itu muncul saat dia dan Leon masih berusaha membuat api.
"Aku hanya bisa melakukan itu." Kata Xavier dengan enteng, menunjuk api yang secara ajaib muncul pada kayu bakar.
Anna ikut terkejut, hampir lupa fakta bahwa Xavier memang Naga Api Agung. Hampir lupa bahwa hal itu sudah biasa dilihatnya dulu. "Kau tidak pernah bilang..."
Xavier mengangkat bahu, "Tidak ada yang pernah memintaku untuk melakukannya. Seingatku, tidak ada yang pernah bertanya juga."
"Kau hanya suka melihat kami para makhluk fana ini berusaha keras, kan? Setidaknya kau seharusnya bisa memudahkan pekerjaan kami kalau bilang lebih awal." Protes Leon.
"Baiklah, maaf. Hanya saja... aku tidak terlalu suka. Rasanya aneh." Kata Xavier. Anna mengerti perasaan itu. Saat tiba-tiba dirinya dapat melakukan hal yang di luar nalar yang sama sekali tidak dimengertinya. Seperti saat Anna tiba-tiba dapat memanah apel merah tadi atau saat dia dengan mudah mengalahkan Leon dan Xavier. "Aku juga masih belum benar-benar bisa menggunakannya dengan benar. Kadang api yang muncul terlalu besar dan sulit dikendalikan. Terlalu berisiko. Aku pernah hampir membakar habis seisi hutan saat sedang emosi waktu kecil. Padahal itu hutan bersalju di kerajaanku."
"Jadi Naga Api Agung benar-benar pernah membakar habis satu benua? Legenda asal utara itu benar?" Tanya Louis. Matanya melebar penuh minat. "Aku pernah membacanya di salah satu buku yang dijual di pasar Nordhalbinsel."
"Oh, legenda yang itu memang terkenal. Kurasa seluruh dunia mengetahui itu. Dan ada juga kisah dimana dia disebut-sebut pernah menghancurkan negara-negara yang berhenti menyembah Dewa-Dewi." Kata Ratu Isabella.
Leon ikut bicara, "Kudengar Nordhalbinsel dulu merupakan tanah yang subur dan tidak bersalju seperti Schiereiland. Naga Api Agung membakar seluruhnya. Apinya tidak padam selama ratusan tahun sampai Naga Air dan Naga Angin turun tangan untuk memadamkan apinya dan menjadikan tanah itu ditutupi salju dan es untuk selamanya."
Louis kembali menambahkan, "Ada juga cerita tentang Naga Api Agung yang membumihanguskan seluruh—“
Xavier buru-buru mengangkat tangannya, "Benar. Semuanya benar. Tidak bisakah kita tidak membahas dosa-dosaku di masa lalu satu-persatu? Kesannya aku seperti monster menyeramkan yang populer."
Anna hanya diam mendengarkan. Dia tahu itu semua. Dia bahkan tahu apa yang belum mereka sebutkan, yang tidak tercatat dalam sejarah mana pun dan tidak mau Xavier katakan pada siapa pun. Tentang apa saja atau siapa saja yang pernah dibakar oleh api itu.
...****************...
Mereka beristirahat lebih awal malam itu karena harus segera melanjutkan perjalanan sebelum matahari benar-benar terbit. Mereka sudah mengatur sebuah rencana dan akan memulai rencana mereka setelah bertemu dengan Duke Francis, satu-satunya bangsawan di Schiereiland yang masih bertahan dalam posisinya karena berteman dengan Xavier. Anna awalnya agak ragu untuk meminta bantuan dari mantan tunangannya itu, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Mereka tidak tahu apa saja yang terjadi di Schiereiland dan tidak tahu siapa yang masih dapat dipercaya. Sedangkan Xavier cukup yakin Nicholas Francis masih belum menyerahkan kesetiaannya pada Selena.
Angin malam di hutan di wilayah kerajaan Schiereiland memang lebih bersahabat dibanding angin bersalju di hutan mana pun di wilayah Nordhalbinsel, tapi mereka tetap membiarkan nyala api unggun, api milik Xavier. Sebenarnya, alasan lainnya adalah karena api itu ternyata tidak bisa dipadamkan. Louis tanpa sengaja menjatuhkan air di atas bara api itu sore tadi dan api itu tetap berkobar tak terusik sedikit pun. Leon kemudian dengan sengaja menyiramkan seember penuh air pada api itu, dan apinya tetap tidak padam. Melihat semua usaha pemadaman api itu, Xavier hanya mengatakan, "Terakhir kali aku melakukannya, Elle harus meminta bantuan Lilithier Grimoire untuk memadamkannya dengan sihir kuno." Jadi pada akhirnya mereka sepakat untuk membiarkan api itu tetap menyala dan akan memikirkan cara memadamkannya besok.
Tengah malam, saat semua orang sudah tidur, Leon dan Xavier berjaga seperti biasa. Tapi kali itu, mereka tidak hanya berdua. Elias Winterthur ada di sana juga.
"Elle memutuskan untuk mengizinkan kapal Pangeran Yi memasuki perairan kita. Kau harus paham bahwa dia tidak bisa mengambil risiko dengan menolak permintaan baik-baik seperti itu. Diizinkan atau tidak, Pangeran Yi tetap akan mendatanginya." Elias memberikan laporan rutinnya seperti biasa. Matanya sibuk mengawasi Leon yang sedang duduk dengan santai di depan api unggun, seolah dia bisa menyerang kapan pun. Xavier duduk di sampingnya, tampak sama santainya, sedangkan Elias masih belum mau duduk bersama mereka dan memutuskan untuk tetap berdiri dengan pedang di tangannya, siap diayunkan kapan pun.
"Aku tahu. Tapi kau harus tetap menyiapkan pasukan." Kata Xavier, yang mana langsung ditanggapi dengan anggukan patuh dari Elias. "Bagaimana dengan Putri Seo-Hwa?"
Kali ini Elias menggeleng, "Sepertinya akan sulit."
"Nona Welsh menolak membantumu?"
"Dia bahkan menghindariku. Aku sudah meminta Elle untuk menjadikannya salah satu pengawalnya. Dia ada di Istana sekarang, tapi dia terus menghindariku sampai aku tidak sempat bicara apa pun lagi padanya."
"Kalau begitu, itu artinya dia tahu sesuatu tentang putri yang menghilang itu."
"Putri yang menghilang?" Tanya Leon yang tiba-tiba angkat bicara setelah lama hanya diam sambil mendengarkan mereka berdua berdiskusi terkait urusan kenegaraan yang harusnya diadakan di ruang rapat istana dan bukan di tengah hutan. Dia mengalihkan pandangannya dari api abadi di hadapan mereka dan mulai menatap Xavier dan Elias secara bergantian seolah meminta penjelasan.
"Putri Seo-Hwa dari Orient yang menghilang sekitar dua puluh tahun yang lalu." Jelas Xavier. "Dia pewaris sah takhta Orient. Anak kandung Kaisar dan Maharani Orient sebelumnya yang mati dibunuh oleh Kaisar saat ini."
"Kupikir semua anak kandung Kaisar sebelumnya sudah mati."
"Semua rakyat Schiereiland juga pasti berpikir Putri Anastasia sudah mati. Para putri biasanya punya cara tersendiri untuk bertahan hidup." Kata Xavier, menujukan kalimat terakhir itu khusus pada Leon. "Meskipun tentu saja, tidak semua putri memiliki Singa dari Selatan yang akan selalu melindunginya."
Leon tampak merenung sambil kembali menatap api, "Dewa Petir." dia bergumam pelan.
"Siapa?" Tanya Elias.
Tapi Xavier tampaknya paham yang dimaksud oleh Leon. Dia mengangguk setuju, "Panglima tertinggi kekaisaran Orient, Wu Yi-Xing. Jauh lebih sulit lagi mencarinya." Xavier kemudian menoleh pada Elias yang masih bingung dan menjelaskan, "Mimpi buruk bagi semua kerajaan yang mencoba melawan kaisar Orient. Dulu sebelum Singa dari Selatan lahir dan terkenal seperti sekarang, Schiereiland memiliki Jenderal Irene Sang Pembantai, kerajaan kita memiliki ayahmu Sang Raja Serigala, Westeria tidak suka berperang tapi mereka punya ahli pedang yang merupakan guruku dan Leon, juga orang-orang dari Klan Navarro. Orient lebih unggul dari tiga kerajaan itu karena memiliki Wu Yi-Xing Sang Dewa Petir."
"Bukan benar-benar dewa kan?" Elias memastikan.
"Bukan. Tentu saja. Tapi tidak bisa dianggap sebagai lawan yang remeh. Itulah sebabnya aku percaya bahwa Putri Seo-Hwa masih hidup. Dewa Petir pasti mengamankannya di suatu tempat." Saat mengatakannya, Xavier mencari-cari jawaban dari ekspresi Leon.
Leon mengangkat sebelah alisnya, "Kau meminta pendapatku?"
"Kau sudah berpengalaman dalam hal mengamankan putri yang nyawanya terancam.”
“Dan kau berpengalaman dalam melacak putri yang nyawanya terancam.”
“Biar kuperjelas, aku tidak pernah melacak Putri Anastasia. Aku melacakmu.” Xavier menghela nafas, tahu bahwa saat ini tidak tepat untuk berdebat. “Jika kau berada di posisi Dewa Petir, ke mana kau akan membawa pergi Putri Seo-Hwa?"
"Kita benar-benar akan mendiskusikan urusan ini dengannya?" Elias bertanya pada Xavier. Tapi Xavier mengisyaratkannya untuk tetap diam sementara Leon merenungkan pertanyaan itu.
"Orient akan menyerang. Pangeran Yi tidak akan puas dengan hanya memperoleh Nordhalbinsel. Dia pasti beranggapan memiliki Nordhalbinsel berarti memiliki Schiereiland juga. Pikirkan nasib rakyat Schiereiland. Ayahku masih jauh lebih murah hati daripada Kaisar Qin maupun Pangeran Yi. Kita punya musuh yang sama, Jenderal Leon."
Leon berbalik, menghadap Elias dan Xavier yang kini sudah sama-sama berdiri. "Putri Anastasia dan Putri Seo-Hwa adalah orang yang berbeda. Aku dan Dewa Petir juga pasti memiliki jalan pikiran yang berbeda dan menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. Aku sudah mendengarnya dari para seniorku. Apa yang terjadi di Orient dua puluh tahun yang lalu jauh lebih parah dari kejadian yang menimpa Schiereiland. Qin lebih brutal dari ayahmu."
Xavier tetap diam, menunggu Leon menjawab pertanyaannya.
"Westeria." Jawab Leon akhirnya. "Jika aku berada dalam posisinya saat itu, aku mungkin akan membawa Putri itu ke Westeria. Itu tempat paling aman di antara tiga kerajaan. Dan Westeria membenci konflik dengan negara mana pun."
"Aku juga sudah menduga itu." Xavier menyetujui. Dia kemudian menoleh ke arah Elias. Elias tidak menunggu Xavier mengatakan apa pun, dia mengangguk menuruti perintah tak terucap itu. Perintah untuk mencari baik Putri Seo-Hwa maupun Dewa Petir ke Westeria.
Leon mengamati mereka. Mengamati bagaimana Xavier dapat memberi perintah hanya lewat tatapan dan bagaimana Elias yang memiliki watak keras dapat dia kendalikan dengan mudah dan mematuhi perintahnya. Dia tidak benar-benar ingin tahu apa yang dapat membuat Serigala Gila dari Utara itu menurut dan patuh seperti anjing jinak. "Jadi kapan aku harus berangkat?" Tanya Leon akhirnya.
"Kau yakin?" Tanya Xavier pada Leon.
Leon sudah membereskan barang-barang yang harus dibawanya. Pedang Raja Zuidlijk tersampir di pinggangnya. Matanya masih terpaku pada salah satu tenda mereka di kejauhan, tempat Anna tertidur di dalamnya.
"Xavier!" Elias memelototinya, memperingatkan dalam bisikan yang lebih mirip desisan agar Xavier tidak membuat Leon berubah pikiran. Mereka semua berbisik pelan meski berada cukup jauh dari tenda mereka.
Leon kini menoleh pada Xavier yang terlihat sangat bersalah seolah habis melakukan dosa besar. Dia mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Sekarang kau mau berubah pikiran?" Tanyanya.
Xavier menggeleng. "Aku meminta bantuanmu. Bukan memaksa. Dan kau akan pergi karena setuju untuk membantuku, bukan karena terpaksa."
"Terpaksa atau tidak, memangnya kau punya jalan keluar lain?"
"Tidak ada." Xavier mengakui. "Tapi... Putri Anastasia tahu. Dia tahu. Aku tidak bisa lagi berbohong padanya."
"Bagaimana dia bisa tahu? Apa katanya?" Tanya Leon, sama sekali tidak terkejut.
"Kau tidak perlu tahu detailnya. Yang jelas, dia pasti akan membenciku selamanya. Tidak. Dia mungkin akan membunuhku kalau tahu kau benar-benar pergi."
"Wah, sayang sekali aku tidak dapat melihatnya membunuhmu. Jangan khawatir, Yang Mulia Putri tidak suka pertumpahan darah. Kalau dia marah, dia mungkin hanya akan balas dendam padamu dan membuatmu hidup menderita selamanya."
Elias bergidik ngeri mendengarnya, "Apakah gadis-gadis selatan biasanya sekejam itu?"
"Diam, Anjing Gila." Kata Leon sambil melemparkan tatapan tajam pada Elias.
"Tidak sopan." Elias sudah hampir menghunuskan pedangnya, tapi langsung ditahan oleh Xavier.
"Elias! Tolong lah. Kita membutuhkan Jenderal Leon." Kata Xavier. "Bersikap baik lah. Kumohon."
Leon tampak tidak terganggu dengan Elias yang siap menghunuskan pedang, dia hanya menatap Xavier yang masih terlihat menyesal, "Aku melakukan ini karena aku tahu kau, selicik apa pun dirimu, tidak akan melukai Yang Mulia Putri. Dan aku melakukan ini, karena aku tidak suka berhutang."
"Kau bisa membayar hutangmu dengan cara lain."
"Apa? Mengikhlaskan Schiereiland misalnya? Aku tahu aku selalu bisa membayar hutangku dengan cara lain. Tapi kau tidak punya cara lain untuk mengalahkan Selena. Dan jika dengan cara ini aku bisa membebaskan Schiereiland dari Selena, mengamankan Putri, memata-matai kerajaanmu dan ratumu, maka akan kulakukan."
Xavier mengangguk, menyetujui. Bahkan ke bagian dimana Leon mengatakan akan memata-matai kerajaannya dan Eleanor. Kerajaannya tidak patut dicurigai, sedangkan Eleanor mustahil mengkhianatinya dengan adanya perjanjian itu. Sebenarnya tidak ada yang perlu dicurigai oleh Leon, tapi dia tetap akan membiarkan Leon melakukan apa pun. Itu bukan hal besar baginya dibanding apa yang bisa Leon lakukan untuk menyelamatkan ibunya dan kerajaannya.
"Jika Anna bertanya—“
"Jika Yang Mulia Putri bertanya, kau boleh bilang bahwa aku melarangmu untuk memberitahunya ke mana aku pergi." Potong Leon. "Dia akan marah, tentu saja. Bukan hanya padamu, tapi juga padaku. Tapi kau tidak boleh memberitahunya dan pastikan dia tidak pergi ke Nordhalbinsel."
Dengan enggan, Xavier kembali mengangguk dengan patuh. Dia membenci dirinya sendiri yang harus selalu menyimpan rahasia dari Anna. Tapi dia tahu ini demi kebaikan semuanya. "Baiklah." Katanya, diiringi dengan helaan napas berat. Rahasia lainnya yang harus dia simpan. Xavier kemudian menghadap pada Elias. Temannya itu masih mengawasi Leon dengan tajam. "Elias, ingat, dia adalah tamu terhormat."
"Aku tahu." Jawabnya dengan malas.
Xavier kembali menghadap Leon, "Aku meminta satu hal lagi darimu." Katanya. "Kau akan bertemu dengan versi wanita dari Elias, yang mungkin tidak akan kau sukai. Dan lebih dari Elias, Eleanor membenci orang-orang Selatan meski dia takkan menunjukkannya terang-terangan. Tolong bersabar lah dan bersikap baik padanya. Jangan terlalu keras pada Eleanor. Dia sedang mengalami kesulitan dalam banyak hal saat ini."
Leon menanggapi dengan enteng, "Tergantung bagaimana sikapnya padaku."
"Dan Elias... tolong berikan ini pada Elle." Xavier menyerahkan sebuah bungkusan kecil dari daun.
Elias menerimanya dan membukanya. Beberapa lembar daun yang bentuknya tidak dia kenali karena di Nordhalbinsel tidak banyak tanaman seperti itu, serta beberapa biji-bijian yang juga tidak dia kenali. Elias mengerutkan keningnya, kebingungan. "Apa ini?" Tanyanya.
"Jika daunnya direbus dan air rebusannya diminum, akan membantu mengatasi mual, rasanya juga tidak terlalu buruk. Biji-biji itu untuk ditanam. Elle bisa menumbuhkannya dengan sihir. Tidak memerlukan banyak perawatan dan tahan terhadap cuaca dingin. Buahnya dapat mengenyangkannya seharian dan mencukupi nutrisi yang dia butuhkan. Buah itu dijamin tidak ada racunnya dan dia tidak perlu repot-repot masak." Jelas Xavier. "Jangan biarkan dia menanggung semuanya sendirian. Pilih beberapa orang yang kau percayai untuk membantunya mengurus pekerjaan yang sifatnya administratif. Pilih dayang-dayang yang dapat membantunya dan menjadi teman bicaranya. Dia harus tetap sehat baik fisik maupun mentalnya."
"Sejak kapan kau menjadi ahli tanaman?" Tanya Elias. Tapi dia menutup kembali bungkusan itu dan menyimpannya di salah satu sakunya. "Terima kasih sudah sedikit peduli pada saudariku."
"Pergi lah kalian." Kata Xavier. Dia beralih pada Leon yang sepertinya masih akan mengatakan sesuatu, "Jangan khawatirkan Putri Anastasia. Aku bersumpah akan menjaganya. Kau bisa mempercayaiku."
Leon hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun meski sebenarnya masih ada banyak yang ingin dia katakan. Banyak yang belum dia katakan pada Anna. Tapi dia juga tidak mau mengucapkan perpisahan karena kesannya seolah dia tidak akan kembali.
Elias memperhatikan Xavier dan Leon bergantian. Raut wajah keduanya sama. Mereka tampak tidak yakin, seolah rencana mereka tidak akan berhasil. Seolah mereka akan mati. "Jangan tegang begitu. Semuanya akan berjalan dengan lancar." Katanya.
"Aku tahu." Kata Xavier, yang mana tidak sepenuhnya dia yakini kebenarannya. Dia sendiri tidak tahu apakah semuanya benar-benar akan berjalan dengan lancar atau tidak.
Saat Xavier kembali menoleh ke arah mereka, Elias dan Leon sudah menghilang, melebur bersama udara malam.
...****************...