The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 36 : Le Prince de Glace Sans Cœur



"Kami harus menyelamatkan anak-anak itu." Eleanor bersikeras. Tapi tidak ada lagi nada memerintah khas Ratu Utara darinya. Dia justru tampak sedang memohon pada Ludwig.


"Bisakah kau membantu kami?" Anna ikut memohon. Dia tidak punya pilihan lain. Kedatangan mereka ke Menara Schere, risiko besar yang dihadapi Eleanor, semua itu tidak boleh sia-sia. "Aku akan melakukan apa pun jika kau membantu kami membebaskan anak-anak itu."


Ludwig menggeleng. "Aku tidak bisa mengembalikan mereka seperti semula." Lalu dia kembali beralih pada Constanza setelah mengendurkan cengkeraman tangannya. Constanza menarik tangannya dari Ludwig. "Adik-adikmu ada di rumahku. Kau tahu rumah yang mana. Hanya kau yang ku beritahu tempat itu. Mereka aman dan tak tersentuh oleh para penyihir. Kau selalu diterima di sana." Ludwig kembali beralih pada Eleanor yang kini semakin pucat. "Cepat bawa Ratu Eleanor pergi dari sini! Masalah akan bertambah runyam jika mereka melihatnya di sini!"


"Constanza, bawa Eleanor pergi dari sini. Aku akan tetap di sini dan mencari cara untuk membebaskan anak-anak ini."


"Tidakkah kau mendengar ku? Tidak ada cara! Mereka tidak bisa—“


Perkataan Ludwig terhenti, karena tiba-tiba terdengar suara ombak. Suara debur ombak. Tidak, setelah Anna mendengarkan lebih seksama, itu bukan suara debur ombak karena Schere jauh dari pantai. Itu adalah suara nyanyian yang indah. Nyanyian lagu penghantar tidur yang ibunya nyanyikan. Dengan latar belakang suara air terjun dan burung-burung berkicau di pagi hari. Suara hembusan angin musim semi dan gemeresik dedaunan di pohon yang baru tumbuh. Suara rintik hujan sendu di malam hari. Suara musik dansa yang terdengar tidak asing baginya. Suara Xavier. Lalu ada suara tawa—tawa dari dua anak laki-laki kakak-beradik yang berlarian di halaman istana pada sore hari yang cerah. Suara-suara itu seolah memanggilnya.


Anna begitu terlarut pada suara-suara itu hingga dia hampir lupa situasi saat ini. Hampir lupa siapa dirinya dan dimana dirinya berada.


"Suara apa itu?" Suara Constanza membawanya kembali ke kenyataan. Constanza sudah menjauh dari Ludwig, memegangi Eleanor, membantunya berdiri, bersiap untuk pergi atas perintah Anna tadi.


"Tutup telinga kalian semua! Jangan mendengarkan suara itu." Perintah Eleanor. Perintah seorang Ratu. Semua segera menuruti perkataannya, menutup telinga mereka.


"Apa itu?" Tanya Anna. Dia tidak tahu apakah yang lain juga mendengar suara-suara yang dia dengar itu. Karena yang lain tampak mengernyit sambil menutupi telinga seolah mendengar suara yang mengganggu dan memekakkan telinga.


"Seruling Beatrice Grimoire." Ludwig yang menjawabnya. Dia dengan cepat memasang pelindung sihir di antara mereka. Pelindung itu seperti gelembung raksasa anti-suara. Suara dari luar tidak bisa mereka dengar dengan adanya pelindung itu.


Anna menurunkan tangannya, menguji pelindung anti-suara itu. Suara-suara menyenangkan yang tadi didengarnya kini hilang seolah tidak pernah ada.


Constanza turut melakukan hal yang sama. Dia tidak lagi menatap Ludwig dengan tatapan penuh kebencian, melainkan penuh tanya. "Maksudmu seperti yang ada di dongeng anak-anak itu? Beatrice dan Anak-Anak Hilang?"


Anna tahu dongeng itu. Dulu Ratu Isabella sering membacakannya dongeng sebelum tidur. Salah satu yang paling dia ingat adalah sebuah dongeng dari utara, kisah tentang Beatrice dan Anak-Anak Hilang. Dia sangat mengingat dongeng itu karena menurutnya kisahnya kelam dan tidak seindah dongeng-dongeng biasanya. Dongeng dari utara memang biasa memiliki kisah yang lebih gelap dan menyeramkan namun sekaligus realistis dan menyimpan misteri. Dalam kisah itu, diceritakan Beatrice adalah seorang gadis dari desa yang begitu terpencil dan kumuh. Para penduduknya hidup dalam kemiskinan dan dilanda kelaparan, Desa itu penuh dengan anak-anak yang menderita. Beatrice ingin menghibur anak-anak di desanya, jadi dia memainkan serulingnya untuk menghibur anak-anak yang kelaparan dan menderita. Anak-anak itu memang terhibur, dan mereka selalu ingin mendengar suara seruling Beatrice. Anak-anak itu terus mengikuti Beatrice ke mana pun dia memainkan seruling itu. Hingga akhirnya Beatrice membawa anak-anak itu pergi dari desa dan menghilang selamanya. Dengan begitu, tidak ada lagi anak-anak yang menderita di desa itu. Dan semua orang dewasa yang ada di desa itu konon mati dengan telinga yang berdarah.


Anna sama sekali tidak tahu bahwa dongeng itu ternyata nyata. Seruling Beatrice ternyata benar-benar ada.


Eleanor mengangguk, menjawab pertanyaan Constanza. "Seruling itu adalah salah satu benda sihir milik Klan Grimoire yang sudah lama hilang. Beatrice Grimoire lah yang membuatnya ratusan tahun yang lalu dan dia juga yang menghilangkannya saat membawa anak-anak desa dalam cerita itu. Benar, dia juga seorang penyihir dari klan ku. Seruling itu hanya memanggil mereka yang jiwanya masih suci. Seperti anak-anak itu. Tapi bagi orang dewasa, yang sudah ternoda oleh dosa-dosa, suaranya bisa mematikan atau membuat gila."


Anna melihat sendiri bukti dari pernyataan Eleanor. Anak-anak itu—anak-anak tanpa harapan itu—perlahan satu persatu mulai bangkit. Tatapan mereka masih hampa, tapi mereka berdiri dan mulai berjalan keluar dari penjara mereka. Mereka semua berjalan menuju luar menara, mengikuti suara Seruling.


"Pergi lah." Ulang Ludwig. Anna menoleh padanya. Ludwig masih memberi mereka pelindung itu sehingga tak satu pun dari mereka terkena pengaruh Seruling.


Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Constanza sudah lebih dulu berjalan cepat dan membantu Eleanor berjalan bersamanya sambil memberi perintah pada para anggota Red Queen di pintu masuk untuk mengawal anak-anak itu dan melawan siapa pun yang berusaha menghalangi jalan mereka.


Anna menyadari bahwa para anggota Red Queen juga tidak terpengaruh pada suara Seruling Grimoire. Ludwig memberi mereka semua pelindung dengan sihirnya. Ludwig melindungi mereka semua.


Saat Anna akan melangkah mengikuti mereka semua setelah barisan terakhir dari anak-anak itu melangkah keluar, Anna kembali menoleh ke belakangnya. Ke arah Ludwig yang masih memusatkan kekuatan sihirnya untuk membuat pelindung sihir sambil memandang pintu tempat terakhir dia melihat Constanza pergi.


"Ikutlah dengan kami." Ajak Anna.


Ludwig tampak terkejut dengan ajakan itu sampai-sampai dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi segera mengurungkannya.


"Kau membantuku membebaskan Ibuku. Kau membantu Constanza dengan menyelamatkan adik-adiknya. Kau bisa saja menyerang Eleanor tadi, tapi kau tidak melakukannya. Dan sekarang, kau juga membantu kami membebaskan anak-anak itu. Ikutlah."


Ludwig tertawa sinis. "Aku tidak membantu kalian." Suaranya kembali dingin. Suara Pangeran dari Negeri Es yang tidak berperasaan. "Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Meski terkadang pendapatku tidak sama dengan pendapat ibuku."


"Lalu apa alasanmu membantuku membebaskan Ibuku dari Istana Ratu malam itu? Atau mungkin itu bagian dari rencanamu dan ibumu agar Xavier pergi dari Istana sehingga lebih mudah mengirimkan pembunuh bayaran untuknya? Apa semua itu kau lakukan untuk membantu ibumu membunuh kakakmu sendiri? Apa kau lebih bahagia sekarang setelah kakakmu mati?"


Ada sesuatu dari tatapannya yang membuat Anna mau tak mau teringat pada Xavier. Saat itu di gua, usai pertemuannya dengan Earithear. Anna mengingat tuduhan-tuduhan yang dilayangkannya pada Xavier dan bagaimana Xavier merasa bersalah dan menyesal padanya. Ludwig saat ini menunjukkan emosi yang sama. Mereka benar-benar bersaudara meski terlahir dari ibu yang berbeda.


"Aku tidak..." Ludwig sepertinya baru akan menyanggah, tapi dia segera mengurungkannya. "Benar. Itu bagian dari rencana." Dia mengakui. Kemudian buru-buru menambahkan, "Tapi aku tidak tahu bahwa mereka akan berusaha membunuhmu juga. Awalnya kupikir target mereka hanya kakakku. Xavier selalu bisa bertahan hidup entah bagaimana, jadi saat itu aku percaya dia akan bertahan. Dia tidak akan mati. Ternyata aku salah." Anna tidak mungkin salah dengar. Ludwig benar-benar terdengar sedih dan menyesal. "Dan aku tidak pernah punya niatan untuk membuatmu ikut terseret dalam hal ini. Kau seharusnya melarikan diri malam itu. Aku sudah menyuruhmu untuk pergi, bukan?"


"Kenapa?" Tanya Anna lagi.


"Kalau kau selamat... Kalau kau dan Ratu Isabella selamat, paling tidak Constanza tidak akan sendirian. Paling tidak aku bisa yakin dia tidak akan sendirian menghadapi semuanya. Dan juga..." Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkan dengan kata-kata yang paling tidak bisa Anna percayai, "Kau mengingatkanku pada ibuku."


"Apa?"


Ludwig tersenyum getir. Matanya berkaca-kaca saat dia membicarakan tentang ibunya. "Seorang putri kerajaan dengan kehidupan yang sempurna. Seluruh keluarganya dibantai dalam satu malam. Kerajaannya direbut secara paksa. Dan Sang Putri harus bertahan hidup seorang diri. Tanpa siapa pun, hanya didampingi dendam dan duka. Jadi dia menyusup masuk ke kerajaan itu, mendekati Sang Putra Mahkota untuk balas dendam, dan sialnya, malah berakhir jatuh cinta dengannya. Tapi Sang Putra Mahkota malah menikahi wanita yang sudah dipilihkan untuknya. Sampai sini, apa terdengar familier, Putri Anastasia?"


Anna terkesiap, tidak tahu pada cerita itu. "Ibumu... seorang putri dari kerajaan lain?"


Ludwig mengangguk. "Putri Laluna dari Clera, sebuah kerajaan kecil yang memuja ilmu pengetahuan dan perdamaian lebih dari apa pun sehingga militernya lemah. Letaknya di tengah samudra Tygriss, tapi kini tidak digambarkan di peta mana pun. Clera masih ada, berupa pulau kecil, tapi negeri itu begitu kecil dan terpencil sehingga aku yakin tidak ada yang tinggal di sana. Saat itu usia ibuku jauh lebih muda darimu. Dia masih sangat kecil. Dia menjadi pelayan putra mahkota selama bertahun-tahun. Dia tumbuh besar di Istana sebagai pelayan padahal dia seorang Putri. Dia hanya gadis muda yang naif. Jadi saat Sang Putra Mahkota membisikkan kata-kata cinta padanya, dia percaya. Dia percaya mereka saling jatuh cinta. Cinta membuatnya menjadi pemaaf. Dia mulai bisa memaafkan seluruh perbuatan keluarga kerajaan karena cinta itu dengan dalih Sang Putra Mahkota tidak akan sejahat ayahnya. Dia hampir bisa menghapuskan seluruh dendamnya ketika Sang Putra Mahkota berjanji akan menikahinya dan menjadikannya Ratu ketika dia naik takhta nanti. Dia bahkan diperbolehkan belajar sihir dan menjadi penyihir paling berbakat yang pernah ada. Tapi kemudian impiannya kandas. Dia dikecewakan. Putra Mahkota menikah dengan Irene Winterthur dan mereka menjadi Raja dan Ratu." Ada luka mendalam saat Ludwig menceritakan semua itu pada Anna. "Aku tidak pernah membenci kakakku. Aku menyesali kematiannya. Tapi aku adalah putra ibuku. Sampai kapan pun aku akan selalu menjadi putra ibuku. Dan karena itu, aku menjadi sosok yang paling dibenci oleh Constanza."


Anna ingin meyakinkannya. Mengajaknya lagi, memberitahunya bahwa dia tidak sejahat yang dipikirkan orang-orang tentangnya. Bahwa Constanza akan memaafkannya. Bahwa dia akan diterima di Istana Anastasia jika dia bersedia ikut. Tapi semua kalimat ajakannya hilang dan dia hanya menanyakan satu hal.


"Kau benar-benar pernah ingin meninggalkan kerajaanmu dan pergi menetap di Schiereiland demi Constanza? Bahkan jika itu berarti kau mengkhianati usaha ibumu untuk menjadikanmu raja?"


Lama Ludwig terdiam. Seolah itu adalah pertanyaan yang sulit. Bukan karena itu adalah pertanyaan yang sulit baginya. Tapi dia kesulitan menjawabnya dengan jujur. Anna tahu itu. Ludwig telah terlalu lama memainkan perannya dengan sempurna. Peran pangeran jahat, putra penyihir, perebut takhta dan sebagainya.


"Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Dia tidak menginginkan takhta. Dia hanya menuruti perkataan Ibunya." Ucapan Xavier saat itu terngiang-ngiang di kepalanya.


"Aku masih menginginkan itu. Selalu." Ludwig mengakui dengan jujur. Suaranya bergetar entah karena dia akhirnya berkata jujur tentang keinginannya sendiri, atau karena kesulitan membuatkan pelindung sihir untuk mereka semua. "Tapi aku tidak bisa. Ratu Eleanor tidak berhak atas takhtanya. Itu adalah milik kakakku dan hanya keturunannya yang boleh menempatinya. Bukan anak haram di kandungan Ratu Eleanor. Bukan. Takhta itu milik mendiang kakakku. Tapi sekarang setelah dia tiada, bahkan meski ditentang banyak orang, meski aku sendiri tidak menginginkan cara ini, meski aku harus melepaskan semua keinginanku, aku lah yang harus menempatinya. Aku harus menjadi ra—“


"Apa?" Kali ini Ludwig tampak benar-benar terkejut.


"Aku tidak bisa memberitahumu dimana dia berada. Tapi dia masih hidup." Anna kemudian teringat pada sesuatu. "Morta. Racun itu. Apa kau yang membuatnya?"


Ludwig mengangguk dengan enggan. "Itu hasil penelitianku yang belum selesai—“


"Jadi kau punya penawarnya?"


Dia menggeleng, raut wajahnya masih menyiratkan kebingungan. "Tidak ada. Aku masih belum membuat penawarnya, tapi mereka buru-buru mengambil racun itu dari lab ku untuk sebagai senjata mereka dan menjual sebagiannya ke Orient."


"Orient?" Ulang Anna.


"Ibuku pernah mengajukan pertanyaan ini padaku... Kau tahu cara balas dendam terhadap negeri yang membuangmu? Kerajaan yang mengkhianatimu?" Ludwig tersenyum pahit. Anna tidak mau mendengar jawabannya. "Membuat negeri lain menyerang negeri tersebut. Dengan kekuatan militer mereka, Naga Kembar yang mengabdi pada Kaisar mereka, serta pasokan racun Morta dari kami, Orient akan menghancurkan Nordhalbinsel."


Saat Anna baru mau mengatakan sesuatu, tiba-tiba lantai yang dia pijak bergetar. Seluruh menara bergetar. Batu-batuan mulai berjatuhan hampir menimpanya. Dia berusaha menghindari bebatuan yang berjatuhan, mencari-cari tempat berlindung atau jalan keluar, tapi tidak ada. Satu-satunya jalan keluar sudah tertutup reruntuhan. Menara akan roboh dan dia akan terkubur di dalamnya.


Sulit rasanya berjalan saat tanah yang dipijak terus bergetar dan lentera-lentera dalam penjara bawah tanah itu padam. Berdiri pun dia kesulitan. Anna tersandung reruntuhan saat akan pergi mencari jalan keluar lain dalam tempat berpenerangan minim itu. Dia tidak melihat saat batu besar jatuh menimpa kakinya. Anna menjerit, merasakan tulangnya patah.


Ludwig yang juga tampak kesulitan berdiri, berusaha berlari menuju Anna. Dengan sihirnya, dia mengangkat batu dari kaki Anna.


"Kau bisa berdiri?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan. Ada darah di kepalanya. Entah kapan salah satu batu itu mengenainya.


Anna berusaha berdiri, meski sulit. Satu kakinya patah. Dia harus menggigit bibirnya sendiri untuk menahan jeritan saat berusaha berdiri. Tapi kaki lainnya yang tidak patah masih dapat menopangnya. Ludwig di sampingnya kini memeganginya.


"Menaranya akan hancur." Saat mengatakan itu, pikirannya melayang pada Constanza, Eleanor, Red Queen dan anak-anak yang harusnya mereka selamatkan. Bahkan pada Feyna, murid sihir yang sebelumnya adalah seorang budak. Apakah mereka semua berhasil keluar dari menara? Apakah ini semua akan berakhir sia-sia?


"Aku tahu." Kata Ludwig, sambil berusaha membuat pelindung dengan sihirnya di sekitar mereka agar tidak ada lagi batu-batu yang menimpa mereka. "Kau pernah berteleportasi?"


Anna menggeleng. "Aku cuma pernah terbang." Dengan kakakmu. Tapi Anna tidak mengatakannya.


"Akan sedikit pusing bagi pemula, tapi tahan lah."


Dalam satu kedipan mata, mereka sudah berada jauh di belakang bangunan menara. Anna hampir muntah karena begitu dia membuka mata, rasanya dunia berputar-putar. Tapi paling tidak udara hutan di malam hari terasa jauh lebih menyegarkan daripada udara di dalam penjara bawah tanah tadi. Dari tempatnya berdiri, Anna melihat menara di hadapannya itu runtuh dan hancur dengan dilatarbelakangi hutan di malam hari. Pemandangan itu tampak angker dan mengerikan. Apakah semua berhasil menyelamatkan diri? Apakah para penyihir juga berhasil keluar? Berapa banyak yang mati? Saat Anna menoleh untuk mengucapkan terima kasih pada Ludwig yang telah membawanya keluar sebelum terkubur hidup-hidup, Ludwig sudah menghilang.


...****************...


Fajar belum menyingsing dan hari masih gelap, meski rasanya mereka sudah berada dalam menara itu semalaman. Anna memungut potongan kayu pohon dari tanah, cukup untuk menopangnya berdiri dan membantunya berjalan. Dia mengambil jalan memutar menuju depan menara tempat Constanza dan pasukan mereka menunggu. Constanza langsung memeluknya begitu melihatnya datang mendekat.


"Syukurlah kau sudah keluar." Kata Constanza. "Kenapa dengan kakimu? Apa yang terjadi?"


Anna balas memeluknya. Setelah semua yang mereka hadapi malam itu, dia membutuhkan pelukan hangat dari sepupunya. Lega sekali rasanya melihat Constanza dan yang lain berhasil keluar dengan selamat. Air matanya hampir keluar tapi dia menahannya. Constanza tidak akan menangis terharu di hadapan siapa pun, jadi dia juga tidak mau kalah. Anna tertawa sendiri saat menyadari setahun yang lalu dia tidak akan menyangka dapat sedekat ini dengan Constanza. "Kita berhasil. Kita selamat."


"Jangan tertawa. Kau sepertinya terkena reruntuhan menara dan jadi gila."


Anna mengeratkan pelukannya. "Terima kasih sudah bertahan dan memilih untuk tidak menyerah. Pasti sulit sekali bagimu... Terima kasih banyak, Constanza."


Constanza tidak mengatakan apa pun, tapi Anna tahu. Anna terlalu mengenalnya hingga dia tahu Constanza sedang menahan tangis. Jadi dia menepuk-nepuk punggung sepupunya itu dengan perlahan, menenangkannya.


Saat melepas pelukannya, Anna dapat melihat ada kata-kata yang belum dilontarkan oleh saudara sepupunya itu. Sebuah pertanyaan. Dan Anna tahu apa itu.


"Dia menghilang. Tepat setelah membawaku keluar dari menara. Tapi dia selamat. Itu pasti. Jangan khawatir." Anna menjawab pertanyaan yang terbesit dari tatapan Constanza. Gadis itu mengangguk singkat, tampak tidak mau terlihat terlalu peduli. Tapi tatapannya tidak dapat berbohong. Constanza mengkhawatirkan mantan tunangannya itu.


"Aku masih menginginkan itu. Selalu. Tapi aku tidak bisa." Anna mengingat kembali perkataan Ludwig, dan ingin rasanya dia memberitahu Constanza semuanya saat itu juga. Tapi saat ini ada hal lain yang lebih genting.


"Orient akan menghancurkan Nordhalbinsel."


Anna ingin segera memberitahukan hal itu pada Eleanor. Tapi dia tidak dapat menemukan Sang Ratu di mana pun.


Anna menoleh kembali ke belakang, ke arah menara yang kini sudah hancur.


Mereka berhasil membebaskan anak-anak itu berkat Seruling Grimoire. Tapi saat mereka semua sudah keluar, suara Seruling itu menghilang. Constanza bersaksi tidak melihat siapa pun yang memainkan seruling di luar sekitar menara.


Anna tidak tahu kejadian lengkapnya karena saat anak-anak sudah keluar dari menara, Anna masih di dalam menara bersama Pangeran Ludwig. Jadi Constanza menceritakan semuanya. Anak-anak itu seolah baru saja bangun dari tidur panjangnya begitu menghirup udara bebas di luar. Mereka semua menangis dan berpelukan saat tahu mereka akhirnya bebas dan dapat kembali ke rumah. Eleanor kembali mendapatkan kekuatan sihirnya setelah keluar dari menara dan hal pertama yang dia lakukan dengan sihirnya adalah kembali mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya untuk melindungi mereka semua dari serangan para penjaga menara sihir.


Pasukan Serigala milik keluarga Winterthur dan Pasukan Ratu yang sudah Anna siapkan di lokasi dekat menara datang untuk bergabung bersama anggota Red Queen dan melawan para penyihir. Beberapa penyihir kabur dan menghilang. Tapi sebagian berhasil mereka lumpuhkan berkat sihir milik Eleanor yang membuat para penyihir tidak dapat menggunakan sihir selama beberapa menit sehingga memberi waktu untuk pasukan mereka memasangkan segel sihir pada para penyihir. Eleanor memerintahkan Pasukan Serigala untuk melacak para penyihir yang kabur, sedangkan Constanza, sesuai rencana yang sudah mereka susun, memerintahkan Pasukan Ratu untuk mengamankan anak-anak dan membawa mereka ke Istana Anastasia untuk diberi pengobatan, makanan dan pakaian.


"Jadi Eleanor juga yang menghancurkan menara itu?" Tanya Anna.


"Aku belum sampai ke cerita itu. Kau harus bersiap pada apa yang akan ku ceritakan ini. Kau tidak akan percaya." Kata Constanza. "Ratu Eleanor tidak ada di sana saat hal itu terjadi. Dia mendapat kabar darurat dari salah satu Serigala untuk segera kembali ke Istana. Dia tampak tergesa-gesa dan kalut saat pergi. Dia benar-benar menghilang dengan sangat cepat bersamaan dengan para penyihir tawanan itu. Ratu Eleanor berjanji akan membuat mereka semua membayar atas kejahatan yang sudah mereka lakukan."


"Jadi bukan Eleanor yang menghancurkan menara? Lalu siapa?" Tanya Anna, tidak sabar.


"Naga."


...****************...