
"Apa?" Anna menoleh dan menghadap Leon yang sedang menyerahkan pedang miliknya. Anna menerima pedangnya itu, merasakan kembali bobot bilah pedang yang akrab di tangannya.
"Kau sudah lama tidak berlatih. Aku mau lihat perkembanganmu sebagai guru berpedangmu."
"Kenapa tiba-tiba—“
Leon sudah mengayunkan pedangnya, tapi Anna dapat segera menangkisnya.
Tak disangka-sangka, pedang terasa sangat ringan di tangannya. Anna sudah lupa kapan tepatnya terakhir kali dia mengayunkan pedang semudah ini. Setiap gerakannya seperti sudah diperhitungkan dan tidak ada yang meleset.
Leon sangat cepat dan tampak tidak ragu sedikit pun seolah percaya pada kemampuan Anna. Leon bisa menyerang dari segala arah dan membuat siapa pun lawannya kewalahan. Tapi ternyata Anna bisa lebih cepat lagi. Saat mengayunkan pedangnya, tubuhnya terasa enteng dan mudah digerakkan, seolah dia sudah berlatih setiap hari selama beberapa jam. Dia bahkan merasa bisa membaca pergerakan Leon padahal tidak pernah ada yang bisa melakukannya. Anna seolah tahu Leon akan bergerak ke arah mana dan langsung dapat memblokir serangannya. Suara dentingan pedang mereka yang saling beradu membentuk irama di tengah hutan itu.
Louis yang baru selesai mengisi semua wadah air mereka datang menonton. Ratu Isabella sedang mengamati putrinya dan putra angkatnya sambil tersenyum bangga, tidak tampak khawatir sama sekali. Xavier di sisi lain sedang mempelajari pergerakan mereka dalam diam namun tegang. Dia jelas tampak was-was setiap kali Anna hampir terjatuh atau hampir telat menghindar.
"Apa mereka belum berhenti sejak tadi?" Tanya Louis.
"Belum." Sahut Sang Ratu dan Xavier bersamaan. Xavier mengambil salah satu wadah dari tangan Louis dan minum tanpa melepaskan matanya dari Anna dan Leon.
"Yang Mulia..." Panggil Louis dari kejauhan, berusaha agar suaranya dapat didengar oleh Anna dan Leon di tengah pertarungan mereka. "Apa kalian tidak lelah? Sudah lebih dari satu jam—“
Kata-kata Louis berhenti begitu saja saat salah satu pedang terlempar hanya beberapa senti dari kakinya. Mereka bertiga yang sejak tadi hanya menonton tampak terkejut bukan main. Itu pedang Leon.
Bukan pedang milik Anna, yang terlempar adalah pedang milik Leon.
Anna tersenyum penuh kemenangan. Kulit wajahnya bersemu kemerahan. Dia terengah, tangannya pegal, keringat membasahi pakaiannya, rambutnya pendeknya berantakan di sekitar wajahnya, tapi dia tersenyum puas dan matanya berbinar-binar. Pedangnya terhunus ke hadapannya, ke arah Leon.
Leon tertawa puas. "Luar biasa, Yang Mulia." Kata Leon di sela tawanya. Lalu dia menunduk penuh hormat, tersenyum bangga pada Anna, dan mengambil pedangnya. Pedang Raja Zuidlijk. Dia kemudian menyerahkan pedang itu pada Xavier.
Xavier terkejut, belum benar-benar tersadar dari apa yang baru saja dia saksikan. Dia tidak langsung menerima pedang itu dari tangan Leon. "Kau mau aku melawannya? Setelah dia berhasil membuat pedangmu terlempar? Setelah dia berhasil mengalahkan Singa dari Selatan?"
"Berdoa lah untuk nyawamu, Putra Mahkota." Kata Leon sambil tersenyum menantang.
"Bukankah hasilnya sudah jelas? Aku pasti akan kalah. Atau mungkin mati. Violet bahkan tidak secepat itu!"
"Biar kuberi saran agar kau tidak langsung mati di menit pertama. Saat melawannya, jangan melihatnya sebagai Anna, pengawal pribadimu. Jangan juga melihatnya sebagai Putri Anastasia dari Schiereiland yang berlatih pedang padaku. Lihat lah dia sebagai Ratu Agung Zhera, dan ingat teknik berpedangnya dulu serta kebiasaan-kebiasaannya. Hanya kau yang tahu."
Anna tidak tampak gentar sama sekali saat Xavier datang dengan pedang milik Leon. Pedang Raja Zuidlijk. Pedang yang konon, saking kuatnya, dapat memutus sihir hitam. Dan Xavier lah yang dulu membuat pedang itu. Xavier seharusnya jauh lebih mengenali pedang itu dibanding Leon sendiri. Tapi Anna mengangkat dagunya dengan tinggi dan bersiap di posisinya.
Angin segar mengeringkan peluhnya. Menerbangkan helai-helai rambutnya yang sudah mulai memanjang. Membawa aroma bunga-bunga liar di hutan itu. Anna menghirup aroma menyenangkan itu lagi dan dalam sekejap, lelah yang sempat dirasakannya usai berhadapan dengan Leon tadi sudah hilang. Tubuhnya terasa segar, dia merasa sanggup melakukan apa pun. Dia tidak pernah merasa sesehat ini sebelumnya. Anna sendiri heran bagaimana dirinya bisa bergerak secepat dan seluwes itu tadi. Tapi dia mulai menyukai sensasi yang dirasakannya saat mengayunkan pedangnya dengan bebas. Rasanya seperti menari.
Xavier menuruti perkataan Leon. Pedang di tangannya lebih berat dari pedang miliknya, tapi dia mengenali bobot pedang itu di tangannya. Rasanya seperti baru kemarin saat dia memegang pedang itu dan menyerahkannya kepada Zuidlijk kecil yang tampak sangat bahagia. Zuidlijk kecil yang sangat mirip dengan Zhera. Dia mengingat moment itu sambil tersenyum.
Tapi senyumnya segera memudar begitu melihat sepasang mata berwarna merah yang sangat dikenalinya di wajah Anna. Kini dia terlihat persis seperti Zhera dari masa seribu tahun yang lalu. Tatapan tajamnya, sikap percaya dirinya, bahkan senyumannya. Itu benar-benar Zhera yang dikenalnya seribu tahun yang lalu.
Secepat munculnya, Mata Naga itu hilang dalam satu kedipan mata Anna.
"Dengar, aku tidak akan melawanmu. Aku tidak mau—“
"Aku mau." Anna langsung memotong perkataan Xavier sebelum Sang Putra Mahkota itu benar-benar mundur. "Dan kau lebih baik tidak mengecewakanku."
"Kalau kau terluka—“
"Tidak akan. Ayolah, Xavier. Ini hanya latihan, bukan pertarungan sungguhan. Ini padang bunga liar di tengah hutan, bukan medan perang. Dan aku ternyata memang butuh berlatih setelah sekian lama tidak memegang pedang."
"Kalau ini hanya latihan, kita seharusnya menggunakan pedang kayu."
"Aku selalu menggunakan pedang sungguhan saat berlatih bersama Leon. Tidak pernah ada masalah selama ini."
"Tapi aku tidak—“
"Mulai." kata Ratu Isabella yang entah bagaimana menjadi wasit dadakan di antara mereka. Anna tanpa ragu segera mengayunkan pedangnya ke arah Xavier yang langsung menangkisnya.
"Mau bertaruh?" Bisik Leon pada Louis. "Aku bahkan berani mempertaruhkan pedang itu bahwa Yang Mulia Putri akan menang."
Louis mendengus, "Kalau begitu tidak usah bertaruh." Katanya. "Saya juga yakin Yang Mulia Putri akan menang. Saya percaya pada kemampuan Yang Mulia Putri."
Sementara itu, Anna dan Xavier sudah berada di tengah duel mereka. Anna tidak lagi memikirkan apa pun yang membebani benaknya belakangan ini. Pikirannya saat ini hanya difokuskan pada pedangnya, pada gerakannya dan pada lawan di hadapannya. Pada Xavier. Gerakan Xavier tidak lebih cepat dari Leon, tapi entah mengapa, Anna seolah kesulitan membaca gerakannya. Saat Anna berpikir Xavier akan menyerang dari samping, ternyata Xavier bergerak maju ke depannya. Seolah Xavier sudah mempelajari pergerakannya tadi saat melihat Anna dan Leon berduel. Seolah Xavier sudah tahu teknik rahasianya. Seolah Xavier sudah memprediksi gerakan Anna.
"Padahal tadi kau seperti tidak berminat melawanku." Kata Anna sambil terus mengayunkan pedangnya, mencari celah untuk ditembus. Pedangnya mengeluarkan suara denting yang menurutnya sangat indah saat beradu dengan pedang Raja Zuidlijk di tangan Xavier.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak berminat, Anna." Kata Xavier sambil tersenyum tanpa sadar, turut menikmati pertarungan mereka. "Aku tidak boleh mengecewakanmu, kan?"
"Aku lebih senang lagi kalau kau benar-benar menyerang. Jangan menahan diri. Jangan memanjakanku."
"Memanjakanmu?" Xavier tertawa, "Aku sudah berusaha. Tapi kau selalu bisa menangkis setiap serangan."
"Seingatku, dulu kau lebih baik dari ini."
"Seingatku, itu sudah seribu tahun yang lalu."
Satu jam hampir berlalu, Anna tidak merasa lelah sama sekali. Dia tidak merasa ingin menyerah. Dia merasa senang dan sangat hidup. Dia tidak ingin ini berakhir. Dia seolah tenggelam dalam fokusnya dalam tarian pedang mereka. Rasanya seperti dunia di sekeliling mereka lenyap dan hanya ada mereka berdua saja. Mereka bergerak dengan selaras dan tidak memberi kesempatan kepada satu sama lain untuk lengah sedikit pun. Seolah mereka sedang menari dalam pesta dansa liar, bukan berduel pedang. Setiap serangan berhasil ditangkis dan setiap tangkisan berhasil dilawan dengan serangan lainnya untuk kemudian ditangkis kembali. Terus seperti itu tanpa akhir.
Sepintas ingatan muncul di kepala Anna. Tentang mereka berdua di kehidupan mereka sebelumnya.
Saat itu dirinya masih berstatus sebagai putri dan belum lama setelah Naga Api Agung menemukannya. Mereka belum terlalu dekat dan belum bertemu dengan naga lainnya. Mereka berlatih pedang setiap hari padahal saat itu Zhera sedang mengandung Zuidlijk.
"Siapa yang mengajarimu berpedang?" Suaranya terdengar lebih angkuh dari sekarang. Tapi itu memang suaranya.
"Akulah yang menciptakan seni berpedang yang dipakai oleh kaummu itu, manusia."
"Wah, sombong sekali, Naga Api Agung."
"Kau sendiri, seorang wanita, seorang putri, kenapa bisa semahir ini berpedang? Siapa yang mengajarimu?"
"Di negeri ini, wanita tidak diizinkan memegang senjata. Orang-orang kuno di sekitarku mengatakan wanita diciptakan untuk dilindungi. Jadi aku belajar sendiri. Aku mengamati orang-orang, membaca pergerakan mereka, lalu meniru dan melawan."
Anna tahu kenapa rasanya sulit membaca pergerakan Xavier. Itu karena Xavier tahu tekniknya, tahu gaya berpedangnya. Xavier mengenal dirinya yang ini. Sedangkan Leon tidak.
Leon tadi sempat kesulitan melawan Anna karena Anna yang dihadapinya berbeda dengan Anna yang diajarinya. Anna tidak menggunakan gaya berpedang yang diajarkan oleh Leon. Pergerakannya jauh berbeda. Dia menggunakan gaya berpedang Ratu Agung Zhera yang entah bagaimana dapat dia ingat. Dia kembali menjadi dirinya yang dulu. Dirinya yang hidup seribu tahun yang lalu.
Jadi Anna merubahnya.
Jika Leon dapat dikalahkan oleh gaya berpedang Ratu Agung Zhera, maka mungkin Xavier bisa dikalahkan dengan gaya berpedang Anna yang diajarkan oleh Leon.
"Kau yakin Anastasia akan baik-baik saja, Leon?" Tanya Ratu Isabella saat melihat Anna dan Xavier masih asyik dengan duel mereka. Sang Ratu tampak khawatir meski putrinya justru tampak sedang bersenang-senang sambil terengah-engah di setiap langkah dan gerakan.
"Tentu saja—Oh?" Leon tampak terkejut saat alur pergerakan Anna mulai berubah. Saat dia melihat gerakan-gerakan dan tangkisan-tangkisan yang dia kenal.
"Ada apa? Kenapa?" Ratu Isabella panik.
Leon tersenyum tenang. "Muridku kembali." gumam Leon saat melihat Anna mempraktikkan serangan yang dikenalnya. "Tidak. Ini lebih bagus. Kecepatan dan keluwesan itu milik dirinya sendiri, mungkin dari masa lalunya sebagai Ratu Agung Zhera, tapi teknik itu dipelajarinya dariku. Yang Mulia Putri adalah murid yang luar biasa." Kata Leon, lebih kepada dirinya sendiri.
"Tapi... Bukankah pedang milik Yang Mulia Putri terlalu kecil dan rapuh dibanding pedang milik Jenderal Leon?" Komentar Louis.
"Benar. Tapi itu tidak akan jadi masalah untuknya."
Tepat saat Leon mengatakan itu, pedang milik Anna terpotong menjadi dua. Pedang itu patah, menyisakan bilah kecil seperti pisau belati di tangannya. Tapi Anna bahkan tidak menghentikan pergerakannya dan tetap melawan. Hal itu sama sekali tak mengganggu fokusnya dalam menyerang.
Sementara itu, Xavier sempat terkejut dan lengah. Anna memanfaatkan momen yang hanya sebentar saja itu untuk menangkap tangan Xavier, memuntir lengannya hingga mau tak mau Xavier menjatuhkan pedangnya. Anna menjatuhkan Xavier ke rumput di bawah mereka dengan satu gerakan bantingan dan langsung menghunuskan bilah kecil potongan pedangnya tepat di leher Xavier.
Mereka berdua terengah-engah, lelah, namun senyum terlukis di wajah keduanya.
"Maaf..." Kata Xavier, bilah kecil itu masih beberapa senti dari lehernya. Bilah itu bisa menggores kulitnya kapan pun, tapi dia tahu Anna tidak akan melakukannya dengan sengaja. Lagi pula dia akan bisa menyembuhkan lukanya sendiri. "Aku akan membelikan pedang yang baru." Janjinya.
Tanpa diduganya, Anna justru tertawa. Suasana hatinya menjadi sangat baik berkat dua kemenangan yang diperolehnya, seolah sudah melupakan pertengkaran mereka di gua. Anna bangkit dan membantu Xavier berdiri. "Kau yakin? Aku ingin memilih sendiri pedangku. Kalau bisa, dibuat khusus. Aku suka barang mewah yang langka, tentu saja."
Xavier tersenyum mendengarnya. "Kau mungkin lupa, aku seorang Putra Mahkota. Aku bisa mengabulkan apa pun yang kau inginkan. Kau mau pedang yang ada banyak permatanya? Atau yang terbuat dari emas murni?"
"Aku mau pedang yang lebih luar biasa dari pedang Raja Zuidlijk." Ucap Anna.
"Baiklah. Aku akan membuatnya dari sisikku." Xavier tidak tampak bercanda saat mengatakan itu. Dia tampak bersungguh-sungguh.
Anna terkesiap mendengarnya, pupil matanya melebar. "Memangnya bisa?" tanyanya, setengah berbisik.
"Memangnya kau pikir pedang Raja Zuidlijk terbuat dari apa?"
"Entah lah. Kuku cakar naga? Taring naga?"
Mereka tertawa kembali.
Leon datang menghampiri mereka, mengambil pedangnya yang lagi-lagi terlempar, lalu menyerahkan busur panah dan wadah penuh anak panah pada Anna.
"Sepertinya aku sudah harus mulai pensiun. Yang Mulia sudah tidak membutuhkan pengawal pribadi." Kata Leon.
Meski Anna tahu Leon hanya bercanda, tapi kini setelah tahu rencana Xavier yang ingin meminta bantuan Leon untuk pergi ke Nordhalbinsel dan memutus sihir hitam Selena pada ibunya, kata-kata Leon terdengar seperti isyarat bahwa dia memang akan pergi. Anna langsung menepis pikiran itu darinya. Saat ini suasana hatinya sedang baik karena entah bagaimana dia berhasil mengalahkan Leon dan Xavier. Dan tubuhnya tidak terasa sakit meski sudah lama tidak berlatih. Dan Anna meyakinkan dirinya sendiri bahwa Xavier akan mengabulkan permintaan darinya hari itu di gua.
"Jangan gila, Leon. Aku masih membutuhkanmu. Rencana pensiunmu harus diundur paling tidak seratus tahun lagi. Tidak, lebih dari itu. Mungkin seribu tahun lagi. Tetap lah setia padaku sampai seribu tahun lagi." Anna mengamati busur panah itu di tangannya. "Ini untuk apa?"
"Sambil menunggu Putra Mahkota Nordhalbinsel ini membelikanmu pedang baru atau menunggu Naga Api Agung mencabuti sisik-sisiknya satu persatu untuk membuatkanmu pedang, ada baiknya kau mulai menggunakan busur panah ini, Yang Mulia. Sekedar untuk berjaga-jaga."
"Tapi aku tidak bisa—“
"Kau bisa. Kau hanya belum tahu kalau kau bisa. Coba saja." Leon membantu Anna memasang anak panah itu pada tali busurnya. "Bidik apel itu."
"Yang hijau itu?" Anna menunjuk pada pohon buah apel yang tidak jauh dari mereka. Apel itu disebut sebagai apel Westeria karena bibitnya berasal dari Westeria. Pohonnya paling tinggi hanya mencapai sepuluh meter dan buahnya lebih asam dan berwarna hijau.
Leon tertawa sinis, "Kau seharusnya lebih tahu, sebagai guru aku tidak semurah hati itu, Yang Mulia." Dia menunjuk jauh ke atas pohon yang lebih tinggi dan lebih jauh dari mereka. "Yang merah di sana itu."
Berbeda dengan apel Westeria, apel Schiereiland berwarna merah dan bersinar seperti ada cahaya matahari yang terkandung di dalam apel tersebut. Buahnya manis dan berair serta tinggi pohonnya dapat mencapai lima kali lipat tinggi pohon apel Westeria.
Anna berbalik menghadap Leon yang masih melihat apel merah itu, "Leon—“
"Kau pasti bisa." Kata Leon langsung.
"Kalau kau sebegitu inginnya makan apel Schiereiland, kita bisa membelinya di pasar. Meskipun lebih mahal dari apel Westeria, aku yakin ada yang menjualnya—“
"Coba lah dulu. Kau bahkan belum mencobanya." Bujuk Leon.
"Itu mustahil. Terlalu jauh dan terlalu tinggi. Mengenai apel Westeria yang di sana saja belum tentu aku bisa. Bahkan sudah bagus jika aku tidak mengenai satu pun diantara kalian."
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Xavier mengamati busur panah itu di tangan Anna. Jari-jari lentik gadis itu yang sedang memegang busur panah dan anak panah seolah merupakan pemandangan yang sudah sering dilihatnya.
Pemandangan itu memang sering dilihatnya dahulu kala.
"Jenderal Leon benar." Kata Xavier, setengah melamun. Dia kemudian menatap mata Anna yang kembali berubah warna menjadi merah barang sesaat dan langsung kembali normal. "Kau bisa."
Anna menggeleng, "Kalian mulai aneh."
Anna sudah hampir mengembalikan busur panah itu pada Leon, tapi Leon menaruh tangannya di atas tangan Anna, membantu Anna memasangkan anak panah itu kembali pada busurnya. Efek sentuhan itu pada tangannya membuat jantung Anna berdebar tidak karuan.
"Bidik saja, Yang Mulia."
Anna menghela napas, tapi dia menuruti perkataan Leon. Anna mencoba melihat apel merah itu yang berada sangat jauh dari mereka sehingga dia harus memicingkan mata. Tapi kini saat dia melakukannya, Anna bersumpah dapat melihat apel merah itu dengan sangat jelas seolah apel merah itu ada di depannya dan dapat dia raih dengan tangannya. Anna membidik apel itu, bernapas lebih perlahan dan teratur, merasakan hembusan angin yang menerbangkan rambutnya yang semerah apel Schiereiland. Saat dia merasakan angin di sekitarnya berhenti berhembus, Anna langsung menembakkan anak panah itu.
Terdengar suara apel yang terjatuh dari kejauhan. Louis segera berlari menghampiri tempat apel itu tadi jatuh dan mengangkat apel merah yang terkena tembakan anak panah dari Anna.
"Yang Mulia berhasil!" Louis memekik girang dari kejauhan.
"Mudah kan?" Kata Leon sambil menyunggingkan senyum bangga padanya.
Anna masih tidak percaya pada apa yang baru saja berhasil dia lakukan dengan kedua tangannya sendiri. Dia melihat Ratu Isabella yang sejak tadi menonton dalam diam tidak jauh darinya mengangguk dengan bangga seolah sudah tahu Anna akan berhasil melakukannya. Bahkan Xavier juga tidak tampak terlalu terkejut pada hal mustahil yang baru saja dia lakukan seolah itu hal yang sudah biasa dia lakukan.
Anna menoleh kembali pada Leon, masih bingung, "Bagaimana—“
"Aku tahu kau bisa." Kata Leon. "Ratu Agung Zhera adalah pemanah terbaik sepanjang sejarah."
...****************...