The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 26 : Premier Rendez-vous



Saat Duke Nicholas Francis datang pagi itu, Anna dan Xavier sedang berada di balkon. Louis sedang membaca buku-buku di perpustakaan Istana. Jadi Nicholas, setelah perjalanan panjang semalaman usai pesta pernikahannya di Duchy Francis, langsung bertemu dengan Ratu Isabella yang selama ini diduga telah tewas dalam penyerangan malam itu.


Sang Duke terkejut bukan main saat melihat Sang Ratu.


Nicholas tidak henti-hentinya mengucapkan permintaan maaf pada Sang Ratu karena hanya dirinya yang berhasil mempertahankan wilayah kekuasaannya. Dia merasa seperti seorang pengkhianat Negara karena mempertahankan posisinya berkat pertemanannya dengan Putra Mahkota Nordhalbinsel—dengan penerus takhta dari negeri musuh. Dia mengatakan betapa dia sangat bersyukur bahwa Ratu Isabella dan Putri Anastasia masih hidup.


Mereka berlima pun akhirnya berkumpul di ruang rapat. Saat Anna menanyakan di mana Rumelle, Nicholas mengatakan bahwa Rumelle harus tetap berada di Kediaman Duke Francis dan menggantikannya mengerjakan tugas-tugasnya selama dia pergi ke Eze. Nicholas juga mengatakan bahwa Rumelle ingin mengirimkan surat padanya jika Sang Putri yang merupakan mantan tunangannya itu mengizinkan.


"Tentu saja. Aku akan sangat senang jika Duchess bisa berkirim surat denganku." Jawab Anna dengan senyum ramah.


Nicholas, di luar dugaan Anna, terlihat sangat senang. "Suatu kehormatan, Yang Mulia." Katanya sambil menunduk sopan.


Xavier dan Anna sepakat bahwa mereka benar-benar membutuhkan bantuan Nicholas sehingga mereka memberitahu Nicholas semuanya. Menceritakan kisah yang sebenarnya yang tidak mereka beritahukan saat kedatangan mereka di kediaman Duke Francis. Tapi Xavier dan Anna sepakat untuk tidak menceritakan tentang siapa mereka sebenarnya pada Nicholas **** Xavier sendiri curiga Nicholas memang sudah tahu atau sudah menduganya.


Ratu Isabela memberitahu Nicholas tentang rencana mereka. Tentang Alexis yang mencari para naga dan mereka yang masih mencari Alexis. Tentang buku yang disimpan Leon di perpustakaan Istana Schiereiland. Lalu tentang desas-desus yang mereka dengar mengenai Red Queen.


Tidak butuh waktu lama bagi Nicholas untuk memproses semua informasi yang baru disodorkan padanya itu. Nicholas yang terkenal cerdas, berhasil terlihat tenang dan mengatur strategi bersama mereka semua. Strategi untuk menemukan buku itu di perpustakaan Istana Schiereiland, menemukan Alexis, mendapatkan aliansi dengan para bangsawan Schiereiland yang masih bertahan hidup di suatu tempat, serta menemukan Red Queen dan membebaskan para budak anak-anak.


Mereka merampungkan rapat pagi itu segera dan mulai menjalankan tahap awal rencana mereka. Untuk melakukan itu, Ratu Isabella harus tetap berada di Istana sementara waktu sambil mengirimkan surat-surat kepada para bangsawan yang mungkin masih dapat dia hubungi secara rahasia. Xavier meminjaminya pena Grimoire. Sedangkan Nicholas diberikan tugas mulia oleh Sang Ratu dan langsung menjalankannya. Selama hari-hari berikutnya, mereka sibuk menjalankan rencana mereka.


Sejak hari pertama, Louis sudah berangkat ke Schere, ibu kota Schiereiland, untuk mencari informasi yang mereka butuhkan serta melaksanakan tugas rahasia. Beberapa pengawal keluarga Francis menemaninya dalam perjalanan ke Schere. Dia diberikan pakaian resmi seperti yang biasa dikenakan para penyampai pesan keluarga kerajaan serta dititipkan lambang keluarga Francis dan kalung mawar milik Putri Anastasia sebagai pertanda bahwa dia memang utusan dari keduanya. Dia diminta untuk menyebarkan informasi di Schere bahwa Putri Anastasia masih hidup dan berencana pergi ke Istana Schiereiland.


Hari berikutnya, Xavier dan Anna berjalan-jalan di kota. Tanpa penyamaran, tanpa persembunyian, hanya menjadi diri mereka sendiri. Anna mengenakan gaun musim semi khas Schiereiland. Perhiasan dari emas dan permata yang sudah disediakan Nicholas di Istana itu, yang sejak awal sudah ada di sana sebagai hadiah pertunangan mereka sebelumnya, kini dia kenakan. Rambut merahnya yang sudah sepanjang bahu, dia biarkan tergerai tanpa ditutupi oleh topi, kepangan kecil dari bagian pinggir rambutnya melingkari kepalanya seperti mahkota berhias bunga-bunga musim semi dan mutiara. Dia ingin memastikan semua orang melihat rambut merahnya itu. Orang yang mengenalnya—bangsawan Schiereiland yang melihatnya pasti akan muncul dengan sendirinya. Atau paling tidak, akan ada desas-desus tentang seorang putri bangsawan yang berkeliaran di kota yang rambutnya berwarna merah.


Sedangkan Xavier di sampingnya, mengenakan pakaian khas bangsawan Nordhalbinsel. Simbol empat naga, simbol kerajaannya disematkan di dadanya. Seolah sedang membuat pernyataan tegas bahwa dia berasal dari negeri musim dingin abadi itu, dan bahwa orang-orang utara tidak sudi mengenakan pakaian dan simbol orang-orang selatan. Dia kini terlihat layaknya seorang pangeran tampan dari utara. Terlihat seperti tokoh antagonis dalam sebuah kisah dongeng, kejam, dingin dan tak tersentuh. Terlihat sebagai sasaran tepat untuk diculik oleh anggota Red Queen.


Untuk membuat penampilan mereka semakin menjadi pusat perhatian orang-orang di kota, mereka menempatkan barisan pengawal berseragam khas para pengawal Nordhalbinsel tidak jauh di belakang mereka. Tidak terlalu jauh, namun juga tidak terlalu dekat. Hanya untuk membuat pernyataan bahwa mereka bangsawan terhormat yang dijaga oleh para pengawal dari utara. Meski sebenarnya, Anna menyembunyikan pisau belati milik Xavier di balik gaunnya dan Xavier terang-terangan membawa pedang Nordhalbinsel di sabuk pinggangnya.


Kota Eze adalah salah satu kota di pinggiran wilayah Duchy Francis yang terkenal dengan kesunyian dan ketenangannya karena dekat dengan pesisir pantai yang diklaim sebagai milik keluarga kerajaan Schiereiland. Pemandangannya sangat indah. Jalanannya terbuat dari batu-batu beraneka warna, bangunan-bangunannya relatif tua dan bersejarah, namun masih berdiri kokoh. Sebagian besar bangunannya tidak disemen dan tidak dicat, dibiarkan dirambati tanaman berbunga. Biasanya para bangsawan Schiereiland minimal akan punya satu bangunan vila atau mansion di Kota Eze untuk pergi dari rutinitas sehari-hari di ibu kota dan berlibur atau untuk berkencan dengan orang terkasih. Jadi seharusnya tidak banyak bangsawan Schiereiland yang berada di kota tersebut pada hari-hari seperti ini.


Namun kota Eze pagi itu tampak ramai. Rupanya kedatangan Duke Francis pagi itu ke kota tersebut menarik perhatian banyak penduduk sekitar. Dan mereka tampak bertanya-tanya siapa pasangan bangsawan yang baru saja turun dari kereta kuda milik keluarga Francis tersebut. Mereka tidak berani menatap langsung kedua bangsawan rupawan yang berjalan berdampingan itu, tapi mereka tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran mereka terlebih karena banyaknya pengawal yang mengiringi mereka di belakangnya.


Kelihatannya Anna dan Xavier hanya berjalan-jalan—Xavier menyebutnya 'kencan pertama'—menghabiskan harta yang tiada habisnya seharian, pergi berbelanja ke butik, ke tempat perhiasan, dan saat sudah hampir sore, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju restoran termewah di kota itu. Bahkan mungkin termewah di Schiereiland.


Tapi tentu saja bukan hanya itu yang mereka lakukan.


"Saat ini, hampir semua bangsawan yang masih hidup, yang terusir dari gelar serta rumahnya pergi ke vila liburan mereka di Eze." Begitulah informasi yang diberikan oleh Nicholas. Itulah sebabnya mereka berkeliaran di jalanan kota Eze.


Butik yang mereka datangi adalah milik putri bungsu Count Montgomery. Salah satu bangsawan yang sudah lama berhubungan baik dengan Grand Duke Smirnoff, keluarga Ratu Isabella. Putri bungsu Count tersebut, Elise, dikabarkan sudah menikah dengan Marquess Gillies lima tahun lalu dan Sang Marquess, menurut informasi dari Nicholas, baru-baru ini meninggal dunia akibat berusaha melawan saat para penyihir menyeret putra kecil mereka ke proyek Menara. Elise Gillies adalah salah satu putri bangsawan yang akan langsung mengenali Anna begitu melihatnya karena mereka pernah bertemu di Istana beberapa tahun yang lalu. Sasaran pertama mereka untuk menjadi aliansi adalah keluarga Count Montgomery serta keluarga Marquess Gillies.


Sesuai dugaan, Elise langsung mengenali Anna. Dia membungkuk penuh hormat dengan mata berkaca-kaca begitu melihat Anna masuk ke butiknya dan meminta semua orang keluar serta langsung menutup butiknya tersebut. Namun saat berikutnya, saat Xavier masuk, Elise tampak murka. Dia jelas sangat membenci orang-orang utara yang sudah menghancurkan keluarganya—mengambil gelar bangsawan ayahnya, membunuh suaminya serta mengambil anaknya. Anna berusaha menenangkannya dan menjelaskan semuanya pada Elise. Elise pun mendengarkan dengan seksama dan akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam rencana mereka.


Setelah Elise, mereka mengunjungi Julian dan Jill. Kakak-adik pemilik toko perhiasan paling terkenal di seluruh wilayah Francis itu memiliki kulit putih salju seperti Xavier, khas orang utara. Pada masa pemerintahan Raja Eustacius, seorang pembelot Nordhalbinsel mencari perlindungan di Schiereiland. Raja Eustacius menikahkannya dengan salah satu sepupu jauhnya dan memberinya gelar bangsawan. Sejak itu keluarga Renaux secara turun temurun mengabdi dengan setia pada keluarga kerajaan Schiereiland. Julian dan Jill adalah salah satu keturunan mereka yang Anna ketahui sedang berada di Kota Eze.


Dan pemilik Blue Diamond, restoran termahal di Kota Eze, tentu merupakan salah satu target aliansi mereka. Wanita muda terkaya di seluruh Schiereiland saat ini. Meski pun Anna sendiri enggan mendatanginya karena mereka tidak memiliki hubungan yang baik, tapi jika informasi dari Nicholas benar, Lady Constanza Smirnoff seharusnya ada di sana.


Matahari hampir terbenam saat mereka turun dari kereta kuda dan berjalan menuju restoran tersebut. Tiba-tiba saja pandangan Anna menjadi buram. Kabut-kabut beraneka warna itu kembali muncul. Lalu dia mendengar suara-suara yang tidak dia kenal. Suara-suara itu ada di kepalanya dan terasa sangat jauh.


Aku tidak mau melakukannya... Kasihan sekali Ratu itu.


Kita tidak punya pilihan lain, Kaze.


Ratu itu sedang mengandung, Shuu. Bayi manusia tanpa dosa. Aku jadi teringat pada Ratu Agung saat kita pertama kali bertemu dengannya. Saat itu, beliau juga sedang mengandung.


Dia bukan Ratu Agung. Dan tidak ada Raja kita di sini. Kita harus menjalankan perintah Pangeran.


Aku tidak mau menjadi monster! Kalau kau mau, kau saja yang membuat banjir seisi negeri es ini! Kau mungkin lupa, tapi aku jelas ingat bahwa kita lah yang menjadikan daratan ini ditutupi es. Oleh airmu dan juga angin dinginku. Aku tidak mau menghancurkan tanah yang sudah kuselamatkan!


"Anna?" Xavier menyadarkannya. Tangannya menahan tubuh Anna yang hampir ambruk karena serangan tiba-tiba itu di dalam kepalanya.


"Aku baik-baik saja." Anna menegakkan tubuhnya. Mengerjap-ngerjap, karena saat melihat sekitarnya, dunia terasa berputar dan udara musim semi tiba-tiba terasa dingin membekukan. Anna bahkan dapat mendengar debur ombak di lautan dengan sangat jelas seolah ombak itu ada di dalam kepalanya. Semua suara terdengar lebih jelas dan saling tumpang tindih. Penglihatannya menajam hingga dia bahkan bisa melihat semut yang merambat di tembok bangunan yang jauh dari mereka.


Aku mendengar mereka juga. Tapi sepertinya mereka tidak dapat mendengar kita. Jarak kita dengan mereka mungkin terlalu jauh.


Anna tersadar dia lupa menutup saluran komunikasi mereka. Xavier masih memeganginya karena kakinya memang masih gemetar dan dia belum bisa berdiri dengan tegak. Dia menatap sepasang mata emerald yang tampak cemas itu. Apa mereka... benar-benar...


Benar. Tidak salah lagi. Itu Naga Kembar. Dan sepertinya di kehidupan ini  mereka terlahir sebagai orang Orient.


Orient... Tapi sepertinya mereka berada di utara saat ini. Anak perempuan itu... Dia Aerinear kan? Dia Naga Angin. Dan sepertinya dia terdengar sangat marah. Aku bisa merasakannya lewat saluran itu.


Kenapa?


Matamu berwarna merah. Belakangan ini, tanpa kau sadari, itu sering terjadi.


Anna mengikuti perkataan Xavier. Dia memejamkan matanya dan mengambil nafas panjang. Perlahan, dia menghembuskan kembali nafasnya. Dia terus melakukan hal itu berulang-ulang sampai saat dia membuka matanya kembali, warnanya sudah tidak merah.


Merasa lebih baik?


Anna mengangguk. Kepalanya tidak terasa sakit lagi dan udara musim semi kembali terasa normal. Pandangannya kembali jernih dan normal. Kabut-kabut beraneka warna itu hilang. Suara-suara yang memekakkan telinga itu kini kembali normal. Hingga dia bisa kembali berpijak pada dua kakinya sendiri tanpa bantuan. Tapi Xavier masih menggenggam tangannya. Dia menatap Xavier, tahu mereka memikirkan hal yang sama setelah mendengar percakapan Naga Kembar tadi. Eleanor. Ratu yang mereka bicarakan pasti Eleanor. Mereka pasti berada di Nordhalbinsel sekarang.


Anna tahu Xavier sependapat dengannya meski tidak mengatakannya. Dia juga tahu betapa Xavier ingin cepat kembali ke kerajaannya. Terlihat jelas dari ekspresi kalut di wajahnya.


Mungkin kau harus segera kembali, Xavier.


Anna tidak menunggu Xavier yang hendak menolak saran itu darinya melalui saluran komunikasi mereka karena tepat saat itu, Anna dapat merasakannya. Udara bergerak beberapa meter jauhnya darinya. Sangat cepat sampai-sampai Anna pikir akan terlambat. Dia buru-buru menarik Xavier jauh dari tempatnya sebelum sebuah anak panah menembus jantungnya.


Di dadanya, di tempat Anna mengalungkan cincin ruby pemberian Xavier, Anna merasakan detakkan jantung dan panas dari cincin itu.


Anak panah itu tidak mengenai mereka. Anna berhasil menangkapnya, mengamati anak panah berwarna merah tersebut. Anna segera mencari-cari arah datangnya panah itu. Dari atas atap salah satu bangunan di sekitar mereka, Anna dapat melihat bayangan bergerak cepat. Seseorang menargetkan Xavier.


Mendadak jalanan menjadi sepi. Orang-orang yang sejak tadi berlalu-lalang di kota itu, pergi entah ke mana. Mereka seolah tahu apa yang sedang terjadi dan tidak ingin terseret dalam pertempuran jadi mereka sembunyi.


Para pengawal segera membentuk lingkaran di sekeliling mereka. Pedang-pedang dihunuskan. Berpasang-pasang mata tampak awas memperhatikan setiap lokasi kemungkinan anak panah itu berasal. Tapi suasana di sekitar mereka tampak terlalu sepi seperti tidak ada orang sama sekali selain rombongan mereka. Siapa pun mereka yang sedang berusaha menyerang, mereka bersembunyi dengan sangat baik.


Tak lama berselang, Anna kembali merasakan pergerakan di udara. Dengan sangat cepat Anna sudah mengambil pedang di pinggang Xavier dan menangkis serangan panah berikutnya yang lagi-lagi diarahkan tepat ke jantung Xavier. Mereka tersebar di berbagai tempat dan semua membidik dengan tepat. Gerakan mereka cepat dan sunyi. Mereka pasti pemanah handal. Dalam gerakan berikutnya, sebelum panah lainnya meluncur, dengan sangat cepat, Anna sudah mengeluarkan pisau belati Xavier yang dia simpan di balik gaunnya dan memberikannya pada Xavier. Di tangan Xavier, pisau itu langsung berubah menjadi pedang yang sangat besar.


Mereka siap dengan senjata masing-masing, saling memunggungi dan siaga terhadap kemungkinan serangan berikutnya.


Lima... Tujuh... Delapan... Xavier menghitung, sambil memperhatikan sekitarnya.


Ada sepuluh, kurasa. Mungkin lebih. Di menara lonceng ada dua. Kata Anna.


Menara lonceng? Xavier kemudian menyadari menara lonceng yang Anna maksud. Letaknya sangat jauh dan tinggi. Mata manusia mustahil dapat melihatnya. Tapi kedua mata Anna kini kembali berwarna merah. Itu Red Queen. Tidak salah lagi. Biarkan salah satu dari mereka mengenaiku, Anna.


Tidak! Protes Anna langsung.


Aku sungguh merasa terhormat kalau kau mengkhawatirkanku, tapi kita harus mengalah. Bukankah ini yang kita rencanakan? Kita datang ke tempat ini bukan hanya untuk berpura-pura berkencan sambil menemui calon-calon sekutu kita, meski pun kalau boleh jujur aku sangat menikmati kencan hari ini. Kita datang ke sini, berpakaian seperti ini, untuk menarik perhatian Red Queen agar mereka muncul. Aku harus berperan sebagai umpan yang cukup meyakinkan.


Mereka menginginkanmu tidak peduli dalam keadaan hidup atau mati. Kau tidak lihat tadi? Mereka membidik tepat ke jantungmu! Kau bisa mati! Ini tidak ada dalam skenario yang kita rencanakan.


Berikan mereka apa yang mereka inginkan untuk bisa menangkap mereka. Lagi pula aku cukup yakin mereka tidak akan membunuhku. Mereka bukan orang-orang jahat. Mereka rakyatmu.


Mereka menargetkan jantungmu!


Kau memilikinya. Jantung itu. Selama kau memilikinya, aku akan selalu hidup. Percaya lah.


Aku akan melawan mereka.


Jangan. Terlalu berbahaya. Kau bisa dikira pembelot. Mereka bisa menargetkanmu juga. Bertingkah lah seperti seorang Putri Schiereiland tanpa kemampuan berpedang. Ingat peranmu hari ini.


Mereka sudah melihatku menangkis serangan panah dengan pedangmu. Mereka sudah melihatku memegang pedang. Tidak ada gunanya berpura-pura...


Salurannya terputus tiba-tiba. Hening yang mencekam.


Xavier?


Anna tidak tahu apa yang terjadi sampai saat dia melihatnya, anak panah itu menancap di dada Xavier. Tepat di tempat jantung fananya berada. Darah mengalir deras dari sana. Pakaian mewahnya yang berwarna putih menjadi merah oleh darahnya.


Cincin permata ruby itu diam. Dingin. Tanpa denyut.


Xavier!


Anna berteriak memanggilnya dari saluran itu. Tapi tidak ada jawaban. Tidak ada siapa pun. Hanya dirinya sendiri.


"Xavier!" Dia memanggil lagi. Kali ini dengan suaranya sendiri yang ternyata bergetar. Ketakutan kembali menjalarinya seperti saat malam penyerangan itu di Istana. Dia terus berteriak dan memanggil, tapi tidak ada jawaban.


...****************...