
Leon pikir Violet adalah guru terkejam yang pernah dia temui. Dia salah.
Waktu kecil, guru matematikanya di Istana, guru yang sama yang kemudian mengajar Putra Mahkota Alexis, sangat tegas padanya sampai-sampai dia tidak berani menatap matanya. Guru sejarah bahkan akan memukulinya dengan ranting jika dia tidak menghafal pelajarannya, tapi Leon tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, bahkan kepada Putri Anastasia maupun Ratu Isabella. Jika Ratu tanpa sengaja melihat luka lebam di kaki dan tangannya, Leon akan berbohong bahwa dia terjatuh dari tangga karena kurang berhati-hati atau terjatuh saat berlari di halaman atau ribuan alasan lainnya agar Ratu tidak memecat gurunya. Tapi semua guru di Istana, tidak ada yang mengalahkan Violet, guru berpedangnya dari Westeria. Violet mengusir Leon saat pertama kali dia datang ke kastilnya tempat dia mengajar beberapa anak didiknya dari berbagai negara. Dia mengumpat dengan bahasa Westeria, mengira Leon tidak mengetahui artinya padahal Leon sudah menguasai bahasa Westeria walau saat itu usianya baru enam tahun.
"Sialan! Aku tidak mau mengajar anak kecil! Dasar orang-orang selatan keparat! Beraninya mereka mengirimkan anak kecil ke sini!" Lalu Violet menambahkan dengan bahasa Schiereiland yang kaku, "Pergi sana bocah! Kembali ke ibumu!"
Dalam hati Leon mengatakan, "Tapi aku tidak punya ibu". Dia tidak mengatakannya keras-keras. Percuma saja.
Walau sudah diusir, Leon terus berdiri di depan gerbang kastil Violet dan tidak beranjak dari sana seharian bahkan meski pun saat itu sedang hujan lebat. Raja Edward sudah memperingatkannya bahwa Si Ahli Pedang Westeria itu bukan guru yang mudah dihadapi dan memiliki temperamen yang sangat buruk. Jadi Leon tidak kaget sama sekali terhadap perlakuan Violet padanya dan Leon sudah bertekad untuk belajar pedang kepada Violet.
Pada hari kedua, dia menyerah menunggu. Dia mengendap-endap masuk ke dalam. Kastil tempat tinggal Violet adalah kastil tua yang tampak angker. Dari luar, kastil itu tampak seperti kastil berhantu yang tidak ditempati oleh siapa pun. Tidak ada penjaga sama sekali. Violet tidak perlu dijaga oleh siapa pun. Dia tinggal sendiri di kastil itu dan tidak ada orang yang cukup bodoh untuk menyelinap masuk dengan tujuan buruk.
Tapi Leon menyelinap masuk, bukan dengan tujuan buruk. Setelah berhasil masuk, dia bersembunyi dan mengamati murid-murid Violet yang rata-rata berusia remaja sampai dewasa. Mereka semua berbadan besar jika dibandingkan dirinya yang masih berusia enam tahun. Tapi mereka semua tampak sangat takut dan ciut di hadapan Violet. Padahal nenek tua itu usianya pasti sudah lebih uzur dari Ibu Suri—Ibu dari Raja Edward. Leon bahkan berpikir mungkin usianya sudah mencapai seratus tahun. Seluruh rambutnya yang dipotong cepak sudah menjadi putih, atau mungkin sejak dulu memang berwarna putih, tidak ada yang tahu. Violet memiliki postur tubuh kecil yang sepertinya hanya terdiri atas tulang, otot dan kulit keriput. Leon mengira-ngira tingginya, hanya beberapa senti lebih tinggi dari Leon. Dalam waktu beberapa tahun, Leon pasti sudah melampaui tinggi si nenek tua itu. Meski begitu, tak satu pun dari para murid itu dapat mengalahkan Violet.
"Siapa lagi! Ayo cepat maju!" Violet berteriak membentak pada murid-muridnya. Tak satu pun dari mereka punya tenaga untuk maju dan kembali melawannya.
Jadi Leon maju. Saat itulah Leon melihat kedua mata Violet dengan jelas dari dekat. Warnanya hijau cerah. Bukan. Bukan sekedar hijau. Warnanya emerald. Seperti permata yang bersinar saat terkena sinar matahari, sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna agak gelap khas orang-orang barat. Leon memberanikan diri bicara padanya dengan bahasa Westeria. "Saya akan melawan Anda. Mohon pinjamkan saya pedang. Jika saya berhasil bertahan hingga lima menit saja, jadikan saya murid Anda. Jika saya tidak berhasil bertahan sebelum lima menit, Anda boleh mengusir saya."
Violet memerintahkan salah satu muridnya untuk meminjamkan pedangnya untuk Leon. Tentu saja, Leon tidak bertahan sampai lima menit. Baru dua menit saja, Violet berhasil menumbangkannya. Tapi saat itu, Violet justru mengulurkan tangan padanya dan membantunya berdiri.
"Siapa namamu, nak?" Tanyanya dalam bahasa Schiereiland yang terdengar benar-benar aneh. Sampai-sampai butuh waktu beberapa detik bagi Leon untuk memahami bahwa Violet sedang menanyakan namanya.
"Leon."
"Nama keluarga?"
Leon hendak menjawab 'de Gratina', nama belakang Raja Edward. Raja Edward selalu mengenalkan Leon dengan nama itu pada semua orang di Istana seolah dia benar-benar putranya. Tapi saat itu, Leon tidak menyebut nama itu.
"Saya yatim piatu."
"Baiklah, Leon." Suara Violet yang serak serta aksen bicaranya yang sangat tidak pantas mengucapkan sepatah kata apa pun dalam bahasa Schiereiland, justru terdengar lembut dan keibuan saat itu.
Leon tidak pernah melupakan saat pertama kali gurunya itu menyebut namanya. Dia selalu memimpikan ibunya—ibu kandungnya jika dia benar-benar punya—mungkin akan memanggilnya seperti itu. Leon buru-buru menepis pikiran itu dari kepalanya. Memikirkan kedua orang tua kandungnya yang tidak pernah dia ketahui baik nama maupun wajahnya selalu membuatnya ingin menangis atau marah. Satu hal yang Leon yakini, yang dia ketahui dari Raja Edward, kedua orang tuanya pernah berjasa menyelamatkan nyawa Raja Edward dan membantu Sang Raja memenangkan perang.
Suara Violet menyadarkan Leon saat berkata, "Aku berhak mengusirmu, bukan? Kau sudah gagal bertahan sampai lima menit."
Leon tidak dapat mengalihkan pandangan dari sepasang mata emerald milik Violet yang seolah sedang menilainya itu. Raja Edward pernah menceritakan bahwa ada beberapa klan yang tinggal di Westeria, yang memiliki warna mata seperti permata: Sapphire, Ruby, Emerald, Amethyst dan Amber. Raja Edward mengatakan padanya bahwa orang-orang dengan mata permata itu tidak seperti manusia biasa, mereka sesuatu yang lain, yang mungkin hanya ada dalam dongeng paling mengerikan. Tapi mata emerald milik Violet sama sekali tidak mengerikan.
"Apa Anda akan mengusir saya? Apa saya benar-benar tidak punya potensi untuk menguasai ilmu berpedang dari Anda?"
Di luar dugaan, Violet tertawa. Nenek tua itu menertawakan dia di hadapan murid-muridnya yang lain. Tapi tak satu pun dari murid-murid itu ikut tertawa. Semua yang ada di sana sedang menatap Leon dengan takjub. Saat itu Leon tidak mengerti arti tatapan mereka.
"Berapa usiamu, nak?" Tanya Violet kemudian, dengan suara yang lebih pelan sehingga hanya Leon yang dapat mendengarnya. Kali ini sepertinya nenek tua itu sudah menyerah menggunakan bahasa Schiereiland. Jadi dia menggunakan bahasa Westeria.
"Enam tahun. Mungkin tujuh. Saya tidak tahu pasti. Saya tidak tahu hari ulang tahun saya." Leon turut memelankan bicaranya. Pembicaraan itu hanya diantara mereka berdua dan murid lainnya yang berada cukup jauh dari mereka tidak dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan anak laki-laki berusia enam tahun itu dengan guru mereka yang sudah renta.
"Dan kau berasal dari Schiereiland, benar?"
Leon mengangguk. Lalu dia mengingat pelajaran tata krama kerajaan, jadi dia menjawab dengan sopan, "Benar."
"Lalu kenapa pelafalan bahasa Westeria-mu sangat sempurna?"
"Karena saya sudah mempelajarinya."
"Kenapa kau mempelajari bahasa Westeria?"
"Karena saya ingin bisa bicara dengan Anda menggunakan bahasa yang Anda kuasai."
"Usiamu enam tahun, katamu? Dan kau sudah menguasai bahasa Westeria, menguasai tata krama kerajaan, serta dasar ilmu berpedang? Kau bilang kau yatim piatu? Tidak ada anak yatim piatu yang diberi pelajaran setingkat dengan seorang pewaris takhta kerajaan seperti itu. Apa Edward yang mengirimmu ke sini?"
"Raja Edward." Leon mengoreksi. "Saya mendengar tentang Anda dari Raja Edward. Tapi saya datang ke sini atas keinginan saya sendiri."
"Kenapa?"
Leon mengernyit bingung dengan pertanyaan itu. "Maaf?"
"Kenapa kau mau belajar berpedang?"
Leon tidak pernah menyiapkan diri untuk pertanyaan semacam itu. Dia menanyakan pada dirinya sendiri kenapa dia mau belajar berpedang. Itu insting alamiahnya. Dia hanya ingin melakukannya. Tapi bukan itu yang membuatnya sampai mendatangi guru bahasa Westeria, dipukul beberapa kali karena salah dalam pelafalan dan datang jauh-jauh ke sini. Bukan karena hal remeh seperti dia sangat ingin belajar berpedang.
"Saya punya adik perempuan." Kata Leon akhirnya. Matanya yang berwarna Hazel tampak berbinar saat mengatakannya.
Kali ini Violet lah yang mengernyit bingung. "Lalu, apa hubungannya dengan belajar berpedang?"
"Adik perempuan saya masih sangat kecil. Usianya hampir satu tahun, tapi dia masih sangat kecil. Dia sangat manis." Leon kembali teringat pada wajah sang putri kecil yang menangis saat dia akan berangkat ke Westeria. Tanpa sadar, dia tersenyum. "Saya ingin melindunginya."
Leon menggeleng dengan cepat. Kemudian kembali teringat pada pelajaran tata krama kerajaan, "Saya tidak punya. Belum."
"Kau boleh pinjam yang mana saja. Ada di gudang senjata di ruangan itu." Violet menunjuk pada ruangan yang ada di belakangnya. "Cepat ambil salah satu lalu kembali ke sini." Violet kemudian mengedarkan pandangan ke semua muridnya yang masih tertegun melihat Leon dan guru mereka dari kejauhan. "Dasar pemalas! Cepat bangun dan buat barisan!" Dia berteriak membentak. Murid-murid itu kocar-kacir membentuk barisan yang tepat dan rapih.
"Saya boleh ikut berlatih?"
Tanpa mengalihkan pandangan ke Leon di sampingnya, masih mengawasi murid-muridnya yang berlarian membentuk barisan, Violet berkata, "Murid-muridku itu... beberapa adalah putra-putri bangsawan, orang tua mereka adalah pahlawan perang, berasal dari keluarga yang menjadikan ilmu berpedang sebagai warisan. Sebagian lainnya adalah calon ksatria. Aku tidak sembarangan mengizinkan orang untuk belajar dariku, nak. Mereka semua terpilih setelah melalui seleksi ketat dan mereka sudah belajar di sini paling tidak selama dua tahun. Di antara semua muridku itu, tidak pernah ada yang bertahan melawanku lebih dari satu menit." Violet kemudian menoleh ke arah Leon, "Kau, nak, bertahan selama dua menit."
Dan begitulah Leon menjadi salah satu murid Violet. Kemudian menjadi satu-satunya murid Violet yang berhasil mewarisi semua ilmunya. Mewarisi pedang Raja Zuidlijk yang disimpan oleh Violet selama seumur hidupnya. Sekaligus menjadi satu-satunya murid Violet yang dia ceritakan dan banggakan kepada semua muridnya yang lain bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Tapi pelatihan dengan Violet tidak pernah mudah. Kata-kata kejam selalu keluar dari mulut nenek tua itu. Saat itu Leon menetapkan Violet sebagai guru yang paling kejam dan sulit dihadapi. Tapi kini, posisi itu telah digeser oleh Eleanor Winterthur. Guru sihirnya.
Paling tidak Violet memberinya waktu istirahat selama delapan jam sehari. Membiarkannya makan dengan tenang saat tiba waktunya makan. Memberinya libur selama sebulan penuh tiap lima bulan sehingga dia bisa pulang ke Schiereiland. Tapi Eleanor tidak seperti itu. Dia tidak membiarkan Leon beristirahat sebelum menguasai sihirnya. Bahkan saat makan, Leon diberikan buku-buku teori sihir untuk dia pelajari. Eleanor yang terlahir sebagai bangsawan dan kini bertitel sebagai Ratu, memang tidak pernah mengucapkan kata kasar seperti yang pernah diucapkan Violet, tapi ada kata lainnya yang lebih mengerikan bagi Leon.
'Lagi', 'Ulangi', dan 'Belum'.
Dan memang hanya tiga kata itu yang Sang Ratu ucapkan selama pelajaran sihirnya. Leon akan berusaha membuat sebuah benda menghilang, atau terbang, atau berpindah tempat. Dan setiap kali gagal, Eleanor hanya akan mengatakan tiga kata itu. Tidak memberitahu apa yang salah dia lakukan atau bagaimana cara melakukannya dengan benar. Penyihir cantik itu membuat alasan dengan berkata, "Kalau saya memberitahukannya, Anda akan segera melupakannya. Anda harus mencari tahu sendiri apa yang sudah Anda lakukan dengan salah, kemudian perbaiki. Dengan begitu, Anda akan mengingatnya selamanya. Ulangi yang tadi."
Sesi latihan mereka selalu berakhir lewat tengah malam. Eleanor membawa semua pekerjaannya di Istana untuk dikerjakan di rumahnya agar dia dapat tetap mengerjakan pekerjaannya sambil mengawasi pelatihan Leon. Dan saat Leon sudah berhasil menguasai sihir tak kasat mata, sihir levitasi serta sihir teleportasi, Eleanor mengizinkannya untuk beristirahat.
"Selamat malam." Ucap Eleanor tanpa mengalihkan tatapannya pada tumpukan pekerjaannya. Sedingin apa pun Sang Ratu, mengucapkan selamat malam adalah sopan santun dasar yang wajib dilakukan bagi orang-orang utara. Sedangkan orang-orang Selatan hanya mengucapkan 'selamat malam' pada teman dekat, kekasih atau keluarga.
"Anda tidak tidur?"
"Saya masih punya banyak pekerjaan."
Leon hendak mengatakan bahwa wanita hamil sebaiknya cukup istirahat dan cukup makan untuk kesehatan janinnya. Tapi mengingat orang seperti apa Eleanor, mengingat apa yang dia lihat melalui Aletha saat bola kristal itu membongkar semua rahasianya, Leon lebih memilih untuk pergi ke kamarnya dan tidur. Eleanor tidak akan mendengarkannya, dia tahu itu.
Belum ada satu jam dia terlelap, tiba-tiba dia mendengar suara tangisan. Awalnya Leon terbangun karena mengira mendengar suara Putri Anastasia sedang menangis. Kemudian dia ingat dia tidak sedang berada di Istana Schiereiland dan tidak ada Putri Anastasia di sekitarnya. Jadi dia mengabaikan suara itu dan berusaha kembali tidur.
Tapi suara itu terdengar lagi tak lama kemudian. Kali ini disertai jeritan. Jadi Leon buru-buru keluar dari kamarnya, mengambil pedangnya dan pergi mencari sumber suara.
Suara itu kembali lenyap saat dia sedang melangkah di sepanjang lorong. Dia menajamkan pendengarannya. Pelatihannya serta pengalaman bertahun-tahun di medan perang, membuat dia dapat mendengar suara sekecil apa pun. Isak tangis itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan, seolah siapa pun itu yang sedang menangis, sudah menangis cukup lama hingga tidak punya tenaga lagi untuk menangis.
Rumah itu sangat besar dan gelap saat malam sehingga Leon bahkan bisa percaya jika ada yang mengatakan bahwa rumah itu berhantu. Tapi Leon tahu itu bukan suara hantu.
Itu suara Eleanor. Suaranya berasal dari ruang benda-benda aneh tempat bola kristal Aletha berada. Di tempat yang menurut Eleanor, seharusnya tidak dapat dilihat maupun dimasuki oleh orang lain selain keturunan keluarga Winterthur. Leon menyebutnya Gudang karena tempat itu memang seperti gudang.
Sang Ratu bergaun hitam tampak sedang duduk di lantai menghadap ke jendela, tanpa alas kaki, dan memeluk sebuah toples kaca berisi abu hanya diterangi cahaya bulan. Leon tidak melihat wajahnya, hanya punggungnya, tapi Leon tahu Sang Ratu sedang menangis. Dan Leon tahu abu siapa yang berada di toples kaca itu.
"Dylan..." Suara Eleanor selirih bisikan, tapi Leon dapat mendengarnya.
Leon tahu nama itu. Aletha memperlihatkan semua rahasia Eleanor Winterthur. Termasuk nama itu. Mantan kekasihnya yang sangat dicintainya, yang tewas dibakar sihir Selena di hadapannya. Ayah dari bayi yang sedang dikandung Eleanor.
"Aku ingin mati saja... Aku ingin bersamamu... Bawa aku pergi dari sini..." Kata Eleanor di sela tangisannya. "Seharusnya saat itu kau katakan yang sebenarnya. Katakan kau mengenalku. Katakan pada mereka semua bahwa kau memang kekasihku. Biarkan mereka tahu semuanya. Jadi kau tidak perlu mati. Kenapa kau harus mati? Kenapa!" Suara tangisannya semakin kencang.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan?" Suara sepelan tiupan udara malam itu mengagetkan Leon.
Leon menoleh, mendapati salah satu pelayan—kepala pelayan rumah ini—berdiri di sana.
"Memata-matai Ratu?" Tanyanya lagi.
Leon tidak menjawabnya. Dia hanya berbalik, dan berjalan dalam diam kembali ke kamarnya. Lagi pula tidak ada yang dapat dia lakukan. Ada alasan kenapa Eleanor memilih untuk menangis tengah malam di ruangan yang hanya bisa diakses oleh para Winterthur.
Tapi kepala pelayan itu terus mengikutinya dari belakang. Leon tidak menoleh, tapi dia tahu dia diikuti. Dia dapat merasakannya.
"Anda mendengarnya? Suara tangisan? Jeritan patah hati?" Tanya si pelayan.
Leon mengabaikannya.
"Setiap malam terdengar suara tangisan dari tembok sebelah sana. Kadang suara jeritan. Seorang wanita. Selalu seorang wanita yang menangis dan menjerit seperti hatinya baru saja diremukkan. Padahal tidak ada apa pun atau siapa pun. Orang-orang mengira rumah ini berhantu."
"Oh... begitu." Komentar Leon tanpa menghentikan langkahnya maupun berbalik.
"Saya tahu Anda dapat melihatnya. Setiap malam, Ratu selalu berjalan ke arah tembok itu, lalu menghilang. Para Serigala mengatakan, di rumah ini ada ruangan rahasia di mana hanya para Winterthur yang dapat mengetahuinya dan memasukinya. Jadi saya pikir Ratu pasti pergi ke sana setiap malam untuk menangisi mendiang Putra Mahkota Xavier. Ratu sepertinya merasa sangat terpukul karena kematiannya yang sangat mendadak sampai-sampai beliau tidak bisa tidur dan tidak mau makan. Kasihan sekali beliau."
Bukan. Bukan Xavier yang dia tangisi. Kata Leon dalam hati.
Leon kemudian berbalik sebelum masuk kembali ke kamarnya. Dia hendak mengatakan bahwa dia tidak ingin diikuti dan bahwa dia ingin tidur dengan tenang. Tapi saat dirinya berbalik, tidak ada siapa pun di belakangnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan kepala pelayan, yang menurutnya, tadi mengikutinya.
...****************...