The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 30 : Disciple du Sorcier



"Buat benda ini tidak kasat mata." Perintah Eleanor begitu dia masuk ke kamar Leon ditemani dayang-dayangnya dan para pelayan yang membawakan sarapan untuk Leon. Dia mengeluarkan secarik kertas dari saku gaunnya, dan meletakkan di meja nakas samping tempat tidurnya.


Leon baru saja bangun dari tidurnya. Tidur dua jamnya. Rambutnya acak-acakan. Matanya belum sepenuhnya terbuka. Kesadarannya masih diantara ada dan tiada. Kepalanya pusing.


"Kenakan sesuatu." Perintah Sang Ratu saat menyadari tamunya itu bertelanjang dada. Di belakang Sang Ratu, para pelayan wanita yang masih muda itu berbisik-bisik dan menahan senyum melihatnya. Wajah mereka memerah malu. Tapi satu lirikan mematikan dari Eleanor membuat mereka semua kembali menundukkan pandangan dengan patuh.


"Bukankah Anda seharusnya mengetuk terlebih dahulu?" Leon mengabaikan perintah Eleanor maupun tatapan para pelayan. Suaranya masih serak dan berat. Matanya mencari-cari air untuk diminum.


"Untuk apa? Ini rumah saya." Jawab Eleanor tanpa peduli. Tapi dengan satu lambaian tangannya, segelas air hangat muncul di meja nakas. Leon segera meminumnya.


Leon baru akan mendebatnya lagi, tapi kemudian Eleanor sudah menggunakan sihirnya dan mantel bulu yang tebal sudah menutupi tubuhnya.


"Buat benda itu tidak kasat mata. Sekarang." Eleanor mengulang perintahnya.


Leon membuka matanya, berusaha memusatkan konsentrasinya pada secarik kertas di atas meja itu. Kepalanya agak pusing berputar karena baru tidur sebentar dan dibangunkan dengan sangat tiba-tiba.


"Bukankah istirahat itu penting untuk pelatihan seperti ini?" Tanya Leon semalam. Belakangan mereka terus melatih sihir Leon hingga larut malam, kemudian bangun sebelum matahari benar-benar terbit untuk kembali melatih sihirnya. Eleanor melemparkan tatapan khas Ratu Kejam itu padanya. Dia diingatkan bahwa penyihir di hadapannya itu adalah seorang ratu dan usianya satu tahun lebih tua darinya—dia benar-benar baru tahu dari Aletha karena Eleanor terlihat jauh lebih muda dari usianya. Orang-orang utara benar-benar menjunjung tinggi kesopanan pada hal-hal seperti jabatan dan usia. Jadi Leon buru-buru menambahkan dengan penuh hormat, "Baginda Ratu."


Tatapan Eleanor melunak, "Saya sudah pernah dengar dari Elias soal itu. Istirahat sangat penting untuk latihan fisik dalam berpedang. Sihir, berbeda dengan berpedang. Semakin sedikit waktu yang Anda gunakan untuk tidur, artinya semakin banyak waktu yang Anda gunakan untuk melatih sihir. Dengan kata lain, semakin sedikit waktu tidur Anda, maka akan semakin cepat Anda menguasai sihir pinjaman itu, Jenderal Leon."


Setelahnya, Leon tidak bisa mendebatnya lagi. Pertama, karena dia meyakini bahwa Eleanor bicara yang sesungguhnya. Kedua, karena dia juga ingin cepat menyelesaikan latihan ini. Ingin cepat menguasai sihir. Ingin cepat memutus sihir Selena pada Ratu Irene. Dan ingin cepat kembali pada Putri Anastasia.


Meski baru saja membuka mata, Leon tidak merasa kesulitan berkonsentrasi. Dia memandangi secarik kertas di atas meja hingga para pelayan yang ada di sana pasti berharap dapat menjadi secarik kertas saat itu juga. Dalam hitungan detik, kertas itu menghilang. Atau paling tidak, begitu lah kelihatannya. Kertas itu masih di sana, tapi tidak ada yang dapat melihatnya. Baru pagi kemarin Leon mulai mempelajari sihir tak kasat mata itu. Eleanor memberitahunya bahwa butuh waktu enam bulan baginya untuk menguasai sihir itu. Tapi kini Leon sudah berhasil menguasainya.


Setelah Aletha membuat mereka mengetahui semua rahasia masing-masing, Eleanor memutuskan untuk segera memberikan sebagian kekuatan sihirnya pada Leon. Separuh dari kekuatan sihirnya. Kemarin, seharian penuh mereka berlatih beberapa trik sihir sederhana, dan kini Leon sudah menguasai hampir semuanya seolah sudah bertahun-tahun mempelajari sihir.


Eleanor tampak berusaha menyembunyikan senyuman bangga untuk muridnya itu saat melihat Leon berhasil menguasai sihir tak kasat mata.


Leon mengamati Sang Ratu. Pagi ini, dia mengenakan gaun hitam lainnya. Modelnya sedikit berbeda, tapi itu tetap gaun hitam. Gaun berduka. Tapi tidak tampak tanda-tanda kelelahan pada wajah Sang Ratu. Masih tetap kurus dan berkulit pucat, tapi tidak terlihat di wajah tanpa cela itu bahwa semalam wanita itu tidak tidur sama sekali. Dia tidak terlihat seperti habis menangis semalaman. Sihir, pikir Leon. Atau mungkin semalam dia hanya bermimpi. Atau mungkin yang menangis semalam benar-benar hantu. Leon tidak mau memikirkannya.


Eleanor kemudian memberi perintah lagi, memecah lamunannya, "Sekarang buat benda itu terlihat lagi." Kertas itu kembali terlihat. "Hancurkan." Kertas itu hancur menjadi serbuk kertas. "Kembalikan seperti semula." Kertas itu kembali utuh. "Buka lipatan kertasnya tanpa menyentuhnya." Kertas itu terbuka dengan sendirinya. "Terbangkan kertas itu ke hadapan Anda." Kertas itu kini terbuka di udara di hadapan Leon.


Meski Leon baru saja menggunakan sihir yang normalnya baru bisa dilakukan oleh penyihir biasa setelah belajar sihir di Menara paling tidak selama dua tahun hanya dalam waktu dua hari, tidak ada sedikit pun ekspresi senang terlukis di wajah Eleanor. Atau mungkin Sang Ratu memang pandai menyembunyikan emosinya.


Kemudian, dengan suara yang lebih pelan, tidak seperti perintah-perintah mutlak sebelumnya, Eleanor kembali berkata, "Bacalah."


Leon menoleh ke arah Eleanor, mengerutkan kening, "Apa?"


Eleanor memberi perintah berupa isyarat kecil pada para pelayan dan dayang-dayang untuk meninggalkan sarapan Leon di atas meja dan meninggalkan ruangan itu. Dalam sekejap, hanya tersisa mereka berdua dalam kamar itu.


"Itu surat." Kata Eleanor, dia berdehem. "Dari Putri Anastasia."


Leon melupakan sihirnya dan segera mengambil kertas itu dengan tangannya. Membacanya dengan cepat, kemudian, "Ini bukan surat untuk saya."


"Saya tidak pernah bilang itu surat untuk Anda, Jenderal Leon. Itu surat dari Putri Anastasia. Untuk saya. Tapi saya ingin Anda turut membacanya." Saat melihat tatapan penuh tanda tanya itu dari Leon, Eleanor segera menambahkan. "Saya belum membacanya. Baru datang sekitar satu jam yang lalu. Elang sihir yang saya berikan untuk Xavier yang mengantarkannya. Awalnya saya berpikir itu surat dari Xavier. Tapi Xavier tidak pernah mengawali surat yang ditujukan untuk saya dengan kata-kata seperti 'Kepada Yang Mulia Baginda Ratu Eleanor'. Benar, saya baru baca sampai kalimat itu. Dan dari kalimat pembuka itulah saya tahu bahwa yang menuliskan pasti Putri Anastasia."


"Tapi surat ini benar-benar untuk Anda. Kenapa Anda ingin saya turut membaca surat yang ditujukan untuk Anda?"


"Pertama, karena saya ingin Anda percaya pada saya. Kedua, saya tahu Anda akan ingin membacanya karena itu surat dari orang yang Anda rindukan. Ketiga..." Eleanor terdiam sejenak. Leon diam menunggu Sang Ratu melanjutkan. "Karena saya takut membacanya." Suaranya jauh lebih pelan dari sebelumnya, setengah berbisik.


"Takut?" Tanya Leon, seolah tak percaya sepucuk surat dari Putri Anastasia dapat membuat Ratu sekaligus penyihir yang ada di hadapannya ini takut.


Eleanor mengangguk. Dia menundukkan kepalanya, menatap lantai. "Terakhir kali Putri Anastasia mengirimkan surat pada saya, suratnya memberitahukan bahwa Xavier terluka parah. Beberapa pembunuh bayangan—sihir dari Selena—berusaha membunuhnya. Saya masih belum bisa menghadapi kondisi seperti itu lagi. Saya takut sesuatu benar-benar terjadi pada Xavier."


Leon mengerutkan kening, tampak bingung, "Saya pikir Anda tidak benar-benar mencintai Putra Mahko—maksud saya, Xavier."


Eleanor mendongak, alisnya bertaut, "Bukan berarti saya tidak peduli sama sekali padanya." Matanya tampak menerawang saat mengatakan hal berikutnya. "Kami sudah bersama sejak kecil. Hari dia dilahirkan, adalah hari dimana saya ditetapkan menjadi calon istrinya. Dan meski dia banyak menyusahkan, menyebalkan, sering menyimpan rahasia dari saya, dia memperlakukan saya dan keluarga saya dengan baik seperti memperlakukan keluarganya sendiri. Dia seperti Elias. Seperti adik laki-laki bagi saya. Jadi, tentu saja, saya peduli padanya. Dan jika dia terluka, atau sesuatu yang buruk terjadi padanya, saya..." Eleanor menggantungkan kalimatnya. Tampak kesulitan melanjutkannya. "Saya tidak bisa... Tolong. Bantu saya membaca surat itu." Tatapan sang ratu memohon.


Leon mengangguk, memahami hal itu lebih dari siapa pun. Seperti halnya dirinya yang sudah menganggap Putri Anastasia sebagai bagian dari hidupnya. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Putri Anastasia... Leon juga tidak dapat melanjutkan kalimat itu. Karena Leon tidak mau hal itu terjadi. "Baiklah. Saya akan bacakan." Katanya.



Kepada Yang Mulia Baginda Ratu Eleanor dari Nordhalbinsel,


Saya berharap Anda  dan orang-orang di sekitar Anda selalu dalam keadaan sehat.


Xavier sekarat. Dia terkena racun Morta yang menurut informan saya merupakan racun yang diciptakan dan dikembangkan oleh para penyihir menara. Racun itu lebih mematikan dari Siarine. Saya yakin Anda sudah tahu cukup banyak tentang Xavier jadi saya asumsikan Anda seharusnya tahu bahwa lukanya biasanya cepat pulih dan dia kebal terhadap berbagai racun. Tapi lukanya masih belum pulih juga dan ini sudah hari kedua dia masih belum sadar.


Ini semua salah saya. Kami sedang menjalankan misi, dan dia terkena panah beracun dalam misi itu. Dan saya khawatir Anda belum tahu tentang apa yang sedang kami coba lakukan dalam misi ini, jadi saya akan memberitahukan semuanya pada Anda.


Nordhalbinsel mendirikan Menara Sihir di Schere, ibu kota Schiereiland. Para penyihir menara mengambil anak-anak dari negeri kami untuk dijadikan budak. Saya dan Xavier awalnya berencana pergi ke Menara tersebut untuk membebaskan budak anak-anak dari menara. Tapi karena kondisinya yang tidak kunjung membaik, saya ingin meminta bantuan dari Anda.


Saya menantikan balasan secepatnya.


Dan tolong sampaikan salam saya pada Jenderal Leon. Saya percaya padanya dan saya akan mendukungnya dari jauh. Dan saya percaya Anda tidak akan menyakitinya. Jadi saya akan menunggunya dengan sabar.


Salam,


Anastasia Roselia-Isabelle de Gratina, Putri dari Schiereiland


...****************...


Pemandangan Istana Langit selalu tampak familier baginya tak peduli berapa lama dia tidak mengunjungi Sang Pencipta. Sudah berapa ratus tahun berlalu sejak terakhir dia mendatangi tempat suci ini, dia sendiri tidak ingat. Saat putusan akan hukumannya dibacakan pun dia enggan datang ke Istana Langit, hingga Sang Dewi sendiri yang harus mendatanginya.


Pilar-pilar putih tinggi yang terbuat dari doa-doa menopang langit berwarna keemasan. Sulur-sulur perak merambat di setiap pilar itu, doa-doa yang didengar dan terjawab. Lantainya tidak pernah bisa dipijak karena terbuat dari cahaya fajar, tapi dia bisa. Langkahnya yang cepat bergema ke seluruh dunia. Setiap manusia yang mendengarnya pasti merasakan bencana yang mendekat.


Dia tidak peduli. Kini baginya semua itu tidak penting lagi. Satu-satunya yang penting hanyalah wanita itu. Istrinya.


Istrinya sudah mati, tapi dia membawanya ke sana. Itu karena pasangannya itu fana, sedangkan dia abadi.


"Dewi Langit! Keluar kau!" Suaranya menggetarkan bumi dan meruntuhkan gunung. Samudra beriak, ombak raksasa bergulung-gulung. Dia tidak menyadari akibat amarahnya saat itu, tapi dunia hampir saja hancur.


Namun Yang Terpanggil, Sang Dewi Langit segera muncul di hadapannya. Cahayanya membutakan tapi dia menatap Sang Dewi hingga darah mengalir keluar dari kedua matanya yang berwarna merah.


"Apa turun ke bumi membuatmu kehilangan sopan santunmu, Naga Api Agung?" Sang Dewi langsung melihat apa—siapa yang dibawa olehnya. Sang Dewi murka. Langit bergetar. "Kenapa kau membawa jasad manusia ke tempat suci ini! Kebumikan dia sekarang juga! Manusia harus dikuburkan setelah mati agar rohnya tenang. Dia akan pergi ke Surga."


Dia menggeleng. Membangkang perintah Sang Dewi untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun.


Sang Dewi segera menciptakan altar dari batu pualam dan meletakkan jasad itu di sana.


Dia berlutut. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, Dia Yang Agung berlutut pada Sang Dewi, di hadapan wanita yang sudah mati itu. Wanitanya. Cintanya.


"Kembalikan dia... Kembalikan hidupnya."


"Kupikir kau tidak peduli pada kehidupan manusia. Bukankah kau sendiri yang bilang, manusia tidak berharga dan tidak penting. Manusia adalah makhluk kecil nan lemah yang sombong dan tidak pernah bersyukur yang hanya bisa menghancurkan dunia yang kau jaga selama ratusan tahun dan lebih baik dimusnahkan dari dunia ini. Kau tentu ingat pernah mengatakan itu bukan? Kau tentu ingat pernah membantai manusia-manusia itu bukan?"


"Dia... Dia berbeda. Dia sangat berharga. Dia penting. Kumohon, Etherna... Buat dia hidup kembali..."


"Lihatlah dirimu sekarang. Ke mana perginya makhluk angkuh tak berperasaan yang menghanguskan satu benua, membakar habis daratan dan membunuh banyak manusia itu?" Sang Dewi beralih, kini membelai wajah pucat jasad cantik berambut merah itu. Rambut merah itu diturunkan dari ayahnya, sedangkan kecantikannya yang bercahaya adalah milik ibunya. Milik Sang Dewi. Namun naas, putri Sang Dewi itu terlahir fana. Terlahir dengan kutukan nasib buruk dan hidup singkat. Serta kebahagiaan yang teramat singkat jika dibandingkan penderitaannya. "Putriku yang cantik... Putriku yang malang..." Air mata Sang Dewi jatuh padanya. Air mata seorang ibu yang kehilangan putrinya. Sang Dewi kemudian berpaling menghadapnya kembali. "Baginya, kau adalah jawaban dari semua doanya padaku. Penolongnya. Harapannya. Cahaya dalam kegelapannya. Tapi untukmu... dia adalah karmamu. Hukumanmu. Siksaan untukmu." Air mata lainnya mengalir di wajah mulia Sang Dewi. "Kau akhirnya mengerti apa yang kurasakan saat kau membunuh semua manusia itu. Seperti itulah rasanya duka."


Dia mendongak, api berkobar di matanya saat dia menatap Sang Dewi. Saat dia akhirnya menyadari makna dari kata-kata itu. "Jadi ini hukuman yang kau maksud? Hukumanku bukan turun ke bumi untuk membantunya? Hukumanku adalah merasakan duka? Hukumanku adalah kematiannya? Kau sudah berhasil menghukumku, Etherna. Aku sudah cukup menderita... Kalau kau ingin menghukumku, seharusnya kau ambil saja nyawaku! Jangan nyawanya... Jangan dia—“


"Beraninya kau berkata seperti itu padaku! Dia putriku! Dia mati karenamu! Karena kau memilihnya!" Air mata Sang Dewi menjadi hujan yang menenggelamkan pulau-pulau. Langit seolah terbelah dan menumpahkan seluruh badainya.


"Jadi saat itu... Saat kau memberiku hukuman untuk turun ke bumi dan membantu satu manusia dengan hati paling suci dan doa paling tulus, untuk menghapus dosa dan semua kesalahanku... Siapa pun yang kupilih saat itu akan mati? Karena hukumanku yang sebenarnya adalah kematian dari manusia yang kutolong dan kucintai?"


Sang Dewi mengangguk.


"Kalau begitu buat dia hidup kembali. Berikan kehidupan kedua untuknya, Wahai Dewi Langit. Pasti ada caranya. Aku akan melakukan apa pun untukmu. Akan kuberikan apa pun. Jantungku, nyawaku, keabadianku, semuanya akan kuberikan asalkan dia hidup kembali."


"Baiklah. Aku akan mengambil semua itu darimu. Jantungmu, nyawamu, keabadianmu. Kau tidak akan lagi hidup abadi. Putriku akan terlahir kembali. Begitu pun denganmu. Kalian akan terlahir kembali sebagai makhluk fana. Kalian akan bertemu kembali. Kau akan melihatnya hidup kembali. Tapi dia mungkin tidak akan mengingat dirimu. Dia mungkin tidak akan mengenalimu sama sekali."


"Tidak apa. Asalkan aku bisa melihatnya hidup kembali saja sudah cukup bagiku."


"Dan karena tidak mengingatmu, dia mungkin tidak akan mencintaimu seperti sebelumnya. Kau mungkin akan ingat dia, tapi dia tidak akan mengingatmu. Kecuali jika kau mendekatinya. Maka takdir kalian akan sama saja seperti saat ini. Dia akan kembali mati karenamu. Dan kau tidak akan punya apa pun yang bisa ditukarkan untuk menyelamatkannya."


"Aku mengerti. Kalau begitu buat aku tidak bisa mendekatinya. Buat aku merasa sakit setiap kali dekat dengannya sehingga aku tidak akan bisa lagi mendekatinya. Ciptakan pasangan yang sempurna untuknya, yang bisa melindunginya dan selalu ada untuknya, agar aku bisa tenang meski tidak dapat bersamanya. Agar aku tidak lagi mengharapkan cintanya. Lakukan apa pun untuk mencegahku mengulang takdir kejam itu."


...****************...