The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 24 : La Reine Rouge



Rasanya sudah lama sekali sejak Anna terakhir kali mandi dengan benar layaknya seorang putri dan mengenakan gaun khas Schiereiland. Berbeda dengan gaun yang dia kenakan di Nordhalbinsel saat dirinya menjadi Eleanor Winterthur. Gaun orang-orang utara memiliki bahan yang tebal untuk menghangatkan tubuh dari udara dingin menggigit Nordhalbinsel. Namun gaun yang dia kenakan saat ini adalah gaun musim semi Schiereiland yang berbahan ringan dan berwarna cerah. Dia tidak merindukan memakai korset, tapi ada perasaan haru saat dirinya akhirnya dapat kembali mengenakan pakaian khas Schiereiland di negaranya sendiri.


Rasanya seperti benar-benar pulang. Batin Anna.


Ratu Isabella dan Louis tiba dengan selamat malam itu. Setelah makan malam mewah khas keluarga kerajaan, mereka mengadakan rapat di ruang rapat di Istana Anastasia, membahas tentang rencana mereka untuk menemukan Alexis. Rapat setelah perut mereka terisi ternyata membuat mereka dapat berpikir lebih jernih dan tidak mudah terbakar emosi meski ada perselisihan.


Mereka sepakat akan pergi ke Schere, ibu kota Schiereiland. Ke Istana Schiereiland. Mencari Istoriya Proiskhozhdeniya Drakonov yang Leon simpan di perpustakaan Istana dan berharap bahwa buku itu masih aman di sana. Dengan menemukan buku tersebut, maka mereka dapat tahu di mana kemungkinan Alexis berada saat ini. Saat mereka akan merencanakan semua yang akan mereka lakukan untuk persiapan ke Istana Schiereiland, yang menurut sumber dari Nicholas dijaga ketat oleh para prajurit Nordhalbinsel dan para penyihir Menara, Louis meminta izin untuk menyampaikan informasi yang dia miliki.


"Saya tidak tahu apakah ini harus turut dibicarakan dalam rapat ini..." Dia menoleh ke arah Ratu Isabella. Sang Ratu mengangguk, memberinya izin. "Saat sedang menunggu di penginapan bersama Baginda Ratu, saya mendengar desas-desus dari para pedagang yang lewat."


"Desas-desus apa, Lou?" Tanya Anna.


"Belakangan ini beberapa putra-putri bangsawan Nordhalbinsel yang menetap di Schiereiland dikabarkan menghilang. Ada yang bilang, mereka diculik oleh sekelompok bandit."


"Black Mamba?" Tanya Xavier.


"Red Queen." Ratu Isabella yang menjawab. "Sebuah kelompok yang mengatasnamakan Ratu Agung Zhera yang bertujuan untuk melawan orang-orang utara. Beberapa mengatakan mereka mengenakan jubah berwarna merah dan topeng perak. Terkadang mereka meninggalkan beberapa kantung emas untuk rakyat miskin dan menyelamatkan budak anak-anak."


"Kelompok pemberontak terhadap kekuasaan Nordhalbinsel di Schiereiland... Dan..." Anna kemudian melirik ke arah Xavier. "Budak anak-anak?"


"Aku benar-benar tidak tahu tentang hal itu." Kata Xavier.


"Nordhalbinsel mendirikan menara sihir baru di Schere, tidak jauh dari Istana. Mereka mengambil banyak sekali anak-anak dan dipaksa untuk bekerja di proyek pembangunan menara tersebut."


"Mirip seperti Istana Utara milik Klan Grimoire." Xavier bergumam sendiri. Dia kemudian menyadari tiga pasang mata di ruangan itu sedang menanti penjelasan darinya. "Klan Grimoire pernah melakukan hal yang sama seperti itu."


"Keluarga Eleanor?" Anna memastikan.


"Ya. Dari pihak ibunya. Mereka awalnya klan penyihir paling dihormati, kemudian generasi penerusnya mulai mempraktikkan sihir hitam yang menyimpang jauh dari sihir yang digunakan generasi sebelumnya. Dulu sekali, sebelum Elle lahir, sebelum adanya perjanjian antara keluarga Winterthur dengan Grimoire, mereka menjadikan anak-anak sebagai budak di Istana Utara untuk melakukan pekerjaan kasar dan sebagai bahan percobaan sihir. Mereka juga menyiksa anak-anak itu. Yang kuat akan bertahan, ada juga yang menjadi gila. Tapi kebanyakan anak-anak itu mati karena disiksa terus menerus atau mati karena bunuh diri."


"Mengerikan sekali..." Louis bergidik ngeri. "Kenapa harus anak-anak?"


Ratu Isabella mendahului Xavier dengan menjawab, "Darah dan air mata anak-anak yang suci tak berdosa dipercaya dapat meningkatkan kekuatan sihir."


Xavier mengangguk menyetujui. "Itulah kepercayaan mereka. Aku masih tidak tahu apakah itu benar atau tidak."


"Apa Eleanor tahu?" Tanya Anna. Cerita itu membuatnya mual. Dia tidak tahan membayangkan anak-anak tak berdosa itu disiksa hingga mati atau terpaksa mengakhiri hidup sendiri. "Apa dia tahu bahwa mereka mendirikan menara sihir baru di Schere dan mengambil anak-anak Schiereiland untuk dijadikan budak?"


"Mustahil dia membiarkannya begitu saja jika dia tahu. Lebih dari siapa pun, Elle paling membenci sejarah kelam keluarganya itu. Jika dia tahu, dia pasti sudah menghentikannya. Tidak. Dia mungkin akan mengamuk dan menghancurkan menara yang belum selesai dibuat itu kalau tahu."


Mereka semua terdiam. Anna kemudian mengingat perkataan Tuan Schmidt. Negeri itu kini sudah hancur karena dikuasai Nordhalbinsel—Jadi ini maksud perkataannya. Mereka mengambil anak-anak dan menjadikannya budak untuk para penyihir. Anak-anak adalah harapan dan masa depan suatu negara. Mereka mengetahui itu. Ini adalah tahap selanjutnya dari penjajahan. Memberantas habis keturunan Schiereiland dan hanya menyisakan putra-putri Nordhalbinsel.


Red Queen.


Meski Anna belum tahu banyak tentang kelompok tersebut, mereka sepertinya berpihak pada keluarga kerajaan Schiereiland. Pertama, karena mereka mengatasnamakan Ratu Agung Zhera—mengatasnamakan dirinya. Kedua, karena apa yang sudah mereka lakukan—menculik putra-putri bangsawan Nordhalbinsel, memberi emas untuk rakyat miskin serta membebaskan budak anak-anak.


Anna bertekad ingin menemukan mereka.


Menemukan buku itu memang penting. Menemukan Alexis sangat penting. Tapi mungkin, jika Anna berhasil bertemu dengan pemimpin Red Queen, maka mereka bisa bekerja sama. Mereka memang membutuhkan aliansi. Dan dukungan dari para bangsawan yang keberadaannya tidak diketahui saja mungkin belum cukup.


"Sepertinya kita harus menunda kepergian kita ke Istana Schiereiland." Kata Anna. Tiga pasang mata lainnya menatapnya. Dari tatapan itu, Anna tahu mereka sependapat dengannya.


Ratu Isabella mengangguk, kemudian berkata, "Ayo kita temukan Red Queen terlebih dahulu."


...****************...


Malam sudah semakin larut—hampir tengah malam. Anna merindukan kasur empuk dan nyaman di kamarnya. Merindukan udara hangat yang beraroma mawar di Istana Schiereiland. Merindukan suara serangga malam yang biasa terdengar pada malam-malam musim semi dan musim panas di Schiereiland. Dan kini dia kembali mendapatkan semuanya, kecuali kehidupannya yang dulu. Meski dia sudah kembali ke Schiereiland, kehidupannya yang dulu tidak akan kembali. Kehidupan aman dan nyaman sebagai Putri Kerajaan takkan lagi dia miliki karena kini dia tahu bahwa dunia lebih dari sekedar apa yang dia lihat di dalam Istana.


Dulu, sewaktu masih kecil dan Alexis baru lahir, ayahnya yang biasa menemaninya menuju kamarnya. Saat Alexis sudah bisa berjalan sendiri, Ibunya tidak pernah absen mengantarnya ke kamarnya. Saat dia sudah semakin besar dan tidak takut untuk berjalan sendirian melewati lorong-lorong panjang di Istana menuju kamarnya, Leon tetap di sisinya, mengantarnya sampai kamar. Dia menyadari bahwa dia tidak pernah benar-benar sendiri—selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dan menjaganya. Keluarganya.


Bahkan kini, ketika Leon tidak ada di sisinya, ketika Ratu tidak lagi mengantarnya ke kamarnya, Xavier berjalan tidak jauh darinya. Entah disengaja atau tidak, Xavier menempati kamar di seberang kamarnya.


"Anna..." Xavier memanggilnya saat Anna sudah hampir masuk ke kamarnya.


Cincin permata ruby yang menggantung di lehernya terasa hangat saat bersentuhan dengan kulitnya.


Anna menoleh, membiarkan pintu kamar di belakangnya terbuka. "Ya?"


Xavier tampak ragu, mata emeraldnya tampak menyala dalam lorong yang temaram. "Jika nanti kita sudah menemukan Alexis. Dan dia mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kukatakan padamu. Jika kami mengatakan dua hal yang berbeda. Mana yang akan kau percayai?"


Dia ingin tahu apakah aku sudah bisa mempercayainya. Dia ingin tahu apakah aku sudah memaafkannya.


Anna tidak langsung menjawabnya. Dia mempercayai Xavier. Dia tahu, dia bisa mempercayainya sepenuhnya sekarang. Cincin permata ruby yang dikalungkan di lehernya, dibalik gaunnya, berdenyut dengan cepat.


Pria yang ada di hadapannya tidak abadi seperti dulu. Lukanya memang bisa sembuh dengan cepat, tapi dia bisa mati. Fana. Berbeda dengan dirinya di masa lalu.


Tapi Xavier menyelamatkan nyawanya berulang kali. Menghalau anak panah beracun di Trivone untuknya. Menyelamatkan nyawanya saat dirinya hampir mati—saat mereka hampir mati. Terjun dari tebing tanpa ragu saat Anna melompat dengan sengaja. Dan menyerahkan cincin permata ruby yang berisi inti jantungnya. Salah satu jantung yang dicari Alexis. Jantung yang sudah menjadi miliknya—yang membawanya kembali ke kehidupan.


Xavier bisa saja kembali ke kerajaannya, menutup mata dari apa yang tengah terjadi padanya dan kerajaannya terlebih setelah sekarang Leon sudah berada di Nordhalbinsel untuk menyelamatkan Ratu Irene. Tapi Xavier tetap di Schiereiland, dan membantunya. Berusaha untuk tetap bersamanya meski negerinya dan ratunya membutuhkannya.


"Aku akan mempercayai adikku." Anna akhirnya menjawab. "Tapi bukan karena aku tidak mempercayaimu. Karena dia adalah adikku. Karena dia adalah Putra Mahkota Schiereiland. Dia akan menjadi Raja Schiereiland. Karena apa pun itu yang sedang coba dilakukan oleh Alexis, dia melakukannya untuk Schiereiland. Dia melakukannya untuk rakyat Schiereiland yang menderita. Untuk mengembalikan kerajaan kami seperti sedia kala."


Denyut kecil pada cincin permata ruby itu kini semakin memelan.


Xavier mengangguk, "Aku mengerti."


Anna mengerutkan kening, bingung. Dia yakin sekali ada hal lain yang ingin dikatakan oleh Xavier.


Tapi sebelum Anna dapat menanyakan apa maksudnya, sebelum Xavier menjelaskan lebih lanjut, Xavier sudah terlebih dahulu membuka pintu kamarnya. Dia berhenti sebentar sebelum masuk dan menutup pintu. Sebelum Anna masuk ke kamarnya sendiri yang ada di seberang kamarnya, Xavier menatap Anna sesaat, kemudian tersenyum.


"Selamat malam." ucapnya.


...****************...


Anna melihatnya lagi. Dan Anna tahu itu hanya mimpi.


Kali ini lebih jelas.


Dia melihat pilar-pilar putih tinggi menopang langit-langit berwarna keemasan. Setelah Anna teliti kembali, itu bukan langit-langit bangunan, melainkan langit sungguhan berwarna keemasan. Dirinya dalam keadaan tak bernyawa—mayatnya—dibaringkan di altar. Xavier berlutut. Bukan lagi air mata yang mengalir dari dua bola mata merah itu, melainkan darah.


"Kembalikan dia... Kembalikan hidupnya." Katanya dalam bahasa yang belum pernah Anna dengar tapi entah bagaimana dia dapat memahaminya. Perkataan itu bukan perintah, lebih seperti sebuah permohonan yang dia ajukan dalam keputusasaan.


Kemudian ada suara seorang wanita. Bukan wanita fana. Itu adalah suara Dewi. Lebih indah dari nyanyian mana pun, suaranya mengisi seluruh ruangan. Begitu jernih dan jelas sampai-sampai Anna lupa bahwa itu hanya mimpi.


"Kupikir kau tidak peduli pada kehidupan manusia. Bukankah kau sendiri yang bilang, manusia tidak berharga dan tidak penting. Manusia adalah makhluk kecil nan lemah yang sombong dan tidak tahu terima kasih yang hanya bisa menghancurkan dunia yang kau jaga selama ratusan tahun dan lebih baik dimusnahkan dari dunia ini. Kau tentu ingat pernah mengatakan itu bukan? Kau tentu ingat pernah membantai manusia-manusia itu bukan?"


"Dia... Dia berbeda. Dia sangat berharga. Dia penting. Kumohon, Etherna... Buat dia hidup kembali..."


"Lihatlah dirimu sekarang. Ke mana perginya makhluk angkuh tak berperasaan yang menghanguskan satu benua, membakar habis daratan dan membunuh banyak manusia itu?" Sang Dewi kini mendatangi mayat itu. Mayat Ratu Agung Zhera. Mayatnya. Anna bahkan dapat merasakan napas Sang Dewi di wajahnya. Sejuk dan menyegarkan. Jari-jari Sang Dewi yang lentik dan putih membelai wajahnya yang sepucat pualam. "Putriku yang cantik... Putriku yang malang..." Air mata Sang Dewi jatuh padanya—pada mayatnya. Sang Dewi kemudian berpaling menghadap Xavier yang masih berlutut padanya. Suaranya kini terdengar seperti kutukan penuh kasih. Dingin nan mencekam, namun membelai dalam kelembutan. Seperti senandung patah hati. "Baginya, kau adalah jawaban dari semua doanya padaku. Penolongnya. Harapannya. Cahaya dalam kegelapannya. Tapi untukmu... dia adalah karmamu. Hukumanmu. Siksaan untukmu." Air mata lainnya mengalir di wajah mulia Sang Dewi. "Kau akhirnya mengerti apa yang kurasakan saat kau membunuh semua manusia itu. Seperti itulah rasanya duka."


Xavier mendongak, api berkobar di matanya saat dia menatap Sang Dewi. Saat dia akhirnya menyadari makna dari kata-kata itu. "Jadi ini hukuman yang kau maksud? Hukumanku bukan turun ke bumi untuk membantunya? Hukumanku adalah merasakan duka? Hukumanku adalah kematiannya? Kau sudah berhasil menghukumku, Etherna. Aku sudah cukup menderita... Kalau kau ingin menghukumku, seharusnya kau ambil saja nyawaku! Jangan nyawanya... Jangan dia—“


Sang Dewi kemudian mengatakan sesuatu. Tapi Anna segera terbangun dari tidurnya sebelum mendengar apa pun yang dikatakannya. Terbangun dengan air matanya mengalir tanpa bisa dia hentikan. Dadanya sesak. Hatinya perih.


Dia bisa merasakan apa yang Xavier rasakan saat itu, bahkan meski itu hanya mimpi.


Setelah itu, dia tidak dapat kembali tidur hingga fajar.


...****************...


Anna sudah siap sejak pagi-pagi sekali. Sebenarnya, karena tidak dapat tidur setelah mimpi itu, dia akhirnya memutuskan untuk tetap terjaga, memikirkan banyak hal hingga matahari terbit.


Dia memikirkan mimpinya itu. Bertanya-tanya apa itu hanya sekedar mimpi, atau memang kejadian sebenarnya yang terjadi usai kematiannya.


Dia memikirkan anak-anak yang menjadi budak. Rakyat Schiereiland yang menderita. Kelompok Red Queen. Siapa pun mereka, Anna ingin bertemu dengan mereka dan berterima kasih. Karena di saat dirinya jauh dari negerinya, di saat dirinya tidak ada untuk rakyatnya, kelompok itu bersatu dan membantu rakyatnya yang kesulitan.


Lalu dia memikirkan Leon. Bertanya-tanya apakah Leon baik-baik saja di Nordhalbinsel. Apakah Leon sudah berhasil memutus sihir hitam Selena. Apakah mereka akan bisa bertemu lagi segera. Apakah dirinya akan benar-benar ditinggalkan selamanya.


Dan akhirnya, karena semua itu membuatnya sesak, dia memikirkan Alexis. Mencoba memposisikan diri sebagai adiknya. Mencoba memahami adiknya. Hal yang sulit baginya karena meski bersaudara, mereka tidak sedekat itu. Alexis sudah disibukkan dengan berbagai persiapannya untuk menjadi penerus takhta sejak kecil sehingga hampir tidak ada waktu untuk bermain. Anna pun lebih sering menghabiskan waktu dengan Leon daripada dengan Alexis. Bisa dibilang dia jauh lebih mengenal Leon daripada adiknya sendiri.


Apa yang akan Anna lakukan jika dia memiliki kemampuan untuk melacak para naga? Anna berusaha mencari tahu apa yang Alexis rencanakan. Dia mungkin akan memburu para naga, tapi bagaimana cara membunuhnya? Bagaimana cara mendapatkan jantung para naga? Hal itu mungkin masih jadi pertimbangan Alexis. Mungkin itu sebabnya Alexis tidak langsung mencari Xavier sejak awal.


Xavier.


Anna ingin menanyakannya. Apa yang dikatakan Sang Dewi saat itu setelah dia meminta Sang Dewi untuk mengambil nyawanya. Tapi Anna masih belum siap menghadapinya tanpa merasa bersalah dan hancur.


Hari itu mereka akan berkumpul kembali untuk melanjutkan rapat. Semalam Anna sudah mengirimkan surat untuk Nicholas agar dia dapat secepatnya datang ke Istananya untuk meminta bantuannya lagi. Jadi pagi itu mereka sarapan sambil menunggu kedatangan Duke Francis. Mereka sarapan dalam diam. Para pelayan silih berganti membawakan beraneka makanan khas Schiereiland untuk mereka, mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama hingga penutup.


Anna masih setengah melamun saat dari sudut matanya, Anna melihat seorang pelayan hendak menuangkan krim keju hijau kental di atas mangkuk sup milik Xavier. Anna buru-buru mencegahnya, "Jangan!" Katanya.


Si pelayan langsung mengangkat kembali wadah krim keju hijau itu dan meminta maaf sambil membungkuk dalam.


Mereka semua membeku. Bertanya-tanya dalam diam kenapa Anna tiba-tiba melarang pelayan itu menuangkan krim keju untuk Xavier.


Menyadari tiga pasang mata memandangnya seperti itu, Anna langsung sadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah Xavier di sampingnya yang masih menanti penjelasan atas tindakannya barusan. "Ah, maaf... Seharusnya aku bertanya dulu padamu."


"Ada apa? Memangnya apa itu?"


Anna baru ingat Xavier bukan berasal dari Schiereiland dan makanan di sini berbeda dengan makanan di utara. Padahal sup sayur keju adalah hidangan sarapan paling umum di kerajaannya. Anna menyukai makanan itu sejak kecil, tapi Leon membencinya karena tidak dapat mengonsumsi keju dan produk olahan susu lainnya. Jadi saat sarapan, Anna sudah biasa mengingatkan para pelayan untuk tidak menuangkan krim keju hijau ke mangkuk sup Leon meski para pelayan di Istana sudah hafal kebiasaan makan seluruh anggota keluarga kerajaan termasuk Leon.


"Krim keju." Anna menjawab. "Dicampur dengan parsley dan bayam sehingga warnanya hijau. Maaf, aku tadi melamun. Kau bisa—“


"Tidak apa-apa." Kata Xavier langsung. Senyumnya menenangkan. "Aku memang tidak bisa makan keju."


...****************...