The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 22 : L'anneau du Coeur de Dragon



Satu jam berikutnya, Anna sudah berada di dalam kereta kuda menuju Istana Anastasia—Istana yang diberikan Nicholas sebagai hadiah pertunangan mereka yang terletak di Eze, dekat pantai—dalam balutan gaun pengantin yang persis seperti yang dikenakan Rumelle. Wajahnya masih tertutup veil yang juga menyembunyikan rambut merahnya yang tergulung rapih di atas lehernya.


Xavier di hadapannya masih terpukau, lupa cara bernapas maupun berkedip. Xavier diam mematung seolah dengan cara begitu jantungnya dapat berdetak dengan irama normal kembali atau berhenti berdetak sama sekali. Tentu saja cara itu tidak berhasil. Sosok Anna yang mengenakan gaun pengantin membuatnya tidak bisa berpikir jernih maupun memikirkan langkah selanjutnya dalam rencana mereka. Semua rencana awal yang telah disusunnya mendadak hilang dari pikiran. Sesaat dia menyesali rencananya sendiri—rencana menyamar sebagai Duke dan Duchess Francis—dengan membuat Anna mengenakan gaun pengantin milik Rumelle, membuatnya teringat pada hari pernikahan mereka dahulu kala di kehidupan sebelumnya. Tapi hanya dengan cara itu mereka bisa pergi ke Istana Anastasia tanpa dicurigai oleh para warga yang sudah berbaris di sepanjang jalan.


Hanya ada mereka berdua dalam kereta kuda itu. Mereka berhasil mengelabui warga dan menyamar sebagai pasangan Duke dan Duchess Francis yang sedang menuju ke Istana Anastasia. Para warga tidak diizinkan mendekati mereka saat mereka menaiki kereta kuda sehingga tidak ada yang dapat melihat wajah mereka dengan jelas. Namun Anna masih menutupi wajahnya dengan veil.


"Kau tahu, kau sudah bisa membuka itu. Tidak ada warga Duchy Francis yang melihat." Kata Xavier, menunjuk veil yang masih menutupi wajah Anna. Dia berusaha untuk bersikap normal.


"Aku tampak aneh." Kata Anna. "Memalukan."


Xavier membuka veil itu, menampilkan wajah Anna yang sudah dirias. Tidak banyak waktu untuk meriasnya jadi mereka hanya memakaikannya perona pipi dan perona bibir seadanya. "Kau tampak luar biasa menakjubkan."


"Hentikan." Wajah Anna merona.


Mereka sudah pernah menikah. Xavier sudah pernah melihatnya mengenakan gaun pengantin yang jauh lebih indah dari gaun yang ini, yang terbuat dari untaian bunga dari Earithear, ombak lautan dari Aquinier serta hembusan angin Aerinear dilengkapi cahaya dari api abadi miliknya. Gaun yang hanya ada dalam legenda mereka, yang tidak bisa dibandingkan dengan gaun mana pun, yang orang-orang hanya akan pernah mendengarnya sebagai dongeng belaka. Tapi itu terjadi di masa lalu. Dan melihat Anna kembali mengenakan gaun pengantin, tapi bukan di hari pernikahan mereka, membuatnya sesak entah bagaimana.


"Nick bodoh. Dia tidak tahu apa yang dia lepaskan dari genggamannya." Gumam Xavier pada dirinya sendiri. "Tidak. Apa aku seharusnya berterima kasih padanya?"


Xavier tampak teringat pada sesuatu, karena sesaat kemudian dia tampak memperhatikan sekitarnya, memastikan benar-benar hanya ada mereka berdua di dalam kereta kuda itu. Dia lalu mengeluarkan sesuatu yang tergantung di lehernya, sebuah kalung yang baru Anna sadari dikenakan olehnya pagi itu. Bukan kalung. Itu hanya rantai perak dengan sebuah cincin sebagai liontinnya. Cincin dengan permata ruby.


Xavier mengambil cincin itu dan menyerahkannya pada Anna. Anna terkejut bukan main. Pupil matanya melebar saat melihat cincin itu.


"Apa yang—“


"Maaf kalau waktunya kurang tepat, suasananya juga kurang bagus..."


Anna enggan melihat cincin itu dari dekat. Berusaha untuk sejauh mungkin dari cincin yang disodorkan padanya. Bukan tanpa alasan dia melakukannya. Di Schiereiland, memberikan cincin berarti melamar. Dan cincin permata ruby memiliki makna lain, bukan sekedar melamar, pemberian cincin permata ruby dimaknai bahwa orang tersebut menyerahkan seluruh hati, jiwa dan raga hanya untuk sang penerima cincin. Menyerahkan hidup dan matinya dan tak bisa dibatalkan dengan perceraian. Sebuah ikrar yang bahkan lebih dalam maknanya dari ikrar pernikahan.


"Jangan takut, ini bukan lamaran. Aku tidak berniat untuk menikahi siapa pun lagi dalam waktu dekat." Melihat Anna masih menjauh dari cincin itu, dia kemudian melanjutkan, "Aku yakin di Schiereiland ada upacara khusus yang dilakukan untuk acara lamaran anggota keluarga kerajaan, jadi ini bukan itu, tenang lah. Kalau ini lamaran—yang mana sebenarnya bukan meski aku ingin sekali, aku akan melakukannya sesuai adat istiadat di kerajaanmu, di tempat yang lebih baik saat situasi di antara kita dan kerajaan kita sudah membaik dan aku sudah memastikan kalau kau tidak akan memelototiku seperti itu." Xavier tersenyum tipis saat mengamati tatapan Anna melunak dan tidak seterkejut tadi. Anna menghela napas seolah baru keluar dari situasi yang sangat menegangkan. "Aku sudah lama ingin memberikan cincin ini padamu."


Anna tidak langsung menerima cincin itu. Dia hanya mengamatinya dari dekat. Cincin itu pasti bukan sekedar cincin biasa. Karena Anna seperti bisa melihat api berkobar di dalam permata ruby tersebut. Atau mungkin itu hanya efek cahaya.


"Apa itu?" Tanya Anna, merujuk pada sesuatu yang tampak seperti api di dalam permata ruby.


"Nyawaku." Kata Xavier dengan ringan seolah itu bukan apa-apa. "Jantung Naga Api Agung yang katanya bisa menghidupkan orang yang sudah mati."


Pupil mata Anna kembali melebar. "Jantungmu? Tapi—“


"Bukan. Bukan benar-benar jantungku. Jantungku masih ada di sini. Berdetak kelewat kencang. Menyakitkan dan merepotkan seperti biasa." Katanya sambil menunjuk dadanya. "Yang ada di dalam cincin itu adalah inti dari jantungku, yang berfungsi untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati, atau paling tidak begitu lah yang dikatakan di berbagai buku yang dapat kutemukan. Elle berhasil memisahkannya dan mengeluarkannya dengan sihir serta menaruhnya di dalam cincin ini sesaat sebelum kita pergi meninggalkan istana pagi itu. Prosesnya lumayan menyakitkan dan tidak semua penyihir bisa melakukan itu. Elle cukup kuat, penyihir lainnya mungkin tidak bisa melakukannya tanpa mati." Xavier membuka tangan Anna yang terkepal dan menaruh cincin itu di telapak tangannya. "Aku tidak biasa menerima penolakan terutama setelah aku secara langsung benar-benar menyerahkan jantungku padamu. Ambil saja."


Anna mengamati cincin itu. Api di dalam permatanya tampak bergerak-gerak seperti jantung yang berdetak. "Kenapa kau memberikannya padaku? Bukankah ibumu bisa diselamatkan dengan ini?"


"Tidak bisa. Sudah kucoba. Ternyata jantungku sudah ada pemiliknya." Kata Xavier sambil menatap Anna penuh arti. Senyumnya sedih dan menyakitkan.


Anna membisu. Dia tidak berani memikirkannya apa lagi menebaknya. Dia tidak mau mengetahuinya meski jauh dalam hatinya Anna memang sudah tahu siapa pemilik yang dimaksudkannya bahkan tanpa Xavier mengatakannya. Anna akhirnya memahami, itulah alasan dirinya hidup kembali setelah seribu tahun.


Anna tidak tahu tentang itu. Tidak ada dalam ingatannya karena saat itu dia sudah mati. Dia tidak tahu bagaimana nasib Naga Api Agung atau apa yang dia lakukan setelah kematiannya.


"Aku tidak tahu... Tidak tercatat dalam sejarah—“


"Memang siapa yang bisa mencatatnya? Tidak ada yang tahu kejadiannya kecuali Dewi Langit dan aku sendiri."


Anna kembali mengingat gambaran dirinya yang sudah menjadi mayat. Pucat, diam, tak bernyawa. Dan lagi-lagi suara bisikan putus asa itu terngiang-ngiang di telinganya. Suara Xavier yang memohon.


"Tidak lama. Mungkin tidak sampai satu jam." Jawab Xavier. Matanya tampak menerawang mengingat kembali saat itu. Saat mengatakannya suaranya sama putus asanya dengan yang Anna dengar di hari kematiannya. "Kau pikir aku bisa bertahan hidup lebih lama dari itu tanpamu?"


Anna tidak mengatakan apa pun. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya alasan kenapa dia bisa hidup kembali.


"Apa yang kau lakukan?" saat menanyakan itu, suaranya serak seolah ada yang mengganjal tenggorokannya dan hatinya kini terasa perih.


"Aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat itu untuk bisa melihatmu hidup kembali."


Satu Jantung Naga dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Empat Jantung Naga dapat membuat hidup abadi.


Anna jadi bertanya-tanya siapa yang mengatakan kata-kata itu pertama kali. Mungkin sudah diberitahukan sejak seribu tahun yang lalu. Mungkin para naga sendiri yang memberitahukannya pada manusia. Dan nyatanya kata-kata itu terbukti benar. Satu jantung Naga dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Namun tidak dikatakan butuh waktu berapa lama sampai orang yang sudah mati itu hidup kembali.


Bukan hidup kembali. Lahir kembali.


Dan butuh waktu seribu tahun.


Mungkin itu sebabnya Xavier tidak menggunakan jantung naga mana pun untuk menghidupkan kembali ibunya. Orang lain tidak tahu, tapi dia tahu bahwa butuh waktu seribu tahun sampai orang yang dia berikan jantungnya hidup kembali.


"Tapi kau seharusnya abadi." Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Anna sebelum dia sempat memikirkan jawabannya. Dia tidak abadi. Dia menyerahkan jantungnya sekaligus keabadiannya.


"Tidak abadi lagi." Kata Xavier. Tatapannya melekat pada Anna, memastikan sendiri dengan kedua matanya bahwa keabadian yang dia lepaskan seribu tahun yang lalu ternyata memang sepadan. Dia tidak menyesal kalau pun dia harus menjadi makhluk fana yang bisa mati kapan pun.


"Apa ini pertama kalinya aku hidup kembali setelah saat itu?"


"Benar."


"Bagaimana denganmu?"


Xavier tidak langsung menjawabnya. Tampak mempertimbangkan apakah dia harus menceritakannya atau tidak. Dia seolah sedang melihat ke dalam ingatan yang tersisa dari kehidupannya yang lain.


"Aku samar-samar mengingatnya, kehidupan lain yang kujalani sebelum saat ini. Kebanyakan aku terlahir sebagai bangsawan, pernah juga sebagai rakyat biasa. Tapi aku selalu mati muda—di kehidupan-kehidupan yang itu lukaku tidak sembuh dengan cepat. Dan kau selalu tidak ada. Tanpa sadar, di saat-saat itu pun aku selalu merasa tidak lengkap, seperti kehilangan sesuatu dan selalu mencari sesuatu. Dan mati sebelum aku menemukan apa yang kucari. Di kehidupan yang ini, akhirnya aku tahu apa yang kucari, dan akhirnya aku dapat bertemu denganmu."


"Maaf..."


Maaf karena telah meninggalkanmu. Maaf karena membuatmu begitu menderita. Maaf karena butuh waktu lama sampai kita bisa bertemu.


Maaf karena tidak tahu semua yang telah kau lakukan untukku. Maaf karena awalnya aku membencimu atas apa yang dilakukan ayahmu, bahkan ada saatnya aku pernah ingin membunuhmu. Maaf karena sudah marah padamu.


Maaf kalau aku masih tidak tahu harus bersikap bagaimana padamu.


Tapi Anna tidak mengatakannya. Rasanya ada terlalu banyak hal yang ingin dia katakan, banyak permintaan maaf. Dan dadanya terasa sesak seolah dia turut merasakan apa yang dirasakan Xavier.


"Tidak perlu minta maaf atas hal yang bukan kesalahanmu. Tapi mungkin lebih baik kita tidak usah membicarakannya lagi. Itu hanya masa lalu." Dia tersenyum. Dan Anna tahu senyuman itu untuk menenangkannya agar dia tidak perlu merasa bersalah. Xavier melanjutkan, "Dan tolong jangan menatapku seperti itu, aku sungguh baik-baik saja sekarang. Aku hidup, dan begitu pun denganmu. Walau pun akhirnya situasi diantara kita jadi tidak terlalu bagus karena kesalahanku sendiri."


Bukan sepenuhnya salahmu. Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya. Kita sedang berusaha memperbaiki semuanya. Tapi Anna tidak mengatakannya juga.


Anna mengangguk mengerti. Dia juga merasa tidak sanggup jika harus meneruskan pembicaraan itu. Tidak sanggup membayangkan pengorbanan sebesar apa yang sudah dilakukan Xavier untuknya di masa lalu. "Jadi apa rencanamu?" Dia mengalihkan topik. Cincin ruby yang masih di genggamannya, terasa berdenyut dan hangat.


"Untuk sekarang? Tidak ada. Kita hanya perlu menunggu sampai kita tiba di Istana. Dan menunggu orang-orang Nicholas yang sudah kuperintahkan untuk menjemput Louis dan Ratu Isabella dari penginapan." Xavier mengamati Anna yang tampak lelah, "Kudengar butuh waktu seharian untuk sampai di Istanamu itu. Istirahat lah. Karena setelah ini, kita akan sangat sibuk."


...****************...