The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 28 : Poison Mortel



Xavier tidak mati.


Anna tahu itu.


Meski begitu, melihat anak panah menancap tepat di dadanya, darah mengalir dari sana, saluran mereka yang tiba-tiba terputus dan Xavier yang diam membuatnya panik.


Anak panah itu hanya memelankan detak jantungnya dan tidak menancap cukup dalam untuk mengenai jantungnya sehingga tidak membuatnya segera mati. Orang-orang itu tidak berniat membunuh, hanya ingin membuat Xavier, serta para pengawal berseragam khas Nordhalbinsel itu pingsan. Anna mengetahui itu setelah mengambil salah satu anak panah dan mengamati ujungnya. Ujung anak panahnya berwarna hitam. Dia sudah diberitahu pola yang kerap digunakan oleh mereka dalam menyerang targetnya, yaitu dengan menggunakan panah beracun yang tidak mematikan. Racun tersebut diproduksi di wilayah Smirnoff dan dapat membuat target tidak sadar selama beberapa jam. Mereka membiarkan Anna selamat karena mereka tahu Anna adalah orang Schiereiland.


Red Queen.


Itulah mereka. Anna sudah menyadarinya sejak melihat anak panah itu. Anak panah berwarna merah dengan ujung berwarna hitam, yang menurut informasi yang dia dapat dari Nicholas, merupakan ciri khas kelompok Red Queen. Anna tidak melawan mereka lagi saat mereka mendekat karena tahu siapa mereka. Karena Xavier memintanya untuk tidak melawan mereka. Karena tahu mereka lah yang sedang dicarinya. Jadi Anna berupaya agar dia bisa ikut dengan kelompok itu saat mereka membawa Xavier dan para pengawal yang sudah pingsan.


"Jika kalian membawanya, kalian juga harus membawaku." Katanya saat mereka mulai mengikat tangan dan kaki Xavier yang tidak sadarkan diri. Suaranya masih bergetar karena shock, tapi justru itu membuatnya tampak meyakinkan.


"Kau bukan orang utara. Kami hanya mengambil orang-orang utara. Pergilah dan cari perlindungan."


Suara perempuan, pikir Anna. Dia mencoba menyembunyikan keterkejutannya saat mengetahui ada seorang perempuan diantara para pemanah tadi. "Aku... aku harus bersamanya." Anna memutar otak, memikirkan alasan lain yang lebih meyakinkan. "Kami sudah menikah." Bukan sepenuhnya bohong, karena mereka memang sudah pernah menikah seribu tahun yang lalu. Anna kemudian mengeluarkan cincin permata ruby dan memperlihatkannya pada para anggota Red Queen. "Ikrar permata ruby. Kalian pasti tahu apa artinya."


Mereka terkesiap, lalu melihat Anna dan Xavier bergantian. Tapi mereka tidak mengatakan apa pun dan hanya diam seribu bahasa di balik topeng mereka. Mereka mengenakan tudung berwarna merah serta topeng perak sehingga Anna tidak dapat membaca ekspresi mereka.


Tapi mereka akhirnya setuju membawa Anna karena alasan itu. Mereka semua orang Schiereiland, jadi mereka tahu apa makna dari cincin permata ruby itu meski sebenarnya tidak pernah ada ikrar terucap atas cincin yang Anna pegang.


Anna turut menjadi tawanan Red Queen tanpa disakiti. Pedangnya diambil. Tangan dan kakinya turut diikat. Matanya ditutup dengan kain hitam lalu mereka membawanya dengan kereta kuda. Tidak dengan cara yang kasar. Sebenarnya, mereka cukup lembut dan sopan padanya.


Anna tidak tahu di mana mereka berada beberapa menit kemudian. Matanya masih ditutup kain hitam jadi dia tidak bisa melihat sama sekali. Tapi cincin permata ruby itu kembali berdenyut sangat pelan dan samar. Iramanya teratur. Mulai terasa hangat. Xavier sudah kembali sadar. Anna tersenyum lega.


Karena kaki dan tangannya diikat serta matanya ditutup, Anna berusaha mencari tahu dimana dia berada dengan memanfaatkan indra pendengaran dan penciumannya. Dia dapat mendengar suara langkah kaki bergema. Derik lantai kayu saat diinjak. Suara debur ombak terdengar tidak terlalu jauh. Aroma asin lautan serta angin pesisir yang dingin.


Dia berada di salah satu pertokoan di tepi pantai. Masih di Kota Eze.


Lalu Anna mendengar suara bisik-bisik. Suaranya sangat pelan, tapi Anna yakin itu suara perempuan. Semua yang dia dengar adalah suara perempuan. Mereka semua perempuan.


"Astaga! Lepaskan tutup mata serta ikatan Yang Mulia Putri sekarang juga!" Perintah seseorang. Suaranya tidak asing. Nada bicara memerintah itu bahkan terdengar sangat familier.


'Putri' katanya? Dia mengenaliku.


Bagus... Xavier berkomentar setelah cukup lama diam yang membuat Anna resah. Jadi... kita sudah menikah?


Seribu tahun yang lalu. Jadi kau mendengarkan sejak tadi?


Samar-samar. Aku tidak yakin, tapi sepertinya ada beberapa hal yang tidak kudengar saat aku benar-benar tidak sadar. Ada yang kudengar tapi tidak kuketahui artinya. Apa itu Ikrar Permata Ruby?


Penjelasannya panjang. Nanti saja kuberitahu.


Baiklah. Aku akan menagih penjelasan itu nanti. Ada jeda hening sebentar sebelum Xavier kembali bertanya, Kau baik-baik saja? Selain lecet di pergelangan tangan, maksudku. Aku bisa merasakannya. Mereka tidak melukaimu kan?


Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kau baik-baik saja?


Tidak perlu khawatir. Tetap tenang dan siaga. Ingat semua rencana kita.


Dengan cepat, para anggota Red Queen itu melepas ikatan pada kaki Anna, lalu pada tangannya, lalu melepas kain yang menutupi matanya. Cahaya lampu kristal di langit-langit terasa membutakan, jadi dia kembali menutup matanya. Lalu perlahan, dia kembali membuka matanya. Berusaha menyesuaikan pandangannya di ruangan yang ternyata sangat terang itu.


Anna mengerjap, kemudian memperhatikan sekelilingnya dengan cepat. Dia berada dalam sebuah restoran. Restoran yang kosong. Meja-meja dan bangku-bangkunya terlihat sangat antik dan berkelas. Lantainya terbuat dari kayu, tapi dindingnya yang putih seperti terbuat dari mutiara. Memang terbuat dari mutiara. Lampu-lampu kristal bergantungan di langit-langit berwarna biru seperti lautan. Seperti berlian biru. Anna menoleh ke arah samping kanannya dimana suara debur ombak itu berasal. Jendela-jendela kaca yang tinggi berjajar di dinding itu, sehingga bahkan dari tempatnya terduduk di lantai, Anna masih dapat melihat pemandangan di luar sana. Lautan berwarna biru dan jingga saat senja. Matahari hampir terbenam memancarkan cahaya kemerahan ke seluruh ruangan. Anna akhirnya menyadari tempat apa itu. Blue Diamond. Restoran termewah di Schiereiland yang dimiliki oleh keluarga Smirnoff secara turun temurun.


Anna kembali memfokuskan pandangannya pada sosok di hadapannya yang sedang memperhatikannya. Sosok itu mengenakan jubah merah serta membawa busur dan anak panah di punggungnya seperti yang lainnya, namun topeng yang dia kenakan berwarna emas. Anna yakin orang yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang menyebutnya Putri tadi. Pemimpin Red Queen.


Orang itu membuka tudung jubahnya, memperlihatkan rambut panjang yang ikal sekelam malam. Lalu dia membuka topeng emasnya. Seorang wanita yang sangat cantik. Wajah yang familier, meski ada yang berbeda dari wajah itu sekarang. Ada bekas luka sayat di sepanjang pipi kanannya dari ujung bibir hingga ujung matanya. Matanya... Mata yang mirip seperti milik Ratu Isabella, bagaikan samudra. Biru dan hijau yang melebur menjadi satu.


"Constanza!"


Anna bersumpah melihat air mata menggenang di kedua mata Constanza. Ini pertama kalinya dia melihat Constanza seperti itu.


"Putri Anastasia?" Constanza berlutut di hadapan Anna yang masih terduduk di lantai kayu. Matanya seolah menjelajah tiap detail wajah Anna untuk memastikan dia tidak salah lihat. Dan dengan sangat mengejutkan, Constanza memeluknya dengan erat. "Ini benar-benar kau! Syukurlah... Syukurlah... Aku tidak sendiri... Kau selamat. Syukurlah..."


"Iya, aku masih hidup. Tenang lah." Anna menepuk-nepuk punggung Constanza, menenangkannya. Anna takut bertanya apa yang terjadi padanya sampai-sampai Constanza seperti ini. Lady Constanza Smirnoff, Constanza yang itu, Ratu pergaulan kelas atas, rivalnya, memeluknya sambil terduduk di lantai dan menangis.


Constanza melepaskan pelukannya. Air matanya sudah dia singkirkan dengan cepat saat kembali menatap Anna. "Kenapa—Tidak, apa yang kau lakukan bersama orang itu?" Tanyanya sambil mengedikkan kepala ke arah belakang Anna.


"Orang itu?" Anna menoleh ke belakangnya. Xavier masih pingsan di sana. Atau mungkin hanya berpura-pura. Tapi ada yang salah. Dia masih berdarah. Lukanya tidak menutup. Kau yakin kau baik-baik saja, Xavier? Tidak ada jawaban. Anna teringat tadi saat dia bertanya, Xavier tidak benar-benar mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Anna kembali menatap Constanza di hadapannya. "Jangan bilang kau tidak mengenalnya." Tanya Anna.


Xavier? Jawab aku. Kau kenapa?


Masih tidak ada jawaban. Kepanikan mulai melanda kembali, tapi Anna harus tetap tenang di hadapan Constanza.


Constanza mengerutkan kening. "Aku memang tidak kenal. Untuk alasan apa kau berpikir aku mengenalnya? Tapi siapa pun dia, aku yakin dia salah satu antek-antek Si Penyihir Menara. Lihat saja kulit putih salju itu dan pakaiannya. Bangsawan Nordhalbinsel. Hama perusak negeri kita. Iblis kejam. Monster biadab."


Hama perusak. Iblis kejam. Monster biadab. Anna mengulang kata-kata itu, meniupkan kata-kata itu di saluran komunikasi rahasia mereka dengan lantang agar Xavier bisa mendengarnya. Dia meneriakkan kata-kata itu. Kau mendengarku?


Aku dengar.


Anna bernapas lega. Membuat Constanza yang masih memperhatikannya tampak bingung.


Apa sepupumu selalu sekasar itu?


Aku justru terkejut dia terdengar lebih lembut hari ini.


Anna akhirnya kembali diingatkan bahwa ini memang Constanza. Kata-kata sumpah serapah itu, makian-makian itu, semua itu memang khas sepupunya. Tatapan Constanza saat melirik ke arah Xavier bahkan terlihat seperti sedang mengutuk.


"Tidakkah wajahnya mengingatkanmu pada seseorang?" Anna kembali bertanya pada Constanza. "Tunanganmu, mungkin?"


"Ludwig bukan—“ Kata-kata itu berhenti. Dia memicingkan mata ke arah Anna. Dahinya berkerut. Tatapannya itu menyiratkan seolah dia jijik saat mendengar kata 'tunangan' untuk menyebut Ludwig. "Aku sudah membatalkan pertunangan itu. Aku tidak sudi menikah dengan putra dari seorang penyihir. Terlebih lagi orang utara yang telah menghancurkan kerajaan kita! Lebih baik aku mati daripada harus melanjutkan pertunangan itu!" Dia terlihat jelas sangat marah.


Anna jadi ingin berhati-hati padanya. Constanza pasti mengalami hal yang sangat buruk selama ini. Nicholas tidak menceritakan apa pun pada Anna tentang keluarga Smirnoff karena tidak ada yang tahu kabar keluarga itu selama ini. Nicholas sibuk menjaga wilayah dan warganya sendiri sampai-sampai tidak sempat memperhatikan wilayah lain. Jadi Anna hanya diam dan menunggu saat yang tepat untuk memberitahu Constanza tentang Xavier. Tentang rencana mereka.


"Tunggu... kau tahu aku bertunangan dengan Pangeran Ludwig?"


Anna mengangguk, tapi tidak menjelaskan dari siapa dia tahu. Kabar pertunangan putri sulung keluarga Smirnoff itu sudah menyebar ke seluruh Schiereiland, tapi tidak pernah ada yang tahu siapa tunangan dari Lady Constanza Smirnoff. Orang-orang hanya tahu bahwa tunangannya itu seorang pangeran dari negara lain dan memberinya cincin pertunangan termahal yang pernah tercatat dalam sejarah mana pun.


Constanza kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada Xavier yang tergeletak di lantai, masih berdarah-darah dalam keadaan terikat dan mata terpejam.


Anna memperhatikan kerutan kecil diantara kedua alis Xavier seperti sedang menahan sakit. Apakah sangat sakit? Apa lukanya masih belum menutup? Bukankah biasanya lukamu cepat menutup dan sembuh? Kenapa kau diam? Jawab aku!


"Mereka memang agak mirip..." Constanza akhirnya menyadari. "Oh, tidak! Mereka memang mirip. Apakah mungkin dia..."


Anna kembali memperhatikan Xavier. Kulitnya yang memang sudah seputih salju kini tampak pucat.


Xavier? Kau kenapa?


Tidak ada jawaban.


Cincin permata ruby kembali berdenyut pelan. Sangat pelan. Semakin pelan dan samar, hampir hilang.


"Baiklah. Sekarang aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kau bersama Putra Mahkota Nordhalbinsel? Dan bukankah dia seharusnya sudah mati?"


Salah satu anggota Red Queen yang ada di dekatnya membisikkan sesuatu pada Constanza dan dalam sesaat pupil matanya melebar. Dia menatap Anna dan Xavier bergantian. Lalu matanya terpaku pada cincin permata ruby yang tergantung di leher Anna.


"Kalian menikah? Dengan ikrar permata ruby? Kau sudah gila!"


"Tidak. Aku berbohong. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi pertama-tama, bisakah kita mengobati lukanya dulu? Kumohon."


"Kenapa kita harus menyelamatkan orang yang kelak akan menjadi Raja dari negara musuh kita? Biarkan saja dia mati! Apa kau tidak ingat siapa yang membunuh ayahmu? Ayahnya! Raja Nordhalbinsel yang membunuh ayahmu!"


Kata-kata itu menghantamnya. Mengingatkannya kembali pada apa yang telah terjadi pada ayahnya dan tanahnya. Pada keluarganya dan kerajaannya juga rakyatnya. Sekelebat peristiwa malam itu kembali muncul dalam ingatannya, hampir membuatnya sesak nafas.


Lalu dia teringat kembali pada mimpi itu. Pada Xavier yang berlutut. Keputusasaannya. Perkataannya pada Sang Dewi, "...ambil saja nyawaku!"


Dia kembali menatap Xavier yang masih diam dan terpejam. Pucat dan terluka. Aku harus fokus. Dia kehilangan banyak darah. Dia mungkin bisa mati kalau tidak segera diobati. Pikir Anna.


"Dia tidak seperti itu. Dia bukan orang yang jahat seperti yang kau kira." Anna berusaha meyakinkan Constanza.


"Kau bicara seolah kau benar-benar mengenalnya, Yang Mulia. Dia mungkin menyihirmu sehingga kau bersikap seperti ini pada musuhmu sendiri."


"Berbeda dengan Ludwig, dia bukan penyihir."


Constanza menggeleng. Menolak alasan itu. "Syukurlah aku yang berhasil menembaknya dengan anak panahku. Berbeda dengan anak panah anggota Red Queen lainnya, anak panahku kulumuri dengan racun mematikan yang dapat memelankan kinerja jantungnya sampai benar-benar berhenti total meski tidak langsung mengenai jantungnya. Racun itu akan membunuhnya perlahan. Jika saja aku tahu lebih awal bahwa dia adalah Putra Mahkota Nordhalbinsel, aku tidak akan ragu-ragu untuk menancapkan anak panah itu sampai menembus jantungnya. Dia pantas mati."


Racun mematikan.


Kata-kata itu menggema di pikirannya. Menggema di saluran mereka. Semua rencana yang telah mereka susun bersama lenyap. Anna tidak bisa memikirkan apa pun selain kata-kata itu. Racun mematikan. Racun mematikan.


Xavier! Katakan sesuatu!


Masih tidak ada jawaban. Dia panik. Denyut cincin permata ruby di dekat dadanya hampir tidak terasa sama sekali. Matanya terasa perih. Air mata menggenang di pelupuk matanya.


Xavier akan mati. Dia akan mati dan itu salahku. Setetes air mata mengalir di pipinya. Dia mengamati Xavier yang kini sudah hampir terlihat seperti mayat tanpa tanda-tanda kehidupan. Tidak. Aku masih bisa menyelamatkannya. Aku harus tenang. Rencana C. Dia tidak akan mati jika aku langsung menjalankannya.


Anna berusaha berpikir jernih. Dia mengatur nafasnya, kemudian kembali mengingat rencana-rencana mereka. Dia teringat kata-kata Xavier.


"Jika sesuatu yang buruk terjadi, aku sekarat atau sejenisnya, dan Pemimpin Red Queen terlihat sulit diyakinkan. Jangan berusaha mencari cara untuk menolongku karena aku akan baik-baik saja. Kau harus fokus untuk meyakinkan mereka dan jalankan Rencana C. Ulur waktu untuk Ratu Isabella. Jika mereka sudah percaya padamu, mereka akan melakukan apa pun untukmu. Atau paling tidak mereka akan melakukan apa pun untuk Ratu Isabella jika beliau sudah tiba."


"Constanza... Percaya lah padaku. Kita harus menolongnya." Anna memperhatikan sekitarnya. Mencari tahu apakah ada tabib, penawar racun atau obat-obatan yang dia kenal. Tapi semua yang ada di sana mengenakan jubah merah. Mereka semua adalah anggota Red Queen. Mereka tidak akan menolong Xavier jika pemimpin mereka tidak menginginkannya. "Constanza, dia tidak—“


"Ayah dan ibuku dibunuh! Apa kau bahkan tahu tentang itu?" Air mata Constanza tumpah. Suaranya bergema di restoran kosong itu. Dan Anna turut merasakan kepedihannya saat mendengarnya. "Adik-adikku dibawa pergi entah ke mana. Mereka menghancurkan hidupku. Dan kau memintaku menolong pembunuh ini?"


Kini terjawab sudah pertanyaan yang tidak berani Anna ajukan. Disaat dirinya sendiri kesulitan menerima kenyataan usai penyerangan malam itu, di saat dirinya berpikir hanya dirinya sendiri yang dihancurkan hidupnya, Constanza mengalami hal yang serupa. Bedanya, Anna masih memiliki Leon, dan Xavier mengamankan Ibu serta adiknya di Istana sehingga mereka tetap hidup. Constanza tidak memiliki siapa pun di sisinya saat itu, tidak ada yang menolong dia dan keluarganya. Constanza bangkit sendiri, mengumpulkan kekuatan dan pasukannya sendiri, lalu melawan mereka. Berusaha melakukan apa yang tidak bisa Anna lakukan untuk rakyatnya.


Anna dapat membayangkannya. Rasa pedih yang dialami Constanza saat orang tuanya dibunuh dan adik-adiknya direnggut darinya. Dia pasti melawan. Sejak dulu Anna sudah mengenal Constanza sebagai gadis yang tangguh. Tapi saat ini, di hadapannya, saat Constanza akhirnya memberitahu apa yang sudah terjadi padanya, gadis itu tampak hancur.


"Aku... Aku tidak tahu." Anna memeluknya. Saudari sepupunya, rivalnya yang dia pikir tidak akan pernah bisa akur dengannya, menerima pelukan hangat itu darinya. "Aku minta maaf. Aku turut sedih, Constanza."


"Kau seharusnya semarah aku. Kau juga berhak mendendam." Kata Constanza dalam pelukannya. Suaranya terdengar serak karena menangis.


Anna melepas pelukannya, memperhatikan sepupunya itu. Wajah cantik nan sempurna yang dulu sangat dia banggakan itu, kini ada bekas luka yang sangat besar di sana. Rambutnya yang panjang yang selalu ditata dengan rapih setiap hari oleh belasan pelayan, kini tergerai liar. Dia bahkan tidak mengenakan gaun, hanya blus putih, celana kulit juga sepatu boots dibalik jubah merahnya. Anna melirik ke jari manis Constanza tempat dulu gadis itu menyematkan cincin pertunangan dengan permata Sapphire yang selalu dia pamerkan ke mana-mana. Jari manisnya tampak ganjil tanpa cincin itu. Gadis yang ada di hadapannya itu tampak berbeda dari Constanza yang selama ini Anna kenal. Tapi api di dalam samudra biru kehijauan matanya tidak pernah padam.


"Aku memang marah." Anna memulai. "Aku sempat dendam pada mereka semua. Aku pernah merasa ingin membunuh mereka semua dan menghancurkan kerajaan mereka seperti apa yang sudah mereka lakukan pada kerajaan kita." Anna mengingat kembali minggu pertama usai penyerangan itu. Dia mungkin tidak akan bisa bertahan jika saat itu tidak ada Leon. "Aku merasa hancur dan tak berdaya saat itu."


"Lalu kenapa kau tidak balas dendam? Kenapa kau malah mau menolongnya?" Constanza melirik ke arah Xavier.


Anna melakukan hal yang sama. Tapi dia kembali panik saat melihat pakaian Xavier yang penuh darah dan kulitnya semakin pucat.


Kau harus bertahan, Xavier. Aku akan meyakinkan mereka. Aku akan menolongmu. Aku berjanji. Kau akan baik-baik saja. Bertahanlah.


Hening.


Anna dapat merasakannya. Xavier sekarat. Racunnya benar-benar bekerja. Sebelumnya kesadarannya terus timbul dan hilang, tapi kini seperti benar-benar hilang.


Anna kembali beralih pada Constanza. Ada keyakinan di tatapannya. "Dia berbeda. Dia penting untukku. Untuk Schiereiland. Dia bukan orang yang jahat, kau harus percaya padaku. Dia berkali-kali menyelamatkan nyawaku. Dia juga menjaga Ratu Isabella dan Alexis selama ini di Istananya."


Pupil mata Constanza melebar. "Ratu dan Putra Mahkota masih hidup?"


Anna mengangguk. Matanya dengan waswas mengamati matahari yang hampir terbenam sepenuhnya di balik cakrawala dari jendela besar itu.


Ini dia. Sebentar lagi bala bantuan akan datang. Sebentar lagi.


"Benar. Dan kami punya rencana untuk mengembalikan Schiereiland. Dia akan membantu kita." Lalu dia mengedarkan pandangan pada seluruh anggota Red Queen di tempat itu. "Dan aku akan membutuhkan bantuan Red Queen."


Constanza terdiam, berpikir. Dia memandangi Anna dan Xavier bergantian.


Rasanya seperti ratusan tahun telah berlalu padahal hanya beberapa menit saat Constanza berunding dengan para anggota Red Queen yang ada di sana. Dia dan Xavier sudah cukup mengulur waktu. Sekarang lah saatnya. Seharusnya mereka sudah siap sekarang.


Anna terus berusaha tenang meski berulang kali dia memanggil Xavier, namun tidak ada jawaban. Bangun! Buka matamu. Tolong katakan sesuatu...


Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang anggota Red Queen masuk dan berbisik pada Constanza. Pupil mata Constanza kembali melebar.


"Persilahkan masuk." Katanya. "Kenakan topeng kalian semua untuk berjaga-jaga." Perintahnya pada anggotanya.


Pintu yang sudah ditutup itu kembali dibukakan dengan lebar. Sekelompok orang, sekitar dua puluh orang atau lebih memasuki Restoran kosong itu. Mereka semua mengenakan seragam yang sangat Anna kenal. Prajurit Schiereiland. Ibu berhasil!


Seorang wanita dengan gaun luar biasa mewah bernuansa putih dan emas serta mahkota berkilauan di kepalanya memimpin pasukan itu. Dia tersenyum pada Constanza. Serentak, semua yang ada di ruangan itu berlutut penuh hormat padanya.


"Salam hormat kami pada Baginda Ratu Schiereiland. Panjang Umur Sang Ratu."


...****************...