
Xavier akhirnya memberanikan diri menatap Anna. Untuk sesaat dia merasa melihat kedua mata Anna yang cokelat keemasan itu terlihat merah menyala. Tapi dia tahu itu hanya bayangannya saja karena sesaat berikutnya setelah dia berkedip, mata keemasan itu kembali menatapnya. Xavier tidak langsung menjawabnya. Dia sedang menunggu. Anna sedang sangat emosi dan dia tahu bahwa tidak bijak mendebatnya saat ini. Xavier menghafal kebiasaan itu.
Ratu Agung Zhera dan Naga Api Agung sama seperti pasangan lainnya. Mereka juga sering berselisih. Sering bertengkar. Tapi tidak pernah ada yang mencatatnya dalam sejarah. Biar bagaimana pun Zhera sebelumnya adalah seorang putri tunggal dari seorang ayah yang sangat berkuasa. Naga Api Agung adalah raja para naga yang jauh lebih tua dari Zhera karena hidup abadi. Setelah menikah pun mereka sering bertengkar dan berbaikan lalu bertengkar lagi. Terkadang mereka bertengkar dalam rapat kenegaraan, dalam perundingan siasat perang, bahkan dalam jamuan istana. Hal itu menjadi sebagian asal mula kenapa kebanyakan kaum ningrat tidak menikah didasari cinta melainkan karena hubungan politik. Cinta bisa memicu perselisihan karena adanya rasa peduli terhadap satu sama lain. Zhera yang saat itu menjadi Ratu sekaligus pahlawan negara masih sangat muda belia dan selalu berapi-api. Saat sudah emosi, bahkan Naga Api Agung lebih memilih diam dan menunggu emosinya surut sebelum bicara.
Begitu pun dengan Anna saat ini. Xavier tahu betapa kecewanya Anna. Betapa Anna merasa sudah dibohongi olehnya. Tapi dia tetap punya kewajiban untuk menjelaskan semuanya.
Xavier setengah mati berharap saat ini mereka tidak sedang berada di dalam gua. Jika saja mereka sedang berada di taman, sambil minum teh, dalam suasana damai, mungkin akan lebih mudah baginya untuk bicara dengan baik-baik. Xavier mungkin bisa menyiapkan camilan manis terlebih dulu untuk menyenangkan hati Anna. Tapi tidak begitu kondisinya saat ini. Pembicaraan yang akan mereka lakukan tidak bisa diredakan hanya dengan secangkir teh dan camilan manis di taman.
"Tapi tidak semuanya benar" Kata Xavier.
"Tapi ada benarnya."
"Aku bukan orang jahat Anna." Katanya, menyesal dan terluka. "Tuduhanmu seolah menyiratkan aku sudah merencanakan semua itu. Seolah aku kejam dan tak punya hati, seolah aku selama ini hanya bersiasat, memanipulasi dan menggunakanmu juga Ratu Isabella dan Alexis sebagai umpan untuk mendapatkan Leon."
"Bukankah memang itu yang kau lakukan?"
"Bukan."
"Aku tidak tahu apakah harus percaya sepenuhnya pada kata-katamu. Kau bahkan sudah melarangku untuk mempercayaimu. Aku... tidak tahu lagi." Kata Anna. Dia terdiam sebentar untuk mengambil napas, lalu melanjutkan, "Pedang Raja Zuidlijk juga. Kau belakangan ini membicarakan pedang itu dengan Leon. Jangan pikir aku tidak mendengarnya. Kenapa?"
"Pedang itu bisa memutus sihir hitam paling kuat. Selena mengikat ibuku dengan sihir hitam. Saat ini Ratu Irene masih hidup. Tapi jika Selena mati, ibuku juga akan benar-benar mati. Itulah sebabnya aku tidak bisa melawan Selena."
"Jadi kau menginginkan pedang itu... Tapi guru pedang Leon, yang memberikan pedang itu padanya menyatakan bahwa hanya Leon yang bisa menggunakannya meski aku tidak benar-benar mengerti apa alasannya. Jadi... kau membutuhkan Leon juga. Sekarang semuanya masuk akal. Apakah penyerangan malam itu juga bagian dari rencanamu? Untuk menawan Ibuku dan Adikku di Istana, agar Leon datang ke Istanamu? Apa pembunuhan terhadap ayahku juga bagian dari rencanamu?"
"Tidak." Jawabnya langsung. "Astaga, Anna. Seburuk itukah aku di matamu? Aku tidak pernah menduga ayahku akan membunuh Raja Edward."
"Tapi kau sudah memperhitungkan bahwa Nordhalbinsel memang akan menyerang Schiereiland. Kau tahu cepat atau lambat itu akan terjadi. Dan kau bahkan tidak mencoba untuk menghentikannya atau memperingatkan kami. Kau menganggap itu sebagai peluangmu. Karena sejak awal pun kerajaan kita memang sudah saling bermusuhan."
"Bukan aku yang melakukan penyerangan terhadap kerajaanmu. Bukan aku juga yang membunuh ayahmu. Dan aku sudah mencoba menghentikannya. Aku datang malam itu meski terlambat."
"Itu tidak menjelaskan apa pun."
"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan, anggap saja aku sekejam itu hingga membiarkan ayahmu mati. Anggap saja aku memang membiarkan pasukan ayahku menyerang kerajaanmu. Tapi saat itu aku belum tahu siapa dirimu. Atau betapa pentingnya dirimu bagiku. Aku menyesal, Anna. Aku benar-benar menyesal sampai rasanya aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang sejak saat itu."
"Kau pasti merasa sangat sial saat mengetahui bahwa aku adalah wanita yang pernah kau cintai seribu tahun yang lalu. Apakah siapa diriku di masa lalu memang akan membuat perbedaan, Xavier?"
"Kau yang paling penting bagiku. Sejak dulu, sampai sekarang pun begitu. Dulu aku memang raja para naga dan aku bebas menyerahkan kekuasaanku itu untukmu. Membiarkan kau memerintah para naga dan bangsa manusia. Mendampingimu dan mendukungmu sepenuhnya. Tapi sesuai dengan perkataanmu, di kehidupan kali ini, aku milik kerajaanku. Aku memiliki seorang Ibu yang terikat di bawah sihir hitam dan aku terlahir sebagai putra mahkota yang tidak sepenuhnya berkuasa. Aku mengemban tanggung jawab dan tugas yang tidak ada dalam kehidupanku sebelumnya. Aku ingin menyelamatkan ibuku serta kerajaanku dari belenggu Selena tanpa menyakiti siapa pun. Aku membutuhkan Leon dan pedang Raja Zuidlijk untuk itu."
Anna mengerti. Dia pun akan melakukan hal yang sama untuk ibunya. Untuk adiknya. Juga untuk kerajaannya serta para rakyat. Tapi Anna tidak ingin Leon berada dalam bahaya.
"Ada cara lain." Kata Anna. "Kau bilang jantung naga bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati."
"Benar. Tapi jantungku tidak bisa. Saat ini aku tidak bisa memberitahumu alasan persisnya, tapi tidak bisa. Dan aku tidak mau mengorbankan naga lainnya. Seperti halnya kau tidak mau memanfaatkan para naga. Sadar atau tidak, kau menyayangi para naga, tidak mau mereka disakiti, itu sifat bawaan dari dirimu di masa lalu. Sama sepertiku. Jika ada cara lain untuk menyelamatkan ibuku tanpa menyakiti para naga, maka akan kulakukan."
"Dengan memanfaatkan Leon."
"Meminta bantuannya." Xavier mengoreksi.
Anna menyadari sesuatu. Xavier dan Leon belakangan ini sering berbincang-bincang selama berjaga bersama. Leon bahkan tahu kalau Xavier tidak akan ikut berperang.
"Leon sudah tahu." Anna menyimpulkan. Tapi sampai sejauh mana Leon tahu tentang rencana besar Xavier, Anna masih belum tahu.
Xavier mengangguk. "Aku memang sudah bicara dengannya."
"Apa dia akan melakukannya? Apa dia akan pergi ke Nordhalbinsel?"
"Aku belum tahu. Dia belum dapat memastikan."
"Apa itu akan membahayakannya? Apa efeknya pada Leon jika dia setuju untuk membantumu?"
Sihir hitam, pikir Anna. Tidak mungkin hal itu tidak berbahaya.
Xavier diam. Anna tahu apa artinya. Tapi dia tetap ingin mendengarnya langsung.
"Jawab aku." Tuntut Anna. "Dengan jujur."
"Seharusnya tidak berbahaya."
"Seharusnya?" Ulang Anna.
"Aku masih belum tahu."
"Jadi ada kemungkinan itu berbahaya."
"Benar."
Anna seharusnya sudah terbiasa. Leon sering pergi untuk menemui bahaya dan selalu kembali dengan selamat. Leon sudah terlalu sering pergi ke medan perang atau pertempuran apa pun dan pulang membawa kemenangan. Dan Anna sudah sering menunggunya sambil terus mengkhawatirkannya. Berharap Leon kembali dengan selamat. Dan harapannya biasanya dikabulkan.
Nordhalbinsel terkenal akan sihirnya. Tunangan—bukan, Istri Xavier saat ini adalah salah satu penyihir yang luar biasa. Jika sihir hitam memang hal seremeh itu, seharusnya Ratu Eleanor dapat menghilangkan sihir itu. Jika memang tidak berbahaya, seharusnya Xavier sudah lama dapat menyelamatkan ibunya dan memutus sihir hitam itu. Penyihir sekelas Eleanor Winterthur saja tidak bisa menghadapinya, lalu bagaimana bisa Xavier meminta Leon yang sama sekali asing dengan sihir untuk memutus sihir hitam itu.
Asap tipis—bukan asap, kabut tipis beraneka warna itu kembali muncul di pandangannya saat Anna menunduk ke bawah, mengular panjang hingga menuju luar gua. Kepalanya terasa agak pusing, mungkin efek dari semua pembicaraan ini yang terlalu mengejutkannya. Pikirannya menolak memproses semua informasi baru ini. Emosinya tumpang tindih, antara marah, kecewa, khawatir tapi juga bagian dari dirinya yang dia benci, tidak bisa menyalahkan Xavier sepenuhnya. Itu bukan salahnya. Tapi dia seharusnya bisa memberitahuku sejak awal.
Salah satu kabut tipis itu, yang berwarna merah berhenti di sekitar Xavier yang masih berdiri di hadapannya. Anna mengerjap beberapa kali sampai kabut-kabut tipis bayangannya itu benar-benar menghilang dari pandangan.
Anna mendongak, menatap Xavier dan berkata, "Kau ingat pernah mengatakan akan mengabulkan apa pun yang kuinginkan sebagai imbalan atas segala yang kulakukan di Montreux?"
"Ya." Jawabnya langsung.
"Aku tidak menginginkan gelar bangsawan maupun wilayah kekuasaan. Ini keinginanku, aku ingin kau tidak meminta Leon melakukan hal-hal yang mungkin membuatku harus kehilangan dia. Cari lah cara lain untuk memutus sihir hitam itu. Cari lah cara lain untuk mengalahkan Selena tanpa turut membunuh ibumu. Kuharap kau benar-benar memegang kata-katamu dan mengabulkan permintaanku itu."
Xavier tidak bisa berkata tidak pada permintaan apa pun yang muncul dari mulut Anna, tapi saat itu, dia juga tidak sanggup mengiyakannya.
...****************...
Saat Anna dan Xavier keluar dari gua tersebut, hari sudah gelap. Mereka bahkan tidak sadar sudah seharian berada di dalam gua tersebut. Dan Anna lebih terkejut lagi saat mendapati Leon di atas kudanya sudah ada di tempat mereka keluar beserta dua kuda lainnya.
"Seekor naga berwarna hijau menyingkirkan batu-batuan di mulut gua. Aku dan Louis berhasil keluar berkat naga itu." Kata Leon setelah mereka bertiga kini berada di atas kuda masing-masing, menuju tempat kereta kuda mereka menunggu.
"Itu Earithear. Naga Bumi." Jelas Anna. Dia melirik sekilas ke arah Xavier yang berkuda agak di belakang mereka. "Aku dan Xavier bertemu dengannya di dalam gua. Kau melihatnya?"
Leon mengangguk. "Hanya sesaat setelah dia terbang ke langit. Kuduga kau tidak mau aku menangkapnya jadi kubiarkan Naga itu pergi." Leon mengamati Anna, tahu bahwa luka di kaki Anna sudah benar-benar sembuh tapi dia khawatir ada luka baru yang didapatkannya setelah keluar dari gua, "Kau tidak apa-apa?"
"Earithear sudah menyembuhkanku. Sekarang kita bisa segera melanjutkan perjalanan."
"Bukan luka di kakimu maksudku." Kata Leon. Dia kemudian melirik ke arah Xavier dengan curiga. "Kau tidak berniat menjelaskan apa pun?" Tanyanya pada Xavier.
"Aku tidak melakukan apa pun yang bisa melukainya." Jawab Xavier.
Leon kembali beralih pada Anna, "Aku mendengar teriakanmu tadi di dalam gua, Yang Mulia."
"Aku tidak berteriak." Anna sebenarnya tidak mau membohongi Leon. Tapi Leon dulu yang menyembunyikan rahasia darinya. Dan Anna merasa tidak ingin memberitahu pada Leon rasa sakit seperti apa yang dia rasakan saat Earithear mencoba mengembalikan semua ingatannya. "Gua itu memang agak aneh, kan."
Saat Anna mengatakan itu, Leon menghentikan kudanya. Sesuatu yang dilihatnya pada Anna tadi agak mengejutkannya. "Yang Mulia..."
"Kenapa?" Anna ikut menghentikan kudanya. Xavier di belakang mereka turut melakukan hal yang sama. Anna menoleh ke belakang, ke arah Xavier.
Xavier melihatnya, hal yang membuat Leon sampai menghentikan kudanya. Meski hutan itu gelap dan meski hanya ada cahaya bulan yang menerangi mereka, Xavier cukup yakin melihat mata Anna yang berwarna cokelat keemasan itu menjadi merah, sama seperti warna rambutnya. Sama seperti warna mata Zhera. Kali ini dia yakin itu bukan khayalannya saja karena Leon juga melihatnya.
Anna menatap Leon dan Xavier bergantian. Keduanya tampak sama terkejutnya tapi Anna tidak paham apa yang mereka lihat. "Ada apa? Kalian menakutiku."
Saat Leon kembali melihat mata Anna, warnanya kembali seperti semula. "Bukan apa-apa." Kata Leon, sambil kembali melanjutkan perjalanan mereka. "Tadi... sepertinya aku salah lihat. Tadi matamu seperti berwarna merah."
"Leon, wajahmu pucat. Sudah berapa hari kau tidak tidur? Kau harus istirahat. Kita harus segera pergi ke pemukiman penduduk terdekat dan menyewa kamar untuk istirahat sejenak."
"Aku baik-baik saja, Yang Mulia. Aku pasti hanya salah lihat."
"Aku juga melihatnya." Kata Xavier di belakang mereka. "Anna, matamu tadi seperti—“
"Kita salah lihat." Leon melemparkan tatapan tajam pada Xavier. "Mungkin Yang Mulia benar. Kita perlu beristirahat."
"Di mana Ibu dan Louis?" Tanya Anna, berusaha mengalihkan topik.
Leon tidak langsung menjawabnya. Benaknya masih memikirkan suara teriakan Anna di gua tadi. Dia tidak mungkin salah dengar. Dia mengenal suara itu dengan sangat baik. Leon juga tahu dirinya tidak salah lihat tadi saat mata Anna berubah menjadi sangat merah. Tapi Leon tidak ingin membahasnya lagi. Dia tidak mengerti pada perubahan-perubahan yang perlahan mulai terjadi pada diri Anna. Anna masih Putri Schiereiland yang dikenalnya, tapi juga agak berbeda. Dan Leon hanya bisa berharap itu bukan hal yang buruk.
"Leon?" Anna membuyarkan lamunan Leon.
"Ah... maaf. Baginda Ratu kelelahan jadi beliau istirahat di kereta kuda. Louis menemaninya."
Mereka melanjutkan perjalanan malam itu menuju desa terdekat. Mereka menyewa dua kamar atas nama Louis dan berpisah dengan Tuan Schmidt. Tuan Schmidt menolak uang yang diberikan oleh Ratu Isabella sebagai bayarannya, tapi Sang Ratu diam-diam sudah memasukkan sekantung penuh permata di tas perbekalan milik Tuan Schmidt.
Anna tidur di kamar yang sama dengan Ratu Isabella. Mereka tidak bisa langsung tertidur meski penginapan itu cukup bagus dan kasurnya lumayan empuk jika dibandingkan dengan tidur di tenda. Berada di Schiereiland kembali dan bersama ibunya terasa seperti mimpi. Mereka pun mengobrol sampai salah satu dari mereka tertidur dan yang lainnya ikut tertidur.
Keesokan paginya, saat matahari baru mengintip sedikit dan langit belum benar-benar terang, Leon mengetuk pintu kamar Anna dan Ratu Isabella. Mereka memang sudah sepakat untuk pergi kembali melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali. Mereka sudah berada di Schiereiland. Meski ini adalah desa kecil di pinggir kota dekat perbatasan, siapa saja bisa ada di sana dan mengenali wajah Ratu Isabella maupun Leon.
Setelah membersihkan diri dan membeli roti untuk bekal perjalanan, mereka melanjutkan perjalanan dengan kuda mereka. Melewati bukit-bukit dan hutan-hutan. Melewati sungai-sungai jernih dan kebun-kebun penuh bunga liar. Melewati beberapa pedesaan sepi penduduk dengan warga-warga yang bekerja sebagai petani di ladang. Tapi tidak ada tanda-tanda penyiksaan meski Schiereiland terasa lebih sepi dari yang Anna ingat. Mungkin karena mereka masih berada di wilayah Cleteland yang merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Nordhalbinsel.
Sebelum matahari benar-benar bersinar tinggi di atas langit, sebelum tiba waktunya makan siang, mereka berhenti sejenak di sebuah padang bunga liar di tengah hutan untuk mengambil air dari sungai Scheine yang sangat jernih. Aneka warna-warni musim semi terlihat seperti lukisan hidup di sekitar mereka: birunya bunga iris serta pink pastel hortensia bertemu dengan bunga kosmos oranye dan kuning serta hijaunya pepohonan apel yang rindang dilatar belakangi langit cerah Schiereiland dan mataharinya yang bersinar keemasan yang memantul pada permukaan sungai Scheine. Anna tersenyum cerah menikmati pemandangan itu, menikmati aroma beraneka bunga musim semi yang dia hirup pada setiap tarikan napas. Dia merasa siap pada apa pun yang akan terjadi kedepannya. Anna sedang mencuci wajahnya dengan air sungai yang menyegarkan saat dia mendengar langkah kaki Leon mendekat.
"Yang Mulia, lawan aku."
...****************...