The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 38 : Mère



Leon tidak tahu sudah berapa lama dia terkurung di sana. Tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun.


"Sialan, Eleanor!" Suaranya bergema ke seluruh ruangan.


Tidak. Itu sama sekali bukan ruangan, melainkan seluruh hutan. Dia kini ada di sebuah hutan. Padahal sebelumnya Leon yakin dirinya ada di dalam Gudang Winterthur, ruangan aneh yang ada di rumah Eleanor Winterthur yang konon hanya bisa dimasuki oleh orang-orang berdarah Winterthur maupun keturunannya.


Hutan itu seperti mimpi. Padahal Nordhalbinsel hanya memiliki salju dan es, tapi nyatanya hutan itu jauh lebih hijau dari hutan-hutan yang pernah Leon lihat di Schiereiland maupun Westeria. Pepohonan rindang tumbuh di sepanjang mata memandang, amat sangat tinggi dan rindang sehingga Leon hampir tidak dapat melihat langit. Dia sendiri tidak yakin saat ini siang atau malam. Udaranya tidak dingin membeku sebagaimana seharusnya udara di Nordhalbinsel. Udaranya sejuk, dengan semilir angin yang membawa aroma dari tanah basah, pepohonan dan aroma bunga-bunga liar. Jika Leon mendengarkan lebih seksama, dia hampir dapat mendengar suara serangga-serangga serta geraman hewan buas dari kejauhan.


Dia menggenggam pedang Raja Zuidlijk di tangannya dengan erat. Paling tidak dia yakin tidak akan kelaparan di dalam hutan itu. Akan sangat bagus jika ada hewan liar untuk dimakan.


Tapi Leon tidak merasa lapar sama sekali. Padahal dia yakin sudah berada di dalam hutan itu selama berhari-hari. Dia juga tidak merasa mengantuk maupun lelah padahal sudah berjalan mengitari hutan itu cukup lama.


Ilusi, pikir Leon. Sihir Eleanor.


Leon akhirnya memilih diam di satu tempat, memejamkan matanya, berusaha berkonsentrasi. Berusaha mendengar suara apa pun yang dapat memastikan bahwa dirinya bukan berada di sebuah hutan, melainkan di dalam sebuah ruangan. Dia mengingat pelajaran dari Eleanor.


"Untuk mengalahkan sihir ilusi, pertama-tama kau harus sadar bahwa itu hanya ilusi." Suara Eleanor terngiang-ngiang dalam benaknya.


Jadi itulah yang dia lakukan. Mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini hanya ilusi. Bahwa ini semua tidak nyata. Dia menanti suara langkah kaki para pelayan Kediaman Winterthur. Menanti suara lonceng dari kejauhan. Menanti suara sekecil apa pun yang dapat membawanya keluar dari ilusi itu.


"Halo, Putra Winterthur."


Dia mengenali suara itu. Suara Aletha. Salah satu di antara suara-suara Aletha yang mengganggu.


Leon masih belum siap untuk membuka matanya. Khawatir jika dia membuka matanya, dia kembali berada di dalam hutan. Jadi dia tetap memejamkan matanya sambil menjawab sapaan menyebalkan itu.


"Siapa kau?"


Alih-alih menjawab pertanyaannya, suara itu terkikik geli. "Aku yang harusnya bertanya, siapa kau?" Kali ini suara anak perempuan.


"Kau tahu siapa aku."


"Tidak benar. Kau orang asing. Keberadaanmu di sini sangat asing sekaligus familier. Kau tidak seharusnya berada di sini. Tapi juga kau ditakdirkan untuk berada di sini." Suara itu kembali tertawa. Tawa seorang gadis muda. "Kenapa kau menutup matamu?"


"Kau ilusi. Seperti hal lainnya di sini. Aku tidak akan terjebak."


"Pintar." Kali ini suara itu meniru suara Eleanor. "Aku sedang mengetesmu. Dan kau lulus." Suara angkuh itu tidak mungin salah dikenali. Logat utaranya terlalu kentara. Tapi Leon tahu itu bukan Eleanor. Itu salah satu suara Aletha. "Buka matamu."


Leon merinding karena nada perintah dalam suara itu benar-benar terdengar seperti Eleanor. Tapi dia akhirnya bisa menolaknya juga."Tidak."


Kali berikutnya, suara Eleanor menghilang. Digantikan oleh suara lain. Suara yang sangat dia kenali dan sekaligus sangat dia rindukan. "Buka matamu, Leon..."


"Yang Mulia?" Leon segera membuka matanya karena yang baru saja dia dengar adalah suara Putri Anastasia. Dia langsung menyesali perbuatannya. Tentu saja itu hanya jebakan lainnya.


Suara Aletha menertawakannya.


Dia masih berada di dalam hutan itu. Hutan ilusi ciptaan Eleanor. Tapi ada orang lain yang berdiri di hadapannya saat ini. Seorang wanita. Bukan. Gadis muda. Usianya mungkin sama dengan Putri Anastasia. Gadis itu mengenakan gaun putih yang melambai ditiup angin, tanpa alas kaki sama sekali. Kulitnya yang putih pucat bahkan lebih pucat dari kulit Eleanor. Rambutnya sehitam malam. Mata gadis itu ditutup oleh sehelai kain putih. Di tangan gadis itu, terdapat bola kristal Aletha yang menyala biru terang.


"Siapa kau?" Tanya Leon.


"Aku adalah Aletheia. Dewi Kebenaran."


"Kalau kau dewi, kenapa kau menutupi matamu?"


"Kebenaran tidak selalu dapat dilihat dengan mata, Putra Winterthur."


"Kau salah. Aku bukan Putra Winterthur. Hanya karena aku ada di rumah ini, dan bisa masuk ke ruangan aneh itu, bukan berarti aku salah satu dari mereka."


"Aku jadi sedih mendengarnya..." Suara Aletheia terdengar murung. "Padahal aku sudah memperlihatkan semua kebenaran padamu. Kau menolak kebenaran. Kau memilih untuk hidup dalam ilusimu sendiri." Aletheia kemudian mengulurkan tangannya, "Ayo ikut aku. Ada seseorang yang harus kau temui."


"Bagaimana aku bisa tahu kau tidak sedang menjebakku? Aku sudah cukup dibohongi oleh Ratu Penyihir itu."


"Kau meragukan Kebenaran, Putra Winterthur? Lalu apa yang akan kau percayai?"


Leon tidak menjawabnya. Dia sendiri tidak tahu jawabannya.


"Lagipula kalau aku berniat menjebakmu, aku tidak bersenjata. Dan kau... Kau memegang pedang itu. Siapa yang berbahaya sebenarnya?" Kata Aletheia.


Leon memutuskan untuk mengambil resiko itu. Kalau pun dia diam saja di sini, entah berapa hari lagi akan terlewat dengan berdiam diri dalam hutan ilusi buatan Eleanor sementara dia menunggu Sang Ratu membebaskannya. Mungkin dengan mengikuti Aletheia dia justru menemukan cara untuk keluar dari hutan itu. Atau mungkin jalan buntu berupa kematian.


Mereka berjalan melewati pohon demi pohon, menyebrangi sungai demi sungai, mendaki tebing-tebing terjal yang tampaknya bukan hal sulit bagi Aletheia meski dia mengenakan gaun dan tidak mengenakan alas kaki. Mereka menapakki jalan sempit diantara bunga-bunga liar, lalu Aletheia berhenti.


"Kita berada di tempat kita memulai tadi!" Bentak Leon. "Seharusnya aku tahu kau--"


"Ssssttt..." Aletehia meletakkan jarinya ke bibir, "Jangan keras-keras. Kau bisa mengagetkannya. Dia sangat sensitif terhadap suara sekecil apa pun. Dia ada di dalam sana. Menunggu." Kata Aletheia sambil menunjuk ke arah dahan-dahan di hadapan Leon.


"Dia? Siapa?"


"Si Cantik. Dia menolak bicara dengan kami meski dia suka melihat apa yang kami perlihatkan padanya. Dia sudah berada di sini selama bertahun-tahun. Tidak ada yang berhasil mengeluarkannya selama ini. Tidak ada yang pernah berhasil sampai ke sini, hanya kau. Dia telah lama menunggumu."


"Aku? Kenapa--"


Tapi sebelum Leon melanjutkan kalimatnya, terdengar suara gemerisik dedaunan dari balik dahan-dahan lebar di hadapannya. Lalu saat Leon berpaling kembali ke Aletheia di sampingnya, Sang Dewi sudah tiada.


"Siapa di sana?" Tanya suara itu. Suaranya jernih dan mengalun seolah dia sedang bernyanyi. Seorang perempuan. Jika dinilai dari suaranya, dia mungkin seusia Leon. Mungkin bahkan lebih muda. Aksen utaranya terdengar berbeda. Tidak seperti cara bicara Eleanor maupun Xavier. Seolah dia tidak biasa menggunakan aksen utara. "Jawab aku! Siapa di sana?" Kali ini suaranya membentak. Bahkan Leon sendiri kaget mendengarnya.


"Maaf... Saya tidak bermaksud mengendap-endap. Seseorang membawa saya ke sini, Lady." Jawab Leon sesopan mungkin.


Dahan-dahan itu tersingkap. Di baliknya, adalah seorang wanita paling cantik yang pernah Leon lihat. Anehnya, itu adalah wajah Aletheia, dengan kulit lebih hidup dan bersinar, pipi bersemu kemerahan, dan mata yang tidak ditutupi kain. Matanya sangat indah dengan bulu mata panjang dan lentik. Matanya berwarna emerald.


"Oh, halo..." Gadis itu tersenyum padanya. Senyuman ramah dan hangat. "Kau terlihat familier. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Leon masih berdiri mematung. Dia kenal gadis itu. Dia pernah melihatnya entah di mana. Seluruh bagian dari dirinya tahu bahwa dia mengenalnya.


"Tidak." Jawabnya.


"Benarkah? Aku merasa yakin sekali bahwa aku memang mengenalmu." Gadis itu mengulurkan tangannya. "Aku Irene." Katanya, sambil tersenyum lebar seolah dia hanya seorang gadis biasa yang hanya tahu kehidupan yang indah.


Irene.


Irene.


Leon menerima uluran tangan itu dan menjabatnya sebentar, lalu buru-buru melepasnya seolah takut bersentuhan dengannya. Tangan Irene terasa hangat. Tapi itu bukan tangan seorang Lady yang lembut. Tangannya penuh dengan luka dan kapalan. Seperti tangan Leon. Seperti tangan seorang prajurit. Bukan. Itu tangan seorang Jenderal. Leon merinding saat akhirnya sadar siapa gadis yang ada di hadapannya itu.


"Kau tidak mau menyebutkan namamu?" Dia mengangkat sebelah alisnya, menunggu. Lalu saat Leon masih diam saja, dia menghela napas. "Apa anak-anak jaman sekarang memang tidak sopan atau memang tidak ada yang mengajarimu sopan santun?"


"Kau terlihat lebih muda dariku." kali ini Leon memutuskan untuk turut berbicara santai.


Irene terbahak. Jelas sekali itu bukan tawa seorang Lady yang anggun. Itu tawa seseorang yang telah terlalu lama menghabiskan hidupnya di tenda-tenda di medan perang bersama para prajurit. "Nak, percayalah, aku jauh lebih tua darimu." Dia mendengus kesal. "Jadi kenapa kau ada di sini? Oh, biar kutebak. Dijebak penyihir cantik?"


"Hampir tepat."


"Malang sekali." Irene menggeleng iba, tapi kemudian senyuman terlukis di wajahnya, "Paling tidak aku jadi punya teman mengobrol." Dia tertawa riang seolah sudah sangat lama dia menantikan kehadiran teman mengobrol.


Irene berbalik dan mengisyaratkan Leon untuk mengikutinya. Mereka berjalan menuju sebuah danau tak jauh dari sana.


"Kenapa kau ada di sini?" Leon memutuskan untuk bertanya setelah beberapa saat mereka hanya berjalan dalam diam.


"Ceritanya panjang." Jawab Irene. Lalu dia tampak sibuk memetik beberapa daun lebar yang ada di pinggir danau dan menggelarnya di tanah berbatu di sana. Leon baru menyadari bahwa sejak tadi Irene hanya seorang diri di tepi danau. Dia duduk sambil menatap ke bawah danau itu. "Duduklah di sini. Akan kutunjukkan sesuatu padamu." Katanya sambil menepuk alas dari daun itu.


Leon menurutinya. Di dalamnya, jantungnya berdegup kencang. Dia gugup. Sulit dipercaya dia duduk di samping sosok masa lalu Jenderal Irene. Rasanya seperti duduk di samping seorang legenda. Dia tidak tampak seperti apa yang selama ini Leon bayangkan. Tidak ada lukisan Jenderal Irene semasa keberadaannya di Schiereiland, tapi Leon pernah mendengarnya dari senior-seniornya. Mereka mengatakan Jenderal Irene tampak seperti wanita impian setiap prajurit. Seperti Dewi Perang dengan rambut hitam panjang yang selalu dikepang, baju zirah mengkilap dan suara yang membangkitkan semangat pasukannya. Ditakuti musuh sekaligus dipuja anak buahnya. Tapi saat ini, tanpa baju zirah, tanpa rambut yang dikepang, dan tanpa pedang, Jenderal Irene hanyalah seorang gadis periang bernama Irene.


Air danau itu begitu jernih seperti kaca. Tidak. Itu benar-benar kaca. Kaca jendela. Dan sepasang mata emerald sedang menatapnya. Bukan mata milik Irene, Leon sadari. Dia mengenali mata itu.


Usia anak laki-laki itu pasti tidak lebih dari lima tahun. Masih sangat kecil. Tapi bahkan saat masih kecil pun Leon mengenalinya. Kulitnya seputih salju, sedangkan warna rambut dan warna matanya benar-benar mirip dengan gadis yang ada di samping Leon saat ini.


Leon mengalihkan tatapannya kembali pada Irene. Irene sedang tersenyum memandangi anak laki-laki itu. Senyuman sedih.


Anak laki-laki itu tampaknya dikurung di sebuah ruangan. Kamar istana. Dia sendirian di sana, melihat dunia luar dari balik jendela. Dia berusaha membuka jendela itu, tapi tidak bisa. Lalu anak laki-laki itu berlari menuju pintu, menggedor-gedor pintu itu, memanggil-manggil ayahnya. Tapi tidak ada yang datang dan membukakan pintu. Tak lama, kulit anak itu memucat. Nafasnya megap-megap. Dia memegangi tenggorokannya seperti tercekik, dan air matanya mulai mengalir. Lalu Leon sadar, ada yang salah di ruangan itu. Ruangan itu dipenuhi dengan gas sampai kaca jendelanya menghitam. Tapi tidak ada ventilasi udara sehingga gas itu tetap terjebak di dalam bersama anak itu. Gas beracun.


"Dia bisa mati!"


"Dia akan bertahan." Kata Irene. Suaranya bergetar.


Leon menoleh ke arahnya. Irene tampak siap melompat masuk ke dalam danau saat itu juga, tapi dia menahan diri. Kedua tangan dikepalkan di samping tubuhnya. "Kita harus menolongnya." Kata Leon.


Irene tertawa getir, menggeleng. "Tidak bisa. Lagi pula... ini hanya memori. Percaya lah, dia akan bertahan. Dia selalu berhasil bertahan."


Tak lama kemudian, saat Leon yakin anak itu akan pingsan, anak itu justru mengambil sebuah kursi. Kursi itu lebih besar dari tubuh kecilnya, tapi dia berhasil mengangkatnya. Dengan energi yang tersisa, dia melemparkan kursi itu ke arah jendela. Kaca jendelanya pecah. Dia selamat.


"Anak pintar." Komentar Irene, tersenyum lega.


"Dia hampir mati!"


"Percaya lah, itu bukan pertama kalinya. Dan bukan terakhir kalinya. Dia selalu dihadapkan pada situasi yang membuatnya hampir mati. Wanita-wanita jahat itu gigih sekali. Tapi dia selalu bisa bertahan hidup."


Leon kembali mengalihkan pandangannya pada air di danau. Kali ini dia melihat anak laki-laki itu melompat terjun dari atas balkon. Kakinya pasti patah, karena selanjutnya anak itu berlari sambil terpincang-pincang mencari bantuan.


"Dia putraku." Irene memberitahu hal yang sudah Leon ketahui. "Menyebalkan sekali, dia lebih mirip dengan suamiku daripada aku. Tapi syukurlah, dia mewarisi mataku. Bukannya aku tidak suka, tapi saat melihatnya aku mau tak mau jadi teringat pada suamiku. Suamiku bukan orang jahat, sungguh, justru menurutku masalahnya adalah dia terlalu baik. Dia adalah teman pertamaku begitu aku menginjakkan kaki di Nordhalbinsel, di tempat yang sama sekali asing bagiku. Padahal aku datang ke Istana karena pernikahan politik, karena dipaksa orang-orang yang mengaku sebagai keluargaku untuk menikah dengannya, tapi dia menawariku pertemanan. Dia bilang dia tidak berharap aku bisa mencintainya, tapi akan lebih baik jika kami bisa berteman. Dia sangat baik padaku sampai rasanya sulit untuk membencinya. Lebih mudah untuk mencintainya, tapi aku masih sangat marah sehingga aku menutup hatiku. Bukan marah padanya, aku marah pada keadaan, marah pada takdirku, marah pada keluargaku yang membuangku, lalu seenaknya saja membawaku kembali ke negeri es ini untuk kepentingan mereka sendiri. Aku terlalu jahat pada suamiku, aku tidak membiarkan hatiku terbuka untuknya bahkan setelah segala yang dia lakukan untukku. Saat aku... Saat aku pergi, dia menyalahkan dirinya sendiri. Dia pikir aku pasti bisa hidup lebih lama dan lebih bahagia jika tidak menikah dengannya. Dia terlalu larut dalam dukanya sampai lupa bahwa putranya juga mengalami duka yang sama. Putra kami... Anak laki-laki bermata emerald itu..." Saat Irene mengalihkan pandangannya dan menoleh ke arah Leon, Leon dapat melihat mata emerald gadis itu berkaca-kaca. Air matanya tertahan di pelupuk mata. "Namanya Xavier." Lanjutnya, dengan suara tercekat.


"Aku tahu..." Ucap Leon tanpa sadar.


"Aku ingin tahu apakah putraku tahu bahwa... bahwa aku sangat menyayanginya. Bahwa selama ini aku selalu mengamatinya. Memperhatikannya tumbuh dewasa tanpaku. Tersiksa di sini tanpa bisa melakukan apa pun saat harus menyaksikannya disiksa di sana. Apa dia tahu?"


"Dia pasti tahu."


"Aku merindukannya..."


"Aku tahu." Kata-katanya seolah teredam, "Aku tahu kau pasti merindukan putramu."


Irene kembali memakukan pandangannya pada danau. Alisnya bertaut. Suaranya memelan seolah sedang berbisik pada permukaan air danau. "Kau memang tidak tahu, atau berpura-pura tidak tahu?"


"Apa?"


"Aku punya dua orang putra." Katanya sambil masih memperhatikan permukaan air danau.


"Oh..."


Leon turut mengalihkan tatapannya ke air danau. Kali ini danau itu menunjukkan anak laki-laki yang lain. Kaki anak laki-laki itu dipenuhi luka sabetan ranting. Tapi dia menahan tangisnya. Dia mengendap-endap ke ruang pengobatan, mengambil salep, dan mengobati lukanya sendiri sambil menahan sakit. Tapi mungkin karena lukanya terlalu perih, atau mungkin karena tidak ada orang yang mengobatinya, mungkin karena dia kesepian dan merindukan orang tuanya, air mata perlahan mulai mengalir dari kedua matanya yang berwarna hazel itu.


"Matamu sangat indah. Mirip seperti ayahmu." Ucap Irene sambil masih memperhatikan anak laki-laki yang ditunjukkan oleh danau itu.


"Tidak. Kau salah."


Irene mengalihkan tatapannya pada Leon. Dia mengernyit. Matanya masih berkaca-kaca. "Apa tidak pernah ada yang mengatakannya? Kau mirip denganku. Seluruhnya. Caramu tersenyum, caramu mengernyit saat sedang berpikir, ketangguhanmu, bahkan bakatmu. Semua kecuali mata hazel indah itu. Mata yang kau warisi dari pria yang sangat kucintai."


Leon tidak berani menatap Irene. Dia masih memakukan pandangannya pada anak laki-laki bermata hazel itu. Pada versi kecil dirinya sendiri. "Kau salah. Aku yatim piatu. Orang tuaku sudah meninggal di medan perang. Raja Edward menjadikanku putranya. Raja dan Ratu Schiereiland menyayangiku seperti putra mereka sendiri."


"Aku tahu..." Suaranya selembut belaian angin di hutan itu. "Aku juga menyayangimu. Aku juga merindukanmu, Leon."


Sudah berapa lama Leon menantikan suara itu. Suara yang memanggil namanya penuh kasih sayang. Suara yang normalnya, bagi anak lain, dapat mereka dengar setiap hari sejak dalam buaian. Suara yang seharusnya menemaninya tumbuh dewasa. Tentu saja suara Ratu Isabella selama ini mengobati kerinduannya itu. Tapi rasanya selalu ada yang kurang karena sejak awal Leon tahu bahwa Ratu Isabella bukan ibu kandungnya. Meski Ratu Isabella menyayanginya dan memintanya untuk memperlakukannya seperti ibunya, orang-orang di Istana akan menatapnya dengan tajam jika dia memanggil Sang Ratu dengan sebutan Ibunda. Mereka akan mulai bergunjing dengan suara keras di dekatnya tentang betapa tidak pantasnya anak pungut memanggil Raja dan Ratu mereka dengan sebutan Ayahanda dan Ibunda.


Sudah berapa lama Leon membayangkannya, bertanya-tanya akan seperti apa kedengarannya saat namanya dipanggil oleh ibunya. Sampai-sampai dia terlalu lelah untuk terus membayangkannya. Jadi dia berhenti membayangkannya dan menerima kenyataan bahwa itu hanya sekedar angan-angan. Ibunya telah tiada dan dia takkan pernah mendengar suaranya.


Leon menarik napas sebelum bicara, "Aku bukan--"


"Aku juga mengawasimu selama ini. Aku melihatmu dari sini. Berharap suatu hari nanti aku bisa keluar dan bertemu denganmu." Suara Irene bergetar menahan tangis.


"Hentikan."


"Aku menyayangimu, nak. Sangat. Aku minta maaf karena tidak pernah ada untukmu. Kau pasti sangat menderita selama ini. Ingin rasanya aku mencabik-cabik orang-orang yang memukulmu dan berbuat jahat padamu. Beraninya mereka menyakiti anak seorang Jenderal! Ingin rasanya aku berteriak begitu. Tapi aku tidak bisa."


"Hentikan! Orang tuaku sudah meninggal. Kau bukan ibuku." Saat Leon mengatakannya, Irene tampak sangat terluka. Dan Leon, entah bagaimana, turut merasakan luka itu. Jadi dia memelankan nada suaranya. "Ibuku sudah meninggal dalam perang karena berusaha menyelamatkan Raja Edward. Dia mati terhormat sebagai seorang pahlawan."


"Itu benar. Sekaligus tidak benar." Kata Irene. Dia menghapus airmatanya sebelum melanjutkan, "Aku memang mati... Di kehidupan yang itu aku sudah mati."


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu ini akan sulit dipercaya, tapi tolong dengarkan penjelasanku... Edward--Raja Edward maksudku, dia merasa bersalah karena diantara kami berempat--Edward, Putra Mahkota Philip, ayahmu dan aku--hanya dia yang selamat dalam perang itu. Jadi dia mencari Lilacier Grimoire kemudian mencuri jam pasirnya. Tahukah kau apa yang dilakukan jam pasir itu?"


Leon mengingat-ingat semua buku yang diberikan oleh Eleanor belakangan ini. Buku tentang benda-benda sihir yang aneh milik Klan Grimoire yang dipegang oleh keturunan mereka. Jam Pasir milik Lilacier adalah salah satunya.


"Memutar balik waktu?" Leon tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


"Bukan itu tepatnya. Semua orang mengira jam pasir itu memutar balik waktu, padahal bukan. Jam itu membawa penggunanya dan siapa pun yang ada di dekatnya melewati ruang dan waktu. Edward membawamu ke kehidupan di mana aku masih hidup dan perang belum terjadi. Dia tidak dapat mencegah perang terjadi maupun kematian-kematian yang terjadi setelahnya, tapi dia berhasil membuatku kembali ke tanah kelahiranku. Ke Nordhalbinsel. Saat aku terpaksa kembali ke keluargaku tepat sebelum perang, seisi Schiereiland menganggapku sebagai pengkhianat. Tapi Nordhalbinsel menyambutku sebagai Putri Winterthur yang menghilang, lalu sebagai Ratu mereka. Saat itu aku belum tahu bahwa Edward melakukan itu semua agar aku tetap hidup. Aku baru tahu dari Aletheia saat aku berada di sini."


Cerita itu memang sulit dipercaya. Dan Leon tidak serta merta langsung memercayainya. Jika hutan ini dan seluruh isinya adalah mahakarya Eleanor dengan sihir ilusinya, maka sihir Eleanor pasti tak terbatas. Sihir ilusi itu bisa menciptakan sosok Dewi Kebenaran, Jenderal Irene semasa muda, dan cerita tentang Jam Pasir Grimoire yang bahkan Eleanor sendiri tidak tahu keberadaan jam pasir itu. Jika ini semua adalah ilusi, maka semua cerita itu hanya bohong belaka. Leon pasti sangat merindukan sosok ibu kandungnya sehingga sosok itu muncul di hadapannya. Betapa mengecewakannya jika semua itu hanya ilusi.


Leon mencoba mencaritahu. Apakah ini hanya ilusi atau bukan. Jadi dia mencoba mengetesnya.


"Apa kau punya keju?" Tanyanya.


Irene, tentu saja, merasa sangat terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Dia tampak bingung dan kehilangan kata-kata. "Kau... lapar?"


"Aku ingin makan keju."


"Astaga, bodohnya aku! Mengaku-ngaku sebagai ibu seseorang tapi aku tidak menyiapkan makanan apa pun. Tentu saja kau akan lapar, badanmu sebesar ini. Kau pasti rajin berolahraga. Dan kenapa kau tinggi sekali sih! Bagaimana ini, aku tidak pernah masak. Aku tidak bisa memasak apa pun. Lagipula tidak ada yang bisa dimasak di sini." Irene tampak melihat ke sekelilingnya dengan panik seolah sedang mencari-cari sesuatu untuk dimakan. "Tunggu dulu... Keju kau bilang? Kupikir kau tidak bisa makan keju."


Pupil mata Leon melebar. "Kau tahu?"


Irene mengangguk. "Kita sama." Kemudian Irene sadar maksudnya, "Kau sedang mengetes apakah ini semua ilusi?"


Leon mengangguk.


Di luar dugaan, Irene tersenyum. "Ini bukan ilusi, Leon. Kau memang masih terkurung di luar sana, mungkin tertidur di ruang rahasia milik keluargaku. Tapi semua yang kukatakan itu benar. Aku memang ibumu dan aku bukan ilusi maupun sosok buatan sihir menantuku itu. Omong-omong, aku harus memarahi gadis itu karena berbuat semena-mena pada putraku. Bisa-bisanya dia hanya memberimu waktu tidur selama dua jam!"


Leon tersenyum, menahan tawanya, membayangkan Irene mengomeli Eleanor Winterthur yang sekeras dan sedingin gunung es. "Maaf, tapi... sulit rasanya untuk percaya." Katanya.


Suasana di antara mereka jadi lebih mencair. Meski begitu, Leon masih takut untuk percaya bahwa sosok yang ada di hadapannya saat ini benar-benar ibu kandungnya. Bahwa ibunya selama ini masih hidup dan menunggu untuk diselamatkan olehnya. Bahwa ibunya selama ini selalu memperhatikannya dari tempat yang tidak pernah dia ketahui.


Tiba-tiba Leon teringat pada kata-kata yang dia dengar dari Aletha. Bola kristal berisik itu pernah mengatakan bahwa Xavier pernah datang ke ruangan itu sebelum Leon. Mungkin Xavier sudah tahu semuanya. Mungkin Xavier memang mencari dirinya selama ini bukan hanya agar Leon menyelamatkan ibunya. Tapi juga agar Leon bertemu dengan ibunya.


"Aku mengerti. Aku bahkan tidak memintamu untuk memanggilku dengan sebutan ibu. Kau boleh memanggilku apa saja. Irene saja juga boleh. Atau Jenderal. Oh, kalau soal itu, bukankah aku ini seniormu? Pokoknya, apa pun, asal jangan pernah menyebutku Baginda Ratu. Itu menyebalkan. Aku tidak pernah merasa cocok dengan gelar itu. Aku hanya kebetulan saja menikah dengan seorang Raja." Leon tersenyum mendengar celotehan Irene. Dia tidak pernah menyangka bahwa saat bertemu dengan sosok wanita yang merupakan ibu kandungnya, dia akan semuda dan secerewet itu. Irene sepertinya sadar akan hal itu, jadi dia buru-buru menambahkan, "Maaf... aku berisik ya? Kris sudah sering mengatakan bahwa aku menjengkelkan karena banyak bicara. Kurasa kau sependapat dengannya. Kau sangat mirip dengan ayahmu dalam hal itu. Hanya bicara pada orang-orang terdekatmu saja."


"Bagaimana caraku memutus sihir hitam itu?" Tanya Leon tiba-tiba. "Xavier juga pasti sangat ingin bertemu denganmu dan bicara seperti ini denganmu. Dia melakukan segala yang dia bisa untuk mencari cara menyelamatkanmu. Bukan hanya aku yang kehilangan seorang ibu sejak lahir."


Sebelum mengatakannya, Irene tersenyum. Senyuman itu secerah mentari di siang musim panas. Tapi kata-kata yang dia ucapkan seolah membawa awan badai, "Mudah, Leon. Kau hanya perlu menikamku dengan pedang itu. Tepat di jantungku. Bunuh aku, nak."


...****************...