
Minggu pertama adalah yang tersulit.
Aku tidak benar-benar yakin apa saja yang terjadi di sekitarku selama seminggu usai kematian ibu.
Xavier kembali ke kerajaannya dan aku kembali ke Eze, ke Istanaku. Alexis menyambutku di sana. Aku sangat merindukannya. Aku merasa sangat bersyukur dapat melihatnya kembali dengan keadaan sehat dan selamat tanpa kurang apa pun. Tapi ibu kami meninggal. Jadi aku tidak dapat berpura-pura bahagia dan baik-baik saja. Alexis juga sedih, aku tahu itu, tapi dia lebih dapat mengatasinya dengan baik. Dia bersikap tegar dan mengatur upacara pemakaman meski tidak ada jasad untuk dimakamkan. Alexis membangun makam ibu di samping makam ayah. Itu pertama kalinya aku melihat makam ayah kami. Xavier ternyata benar-benar mengurus pemakaman ayah kami saat itu sesuai adat Schiereiland untuk pemakaman keluarga kerajaan.
Kami kemudian kembali ke Istana kami di Schere dan Alexis dimahkotai menjadi Raja. Aku turut menyaksikannya, tentu saja, tapi aku tidak benar-benar ada di sana saat itu. Hatiku, pikiranku dan jiwaku kembali ke hutan di samping jasad Earithear. Di samping jasad ibuku. Di dalam pelukan Xavier.
Semua tahu aku merasa sangat sedih dan hancur, dan mereka berusaha menghiburku. Berusaha mengajakku bicara. Aku mendengarkan, tapi sulit rasanya untuk terlibat dalam pembicaraan apa pun. Rasanya jika aku mulai membuka mulut untuk bicara, aku akan menumpahkan semuanya. Semua yang kurasakan. Kematian-kematian yang terjadi di sekitarku dan mereka yang telah kubunuh. Aku tidak bisa menceritakannya pada siapa pun untuk saat ini. Dan kemudian semua orang menjadi sangat sibuk untuk mengembalikan pemerintahan agar kembali stabil. Dan aku kembali sibuk dengan isi pikiranku sendiri serta mimpi-mimpi burukku.
Aku telah membunuh banyak orang. Bayangan mayat bergelimpangan dalam hutan duri mawarku tidak pernah menghilang dari pikiranku.
Aku tidak benar-benar bungkam. Aku bicara, sungguh. Aku masih bicara dengan Xavier di saluran kami—sebenarnya dia yang bicara, aku hanya bisa menanggapinya sesekali. Padahal aku tahu dia sibuk dengan urusan kenegaraannya, ancaman serangan dari Orient, serta orang-orang di sekitarnya yang ingin Eleanor dan keluarganya di hukum mati. Dia juga pasti sedang berduka atas kematian ayahnya. Tapi Xavier terus berusaha mengajakku bicara agar aku tidak benar-benar sendirian dan terpuruk semakin dalam oleh duka. Dia ingin menepati janjinya pada ibuku, pada Earithear, tanpa meninggalkan kerajaan dan rakyatnya.
"Kau sarapan apa pagi ini? Apakah menu sup sayur keju itu masih ada?"
"Apa Constanza masih membenciku? Oh, tunggu... Sekarang dia sudah menjadi Grand Duchess Smirnoff kan?"
"Alexis sepertinya tidak menyukaiku. Aku harus bagaimana? Makanan apa yang dia sukai?"
"Elias kembali dari Orient sebentar untuk menemaniku di rapat pagi ini. Dia membawakan oleh-oleh untukmu juga. Kau mau aku mengantarkannya?"
"Leon masih tertidur. Nafasnya teratur. Dia mungkin sedang mengobrol dengan ibuku entah di mana. Elle masih sibuk dengan buku-bukunya untuk mencari tahu di mana dia berada saat ini dan bagaimana cara membawanya kembali. Kita hanya bisa menunggunya dengan sabar. Kalau kau sudah siap, ayo kita menjenguknya. Kau tahu, Leon itu kuat. Dia tidak akan kalah. Ini hanya salah satu perang yang akan dimenangkannya."
Xavier terus melaporkan kondisi Leon padaku di setiap kesempatan. Bahkan sebelum aku menanyakannya, dia sudah memberitahuku terlebih dahulu. Perubahan sekecil apa pun akan dia laporkan padaku. Leon tiba-tiba tersenyum dalam tidur, Leon menggerakkan jarinya, semua detail dia laporkan.
Dan saat malam, bahkan saat larut malam, dia tetap mengajakku bicara. Dia tahu aku tidak bisa tidur. Entah bagaimana dia selalu tahu.
Tidak bisa tidur lagi? Aku juga. Sekarang setelah menempati posisi ayahku, aku jadi tahu betapa sulit posisi ini sebenarnya. Betapa sebenarnya ayahku sudah berusaha keras menjadi Raja yang baik meski dia tidak bisa menjadi orang yang baik untuk semua orang. Aku tahu kau membencinya, aku tahu kau tidak akan pernah bisa memaafkannya, tapi aku merindukan ayahku. Biar bagaimana pun, dia adalah ayahku.
Sebenarnya, aku tidak lagi menganggap Raja Vlad sebagai musuh. Dia tetap pembunuh. Dia tetap bersalah. Dan bagian dari diriku yang pendendam masih belum bisa memaafkannya. Tapi kini dia hanyalah ayah Xavier yang sudah meninggal. Kini sama sepertiku, Xavier juga sudah kehilangan ayahnya. Dia pasti merasa sedih, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Sama seperti Alexis, dia harus terlihat kuat untuk rakyatnya.
Apakah berisiko jika kau terbang ke sini? Tanyaku akhirnya setelah lama diam. Sepertinya itu kalimat tanya pertamaku setelah sekian lama aku hanya menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Lama dia tidak menjawabku sampai kupikir dia sudah tidur, tapi kemudian dia akhirnya menjawab. Dari suaranya, aku tahu dia habis menangis.
Tidak. Boleh kah?
Datang lah ke sini kapan pun kau ingin.
Dia hanya datang saat malam, saat gelapnya langit malam dapat membuatnya tidak terlalu mencolok. Saat banyak orang sudah terlelap. Saat mereka yang masih terjaga kemungkinan sedang mabuk dan mengira hanya berhalusinasi melihat naga terbang di atas langit. Dia terbang sangat cepat. Aku bersyukur dia bisa datang.
Kami biasanya berbincang hingga pagi. Atau bermain catur. Atau membaca buku. Apa saja yang bisa mengalihkan pikiran kami dari duka dan mimpi buruk. Terkadang, saat hari terasa sangat berat dan kami ingin tidur tapi tidak bisa tidur, kami hanya berbaring di atas tempat tidurku sambil menceritakan masa kecil kami masing-masing. Mungkin karena hangat tubuhnya, mungkin karena aku merasa aman dan nyaman, mungkin karena aku tidak merasa sendirian, mungkin karena memang inilah yang biasa kami lakukan di kehidupan yang lalu, mungkin karena aku memang menginginkannya—aku membiarkannya memelukku dan kami berdua dapat tidur dengan lelap tanpa mimpi buruk untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Dan terkadang, saat aku merasa sesak, saat aku merasa ingin berteriak, saat bayangan mayat-mayat dari orang-orang yang kubunuh itu menghantuiku, Xavier membawaku terbang melintasi langit malam. Membuatku merasa bebas dan bernafas lega.
"Kau harus bisa memaafkan diri sendiri sebelum mengharapkan orang lain memaafkanmu. Mereka mati dalam keadaan berjuang untuk apa pun yang sedang mereka perjuangkan. Sebagian bahkan akan menganggap mereka mati sebagai pahlawan. Kalian sama-sama pejuang, namun salah satunya harus mati untuk perjuangan itu. Kau tidak tahu betapa aku sangat bersyukur bahwa bukan kau yang mati." Katanya padaku saat kami terbang di atas langit Schiereiland. Kata-kata itu membuka mataku dan mengobati hatiku.
Minggu kedua, aku sudah bisa keluar dari kamarku. Meski aku masih menghindar bicara dengan siapa pun.
Buku-buku dalam perpustakaan Istana adalah temanku sejak lama. Perpustakaan bisa dibilang adalah tempat favoritku setelah taman mawar. Jadi aku menyempatkan diri pergi ke sana. Aku bisa melihat binar bahagia di mata Alexis saat aku akhirnya bisa keluar dari kamarku. Tapi dia terlihat sangat sibuk, dan aku tidak mau mengganggunya. Jadi aku pergi seorang diri ke sana.
Saat menginjakkan kaki kembali ke perpustakaan Istana, aku teringat pada Leon. Kami dulu sering pergi ke perpustakaan bersama. Dan tiba-tiba saja aku teringat pada buku miliknya yang dia bilang disembunyikan di perpustakaan. Istoriya Proiskhozhdeniya Drakonov. Sejarah Turunnya Para Naga. Aku memang sudah tidak membutuhkan buku itu lagi karena mata naga yang kumiliki, tapi aku penasaran pada isinya.
Aku mengingat-ingat petunjuk Leon. Mengingat-ingat tempat dia meletakkan kuncinya, tempat dia meletakkan petinya dan berhasil menemukannya.
Buku itu sudah sangat usang, aku akan percaya kalau ada yang mengatakan bahwa buku itu berusia ratusan tahun. Tulisannya menggunakan bahasa kuno. Bahasa yang dulu aku dan Xavier gunakan seribu tahun yang lalu. Tapi bukan itu yang mengejutkanku.
Saat aku membuka buku itu, sesuatu jatuh ke lantai. Jantungku hampir copot, kupikir aku merusak buku bersejarah milik Leon. Kupikir ada halaman yang robek karena yang jatuh itu adalah secarik kertas. Tapi kertas itu tidak setua kertas buku Leon. Kertasnya masih lumayan baru. Aku membukanya dan membacanya.
Itu adalah tulisan tangan ayahku. Surat wasiatnya.
Dalam surat itu tertulis bahwa dia memberikan Schiereiland padaku. Bukan pada Alexis. Melainkan padaku. Akulah pewaris sah takhta Schiereiland.
Tapi bagaimana bisa? Dan kenapa ini ada di sini?
Leon tahu. Sejak awal dia sudah tahu. Itukah alasannya menyelamatkanku di malam penyerangan itu? Dia seharusnya mengutamakan keselamatan Raja dan pewarisnya saat terjadi serangan. Dia seharusnya mengamankan Alexis, tapi dia malah mengamankanku dari kejaran prajurit Nordhalbinsel. Karena akulah pewaris takhta Schiereiland.
"Yang Mulia, dengan segala hormat, kau harus mengutamakan keselamatan dirimu sendiri. Karena prioritasku saat ini adalah memastikan kau tetap hidup dan selamat."
Perkataan Leon terngiang di telingaku. Saat itu aku bersikeras ingin pergi ke Nordhalbinsel. Leon melarangku. Sekarang aku tahu dia melarangku karena aku adalah pewaris takhta yang harus tetap aman dan selamat. Tapi saat itu aku masih sangat berduka. Aku hancur. Jadi dia tidak bisa begitu saja mengatakan padaku bahwa aku adalah Putri Mahkota Schiereiland.
Dia ingin aku menemukan buku ini bukan untuk menemukan Naga. Dia ingin aku menemukan surat wasiat ayah yang dia simpan. Dia ingin aku tahu bahwa aku adalah Putri Mahkota Schiereiland. Dia tahu kalau pun dia memberitahuku, aku tidak akan menerima kenyataan itu. Aku akan menyangkalnya mati-matian dan mengatakan bahwa Alexis jauh lebih pantas mengenakan mahkota. Dia hafal sifatku yang itu.
Aku harus menyembunyikan surat ini. Tidak. Aku harus menghancurkannya. Tidak boleh ada yang tahu atau mereka akan meragukan kepemimpinan adikku. Alexis sedang berjuang menjadi Raja yang baik untuk Schiereiland. Dan aku akan mendukungnya sebagai kakaknya.
Surat wasiat Raja biasa dibuat dua rangkap. Lalu dimana salinannya? Siapa yang menyimpannya?
"Oh, maaf Yang Mulia. Saya tidak tahu bahwa Anda ada di sini." Suara itu begitu mengejutkanku. Aku buru-buru mengantongi surat itu.
Luna. Penyihir muda yang disukai Alexis. Calon Ratu Schiereiland.
Dia pikir aku tidak tahu. Aku memang awalnya sama sekali tidak tahu. Tapi semakin lama, kecurigaanku semakin besar. Aku sudah mendengar semua cerita tentangnya dari Alexis. Meski aku hanya diam saja dan mendengarkan saat itu. Sungguh aku ingin ikut bahagia bahwa dia menemukan seseorang yang sangat berharga untuknya. Bahwa orang itu telah membantunya. Bahwa dia jatuh cinta. Aku ingin ikut bahagia untuknya. Tapi aku tidak bisa karena aku sepertinya tahu siapa orang itu.
Betapa ganjilnya, kekuatan sihir sebesar itu dimiliki oleh seorang gadis berusia 17 tahun yang bukan keturunan Grimoire dan hanya seolah pelayan Istana. Cerita itu saja sudah sangat aneh. Eleanor saja tidak seluar biasa itu padahal dia putri dari Lilithier Grimoire.
Mungkin aku tidak akan pernah curiga jika saja Pangeran Ludwig tidak pernah menceritakannya padaku. Cerita tentang putri dari Clera yang keluarganya dibantai, kerajaannya direnggut dan cintanya dikhianati. Putri yang menghabiskan masa remajanya sebagai Pelayan Istana dan termakan rayuan seorang Pangeran. Putri yang kemudian menjadi penyihir terhebat di kerajaan yang dipenuhi oleh penyihir.
Aku sebisa mungkin tersenyum dengan ramah meski jantungku bertalu-talu dan kakiku sudah tidak sabar untuk segera lari darinya. "Aku sudah selesai. Silahkan kalau kau mau membaca dengan tenang."
"Apa yang Anda sembunyikan di saku gaun Anda, Yang Mulia?"
"Saya rasa itu menjadi urusan saya."
"Kau belum menjadi Ratu. Kau bukan siapa-siapa. Dan aku adalah putri kerajaan ini." Aku menegaskan posisiku.
Tapi gadis itu tersenyum. Aku merinding karena melihat senyuman ibu tiri Xavier pada wajah belia itu. "Berikan padaku." Suaranya seperti bisikan.
Dan aku menurutinya. Tanganku bergerak sendiri. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Sihir pengendalian. Sihir hitam yang pernah digunakan oleh Eleanor saat mengendalikan Pangeran Ludwig. Betapa tidak nyaman rasanya. Aku merasa seperti boneka dan gadis muda yang ada di hadapanku ini adalah dalangnya. Aku menyerahkan surat wasiat ayahku padanya.
Dia membaca itu sebentar saja, lalu kertas itu langsung terbakar hingga abunya pun tak bersisa.
"Selena!" Aku berteriak di hadapan wajah mudanya. Dia menggunakan sihir transformasi untuk menyamar, tentu saja. Wajah Selena memang selalu muda, tapi wajah yang dia gunakan untuk merayu adikku jauh lebih muda lagi. Dia terlihat seperti remaja belasan tahun. Lebih kurus dan lebih pendek. Rambutnya yang seputih salju kini sehitam arang. Tapi dia mempertahankan mata ungunya itu.
Selena tersenyum padaku. "Senang bertemu denganmu lagi, Putri Anastasia."
Sihir transformasi seharusnya hilang saat orang tersebut dipanggil dengan nama aslinya. Tentu saja dia tidak kembali ke sosok aslinya karena Selena bukan lah nama aslinya.
"Aku harus mengatakan, betapa aku tidak senang bertemu kembali denganmu, Putri Laluna dari Clera."
Senyumnya pudar. Kini aku yang tersenyum saat melihat sihir transformasi itu hilang. Kini di hadapanku, adalah sosok penyihir terkuat di Nordhalbinsel. Ibu tiri Xavier. Permaisuri yang diasingkan.
"Kau jauh lebih menyenangkan saat tidak bicara, Putri Anastasia. Kau bisa mengacaukan seluruh rencanaku jika dibiarkan. Jadi tetaplah diam!"
Tiba-tiba tenggorokanku terasa sangat sakit seperti dibakar dari dalam, lidahku terasa perih seperti dipotong dengan kasar. Aku ingin menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku kehilangan suaraku.
Selena kembali menjadi Luna, lalu pergi meninggalkanku yang duduk terjatuh di lantai dingin perpustakaan. Aku masih berusaha berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Tak lama, para pelayan suruhannya datang dan membawaku ke kamarku.
Tapi aku tidak benar-benar bisu. Aku masih punya cara untuk bicara.
Anna! Apa itu tadi? Apa yang terjadi padamu? Kau kenapa? Dia terlebih dulu bicara begitu aku membuka saluran kami, dia terdengar sangat panik. Dia merasakan sakit yang kurasakan. Seharusnya aku tidak membuatnya khawatir, sudah terlalu banyak masalah yang dia hadapi di kerajaannya sendiri. Tapi aku harus memberitahukan hal ini padanya.
Selena ada di sini. Di istanaku. Dia menyamar menjadi Luna, dia mendekati adikku untuk menjadi Ratu Schiereiland. Dia menyihirku sehingga aku kehilangan suaraku.
Xavier tidak langsung menjawab sehingga aku tahu apa yang dia pikirkan. Aku buru-buru menambahkan,
Jangan datang ke sini.
Kenapa? Aku harus ke sana sekarang. Selena berbahaya. Entah apa yang akan dia lakukan lagi padamu. Aku akan terbang ke sana sekarang juga.
Tidak. Jangan ke sini. Dia tidak tahu tentang kita, tentang saluran ini. Biarkan dia berpikir bahwa dia telah berhasil. Biarkan dia berpikir bahwa aku tidak bisa bicara dan dia telah berhasil menyingkirkanku. Aku tidak akan dianggap sebagai ancaman jika aku tidak berdaya. Dan dia tidak akan mewaspadaiku jika aku bukan ancaman untuknya.
Jadi itulah yang kami lakukan selama ini. Aku berpura-pura tidak bisa bicara sama sekali. Padahal setelah kejadian itu, malamnya Xavier 'menyembuhkanku' dan aku mendapatkan suaraku kembali. Malam itu kami menyusun rencana untuk menghadapi Selena dan mengamankan Alexis, dan aku berusaha mengabaikan detak jantungku yang kelewat kencang akibat ciuman singkat itu. Aku tidak bisa fokus. Astaga. Kami berciuman. Di malam hari. Di kamarku. Dan hanya ada kami berdua.
Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus fokus. Selena ada di Istanaku, Alexis dalam bahaya, Orient akan menyerang kerajaan Xavier, Leon masih belum sadar dan belum kembali, bukan saatnya kami terlarut dalam perasaan kami. Tapi, Demi Dewi! Aku tidak bisa fokus kalau dia terus menatapku seperti itu.
"Matamu... indah." Katanya tiba-tiba di tengah pembicaraan kami tentang cara membatalkan pernikahan Alexis dengan Luna. "Sekarang warnanya merah. Mungkin kau bisa mencoba memanggil Naga Kembar? Kita belum tahu kabar mereka." Tambahnya langsung sebelum wajahku semerah mataku.
Jadi aku mencobanya. Terakhir kali aku juga kesulitan memanggil Earithear. Tapi saat itu di hutan, rasanya kami benar-benar terhubung. Mungkin karena Xavier. Mungkin karena hubungan kami. Aku juga masih belum tahu.
Aerinear, Aquinier, kalian dapat mendengarku? Tanyaku.
Kalian dapat mendengar kami? Xavier ikut bertanya.
Lalu aku mendengar suara samar-samar. Seperti suara nafas. Seperti ada seseorang, jauh di seberang sana, sedang terkesiap terkejut karena panggilan dari kami.
Kami mendengar kalian, Baginda Raja dan Baginda Ratu. Itu adalah suara anak perempuan. Dia pasti jauh lebih muda dariku. Dan aku baru sadar bahwa dia tidak menggunakan bahasa Orient. Ternyata selama ini aku dan Xavier juga tidak menggunakan bahasa kami saat berbicara di saluran kami. Tidak ada bahasa. Tidak ada batasan.
Lalu yang berkata berikutnya dengan suara remaja laki-laki, kuduga dia Naga Air karena pembawaannya yang tenang. Kata-katanya membuatku sadar betapa aku juga merindukan mereka selama ini.
Kami telah lama mencari kalian.
...****************...
Sudah berminggu-minggu aku menjalankan peranku. Menjalankan rencana kami tanpa pernah terlihat bicara dengan siapa pun. Aku mendengar sayup-sayup suara para pelayan yang menggosip di depan pintu kamarku. Lagi-lagi mereka membicarakanku. Putri Cangkang Kosong katanya. Bagus lah. Itu artinya aktingku cukup meyakinkan.
Pintu terbuka, seorang pelayan membawakanku sepiring macaron beraneka warna. Dia segera menutup pintu rapat-rapat. Pelayan baru. Pelayan itu tinggi langsing dengan rambut cokelat kemerahan yang digulung rapih. Dia tersenyum lebar saat melihatku. Wajah ramah yang kukenal.
"Diana!" Aku segera menghampirinya, memeluknya. Kami belum terlalu akrab, memang. Kami bahkan baru sekali bertemu saat kunjunganku ke Bloody Rose. Tapi aku senang dapat melihat wajah yang kukenal di Istana ini. Aku memang sudah menantikan kedatangannya. "Jadi Constanza sudah mendapatkan pesan dariku?"
"Raja Xavier sudah memberitahu Grand Duchess Smirnoff. Beliau meminta saya untuk menyamar menjadi pelayan Anda, Yang Mulia."
"Tolong jangan bersikap formal begitu. Tujuanku memintamu ke sini bukan untuk menjadi pelayanku." Kataku. Aku mempersilahkannya duduk untuk menikmati macaron bersamaku. Dan aku menceritakan semua yang perlu kuceritakan padanya. Tentang alasan kenapa aku membutuhkan bantuannya dan tentang rencanaku.
Bukan tanpa alasan aku mengundang Diana ke istana. Diana memang bukan bangsawan, tapi dia berasal dari keluarga pebisnis handal. Vinogradoff. Kakeknya adalah petani anggur sekaligus pemilik berhektar-hektar kebun anggur yang kemudian bekerja sama dengan Alberto Smirnoff untuk membuat Carina, anggur yang sangat terkenal di Schiereiland dan telah dijual di beberapa negara. Ibunya, Lady Vinogradoff adalah guru bahasa di Istana karena bisa menguasai berbagai bahasa di dunia. Kecerdasan itu menurun pada Diana sehingga dia bisa menguasai berbagai bahasa dan pernah bekerja sebagai penerjemah untuk turis ibu kota.
Lalu aku teringat pada Riz, suami Diana, teman akrab Leon. Eleanor pernah menyebut nama aslinya. Arizona Navarro. Pantas saja nama itu terdengar tidak asing bagiku. Dia berasal dari salah satu Klan paling berkuasa di Westeria. Klan Navarro dari Westeria. Si pemilik mata Amethyst. Terdapat beberapa klan di Westeria yang memiliki mata permata dan mereka memiliki bakat unik yang tidak bisa dijelaskan asalnya. Bakat Riz luar biasa. Dan aku membutuhkan bantuan mereka.
Beberapa hari yang kuhabiskan di perpustakaan untuk kembali mempelajari tentang sejarah-sejarah keluarga besar di berbagai negara akhirnya membawaku ke sebuah jalan keluar dari berbagai permasalahan yang aku dan Xavier hadapi.
"Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk Anda, Yang Mulia?" Tanya Diana.
"Apa kau dan Riz bisa berbahasa Orient?"
"Aku bisa, tapi Riz masih belum lancar padahal aku sudah mengajarinya."
"Tidak masalah." Kataku langsung. Aku menatap Diana dengan sungguh-sungguh, "Bagaimana menurutmu kalau Carina dijual di Orient? Apa kau mau punya kedai anggur di Orient?" Tanyaku. Diana tampak sangat terkejut, mata cokelatnya tampak membelalak hingga hampir keluar. Tidak ada orang yang dapat menolak tawaran untuk membuka bisnis di Orient. "Aku membutuhkan seorang Diana Vinogradoff dan seorang Arizona Navarro di Orient untuk membantu mata-mataku di sana."
-The End-
...****************...