
Hujan sudah benar-benar berhenti beberapa saat kemudian. Anna memutuskan untuk menghampiri Ratu Isabella. Dengan dibantu oleh Leon, perlahan-lahan Anna berjalan menuju arah suara air terjun.
Dugaan Anna benar. Karena memang tidak mungkin suara gemuruh air jatuh sebesar itu bukan air terjun. Air terjun itu tidak terlalu tinggi, tapi sangat lebar. Sehingga suaranya terdengar sampai di kejauhan. Meski begitu, Anna samar-samar dapat mendengar suara Louis yang memanggilnya dari arah air terjun. Tapi Anna tidak melihat siapa pun di sekitar air terjun itu.
"Di sebelah sana." Kata Leon sambil menunjuk ke arah air terjun.
Setelah memicingkan mata ke arah air terjun, Anna akhirnya melihatnya. Louis sedang melambaikan tangannya ke arah mereka sambil berteriak memanggil, mencoba mengalahkan suara air terjun. Anak laki-laki itu berada di balik air terjun.
"Yang Mulia, kemarilah! Kami menemukan sesuatu!" Serunya dari kejauhan.
Leon membantu Anna berjalan menuju air terjun. Anna merasa kesal dengan dirinya sendiri karena tidak dapat berjalan dengan normal. Kakinya terasa sakit setiap kali dipakai untuk berjalan. Dan hal itu memperlambat pergerakan mereka.
Seolah tahu apa yang dirasakan Anna setiap dia melangkah, Leon segera mengangkat tubuh Anna dan menggendongnya.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!"
"Apakah itu perintah, Yang Mulia?" Tanya Leon, sambil terus berjalan menuju gua.
Anna menghela napas. "Tolong... Leon, tolong turunkan aku." Kali ini Anna mengucapkannya dengan sangat sopan sampai terdengar seperti dibuat-buat.
Leon menahan tawa. "Aku akan segera menurunkanmu, Yang Mulia. Tapi tidak sekarang."
"Ini memalukan."
"Aku sudah sering menggendongmu sejak kau kecil. Dulu kau tidak malu. Kau bahkan meminta dan memohon agar aku mau menggendongmu."
Anna memutar bola matanya. Sebagian dari dirinya kesal karena Leon kembali melihatnya sebagai adik kecilnya. "Aku sudah bukan anak kecil lagi, Leon."
"Benar." Tapi Leon terus berjalan tanpa berniat menurunkan Anna.
Mereka sampai di air terjun tersebut tak lama kemudian, barulah Leon menuruti permintaan Anna dan menurunkannya. Di balik air terjun tersebut terdapat sebuah gua. Louis sudah masuk lebih dulu agar mereka mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan menuruni turunan sempit gua itu dan menuju ke bagian dalam gua yang lebih luas dan lebar.
Tidak seperti bagian luarnya yang terlihat sempit, gua itu lebih lebar dari yang mereka kira. Di dalam, gua itu terasa lebih hangat dan lebih hijau. Beberapa tetes air berjatuhan dari langit-langit gua yang Anna tebak berasal dari sungai di atas gua ini. Di sepanjang mata memandang, tanaman-tanaman yang berbentuk aneh dan asing tumbuh di sepanjang jalanan gua. Ada tanaman yang bentuknya seperti pohon bunga mawar rambat, tapi tidak memiliki batang dan duri. Hanya ada akar yang berbonggol-bonggol, daun yang lebar serta bunga-bunganya yang berwarna merah bermekaran selebar piring saji. Beberapa pohon mirip seperti yang dapat mereka temukan di hutan-hutan Schiereiland, tapi terlihat aneh dan berbeda. Daun-daunnya lebih lebar dan lebih hijau. Bahkan saking hijaunya, daun-daun itu tampak mengeluarkan pendar cahaya hijau yang memantul ke seluruh gua, membuat gua itu tidak tampak segelap yang seharusnya. Dinding-dinding berbatu gua itu ditumbuhi lumut-lumut berdaun lebar yang berwarna kecokelatan serta ditumbuhi bunga-bunga merah yang tampak seperti taring berdarah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan hewan maupun serangga, tapi gua itu terasa begitu hidup. Gua itu lebih mirip seperti sebuah hutan hujan di perut bumi tapi tidak benar-benar gelap karena diterangi daun-daun yang bercahaya. Lebih aneh lagi, gua itu memiliki aroma yang manis, segar dan menyenangkan seperti aroma musim semi.
Mereka semua menanggalkan mantel berbulu mereka karena udara di dalam gua terasa jauh lebih hangat. Meski begitu, gua tersebut tidak terasa pengap karena angin tetap dapat berhembus dari mulut gua ke dalam.
Anna berjalan menyusuri gua dengan perlahan sambil berpegangan pada dinding-dinding gua agar memudahkan dia berjalan sendiri. Dia mengamati pemandangan yang ada di sekitarnya.
"Gua ini..."
"Besar." ujar Louis. Memang benar, gua itu tampak sebesar dan seluas hutan. Seolah tidak ada ujungnya. Tapi bukan itu yang ingin Anna katakan.
"Indah, bukan?" Kata Ratu Isabella. Gua itu memang indah dan terlihat tidak nyata. Seperti sebuah tempat yang seharusnya hanya bisa ditemukan dalam cerita dongeng atau legenda. Tempat yang seharusnya tidak ada di dunia nyata.
Tapi semakin diingat lagi, Anna tahu dirinya pernah datang ke gua itu. Anna mengenali setiap jengkal pemandangan yang dilihatnya saat ini. Gua itu sepertinya tidak berubah sama sekali. Bahkan seluruh tanaman yang tumbuh dalam gua itu seolah tidak berubah. Tidak bertambah maupun berkurang. Seolah hanya tempat ini yang tidak terpengaruh oleh waktu. Anna ingat saat dia datang ke gua itu, rambutnya masih sangat panjang dibiarkan tergerai. Mahkota emas menghiasi kepalanya. Dia mengenakan gaun berwarna turquoise, pedang tersampir di sabuk pada pinggangnya tersembunyi di balik jubahnya yang berwarna kehijauan. Dia menaiki kuda berwarna putih. Kuda yang sangat besar. Anna ingat dia tidak datang sendirian. Dia datang membawa pasukan yang bersenjata lengkap, tapi mereka semua tidak ikut masuk melainkan berjaga di sekitar mulut gua. Seorang pria berada di sampingnya saat itu, menggandeng tangannya.
"Kau merasakan keberadaan Earithear di sini?" Tanya pria itu, memastikan.
Anna menoleh padanya, mata pria itu yang semerah api sedang memandanginya tanpa berkedip. "Aku tidak mungkin salah. Dia pasti ada di sini." Kata Anna padanya.
Pria itu tersenyum, "Baiklah, ayo kita temukan dia."
"Aku mengingatnya. Aku pernah datang ke sini." Kata Anna tanpa sadar. Saat dia menoleh, semua orang sedang menatapnya bingung kecuali Xavier yang mengangguk menyetujui. Anna ikut bingung. "Apa?"
"Apa?" Ulang Ratu Isabella.
"Yang Mulia, kau pernah datang ke gua ini?" Tanya Leon, memastikan. "Kau bahkan tidak pernah meninggalkan istana sebelumnya, kecuali saat kau pergi ke kediaman Duke Francis."
Perkataan Leon menyadarkannya bahwa yang baru saja dia ingat bukan kejadian yang belum lama ini terjadi. Itu adalah ingatannya sebagai Ratu Agung Zhera. Dan pria yang ada di sampingnya saat itu adalah Sang Naga Api Agung. Xavier ada di sana bersamanya saat itu. Mereka menemukan Naga Bumi di dalam gua itu seribu tahun yang lalu.
"Maksudku, bukan aku." Anna berkata. Tapi kemudian menyadari itu memang dirinya yang ada dalam ingatannya. "Tidak, bukan itu. Maksudku—“
Saat Anna baru akan menjelaskan lebih lanjut, tiba-tiba gua itu bergetar hebat. Batu-batu dari langit-langit gua mulai berjatuhan. Anna melihat dari kejauhan sebuah batu besar akan jatuh menimpa Louis. Anak laki-laki itu terlalu terkejut sampai tidak dapat menggerakkan kakinya. Hanya sepersekian detik sampai batu itu menimpanya, tapi Leon jauh lebih cepat. Dia berhasil menarik Louis menjauh dari tempatnya semula agar tidak kejatuhan batu. Tapi batu-batu yang berjatuhan tersebut pada akhirnya memisahkan mereka. Anna ingin berlari menuju Ratu Isabella, tapi sebuah batu besar justru hampir menimpanya jika saja pada saat itu Xavier tidak segera menariknya menjauh dari tempatnya.
Gua terus bergetar dan semakin banyak lagi bebatuan yang berjatuhan dari langit-langit. Tapi tanaman-tanaman yang ada di sana seolah tidak terusik sama sekali. Seolah batu-batu yang berjatuhan tidak mau merusak tanaman yang ada di sana.
Gempa macam apa yang sedang terjadi di sini? Pikir Anna.
Anna terduduk di atas tanah saat getaran itu usai. Xavier membantunya berdiri.
"Putriku?" Suara Ratu Isabella menggema dari balik dinding reruntuhan gua.
"Ibu baik-baik saja?" Anna balas bertanya.
"Ibu baik-baik saja. Leon dan Louis?"
"Kami aman." Jawab Leon dari balik dinding yang berbeda. "Kami berada dekat mulut gua tapi mulut gua tertutup runtuhan batu. Akan butuh waktu sangat lama untuk menyingkirkan batu-batu besar ini." Kata Leon. Lalu dia menambahkan, "Naga Api Agung mungkin bisa membantu kami menyingkirkan batu-batu ini?"
"Tempat ini terlalu sempit." Kata Xavier. Anna kemudian mengingat wujud naga yang sebesar kastil. Gua ini bisa-bisa hancur seluruhnya jika Xavier berubah menjadi Naga sekarang. Dan saat itu mereka semua akan tertimbun oleh reruntuhan yang lebih parah lagi. Xavier pun menambahkan, "Aku tahu jalan keluar lain. Aku mengenali gua ini."
Anna menoleh ke arah Xavier yang ada di sampingnya sedang mengamati keadaan sekitar. Mereka berdua sama-sama mengenali gua ini karena pernah menjelajahi seisi gua untuk menemukan Naga Bumi. Tapi itu seribu tahun yang lalu. Struktur guanya bisa saja sudah berubah. Tapi tidak ada salahnya mencoba.
Anna berpikir keras sambil mengingat-ingat kembali gua tersebut. Saat ini mereka semua terpisah-pisah. Leon dan Louis berada dekat mulut gua, tapi jalan keluarnya tertutup. Mereka mungkin bisa bekerja sama menyingkirkan batu-batu yang menghalangi jalan, tapi mungkin tidak semudah itu. Batu-batu itu besar dan berat. Dan akan memakan waktu seharian untuk mengangkatnya.
Anna dan Xavier juga terpisah dengan Ratu Isabella. Tapi Anna tahu bahwa gua ini memiliki beberapa jalan menuju keluar. Anna ingat ada sebuah danau di dalam gua ini. Danau itu akan menuntun mereka menuju sungai. Sedangkan jalan yang terbuka bagi Anna dan Xavier saat ini adalah jalan memutar dan terjauh menuju danau itu. Tapi mereka bisa pergi ke sana dan menemukan jalan keluar.
"Ibu, apa ibu melihat bunga berbentuk taring merah di dinding gua di sebelah sana?" Tanya Anna. Suaranya menggema ke seisi gua.
"Ya."
"Singkirkan daun-daun dan lumut yang menghalangi. Tapi tidak perlu mencabut bunganya karena akan mengeluarkan racun. Meski tidak mematikan, racunnya bisa membuat siapa pun tertidur selama bertahun-tahun."
"Dari mana kau tahu, Yang Mulia?" Tanya Leon.
"Aku tahu ini kedengaran aneh, tapi aku memang pernah datang ke sini. Kalian harus percaya padaku. Aku mengenali gua ini." Aku yang menemukan gua ini, pikir Anna. Tapi dia tidak mengatakannya karena pasti akan terdengar sangat aneh.
Ray'na Zemle. Ratu Agung Zhera menamai gua tersebut seribu tahun lalu. Artinya Surga dalam Bumi dalam bahasa kuno. Dinamakan seperti itu bukan hanya karena gua ini sangat indah. Ada sesuatu, entah sihir kuno atau kekuatan suci dalam gua tersebut sehingga saat berada di dalamnya, tidak akan ada yang merasa kelaparan, sakit atau pun menderita meski terkurung di dalam gua ini selama berhari-hari tanpa makan dan minum. Itu karena Earithear yang membangun gua tersebut sebagai tempat persembunyiannya saat pertama kali turun dari langit. Konon gua tersebut sempat dibuka untuk umum, saat itu banyak rakyat miskin yang berlindung di dalam gua saat terjadi peperangan. Mereka tidak makan dan minum dan hanya tidur. Namun saat keluar dari gua, bertahun-tahun telah berlalu, perang sudah usai dan Zhera sudah menjadi Ratu. Tapi sejak kematian Ratu Agung Zhera beserta para naga, gua itu menghilang begitu saja dan tidak ada yang mengingatnya sehingga tidak ada orang yang menuliskan tentang keberadaan gua itu.
"Ada terowongan di balik daun-daun." Kata Ratu Isabella akhirnya setelah berhasil mengikuti instruksi dari Anna.
"Terowongan itu akan menuju ke sebuah danau besar di tengah gua ini." Kini Xavier ikut angkat bicara. "Mohon berhati-hati, Baginda Ratu. Terowongannya terjal menuju ke bawah. Jalannya juga gelap dan agak licin. Tapi itu jalan tercepat menuju danau yang saya maksud."
Anna menambahkan, "Ibu tinggal mengikuti aliran air danau tersebut dan keluar menuju sungai di balik gua ini. Jangan khawatir, danaunya tidak berbahaya dan tidak dalam. Airnya hangat, bisa diminum dan tidak ada hewan-hewan aneh di dalamnya. Aku dan Xavier akan mengambil jalan berputar untuk menuju danau tersebut. Setelah Xavier keluar, dia bisa menghancurkan batu-batu di mulut gua."
"Baiklah. Kalian semua, tolong berhati-hati." Kata Ratu Isabella.
...****************...
"Maaf." Kata Anna.
"Untuk apa?"
Mereka berjalan perlahan karena tanah di gua itu licin dan berbatu-batu. Juga karena Anna kesulitan berjalan dengan cepat akibat luka di kakinya. Dan karena mereka berjalan sambil berusaha mengingat harus mengambil jalan yang mana setiap bertemu persimpangan jalan yang ada di dalam gua. Gua itu sangat luas dan banyak jalanan bercabang yang dapat menuntun mereka menuju jalan yang berbeda. Mereka bisa saja terjebak berhari-hari di dalam gua dan hanya berputar-putar melalui jalan yang sama jika saja mereka benar-benar buta arah dan belum pernah menjelajahi seisi gua itu sebelumnya. Tapi Anna dan Xavier sama-sama tahu jalan mana yang harus mereka ambil.
"Aku merepotkan." Kata Anna. Setiap langkah terasa menyakitkan dan sulit baginya. "Aku menghambat perjalanan."
"Setahuku aku tidak pernah bilang begitu."
"Tapi semuanya akan jauh lebih mudah kalau saja kakiku tidak terluka. Aku ceroboh."
"Saat itu kau sedang banyak pikiran. Kau tidak fokus."
Anna tahu kenapa dia yang sudah berkuda sejak usianya sepuluh tahun bisa terjatuh dari kuda. Kuda itu bukan kuda liar. Mereka membeli kuda yang sudah jinak dan terlatih. Kuda yang harganya lumayan mahal. Dan Anna sudah dua hari berkuda dengan kuda tersebut dalam perjalanan mereka menuju Schiereiland. Tapi Anna terlalu terlarut dalam lamunannya, dia memikirkan banyak hal saat itu hingga tidak sadar memacu kudanya dengan terlalu cepat dan hampir menabrak pohon. Dia berhasil menghindar, tapi dia terlempar dari tunggangannya dan akhirnya menciderai kakinya.
"Benar. Tidak akan terjadi lagi." Kata Anna.
"Tidak apa-apa. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Dan berjalan pelan-pelan saja." Xavier mengingatkan.
Anna bahkan tidak sadar dia sedang berusaha memacu langkahnya lebih cepat lagi.
Anna menghela napas. "Kalau saja kakiku bisa sembuh lebih cepat—“
"Ada caranya." Kata Xavier sehingga membuat Anna tanpa sadar menghentikan langkahnya. Xavier turut berhenti. Tidak berusaha mendekat maupun menjauh saat mengatakannya. "Aku sudah memberitahumu. Sekarang terserah padamu."
Anna tahu itu. Semuanya terserah padanya.
Anna memalingkan wajahnya dan mengajak Xavier untuk kembali melangkah. Mereka terus berjalan tanpa berbicara. Kesunyian diantara keduanya terasa aneh dan canggung. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka di atas tanah berbatu-batu serta suara tetes-tetes air dari langit-langit gua. Mereka berdua diam, tapi sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rasanya canggung bagi Anna terlebih setelah pembicaraan mereka di tenda. Anna memang awalnya tidak tahu bahwa ciuman mereka dapat menyembuhkan luka apa pun. Tapi dia sudah curiga sejak awal. Terlebih setelah berbagai ingatan merasuki pikirannya. Anna ingin memarahi dirinya sendiri karena sesuatu dalam dirinya ingin Xavier benar-benar menciumnya saat itu di tenda. Dia berdebat dengan isi hatinya sendiri.
Hanya karena dia adalah pasanganmu di kehidupan sebelumnya, bukan berarti kau bisa memintanya menciummu begitu saja. Dia sudah menikah dengan Si Cantik Eleanor Winterthur. Kau bukan siapa-siapanya.
Aku hanya ingin dia menyembuhkanku.
Itu tambah aneh lagi. Menginginkan sebuah ciuman dari pria yang sudah menikah, yang tidak benar-benar kau kenal agar kau bisa sembuh. Terlebih lagi dia anak dari Raja yang membunuh ayahmu.
Hentikan pikiran ini! Aku tidak mau memikirkannya lagi.
Jaga sikapmu. Kau itu seorang Putri. Ingat siapa dirimu.
Aku tahu... Hanya saja... Tangannya hangat... Oh, coba lihat mata emerald itu, seperti permata yang berkilauan.
Sial!
Lama mereka menyusuri jalanan berpenerangan minim dalam gua itu tanpa sepatah kata pun. Benak mereka masing-masing sibuk mengingat-ingat jalan sekaligus mengingat-ingat masa lalu. Anna merasa kewalahan karena harus berjalan dengan sangat hati-hati sambil terus berpegangan pada Xavier dan pada saat yang sama dia harus melawan bisikan benaknya sendiri yang kurang ajar untuk meminta Xavier menyembuhkannya. Untuk meminta Xavier menciumnya.
Gila ya? Aku benar-benar sudah gila.
Tapi... Wah, kalau tidak salah, kami dulu pertama kali berciuman di tempat ini. Penerangan yang temaram, suhu hangat dan aroma manis di udara. Tempat ini terlalu sempurna untuk dilewatkan begitu saja.
Memalukan! Hentikan! Aku tidak mau mengingatnya. Aku sepertinya benar-benar gila. Ada yang salah dengan udara manis memabukkan di gua ini.
Anna akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kecanggungan di antara mereka. Berbicara sepertinya adalah satu-satunya cara yang ampuh untuk menjaga pikirannya tetap waras. Agar dia tidak mengingat masa lalu mereka di gua ini. Agar dia tidak lagi memikirkan rasanya saat bibir Xavier menyentuh bibirnya. Agar dia tidak meminta Xavier menyembuhkan lukanya.
"Kau mengingatnya? Kita bertemu dengannya di tempat ini kan?" Tanya Anna, mengalihkan topik dari luka serta penyembuhannya.
Xavier sepertinya sejak tadi melamun. Dia tampak terkejut saat tiba-tiba Anna bicara padanya. Tapi dia buru-buru memulihkan diri dari keterkejutannya. "Siapa?"
"Adik perempuanmu. Maksudku, Earithear. Sang Naga Bumi."
"Oh. Benar... Dia lumayan cengeng, kan?"
Anna ingat pertama kali menemukan Earithear di gua ini, Sang Naga Bumi sedang menangis. Bukan karena dia terjebak di dalam gua. Naga Bumi menangisi nasib manusia yang dia lihat di luar gua. Nasib para rakyat jelata yang menderita di masa pemerintahan ayahnya Zhera dimana perang terus terjadi tanpa akhir. Air matanya membentuk danau di dalam gua ini. Dan itu bahkan bukan sekedar cerita dongeng karena Anna tahu hal itu benar.
"Dia berhati lembut." Kata Anna.
Xavier mengangguk menyetujui, "Lembut dan bijaksana layaknya seorang Ratu. Dia akan cocok menjadi Ratu para naga menggantikanku kalau saja dia tidak ikut turun ke bumi."
"Kau pernah mencegahnya?"
Xavier tersenyum kecut, mata emeraldnya tampak menerawang mengingat kembali masa lalu. "Aku ingat sudah mencegah mereka semua saat itu. Tapi mereka bersikeras ingin ikut membantumu dan melindungimu."
"Mungkinkah kita bisa bertemu dengannya di sini? Seperti saat itu?"
"Entah lah." Xavier kini menatap Anna. "Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya?"
"Yang akan kulakukan?" ulang Anna.
"Kau bisa memintanya untuk ikut bersamamu. Dia akan patuh padamu. Semua naga akan patuh padamu. Dan kau juga bisa mengambil jantungnya."
Anna bergidik ngeri, tidak suka mendengarnya. Mengambil jantung naga terdengar seperti pembunuhan yang sangat sadis. "Aku tidak menginginkan itu semua. Aku ingin dia pergi sejauh mungkin dari jangkauan orang-orang yang menginginkan jantungnya atau pun kekuatannya."
"Kau bisa menggunakan kekuatan Earithear untuk melawan Nordhalbinsel jika terjadi perang nanti." Usul Xavier.
"Dan Nordhalbinsel punya kau. Jika terjadi perang, kau bisa lebih dulu menghancurkan Schiereiland." Kata Anna. Perkataannya sekaligus mencari tahu apakah kata-kata Leon benar. Bahwa Xavier tidak akan ikut serta dalam perang. Tapi bahkan hanya mengucapkannya saja membuat Anna takut memikirkan masa depan. Seolah perang bisa terjadi kapan saja.
Xavier sepertinya merasakan hal yang sama, dia menggenggam Anna lebih erat. "Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan bisa melawanmu. Jika perang memang tak bisa dihindari, aku tidak akan ikut turun ke medan perang." Janjinya. Dia melirik ke arah Anna, membuat napas Anna hampir tercekat karena tatapannya hampir merana. Seolah pembicaraan soal perang adalah siksaan baginya. "Bisakah kita tidak membicarakan tentang perang?"
Tapi Anna kurang lebih mengerti. Xavier bisa merasakan rasa sakit yang Anna derita. Jika perang terjadi dan Anna ikut di dalamnya, Anna mungkin saja terluka dan mungkin saja mati. Jadi Anna bertanya-tanya apa yang akan Xavier rasakan saat hal itu terjadi? Apa yang akan terjadi pada Xavier setelah Anna mati? Apa yang dulu terjadi pada Naga Api Agung setelah kematian Zhera? Bagaimana dirinya dulu mati?
Anna mengalihkan pandangannya. Dia tidak suka perasaan yang baru saja dia rasakan saat membayangkan kematiannya. Lebih tidak suka lagi saat membayangkan rasa sakit seperti apa yang akan dirasakan oleh Xavier. "Kau duluan yang memulai pembicaraan tentang perang." Kata Anna akhirnya.
"Benar. Maaf..."
Tanah tiba-tiba bergetar kembali. Tapi kali ini getarannya tidak sampai meruntuhkan bebatuan di langit-langit gua. Getaran itu hampir terasa lembut. Jika bisa dianalogikan, getaran di mulut gua tadi seperti teriakan penuh amarah sedangkan getaran yang ini seperti nyanyian lagu penghantar tidur. Dari kejauhan terdengar suara geraman menggema ke seisi gua sehingga Anna yakin Ratu Isabella, Leon dan Louis akan turut mendengarnya juga. Suara itu lebih mirip seperti suara guntur. Hampir menyerupai suara air terjun. Bahkan lebih mendebarkan. Suara itu dapat membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Tapi tidak bagi Anna, karena dia tahu suara apa itu.
"Kau dengar itu?" Tanya Anna sambil menatap Xavier. Sekilas saja, mereka saling bertatapan dan tahu apa yang ada di pikiran masing-masing.
Xavier mengangguk. Mereka berdua sama-sama mengenali suara itu lebih baik dari siapa pun. "Earithear ada di sini."
...****************...