
Tengah malam saat semua orang sudah tertidur, saat gilirannya untuk berjaga tiba, Xavier berjalan agak jauh dari tenda mereka. Mereka masih berada di wilayah Nordhalbinsel. Angin dingin nan membekukan malam itu berhembus kencang. Angin itu membekukan ranting-ranting pohon yang dilewatinya, membekukan sisa-sisa kayu bakar di depan tenda mereka, dan tanah yang dipijaknya. Tapi Xavier tidak pernah merasa kedinginan sejak dulu seolah sudah sangat bersahabat dengan suhu dingin itu sendiri. Atau mungkin karena dirinya adalah Naga Api Agung.
Setelah cukup jauh dari tenda dan memastikan tidak ada yang mengikutinya, dia bicara pada udara dingin kosong di hadapannya.
"Elias..." Panggilnya sepelan mungkin.
Dalam satu hembusan napas, Elias Winterthur sudah muncul di hadapannya. Tidak terlihat seperti biasanya, dia tampak lelah seolah belum tidur berhari-hari. Dia jelas belum tidur malam itu karena masih mengenakan seragam lengkap padahal sudah tengah malam. Rambut pirangnya terlihat berantakan. Kantung matanya tebal dan gelap. Dan kulitnya yang memang sudah seputih salju kini tampak sangat pucat.
"Pulang lah, Xavier." Pintanya dengan suara yang terdengar letih, bahkan tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. "Elle membutuhkanmu. Kami semua membutuhkanmu."
"Laporan." Pinta Xavier. Tapi nada suaranya lebih terdengar seperti sebuah perintah yang menuntut.
"Sampai kapan kami harus menunggumu? Apakah Jenderal Leon bahkan akan bersedia membantumu? Membantu kita semua?"
"Laporan, Elias."
Elias menghela napas, lalu melaporkan hal yang genting terlebih dahulu, "Kapal-kapal milik Orient terlihat tidak jauh dari perbatasan. Mereka mungkin akan segera tiba di wilayah perairan kita dua atau tiga hari lagi."
Pupil mata Xavier melebar. Saat dia meminta laporan, dia hanya bermaksud mendengar kejadian-kejadian yang masih bisa dia tangani melalui perintah-perintah kecil pada Elias. Tapi kemunculan kapal milik Orient berarti hal yang besar yang tidak bisa diatasi dengan perintah-perintah kecil. Meskipun sebenarnya Xavier sudah menduga hal itu akan terjadi, tapi dia tidak menyangka Orient akan bergerak secepat itu.
"Berapa banyak?" Tanyanya, sebisa mungkin menjaga nada suaranya tetap tenang.
"Pulang lah. Kita cari cara lain untuk menyelamatkan Ibumu dan membinasakan Selena." Nada suara Elias kini jauh lebih memohon. "Kau bahkan boleh membawa Putri Anastasia bersamamu ke Istana kalau kau tidak mau meninggalkannya."
Xavier menggeleng muram. "Putri Anastasia sedang terluka."
"Dylan tewas." Kata Elias. "Selena membunuhnya tepat di hadapan Elle."
Kali ini Xavier tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Xavier tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Eleanor sewaktu hal tersebut terjadi di hadapan gadis itu. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Xavier. Meski dia tahu itu pertanyaan bodoh. Tentu saja Eleanor tidak baik-baik saja.
"Kau baru menanyakannya sekarang?" Elias tertawa sinis. "Dia sibuk, tentu saja. Dia persis mayat hidup bergaun hitam dan bermahkota emas. Masih tetap cantik, tak diragukan lagi, namun kurus dan pucat. Seolah menangani trimester awal kehamilan dan kematian kekasihnya belum cukup berat untuknya, dia kebetulan sekarang menjabat sebagai Ratu tunggal sekaligus pemimpin Menara Sihir, memimpin sebuah kerajaan yang dipenuhi orang-orang yang menatapnya dengan sinis seorang diri dan bersiap menghadapi entah apa yang Orient inginkan dari kerajaan kita padahal kondisi keuangan negeri kita belum siap untuk perang. Dia berusaha keras untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang kau tinggalkan di Istana sementara kau main mata dengan Putri dari kerajaan lain."
"Aku tidak—“
"Teruslah menyangkalnya!" Nada suara Elias meninggi. Tatapannya tajam seolah sedang memarahi adik laki-lakinya yang suka membantah. "Sementara kau di luar sini entah mengerjakan apa, Orient sedang menajamkan anak panah mereka dan membidik kerajaanmu. Posisi Eleanor masih sangat rentan. Pendukung putra-putra Selena masih ada meski Sang Permaisuri sudah diasingkan. Beberapa selir ayahmu serta saudara-saudara tirimu mungkin bersiap menjatuhkannya. Tidak ada hari yang dia lalui tanpa ancaman pembunuhan. Dia tidak berani makan apa pun karena semua yang disajikan untuknya mungkin mengandung racun jadi dia memasak makanannya sendiri, padahal kita semua juga tahu Elle tidak bisa masak. Belum lagi masalah pangeran Ludwig dan adik-adiknya yang menghilang entah ke mana. Kondisi kesehatan ayahmu juga semakin parah. Beliau tidak akan bisa bertahan lama."
Xavier tahu itu. Sejak awal pun dia tahu betapa gentingnya keadaan kerajaannya. Nordhalbinsel saat ini bisa ditumbangkan dengan sangat mudah. Malah seharusnya sudah tumbang seandainya mereka tidak menguasai Schiereiland serta memupuk hubungan diplomatis dengan Westeria. Xavier tidak punya banyak pilihan dan tidak punya banyak waktu. Dia tahu harus cepat-cepat kembali ke Istana dan menduduki takhta tapi rencananya tetap harus dijalankan.
Eleanor selalu punya cara untuk menangani segalanya. Eleanor harus bertahan. Dia pasti bisa. Dia dibesarkan untuk menjadi Ratu sebagaimana aku dibesarkan untuk menjadi Raja.
"Aku sudah bicara dengan Jenderal Leon." Kata Xavier akhirnya. "Aku sudah membuat kesepakatan dengannya."
Kali ini Elias lah yang terlihat terkejut. "Dia sudah setuju?"
"Belum. Saat ini Anna terluka. Kami masih belum sampai di Schiereiland. Jenderal Leon tidak akan meninggalkan Sang Putri dan Ratu begitu saja sebelum memastikan mereka benar-benar aman dan selamat tiba di negara asal mereka. Tapi akan kupastikan dia menyetujuinya. Tunggu lah sebentar lagi." Kata Xavier. "Dan tolong minta pada Elle untuk membuatkan ramuan yang pernah dia buat untuk Ratu Elizabeth, berikan ramuan itu untuk ayahku. Ayahku harus bertahan hidup."
"Baik, Yang Mulia." Kata Elias sambil membungkuk. Meski terdengar sopan, justru Xavier tahu saat Elias memanggilnya dengan 'Yang Mulia' padahal sedang tidak ada siapa-siapa di sekitar mereka, itu artinya dia sedang benar-benar kesal dan marah padanya.
Elias bersiap berbalik untuk pergi, tapi Xavier memanggilnya sekali lagi. "Kau sudah melaksanakan semua yang kutugaskan padamu?"
"Sudah." Jawabnya tanpa melirik ke arah Xavier.
"Bagaimana dengan Putri Kekaisaran Orient yang menghilang itu? Sudah kau temukan? Sudah berapa bulan sejak aku memberimu tugas itu? Kenapa masih belum ada kabar?"
Kali ini Elias benar-benar berbalik. Tampak jelas dari wajahnya, dia sedang menahan amarahnya. "Sulit menemukannya. Dunia ini luas, dia bisa ada di mana saja. Mungkin juga sudah mati. Kalau hendak mencari selir, bisa tidak jangan Putri dari Orient?"
Xavier menghela napas. "Usianya sekitar empat puluh tahun, Elias. Siapa juga yang mau mencari selir? Putri dari Orient mungkin dapat mencegah pecahnya perang antara kerajaan kita dengan Orient kalau kau berhasil menemukannya."
"Sulit menemukan seorang Putri yang menghilang sejak dua puluh tahun yang lalu. Terlebih kalau kau hanya punya jepit rambutnya sebagai petunjuk. Kenapa tidak sekalian saja menyuruhku mencari naga? Setidaknya aku bisa langsung menemukan satu dari empat naga."
"Aku benar-benar ingin mengutusmu mencari Alexis, tapi aku tahu kau tidak akan bisa. Paling tidak, kau tidak akan bersedia. Jadi kurasa menemukan Putri Orient yang seharusnya menjadi pemegang takhta kekaisaran akan lebih mudah dan menyenangkan bagimu."
Elias menghela napas karena lagi-lagi Xavier benar tentangnya. Antara menemukan Putra Mahkota Schiereiland yang masih muda, cerdik serta sulit ditangani atau mencari Putri Orient, tentu Elias akan lebih memilih menemukan Putri Orient yang menghilang. "Aku masih mengusahakannya. Aku sudah mengerahkan pasukan serigala kami untuk melacaknya."
"Untuk berjaga-jaga kalau pasukan serigala kesulitan... Salah satu anak buah Jenderal Arianne Montreux adalah gadis asal Orient. Kalau tidak salah namanya Honey Welsh. Dia cerdas, menguasai berbagai bahasa dan kemampuan berpedangnya luar biasa. Belum lagi dia sepertinya lumayan tahu banyak tentang negara asalnya. Temui dia dan bekerja sama lah dengannya untuk menemukan Putri Seo-Hwa. Aku mempercayaimu." Setelah memastikan Elias benar-benar mendengarkan perintahnya, Xavier menambahkan, "Aku minta maaf, Elias. Sungguh. Aku minta maaf padamu dan saudarimu. Tapi aku tidak bisa pulang sekarang."
...****************...
Anna bangun esok paginya dengan keadaan yang jauh lebih baik, kakinya masih terasa sakit tapi terasa lebih baik dari kemarin. Suara Ratu Isabella yang memanggil namanya dengan lembut membuatnya hampir mengira dia kembali ke masa kecilnya di Istana dimana ibunya akan datang ke kamarnya di pagi hari untuk membangunkannya alih-alih menyuruh kepala pelayan membangunkannya.
"Anastasia... Putriku..." Panggil Sang Ratu.
Anna merapatkan selimutnya, tapi dia tidak kembali tidur saat merasakan keberadaan ibunya yang datang mendekat. Sejak kecil Anna selalu bisa merasakan keberadaan ibunya di mana pun. Dia membuka matanya perlahan dan hal pertama yang dilihatnya adalah senyuman ibunya.
"Ibu?"
Ratu Isabella membantu Anna duduk di ranjangnya, sambil mendekapnya, Ratu Isabella berkata, "Musim semi sudah tiba, putriku. Lihat lah..."
Anna melihat dari balik jendela balkon kamarnya, salju sudah tiada. Daun-daun mulai bermunculan di tamannya. Lalu kuncup-kuncup bunga perlahan mulai bermunculan padahal sebelumnya tidak ada. Anna mengerjapkan mata karena mengira dia salah lihat. Kuncup-kuncup itu perlahan membuka dan melebar. Bunga-bunga mawar bermekaran di tamannya.
"Apakah itu sihir?" Tanya Anna.
Ratu Isabella tersenyum. "Bukan."
"Kalau begitu, apakah ibu seorang peri? Seperti yang ada dalam dongeng-dongeng dari Westeria?"
Kini ibunya tertawa. Seiring tawanya, Anna melihat semakin banyak lagi bunga di taman itu bermunculan. Jika Anna melihat sedikit lebih jauh lagi, dia bisa melihat pohon apel mulai berbunga dan pohon-pohon yang berjajar di sepanjang jalan menuju Istana semakin rindang.
"Lebih bagus dari itu." Kata Ibunya. Ratu Isabella membelai lembut rambut merah putrinya, dan dari sela jarinya, muncul setangkai bunga mawar merah tanpa duri. Ratu Isabella memberikan bunga itu pada Anna. "Ini adalah bakat rahasia ibu. Sekarang ini akan jadi rahasia kita berdua."
Kenangan itu samar-samar diingatnya, tapi Anna tidak yakin apakah yang dia lihat saat itu sungguhan karena dia masih sangat kecil saat itu. Anna meyakini bahwa saat itu ibunya melakukan trik kecil untuk memunculkan bunga mawar merah dari rambutnya. Trik yang tidak pernah dia ketahui caranya.
Anna berharap begitu membuka matanya, dia sudah kembali ke Istana Schiereiland. Berharap semua yang sudah berlalu itu hanya lah mimpi dan dia akan bangun untuk menyambut datangnya musim semi di Istananya. Melihat kembali bunga-bunga mawar bermekaran dari jendela kamarnya. Tapi begitu membuka matanya, harapan kecil itu langsung sirna. Dia bukan berada di kamarnya di Istana Schiereiland yang indah dipenuhi banyak bunga, melainkan di tenda di tengah hutan bersalju di wilayah Richterswill. Udara dingin berhembus, seolah memberitahu Anna untuk mulai menerima kenyataan.
Anna tidak langsung bangkit dari tempatnya tidur. Dia hanya berbaring sambil menatap kosong ke atas, mengingat-ingat mimpinya semalam. Tapi itu tidak berhasil. Dia tahu semalam dia bermimpi. Hampir setiap malam dia selalu bermimpi belakangan ini, tapi dia sendiri tidak dapat mengingat mimpi tentang apa itu begitu terbangun. Sebagian dari dirinya ingin mengingat kembali isi mimpi itu karena entah kenapa, mimpi itu terasa penting. Itu mungkin sebuah petunjuk terkait keberadaan para naga. Anna bertanya-tanya mungkinkah ketiga naga lainnya juga akan mengenalinya begitu bertemu dengannya. Mungkinkan ketiga naga lainnya juga sedang mencarinya. Tapi Anna masih belum tahu apa yang akan dia lakukan begitu bertemu dengan tiga naga lainnya. Yang jelas Anna tidak mau mencabut jantung mereka. Meskipun itu bisa membuat ayahnya hidup kembali dan mengembalikan kehidupan damainya sebagai putri Schiereiland.
"Putriku, apa kau baik-baik saja? Apakah kakimu masih terasa sakit?" Ratu Isabella bertanya saat Anna mengerutkan keningnya saat mencoba mengingat kembali mimpinya.
"Aku baik-baik saja, ibu. Tidak sakit." Jawab Anna langsung.
"Kereta kuda sudah tiba. Ayo kita bersiap."
Setelah mencuci wajahnya dengan air lelehan salju, membersihkan debu yang menempel di pakaiannya, Anna, dengan dibantu oleh Ratu Isabella, keluar dari tenda. Di sana ada wajah baru yang belum pernah ditemuinya. Seorang pria tua dengan senyuman ramah yang Anna yakini berasal dari Schiereiland karena tidak memiliki kulit putih salju khas orang-orang Nordhalbinsel. Dari aksen bicaranya, Anna semakin yakin dia adalah warga Schiereiland. Pria itu menyapa Anna dan Ratu Isabella dengan bahasa yang tidak formal. Anna mengingatkan dirinya sendiri kalau orang lain tidak tahu bahwa dia dan ibunya adalah anggota keluarga kerajaan. Pria itu sepertinya tidak mengenali mereka. Itu hal bagus bagi Anna.
"Salam kenal, Tuan. Aku Bella, bibinya Louis dari pihak Ibunya." Sapa Ratu Isabella dengan ramah, menyesuaikan gaya bicaranya dengan gaya bicara rakyat biasa. Anna takjub melihat betapa cepat ibunya bisa menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya. Bahkan kebohongannya tentang identitasnya terdengar sangat natural.
Tuan Schmidt, Si pemilik sekaligus kusir kereta kuda itu, menjabat tangan Ratu Isabella. Hal yang tidak pernah Anna lihat sebelumnya karena semua orang yang menghadap Ratu Isabella biasanya akan berlutut, atau membungkuk, atau mencium tangannya. Anna kembali mengingatkan dirinya bahwa kini mereka sedang menjadi rakyat biasa. Bukan Anggota keluarga kerajaan.
"Senang berkenalan denganmu. Aku tidak tahu Emma punya saudara perempuan. Aku memang tidak pernah mengobrol dengannya. Tapi Tuan Blanc dan aku dulu berteman dekat sebelum aku menikah dengan Yerenia beberapa tahun silam dan memutuskan untuk tinggal di Nordhalbinsel." Kata Tuan Schmidt. Dia lalu melirik ke arah Anna, "Ini pasti putrimu. Jadi kau saudari sepupu Louis, ya?"
"Benar. Aku Anna, Tuan." Anna menjabat tangan Tuan Schmidt sambil tersenyum senatural mungkin.
"Dan pria tampan ini pasti putramu." Kata Tuan Schmidt saat melihat Leon yang sejak tadi hanya diam memantau. "Wah, kau gagah sekali nak. Mengingatkanku pada diriku sendiri saat masih muda dulu. Kau pasti langsung diterima jika mengikuti audisi pemilihan pengawal pribadi mendiang Putra Mahkota Nordhalbinsel yang diadakan beberapa minggu yang lalu. Putra Mahkota yang malang, dia mati di tangan pengawal pribadinya sendiri."
Anna masih belum terbiasa mendengar gosip itu meski dia tahu bahwa kabar burung itulah yang tersebar di kalangan rakyat. Bahwa pengawal pribadinya Putra Mahkota Nordhalbinsel yang ternyata adalah wanita asal Schiereiland membunuhnya dan menghanyutkan mayatnya di sungai sehingga sulit ditemukan.
"Dia putra sulungku yang tampan dan gagah, namanya Leon." Kata Ratu Isabella, menghindari topik mengenai pembunuhan Putra Mahkota. Sang Ratu terdengar jelas sangat bangga saat memperkenalkan Leon sebagai putranya.
Leon yang tampak malu mendengar perkataan Ratu Isabella, menjabat tangan Tuan Schmidt, merasa sangat aneh dengan situasi itu, tapi tetap berusaha menyesuaikan diri. Anna menahan senyumannya.
"Oh, kau bahkan memiliki nama yang sama dengan Jenderal kebanggaan Schiereiland itu. Sayang sekali, kudengar Sang Jenderal sudah mati bersama Putri saat berusaha kabur dari kejaran tentara Nordhalbinsel malam itu." Kata Tuan Schmidt.
Paling tidak Anna mempelajari apa yang diketahui rakyatnya dari Tuan Schmidt. Rupanya selama ini orang-orang meyakini dia dan Leon sudah mati malam itu.
Tuan Schmidt beralih ke Xavier, dan dalam sesaat mereka semua membeku. "Dan kau..."
Saat itu Anna langsung menyadari betapa berbedanya Xavier dengan mereka semua. Dia tampak jelas bukan berasal dari Schiereiland. Dia tidak memiliki kemiripan apapun dengan Ratu Isabella. Kulit putih saljunya seolah dengan tegas mengumumkan bahwa dia berasal dari Nordhalbinsel. Bahkan wajahnya saja terlalu ningrat sehingga terlihat kalau dia bukan berasal dari golongan rakyat biasa Nordhalbinsel. Terutama mata Emeraldnya yang sangat jarang ditemukan dimana pun padahal kebanyakan rakyat di Nordhalbinsel memiliki warna mata kelabu atau cokelat tua. Akan sangat aneh jika Ratu Isabella mengatakan bahwa Xavier juga putranya, Xavier terlalu terlihat seperti bangsawan daerah utara alih-alih imigran dari Schiereiland. Tapi mereka juga tidak mau Tuan Schmidt tahu bahwa Xavier adalah Putra Mahkota yang dikabarkan sudah mati.
Ratu Isabella akhirnya angkat bicara, "Uhm... Tolong rahasiakan hal ini, Tuan. Seperti yang Tuan lihat, dia memang berasal dari kalangan bangsawan Nordhalbinsel. Tapi dia rela meninggalkan keluarganya dan pindah ke Schiereiland demi putriku."
Anna hampir tersedak udara dingin yang dihirupnya saat mendengar perkataan Ratu Isabella. Dia melihat Xavier yang hanya tersenyum canggung karena tidak tahu harus bagaimana. Tapi Ratu Isabella tampak tenang. Seolah semua yang dikatakannya itu benar.
"Oh... begitu rupanya. Aku mengerti nak." Tuan Schmidt menepuk-nepuk pundak Xavier. "Aku juga meninggalkan ayah dan ibuku di Schiereiland demi menikahi Yerenia-ku. Mereka sudah mencoret namaku dari daftar anggota keluarga karena menikahi seorang gadis dari negara musuh. Cinta itu memang sulit dan penuh pengorbanan." Tuan Schmidt mengangguk-angguk simpatik. "Jadi karena itu kalian ingin pergi ke Schiereiland? Baiklah, aku akan membantu kalian. Kalian bahkan tidak perlu membayarku. Aku akan dengan senang hati membantu."
"Tidak, Tuan. Kami akan tetap membayar." Kata Ratu Isabella langsung.
"Ayolah, kita ini sama-sama rakyat Schiereiland. Meski negeri itu kini sudah hancur karena dikuasai Nordhalbinsel—“
"Hancur?" Tanya Leon.
"Sudah berapa lama kalian tidak mendengar kabar tentang Schiereiland?" Kali ini dia menggeleng-geleng. "Sudah lah. Nanti juga kalian akan tahu setelah sampai di sana. Sekarang, ayo semua naik ke kereta kuda. Kita tidak boleh berlama-lama di daerah dekat perbatasan."
Mereka semua naik ke kereta kuda yang cukup besar itu dan melanjutkan perjalanan menuju Schiereiland. Mereka semua, kecuali Leon yang bersikeras untuk tetap menunggangi Onyx sekaligus untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba kereta kuda mereka diserang. Ratu Isabella menyerah setelah berulang kali meminta Leon untuk ikut kereta kuda itu.
Dalam perjalanan, Ratu Isabella meminta maaf pada Xavier karena cerita karangannya itu.
"Tidak apa-apa, Baginda Ratu. Saya mengerti." Kata Xavier. "Itu salah satu trik mendapatkan simpati sekaligus loyalitas dari lawan bicara dalam buku yang ditulis oleh Francessa Muller. Saya tahu Baginda Ratu memanfaatkan latar belakang Tuan Schmidt yang menikah dengan wanita dari Kerajaan lain dan pindah ke Kerajaan lain demi orang itu, lalu membuat cerita yang serupa seolah-olah kita memiliki kesamaan nasib dengannya. Sehingga Tuan Schmidt tidak akan curiga dan justru bersimpati pada kita yang akhirnya akan sangat membantu jika suatu saat nanti kita mengalami kendala saat melewati perbatasan."
Sang Ratu tersenyum puas mendengar perkataan Xavier, "Benar. Rupanya kita membaca buku yang sama."
"Syukurlah, Tuan Schmidt sepertinya percaya pada perkataan Baginda Ratu." Kata Louis.
"Sulit untuk tidak mempercayai apa pun yang diucapkan oleh seorang Ratu." Timpal Anna.
"Putriku... Pelajarilah itu." Kali ini Ratu Isabella secara khusus bicara pada Anna. "Itu sejenis kemampuan istimewa yang dimiliki oleh para wanita yang menjadi Ratu. Kami pandai bersandiwara dan bermanis-manis pada lawan bicara, namun kami juga bisa jadi sangat tegas dan kejam ketika diharuskan."
...****************...