
Saat Anna dan Xavier sibuk di Kota Eze berpura-pura berkencan sambil menemui calon sekutu mereka, Ratu Isabella disibukkan dengan beberapa bangsawan yang sudah menerima surat dan datang ke Istana Anastasia. Ratu Isabella juga menerima kedatangan keluarga Marquess Gillies, Count Montgomery dan Count Renaux berkat perundingan Anna dan Xavier dengan Elise dan Renaux bersaudara. Mereka bersedia menyerahkan pasukan keluarga mereka yang tersisa untuk menjadi bagian dari Pasukan Ratu.
Dengan kedatangan Ratu Isabella ke Blue Diamond, maka Constanza beserta anggota Red Queen sepenuhnya percaya pada perkataan Anna. Mereka segera memanggil satu-satunya tabib di Kota Eze untuk mencoba mengobati Xavier. Constanza yang merupakan anggota keluarga Smirnoff yang terkenal dengan para wanita pemanah, benar-benar hampir berhasil membunuhnya. Hanya beberapa senti sebelum ujung panahnya itu mengenai jantungnya.
Setelah tabib berhasil menghentikan pendarahannya dan membalut lukanya, Xavier masih belum sadar.
"Itu pasti karena racunnya." Kata Constanza. Meski begitu, tidak ada sedikit pun rasa bersalah dalam kata-katanya. Dia masih menyimpan dendam terutama pada keluarga kerajaan Nordhalbinsel. Terlebih lagi karena kemiripan wajah Xavier dengan mantan tunangannya, Pangeran Ludwig.
Anna menggeleng, "Xavier pernah terkena serangan panah beracun juga sebelumnya. Racun Siarine dari Orient. Kudengar itu racun paling mematikan. Tapi dia baik-baik saja setelahnya." Dia mengatakan hal itu lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa Xavier akan baik-baik saja.
"Kau tidak mengerti, Yang Mulia. Ini berbeda dengan racun mana pun. Aku mencurinya dari seorang penyihir."
"Ludwig?" Anna menebak.
"Benar." Jawab Constanza langsung. Anna sempat ingin membahasnya, menanyakan kenapa dia mencuri dari mantan tunangannya, tapi kemudian dia diingatkan bahwa dirinya sendiri pernah melakukan hal yang sama terhadap Nicholas, jadi dia mempersilahkan Constanza untuk melanjutkan. "Ludwig menyebutnya Morta. Racun yang dibuat dan dikembangkan oleh para penyihir menara. Racun yang sama yang mereka gunakan untuk membunuh kedua orang tuaku. Kurasa ada semacam sihir di dalamnya." Ada rasa sedih dan dendam yang menyelimuti kata-kata itu.
Anna berhati-hati saat kemudian bertanya, "Mungkinkah Ludwig menyimpan penawarnya juga?"
"Aku tidak tahu. Ayah dan ibuku langsung mati begitu terkena senjata yang dilumuri Morta, jadi aku tidak pernah mencari tahu tentang penawarnya."
Meminta Constanza untuk mencari tahu penawar racunnya mungkin hal yang mustahil dia lakukan. Karena Constanza pasti tidak ingin bertemu kembali dengan Ludwig. Lagi pula, belum tentu Ludwig memiliki penawarnya.
Karena tidak dapat menemukan jalan keluar, mereka akhirnya membawa Xavier untuk dirawat di Istana Anastasia. Anna segera mengirimkan surat kepada Rumelle Francis untuk mengirimkan dokter keluarga Francis.
Di Istana, Constanza menceritakan tentang perbudakan yang terjadi di Schiereiland terutama di wilayah Schere dan mulai menyebar ke hampir semua wilayah, kecuali wilayah Duchy Francis karena Nicholas masih memegang jabatannya berkat Xavier. Para penyihir dan prajurit Nordhalbinsel berkeliaran ke seluruh pemukiman, baik ke rumah-rumah bangsawan maupun ke rumah-rumah rakyat jelata. Anak-anak Schiereiland diambil dan dijadikan budak. Beberapa wanita muda bahkan diculik untuk dibawa ke Nordhalbinsel. Para kepala keluarga yang tidak menyerahkan anak-anak mereka akan dibunuh di tempat. Lalu Constanza menceritakan tentang apa yang terjadi padanya sehari setelah penyerangan di Istana Schiereiland.
Setelah Grand Duke dan Grand Duchess Smirnoff dibunuh di depan matanya, Constanza berusaha mengajak adik-adiknya kabur meski dengan kaki yang masih gemetar akibat kejadian itu. Tapi di perjalanan, para penyihir menara menghadangnya. Constanza berusaha melawan saat para penyihir secara paksa akan membawa adik-adiknya.
Tiba-tiba seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan dan dia menjadi tak kasat mata bagi para penyihir itu hingga adik-adiknya dibawa pergi oleh para penyihir. Ludwig muncul tak lama setelahnya. Tahu bahwa Ludwig yang membuatnya tidak bisa bergerak dan tidak terlihat, Constanza melepas cincinnya, melemparkannya ke arah Ludwig dan melangkah pergi.
"Kalau kau melawan mereka, kau akan mati." Ludwig mengikutinya dari belakang.
Constanza terlalu marah dan sedih untuk bisa mengatakan apa pun saat itu. Jadi dia hanya melangkah tanpa tahu tujuan. Memaksakan kedua kakinya untuk berjalan selangkah demi selangkah meski seluruh tubuhnya ingin ambruk ke tanah.
"Kau mau pergi ke mana? Ikutlah denganku. Kau akan aman di Istana." Kata Ludwig dengan nada memohon. Karena Constanza tidak juga memelankan langkahnya, Ludwig meraih tangannya. Tapi Constanza langsung menarik kembali tangannya.
Constanza berbalik hanya untuk menampar wajahnya dengan sangat keras.
"Jangan. Pernah. Menyentuhku." Desisnya dengan penekanan di setiap kata. Matanya memancarkan kebencian. "Pergi! Aku muak melihatmu. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku!"
Lalu Ludwig menghilang dalam sekejap mata.
Constanza tidak menangis. Amarahnya mengalahkan rasa dukanya. Dia berjalan selama berjam-jam. Dia berjalan semalaman hingga fajar. Hingga dia menemukan tempat pelatihan khusus para ksatria wanita yang mengabdi untuk keluarga Smirnoff. Para pemanah wanita. Dia kemudian menceritakan semuanya pada mereka dan merencanakan balas dendam. Begitulah mereka menjadi kelompok Red Queen.
Selama mendengarkan cerita dari Constanza, Anna hanya diam. Dia marah, kesal dan kecewa. Dan sedih, karena apa yang telah dilakukan oleh orang-orang utara pada rakyatnya. Dia juga marah pada dirinya sendiri karena telah begitu lemah untuk waktu yang lama sehingga tidak bisa menjaga rakyatnya. Telah terlalu lama menutup mata sehingga baru sekarang dirinya mengetahui apa saja yang telah menerpa negerinya.
Anna melirik ke arah Sang Ratu. Ibunya. Matanya berkaca-kaca. Anna tahu perasaan Sang Ratu saat ini pasti lebih hancur darinya. Keluarga Smirnoff adalah keluarganya. Rakyat yang tertindas adalah rakyatnya. Tanah yang direnggut, adalah negerinya. Dan Raja yang dibunuh malam itu adalah suaminya.
"Aku telah gagal sebagai seorang Ratu." Kata Ratu Isabella sambil menunduk penuh rasa bersalah.
"Mohon jangan menyalahkan diri Anda sendiri, Baginda Ratu." Kata Constanza. "Ini bukan kesalahan Anda."
Ratu Isabella menggeleng. "Ini semua memang salahku."
"Ibu..." Anna menggenggam tangan ibunya. Memeluknya. "Ibu belum gagal. Ibu tidak gagal. Kita bisa memperbaiki semuanya jika kita berhenti menyalahkan diri sendiri. Kita akan berjuang dan bangkit bersama. Kita akan menemukan Alexis dan merebut kembali Schiereiland."
...****************...
Esok harinya, para bangsawan yang berhasil mereka kumpulkan telah berada di Istana Anastasia. Istana itu kini telah menjadi markas rahasia mereka. Prajurit dikerahkan untuk mencari keberadaan bangsawan lainnya. Sebagian dikerahkan untuk pergi ke Schere untuk menjalankan rencana mereka selanjutnya.
Xavier dirawat di kamarnya di Istana Anastasia. Dokter keluarga Francis mengajari Anna cara mengganti perbannya. Dan setiap kali Anna mengganti perbannya, Dia menyadari bahwa luka Xavier tidak menutup. Tidak membaik. Tidak sembuh dengan cepat seperti dulu saat di Trivone. Sebaliknya, lukanya bertambah parah. Luka tusuk di dadanya itu kini menghitam dan kulitnya semakin pucat bahkan terasa dingin. Racunnya perlahan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, menyerang organ-organ dalamnya. Racun itu memperlambat detak jantungnya, memperlambat kemampuan penyembuhannya, dan menghancurkan tulang-tulangnya dari dalam. Perlahan-lahan, tiap keping sel darahnya digantikan dengan racun, membuat kulit pucat tubuhnya tampak dijalari garis-garis pembuluh darah berwarna hitam yang terlihat di permukaan kulitnya seperti lukisan terkutuk.
Anna menggenggam tangan Xavier yang terasa sedingin dan sekaku bongkahan es. Naga Api Agung tanpa api.
Apa yang terjadi padamu? Aku sama sekali tidak mengerti tentang racun maupun sihir. Apa yang harus aku lakukan?
Tidak ada jawaban.
Ada banyak hal yang belum kukatakan padamu, jadi sebaiknya kau bangun sekarang juga sebelum aku berubah pikiran dan tidak jadi mengatakannya.
Tidak ada reaksi apa pun.
Aku sebenarnya ingin minta maaf padamu. Terkait banyak hal.
Anna menyentuh cincin permata ruby yang dia kalungkan di lehernya. Cincin itu terasa dingin sekarang. Denyutnya terasa pelan dan samar.
Maaf... Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu padahal kau melakukan banyak hal untukku. Kau... Kau turun dari langit dan menyelamatkanku saat aku hampir menyerah. Saat aku tidak punya siapa pun. Saat kupikir tidak ada harapan lagi. Saat duniaku terasa begitu gelap. Saat aku akan melompat dari tebing untuk mengakhiri hidupku sendiri serta Zuidlijk yang bahkan belum lahir. Benar, Xavier, aku membicarakan kehidupan yang lalu. Aku ingat semuanya dengan sangat jelas seperti baru terjadi kemarin. Itu sudah seribu tahun yang lalu, aku tahu, tapi aku yakin aku belum mengucapkan terima kasih saat itu. Aku malah marah-marah padamu. Seandainya saat itu kau tidak turun dari langit dan membantuku, aku akan mati tanpa pernah mengenalmu. Itu awal dari semua ini, kan? Aku memang tetap mati pada akhirnya. Tapi aku mati tanpa penyesalan. Paling tidak, aku mati setelah aku mengenalmu. Setelah aku tahu rasanya dicintai. Setelah aku merasakan kebahagiaan seutuhnya. Setelah aku tahu rasanya memiliki keluarga yang kucintai. Setelah melihat kedamaian usai tirani ayahku. Kedamaian yang kita ciptakan bersama, yang kita perjuangkan bersama. Aku minta maaf karena aku pergi lebih dulu saat itu. Seandainya aku bertahan hidup lebih lama, kau tidak akan menyerahkan jantungmu serta keabadianmu. Kau pasti akan abadi selamanya, tidak bisa dilukai oleh siapa pun. Dan kau tidak akan terbaring seperti ini sekarang.
Anna memejamkan kedua matanya, menekannya dengan tangannya, mencegah air matanya keluar. Dadanya sesak dan sakit. Rasanya sulit untuk bernapas.
Ini salahku. Maafkan aku... Apa yang akan kau katakan di saat seperti ini?
"Kau melakukannya lagi. Belakangan ini kau jadi lebih sering meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuatmu sampai perlu minta maaf." Anna ingat Xavier pernah mengatakan itu.
Tanpa disadarinya air matanya mulai mengalir. Dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia tangisi. Terlalu banyak. Semuanya. Xavier yang sekarat. Rakyatnya yang menderita dan dia belum bisa berbuat apa pun. Constanza yang harus kehilangan keluarganya. Ibunya yang terus menyalahkan dirinya sendiri. Adiknya yang masih belum dapat ditemukan. Leon... Leon yang entah bagaimana keadaannya saat ini.
Leon.
Saat nama itu muncul di benaknya, sepintas ingatan muncul ke permukaan. Anna menoleh ke sampingnya, ke arah balkon tempat beberapa hari yang lalu dia dan Xavier berdiri memandangi pegunungan Elphènes dan Esthers.
Xavier memberitahunya cara untuk menyurati Leon, tapi setelah itu mereka disibukkan dengan berbagai hal yang harus mereka lakukan. Anna belum pernah mengirimkan surat untuk Leon setelah itu.
Anna mengedarkan pandangannya ke seisi kamar itu. Dengan cepat, tatapannya tertuju pada elang yang masih bertengger di dalam sangkarnya. Elang itu diam tak bergerak seperti patung. Makhluk itu tercipta dari sihir Eleanor Winterthur, salah satu penyihir terhebat di Nordhalbinsel. Ratu Negeri Musim Dingin Abadi.
"Elang itu hanya akan mengirimkan surat pada salah satu dari si kembar Winterthur dengan sangat cepat."
Anna segera bangkit dan mulai mencari kertas serta pena.
...****************...
Malam harinya, Nicholas menyampaikan berita yang menggemparkan. Mata-matanya di daerah Schere mengatakan mereka melihat Putra Mahkota Alexis di sana.
Mereka mengadakan rapat setiap kali ada kesempatan. Salah satunya malam itu, usai makan malam. Mereka berkumpul di ruang rapat Istana. Anna baru selesai mengganti perban Xavier dan turun hanya untuk mengikuti rapat karena kedatangan Nicholas selalu berarti ada kabar baru dari Schere. Dan lebih dari apa pun, dia sangat menantikan kabar itu. Dia membutuhkan secercah harapan. Membutuhkan kabar baik yang dapat mengalihkan pikirannya dari rasa bersalah.
"Apakah dia sendiri?" Tanya Ratu Isabella. "Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kondisinya?"
"Mohon tenang, Baginda Ratu. Saya akan menceritakan semua yang saya ketahui dari mata-mata saya." Kata Nicholas. Suaranya terdengar tenang, jadi Anna yakin itu pasti berita baik. Bahwa Alexis ditemukan dalam keadaan baik dan aman. "Yang Mulia Putra Mahkota Alexis terlihat bersama beberapa prajurit di salah satu rumah bangsawan di wilayah Pruz, pinggir Kota Schere. Dia terlihat sehat dan baik-baik saja. Dia bahkan mengenakan pakaian bangsawan. Dan ada seorang gadis muda bersamanya. Menurut informanku, gadis itu mungkin seusia dengan Putra Mahkota Alexis dan dia seorang penyihir."
"Salah satu penyihir menara?" Tanya Constanza.
"Sepertinya bukan. Informanku mengatakan bahwa gadis itu tidak terlihat seperti orang utara. Dari namanya, dan warna kulitnya, dia lebih seperti orang Schiereiland."
"Siapa namanya?" Tanya Anna.
"Orang-orang menyebutnya Luna."
...****************...