The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 7 : Istoriya Proiskhozhdeniya Drakonov



Dalam sekejap, Elias Winterthur sudah ada di ruangan itu bersama mereka. Mustahil salah mengenali mata biru es itu meski di bawah cahaya lampu temaram pondok mereka. Pria itu masih mengenakan seragam tugasnya sebagai Jenderal penjaga perbatasan Wilayah Utara lengkap dengan pedangnya yang disampirkan di pinggangnya. Elias tidak tampak terkejut sama sekali meski baru saja berpindah tempat secara tiba-tiba karena dia memang sudah terbiasa. Sebaliknya, Anna, Leon, Ratu Isabella dan Louis lah yang terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba itu.


"Kenapa baru memanggilku sekarang?" Kata Elias langsung kepada Xavier. Meski terdengar sangat kesal, tapi dari raut wajahnya jelas terlihat bahwa dia sangat khawatir pada temannya itu.


"Jadi kau memanggil Anjing Gila peliharaanmu, ya?" Leon sudah mengeluarkan pedangnya dan menghunuskannya ke arah Elias serta menarik Anna ke balik tubuhnya, sebisa mungkin menjauhkannya dari Elias.


Elias menoleh ke belakang dan mendapati Leon yang sudah bersiap untuk menyerangnya. Dengan cepat Elias mengeluarkan pedangnya dan menghunuskannya ke arah Leon.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan Kucing Liar dari Selatan yang terkenal itu." Kata Elias, menyeringai saat melihat lawan yang cukup sepadan baginya.


"Bukan kucing, tapi singa." Louis bergumam pelan, separuh karena dia ngeri melihat dua Jenderal dari dua kerajaan berlawanan itu saling menghunus pedang di pondok kecil mereka.


"Elias, Jangan melawan dia." Perintah Xavier.


Dengan satu kalimat itu saja, Elias menyarungkan kembali pedangnya dan mundur meski sebenarnya Elias masih tergoda ingin mencoba melawan Leon dan melihat siapa yang menang diantara mereka. Ada perkataan ayahnya beberapa tahun lalu yang masih sangat diingatnya sampai sekarang, 'Kalau kemampuanmu hanya seperti ini kau akan langsung mati begitu terlihat oleh Singa dari Schiereiland.'


Kata-kata itulah yang membakarnya setiap hari sehingga dia semakin rajin berlatih pedang hingga sudah menjadi seorang Jenderal sekarang. Elias ingin membuktikan bahwa kata-kata ayahnya salah. Tapi itu masih bisa menunggu.


"Sebenarnya kau dari mana saja?" Elias bertanya menuntut pada Xavier. "Kau tidak tahu seisi Kerajaan sedang gempar karena berita kematianmu? Kau dan Elle selalu saja membuatku kesusahan." Elias mendengus kesal. Sambil mengatakan itu, matanya berkeliling mempelajari dimana dia berada sekarang sampai akhirnya pandangannya bertemu dengan senyuman ramah seorang wanita anggun yang duduk tak jauh darinya. Dari cara duduknya saja seolah sudah mengumumkan kepada dunia siapa wanita itu.


"Selamat datang, Jenderal Elias Winterthur." Sapa Ratu Isabella pada Elias.


Nordhalbinsel tidak memiliki Ratu. Raja Vlad membiarkan posisi itu kosong sejak dua puluh tiga tahun yang lalu. Jadi sejak kecil Elias hanya pernah melihat satu orang wanita yang menyandang gelar Ratu. Ratu Isabella dari Schiereiland. Wanita yang anggun dan lembut serta penuh kasih. Elias ingat pernah menyatakan kepada ibunya bahwa cita-citanya adalah ingin menjadi ksatria yang melindungi Ratu setelah melihat lukisan Ratu Isabella di salah satu buku pelajarannya. Dia ingat jawaban ibunya saat itu, 'Kalau begitu lindungilah saudarimu. Kelak dia yang akan menjadi Ratu Nordhalbinsel.'


Elias tersadar dari lamunannya, kemudian segera membungkuk sangat rendah untuk menyampaikan hormatnya kepada Ratu Isabella. "Salam hormat saya kepada Yang Mulia Baginda Ratu Schiereiland. Maafkan atas sikap saya barusan, Saya tidak tahu bahwa Baginda Ratu ada di sini." Lalu Elias melihat Anna dari sudut matanya. Lagi-lagi dia membungkuk hormat, “Salam hormat saya kepada Yang Mulia Putri Anastasia dari Schiereiland.” Kata Elias.


“Anna saja. Bersikaplah seperti biasa, Jenderal Elias.” Kata Anna, menahan senyum saat melihat perubahan sikap Elias yang tiba-tiba.


“Baiklah, jika Yang Mulia mengizinkan.” Kata Elias sambil melirik ke arah Xavier.


Dengan enggan Xavier mengangguk, mengizinkan Elias untuk bersikap seperti biasa.


"Aku sudah mendengar beritanya." Kata Ratu Isabella. "Sepertinya situasi di Istana kalian sedang kacau saat ini. Dan kudengar saudari kembarmu sedang mengandung anak Putra Mahkota."


"Bukan—“ Xavier baru akan menjelaskan, tapi Elias segera menyela penjelasannya sebelum terjadi salah paham yang lebih besar,


"Bukan anaknya, Baginda Ratu." Ucap Elias.


Tentu saja semua orang akan langsung berpikir sama seperti Ratu Isabella begitu mendengar kabar kehamilan Putri Mahkota Nordhalbinsel. Karena sejak awal hubungan Putra Mahkota dan Putri Mahkota sangat dekat. Dan tidak akan ada yang terkejut kalau Putri Mahkota dinyatakan hamil sebelum mereka berdua resmi menikah.


"Anak yang dikandung Eleanor bukanlah anak dari Putra Mahkota, Baginda Ratu. Hubungan dekat mereka hanya untuk..." Elias terdiam sesaat, mencari kata-kata yang sesuai. "untuk 'pertunjukan' belaka. Tapi justru itu yang jadi masalah besar saat ini."


"Pertunjukan?" tanya Louis.


"Benar. Yang Mulia Putra Mahkota yang suci dan masih perjaka ini bahkan tidak berani memegang tangan saudari saya tanpa izin jika bukan untuk ditunjukkan di depan umum agar hubungan keduanya terlihat baik-baik saja.” Tambah Elias.


“Kau tidak perlu menjelaskannya sedetail itu, Jenderal Elias.” Kata Xavier.


“Saya pikir Baginda Ratu harus tahu karena Putri—“


Tepat sebelum Elias menyelesaikan kalimatnya, Xavier mengisyaratkannya untuk diam.


“Oh, kau belum memberitahu mereka? Lalu untuk apa kau menghilang selama seminggu? Baiklah, itu akan jadi urusanmu nanti.” Kata Elias pada Xavier. Lalu dia kembali menghadap ke arah Ratu Isabella yang masih dengan sabar menunggu penjelasan darinya. “Jadi begitulah, Baginda Ratu. Itulah yang sedang menjadi masalah utama kami saat ini. Mohon maafkan saya yang sedang tergesa-gesa ini, tapi bolehkan saya membawa Yang Mulia Putra Mahkota Xavier agar dapat segera kembali ke Istana dan menyelesaikan semua masalahnya?"


"Aku dengan senang hati akan memberikan izin. Tapi, kami membutuhkannya untuk membantu kami menemukan putraku. Kami juga memiliki masalah yang harus segera diselesaikan. Jika dunia tahu bahwa pewaris takhta Schiereiland, Putra Mahkota Alexis masih hidup, maka Raja Vlad harus segera mengembalikan kuasa atas kerajaan kami ke tangan putraku. Dan jika dia tidak bersedia, maka kami akan menganggapnya sebagai pernyataan perang." Kata Ratu Isabella dengan tegas. Anna belum pernah melihat Ibunya setegas itu sebelumnya. Bahkan saat mengikuti rapat bersama Raja Edward dahulu di Istana, Ratu Isabella adalah tipikal Ratu yang lembut dan menuruti segala keputusan yang diambil oleh suaminya. Kematian suaminya lah yang membuatnya harus menjadi sosok Ratu yang tegas demi mengambil alih kembali kerajaannya.


"Elias, aku memanggilmu kesini bukan untuk membawaku kembali ke Istana. Aku tahu Elle pasti sudah merencanakan sesuatu untuk mengatasi masalah ini. Saudari kembarmu itu cerdas. Dia bisa menyelesaikan masalah apa pun. Aku hanya ingin memastikan bahwa rencananya adalah rencana yang terbaik dan membantunya menjalankan rencananya."


"Apa maksudmu? Kau bicara seolah kau sudah tahu apa rencananya."


"Biar kutebak. Dia akan hadir pada rapat penentuan Putra Mahkota dan mengakui bayi yang dikandungnya sebagai anak dari Putra Mahkota."


"Astaga! Bagaimana kau bisa tahu? Apa kalian sudah merencanakan semuanya sebelumnya?"


"Tidak. Aku juga baru memikirkannya. Oleh karena itu, aku memanggilmu. Elle akan membutuhkan bukti yang kuat serta orang berkedudukan tinggi yang mendukungnya untuk memperkuat posisinya sebagai Calon Ratu."


"Calon Ratu?" Tanya Elias dan Anna bersamaan.


"Sebenarnya ini rahasia negara. Harusnya aku tidak mengatakannya. Saat ini ayahku sedang sekarat. Dengan kondisinya sekarang, beliau tidak akan bisa mengerjakan urusan kerajaan. Selama ini aku yang mengambil alih semua tugasnya. Tidak banyak orang yang mengetahui hal ini. Mungkin Permaisuri Selena sudah tahu, mungkin itu juga sebabnya dia sangat terburu-buru ingin membunuhku."


"Kalau begitu, Putri Mahkota Eleanor akan menjadi calon Ratu Tunggal?" Tanya Ratu Isabella.


"Benar, Baginda Ratu."


"Ratu Tunggal... Maksudnya Ratu yang memerintah sendiri tanpa Raja, seperti Ratu Elizabeth dari Westeria dan Ratu Firenzia, Ratu ke delapan belas Nordhalbinsel?" Tanya Anna.


"Kau tahu soal Ratu Firenzia?"


"Aku membaca banyak sekali buku tentang silsilah keluarga kerajaan Nordhalbinsel saat akan mengikuti pemilihan pengawal pribadi. Ratu Firenzia adalah satu-satunya Ratu Tunggal yang tercatat dalam sejarah Nordhalbinsel. Suaminya, yang merupakan Raja ketujuh belas Nordhalbinsel mati dalam pemberontakan yang dipimpin oleh adiknya sendiri saat Ratu Firenzia sedang mengandung. Meskipun ada para pangeran yang merupakan adik-adik dari Raja ke tujuh belas, tapi Ratu Firenzia yang tidak memiliki darah keluarga kerajaan sama sekali yang naik takhta untuk menjadi Ratu Tunggal sampai bayi yang dikandungnya mencapai usia dewasa."


Xavier tampak takjub karena Anna bahkan mempelajari silsilah keluarga kerajaan Nordhalbinsel yang cukup rumit untuk menjadi pengawal pribadinya saat itu. Xavier sendiri bahkan baru mendengar cerita sedetail itu tentang Ratu Firenzia dari Anna. Sebelumnya Xavier memang sudah sempat mencari tahu tentang Ratu Firenzia yang dikatakan sebagai satu-satunya Ratu Tunggal yang pernah memerintah Nordhalbinsel. Dia mengumpulkan berbagai literatur yang membahas tentang Ratu Firenzia untuk mencari cara agar dapat menepati janjinya menjadikan Eleanor Ratu Nordhalbinsel jika suatu saat dirinya mati sebelum sempat menikah dengan Eleanor. Catatan tentang Ratu Firenzia kebanyakan dibuang, dibakar atau dihilangkan karena masa pemerintahannya dianggap sebagai masa terburuk dalam sejarah Nordhalbinsel oleh para bangsawan. Karena Sang Ratu yang berasal dari kaum rakyat biasa dianggap terlalu condong ke para rakyat dan membebankan pajak yang terlalu besar untuk para bangsawan. Meski sebenarnya, pada masa itu, para rakyat jauh lebih sejahtera dari pada masa kepemimpinan Raja-Raja terdahulu.


"Kau benar." Kata Xavier. "Itu bisa terjadi jika dia hanya memimpin untuk sementara waktu hingga anak yang dikandungnya cukup dewasa untuk menjadi Raja. Tapi tentu saja aku tidak akan membiarkan anak yang tidak memiliki darah keluarga kerajaan memimpin kerajaanku. Para penyihir menara bisa membuktikan bahwa anak itu tidak memiliki darah keluarga kerajaan begitu dia dilahirkan dan itu bisa membahayakan nama baik keluarga Winterthur. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan semuanya dan mengembalikan keadaan seperti semula. Untuk itu, aku akan membutuhkan Elle untuk menjaga takhta hingga saat aku kembali nanti."


“Baiklah. Katakan lah kita bisa membuat Elle menjadi Ratu Tunggal dengan Ratu Firenzia sebagai contoh. Tapi seperti yang kita semua ketahui, berbeda dengan sejarah Ratu Firenzia, anak yang dikandung Elle bukan anakmu. Dan Elle juga belum menikah denganmu. Jadi bagaimana dia bisa menjalankan rencananya?” Tanya Elias.


“Selama anak itu belum dilahirkan, kita bisa menganggap anak itu seolah benar-benar anakku. Lagi pula tidak ada yang tahu selain kita semua yang ada di sini.”


“Bagaimana caranya?”


“Aku akan memberitahumu caranya, Elias. Tugasmu akan sangat banyak mulai sekarang. Kuharap kau bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu. Dan kau juga perlu pergi ke Westeria secepat yang kau bisa untuk menemui Ratu Elizabeth."


"Maksudmu Ratu Eugene?"


"Maaf?"


"Ratu Eugene. Ratu Westeria yang sekarang. Kau mati selama berapa lama sampai tidak tahu Elizabeth sudah meninggalkan takhta dan Eugene dinobatkan sebagai Ratu Westeria?"


...****************...


Setelah Elias pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Xavier, malam sudah larut. Louis menyiapkan makan malam. Leon mengumpulkan beberapa kayu bakar untuk perapian mereka. Anna membantu Louis menyiapkan makanan mereka. Sementara itu, Ratu Isabella dan Xavier sedang berbincang-bincang di halaman. Saat itu tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan oleh Sang Ratu dengan Xavier. Tapi mereka berbincang-bincang cukup lama dan terlihat sangat serius.


"Apa kalian pernah mendengar tentang legenda empat naga?" Tanya Xavier sebelum memulai.


"Empat naga yang turun dari langit untuk membantu Ratu Agung Zhera? Ya, tentu saja pernah." Kata Leon.


"Ini mungkin akan sedikit sulit dipercaya...” Xavier melirik ke arah Anna sebelum melanjutkan. “Aku adalah salah satu dari empat naga itu. Naga Api Agung.”


Pernyataan Xavier mengundang beragam reaksi dari mereka. Louis tampak shock hingga lupa menutup mulutnya. Leon terlihat tidak mempercayainya sedikit pun. Sedangkan Ratu Isabella tampak tenang dan menunggu penjelasan lebih lanjut seolah sudah tahu akan fakta itu. Sementara itu, Anna hanya terdiam mendengarkan karena dia sudah tahu yang sebenarnya.


Bahkan saat Xavier mengatakan bahwa dia adalah Naga Api Agung, ingatan-ingatan dari masa seribu tahun yang lalu menyerbu masuk ke dalam kepala Anna. Potongan-potongan ingatan itu seolah memang miliknya dan sempat terlupakan untuk waktu yang sangat lama. Anehnya, Anna merasakan sesuatu seperti perasaan rindu yang sudah lama tertahan mengaliri hatinya. Kerinduan itu begitu menyakitkan dan menyesakkan sampai air matanya tiba-tiba mengalir tanpa dia sadari.


Dalam potongan-potongan ingatan itu Anna melihat dirinya berkuda di padang rumput yang luas bersama pria itu di pagi hari saat matahari bahkan belum terbangun dan udara masih sangat dingin. Sarapan pagi yang dibuatkan oleh pria itu saat dia merasa terlalu lelah untuk turun dari tempat tidur saat dia sedang mengandung dan perutnya sudah sangat besar. Sentuhan hangat di setiap waktu di mana hanya ada mereka berdua. Dan dansa-dansa mereka yang membuat waktu seolah tidak memiliki eksistensi. Semua kenangan itu menyerbunya saat Anna melihat Xavier sehingga membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri.


Anna benci mengakui ini, tapi dia ingin mengingat lebih banyak lagi kenangan masa lalu itu. Meski kadang terasa menyakitkan, nyatanya kenangan-kenangan masa lalu itu sangat indah. Sangat nyata dan sulit untuk ditolak.


Xavier yang merasakan perasaan sedih itu dari Anna segera menoleh ke arah Anna. Anna buru-buru menghapus air matanya sebelum semua orang menyadarinya. Dia sebisa mungkin mengalihkan tatapannya dari Xavier.


"Kau benar. Itu memang sulit dipercaya.” Kata Leon, memecah keheningan setelah pernyataan Xavier yang mengejutkan itu.


"Dia berkata jujur.” Kata Anna. "Leon, kita melihatnya di dekat Sungai Scheine, kau ingat?"


Leon kembali teringat pada Naga yang dilihatnya dari kejauhan itu di Sungai Scheine. Dia mengangguk, mulai mempercayai perkataan Xavier.


"Jadi Keempat Naga kembali hidup saat ini?" Tanya Louis. "Yang Mulia Putra Mahkota adalah Naga Api Agung. Lalu dimana tiga Naga lainnya?"


"Aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu apakah mereka sudah terlahir kembali atau belum." Kata Xavier.


"Hanya pemilik Mata Naga yang dapat mengetahuinya." Kata Ratu Isabella. "Pemilik Mata Naga dapat melacak keberadaan Naga."


Xavier mengangguk setuju. Bahkan Xavier juga tidak dapat mengetahui keberadaan Naga lainnya, kecuali jika dia sedang dalam wujud naga, dia mungkin bisa mencari ketiga naga lainnya.


"Mata Naga... Seperti milik Ratu Agung Zhera di masa lalu? Mata berwarna merah seperti api." Kata Leon, setengah merenung, mengingat kembali semua cerita legenda yang pernah didengarnya dari seluruh kenalannya di berbagai Kerajaan, lalu terkejut sendiri pada fakta yang sempat terlupakan. "Putra Mahkota Alexis memiliki Mata Naga."


"Benar. Alexis terlahir dengan Mata Naga." Ratu Isabella mengangguk setuju.


"Aku memang tidak tahu ke mana Putra Mahkota Alexis pergi, tapi kalau dugaanku benar, sepertinya dia pergi mencari Naga. Dia mungkin mencariku atau mencari Naga lainnya." Kata Xavier.


"Kenapa kau berpikir Alexis mencari Naga? Untuk apa?" Tanya Anna, lalu menatap Xavier dengan curiga. "Jangan rahasiakan apa pun lagi. Tolong, beritahu kami semuanya, Xavier. Kumohon." Pinta Anna.


Xavier tidak akan pernah bisa menolak permohonan dari Anna. Lagi pula sejak awal dia sudah bertekad untuk memberitahukan semua yang dia tahu pada Anna. Tapi saat ini, tidak hanya ada mereka berdua. Saat ini yang lain juga ikut mendengarkan. Jadi Xavier tampak ragu sesaat sebelum benar-benar bisa memberitahukan semua yang dia tahu.


"Ayahku, Raja Vlad, sudah mencari Jantung Naga sejak dua puluh tiga tahun yang lalu. Dia membutuhkan Jantung Naga untuk menghidupkan kembali Ibuku." Kata Xavier.


Semua yang ada di ruangan itu menunggu Xavier untuk melanjutkan ceritanya. Tak ada satu pun yang ingin menyela, jadi Xavier melanjutkan.


"Satu Jantung Naga dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Empat Jantung Naga dapat membuat hidup abadi. Selena memberitahunya hal itu sejak kematian Ibuku, Ratu Irene. Itulah sebabnya, sejak saat itu dia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari Jantung Naga."


"Kalau begitu kenapa dia tidak mengambil jantung putranya sendiri?" Tanya Leon.


"Seorang ayah tidak akan membunuh putranya sendiri." Kata Ratu Isabella.


"Sebagai ayahku, dia mungkin tidak akan melakukannya. Sebagai Raja, dia sangat mungkin melakukannya terlebih jika itu bisa membuat ibuku hidup kembali. Tapi dia tidak tahu bahwa aku adalah salah satu Naga yang sedang dia cari." Kata Xavier. "Bahkan penyihir terhebat di Nordhalbinsel, Permaisuri Selena, tidak dapat mengetahui keberadaan Jantung Naga. Tapi malam itu, Selena mengatakan bahwa dia merasakan energi kuat yang setara dengan keberadaan Naga di Istana Schiereiland. Raja Vlad yang mengira bahwa Raja Schiereiland adalah pemilik Jantung Naga, akhirnya membunuhnya. Tapi ternyata dia salah. Sepertinya itu hanyalah tipuan yang dibuat oleh Selena untuk mengambil alih Schiereiland. Saat itu aku sudah berusaha untuk mencegah Ayahku, tapi aku terlambat. Aku datang terlambat malam itu. Aku benar-benar minta maaf."


Anna terdiam. Dia tahu seharusnya dia marah. Tapi dia tidak bisa marah pada Xavier. Mungkin bisa, tapi rasanya dia tidak mau marah pada siapa pun. Dia terlalu lelah untuk menyalahkan siapa pun. Saat ini, jika dia punya energi lebih untuk marah, dia ingin mengalihkan energinya itu untuk mencari adiknya saja. Mencari Alexis, kemudian kembali ke Kerajaannya. Membangun kembali Schiereiland. Hanya itu yang dia inginkan sekarang.


"Kalau begitu, Alexis mungkin bertemu dengan Ayahmu dan membuat kesepakatan?" Tanya Anna.


Xavier mengangguk. "Itu juga dugaanku."


"Jadi Putra Mahkota Alexis mencari Naga untuk Raja Vlad? Tapi kenapa Alexis mau repot-repot? Setahuku, dia bukan anak yang suka membantu Raja yang sudah membunuh ayahnya." Kata Leon.


"Dugaanku, dia melakukannya untuk merebut kembali Schiereiland."


"Bukankah ada cara lain? Jujur saja, jika para bangsawan dan rakyat Schiereiland tahu bahwa Baginda Ratu, Putra Mahkota dan Putri masih hidup, kami berhak mengambil kembali kerajaan kami meski dengan perang sekalipun. Aku siap berperang untuk itu." Kata Leon.


Sang Ratu menggenggam tangan Leon, "Aku tidak akan mencegahmu, putraku. Jika memang harus dan tidak ada cara lain, kita akan berperang melawan Nordhalbinsel untuk mengambil kembali Schiereiland. Tapi saat ini, kita harus menemukan Alexis terlebih dahulu. Barulah kita bisa berperang melawan Nordhalbinsel jika memang tidak ada pilihan lain." Kata Ratu Isabella.


"Kalau Alexis mencari keberadaan Naga lainnya, dimana kita bisa menemukannya?" Tanya Anna, lebih kepada dirinya sendiri.


"Ada sebuah buku." Leon berkata, hampir sepelan bisikan. Tapi Anna mendengarnya.


"Buku apa?" Tanya Anna.


"Istoriya Proiskhozdeniya Drakonov."


"Kau bisa bahasa kuno? Pelafalanmu sempurna." Kata Xavier separuh terkejut.


"Itu judul bukunya. Sejarah Turunnya Para Naga. Lebih mirip seperti dongeng belaka bagi orang-orang Schiereiland. Tapi yang memberikannya padaku adalah orang yang paling tidak menyukai anak-anak yang mempercayai dongeng." Kata Leon. Kemudian menambahkan, "Guru pedangku dari Westeria memberikannya padaku di tahun pertama aku belajar pedang darinya."


"Kau ingat isi buku itu?" Tanya Anna.


"Yang Mulia, saat aku membacanya usiaku baru enam tahun. Yang kuingat, ada beberapa gambar ilustrasi di buku itu yang melukiskan tentang tempat-tempat dimana para naga turun untuk pertama kalinya ke bumi." Jelas Leon sambil terus berusaha mengingat apa saja tentang buku tersebut. "Apa Naga Api Agung tidak ingat apa pun?"


Xavier menggeleng. "Lagi pula seingatku bukan aku yang akhirnya berhasil menemukan mereka. Ratu Agung Zhera yang menemukan mereka." Kata Xavier sambil melirik penuh arti pada Anna.


Tapi Anna tidak mengingat apa pun tentang tiga naga lainnya. Jika saja semua ingatannya sudah kembali, dia mungkin bisa dengan mudah menemukan para Naga.


"Apa kau mengingat dimana kau menyimpan buku itu, putraku?" Tanya Ratu Isabella.


"Perpustakaan Istana."


"Mungkin buku itu sudah terbakar. Pasukan Nordhalbinsel membakar beberapa bagian Istana malam itu." Kata Xavier.


"Mungkin juga belum. Buku itu kutaruh di peti yang terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar karena itu benda berharga pemberian dari guruku."


"Kalau begitu, kita harus kembali ke Schiereiland." Sahut Anna.


...****************...