
Kediaman Duke Francis sangat ramai pagi itu. Nicholas Francis memang dikenal sebagai bangsawan yang paling dermawan dan merakyat di seantero Schiereiland. Semua warga Duchy Francis diundang untuk merayakan pesta pernikahan Nicholas dengan Rumelle yang kini bergelar Duchess Francis. Makanan dan wine gratis disediakan untuk semua warga yang datang. Musik memenuhi ruangan. Semua orang berdansa dengan bebas.
Tidak ada aroma parfum mewah, tidak ada gaun dan perhiasan mahal yang berkilauan di lantai dansa, tidak ada obrolan politik. Pesta hari itu adalah pesta khusus untuk rakyat biasa. Meski begitu, mereka tetap mengenakan pakaian yang rapih, pakaian yang cukup layak dikenakan di acara yang berbahagia itu. Beberapa warga yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian yang layak, datang dengan mengenakan jubah yang menutupi gaun bertambal-tambal. Termasuk diantaranya adalah seorang pemuda dan pemudi yang baru datang. Mereka mengenakan jubah panjang yang menutupi pakaian serta wajah mereka. Mereka menghampiri Duke Francis yang sedang mengobrol bersama salah satu tamunya.
"Lama tidak bertemu, Nick." Sapa pemuda itu.
Nicholas mengerutkan keningnya. Sapaan itu tidak lazim digunakan oleh warganya. Mereka semua biasa menyebutnya sebagai Yang Mulia atau Duke Francis. Tidak ada yang menyebutnya dengan nama kecilnya. Tidak ada, kecuali...
Pemuda itu membuka tudung jubahnya dan memperlihatkan rambut hitam berkilau serta mata emeraldnya. Nicholas hampir menjatuhkan gelas wine-nya saking terkejutnya melihat temannya yang dikabarkan sudah mati itu. Dia buru-buru minta maaf pada tamu yang tadi bicara dengannya dan mengatakan dia ada sedikit urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan. Dia kemudian memberi isyarat pada Xavier untuk mengikutinya menuju ruang kerjanya.
Setelah mereka masuk ruang kerjanya, Nicholas meminta para pengawalnya untuk menjaga pintu agar tidak ada yang masuk.
"K-Kau... Apa—Kenapa kau ada di sini?" Tanyanya, masih terbata-bata saking terkejutnya. Dia mengecilkan volume suaranya, "Semua orang bilang kau sudah mati. Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Kau pasti sangat senang mendengar berita kematianku sampai-sampai kau mengadakan pesta pernikahan semeriah ini." Kata Xavier. "Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu, tentu saja. Semoga kau bahagia."
"Katakan saja apa maumu lalu cepat pergi sebelum ada yang melihatmu. Aku tidak mau ada pertumpahan darah di sini. Aku harus melindungi wargaku." Kata Nicholas. Suaranya terdengar takut.
"Tenang lah. Tidak perlu tegang seperti itu. Tidak ada yang tahu aku ada di sini."
"Lalu siapa dia?" Nicholas menunjuk pada satu lagi sosok yang mengenakan jubah di samping Xavier yang wajahnya tidak terlihat karena ditutupi tudung dan sejak tadi terus menunduk tanpa bicara.
Xavier tersenyum, "Aku senang kau bertanya. Silahkan perkenalkan dirimu, Yang Mulia Putri." Kata Xavier dengan sangat formal.
"P-Putri?"
Tepat saat Nicholas akan membuka mulutnya lagi untuk menanyakan apa maksudnya, orang yang ada di sebelah Xavier itu membuka tudungnya, memperlihatkan rambut pendeknya yang berwarna merah serta mata cokelat keemasan. Dia tidak mengenakan gaun mahal maupun ribuan permata yang seharusnya dimiliki oleh seorang Putri, tapi Nicholas tetap mengenalinya. Siapa pun yang pernah melihatnya secara langsung, mustahil salah mengenali rambut merah yang langka itu.
Sekarang setelah Anna tidak perlu menyembunyikan wajahnya lagi di balik tudung jubahnya, dia dapat melihat wajah mantan tunangannya itu dengan jelas. Anna tidak benar-benar ingat kapan terakhir kali mereka saling berhadapan seperti saat ini. Sejak pertunangannya dibatalkan, Anna tidak pernah lagi bertemu dengan Nicholas. Meski beberapa kali Nicholas sempat datang ke Istana untuk urusan politik, Anna sebisa mungkin tidak menemuinya dan tidak mengizinkan Nicholas untuk menemuinya.
Nicholas tampak agak berbeda, dia lebih kurus dari yang Anna ingat, mungkin kondisi kerajaan saat ini memengaruhi kesehatannya. Keluarga Francis secara turun temurun memiliki rambut berwarna cokelat gelap, tapi Nicholas memiliki rambut pirang keemasan yang dia warisi dari ibunya. Dia tampan, Anna mengakuinya sejak pertama kali melihatnya. Nicholas di usianya yang masih muda sudah menjadi seorang Duke setelah kematian ayahnya, memerintah Duchy Francis dengan sangat baik. Dia juga cerdas dan dermawan, dan memperlakukan Anna dengan sangat sopan. Nicholas akrab dengan mendiang Raja Edward, mereka sering membicarakan berbagai hal bersama mulai dari urusan politik hingga pesta perburuan yang diadakan istana setiap sebulan sekali. Bahkan Ratu Isabella sering memujinya. Tidak ada alasan bagi Anna untuk menolak ide pertunangan itu saat pertama kali ayahnya mencetuskan rencana itu. Tidak ada, sampai Anna akhirnya mengetahui bahwa sebenarnya pria itu sudah terlebih dahulu mempunyai seorang kekasih sejak sebelum mereka bertunangan. Dan Nicholas tidak berencana melepaskan kekasihnya itu meski sudah bertunangan dengan Anna saat itu.
Mata Nicholas yang berwarna biru kelabu menatap Anna dengan ekspresi terkejut.
"Selamat atas pernikahanmu, Duke." Kata Anna sambil tersenyum seramah mungkin.
Pupil mata Nicholas melebar. "Putri Anastasia?" Dia hampir jatuh berlutut saking terkejutnya melihat kehadiran mantan tunangannya itu. "Y-Yang Mulia Putri..." Nicholas mengamati Anna baik-baik, mencari tanda-tanda bekas penyiksaan. Dia melempar tatapan tajam ke arah Xavier dan kembali menatap Anna dengan tatapan bersalah. "Apa kau terluka, Yang Mulia? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia menawanmu? Dia mengancammu? Di mana Jenderal Leon?"
"Seperti yang kau lihat, Duke. Aku baik-baik saja." Jawab Anna dengan tenang, mengabaikan pertanyaan yang terakhir itu karena tidak dapat menjawabnya. Anna tidak bisa tidak teringat pada Leon saat tadi Nicholas mengamatinya sama seperti cara Leon mengamatinya, mencari tahu apa dia terluka. Anna tahu Nicholas bukan orang yang jahat. Nicholas benar-benar pria yang baik. Namun bukan orang yang tepat untuknya.
Nicholas kembali menghadapi Xavier, seolah sedang menuduhnya. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mencarinya dan tidak mengganggunya, Xavier! Aku sudah memohon padamu. Kenapa kau melakukan ini? Kenapa Yang Mulia Putri bersamamu? Apa yang kau rencanakan?"
"Aku tidak mengganggunya, Nick." Nada suaranya tenang dan dingin. "Aku sedang mengganggumu." Xavier kemudian beralih pada Anna, dengan sikap yang sangat formal layaknya seorang pangeran kepada seorang putri dia berkata, "Silahkan duduk, Yang Mulia. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh ke sini. Nick akan menyuruh pelayannya untuk menyiapkan teh dan camilan manis selagi kau menunggu."
Anna mengikuti instruksi itu. Xavier mengatakan bahwa dia harus bersikap layaknya Putri dari Schiereiland yang tidak pernah tahu rasanya hidup dengan mimpi buruk, yang tidak pernah menjadi pengawal pribadinya, yang tidak pernah hampir mati berkali-kali. Jadi dia mengikuti sandiwara itu. Menjadi seperti dirinya yang dulu. Putri kerajaan yang hanya tahu hidup bahagia di dalam istana.
"Kau masih ingat teh kesukaanku kan, Duke Francis? Atau aku perlu mengingatkanmu lagi?" Tanya Anna sebelum duduk di salah satu sofa di ruangan itu.
"Aku ingat, Yang Mulia. Teh earl grey pekat dengan susu sedikit. Aku akan meminta pelayan menyiapkannya segera."
"Terima kasih. Dan aku ingin macaron sebagai camilannya." Dia kemudian menambahkan, "Rasa vanila dan stroberi."
Nicholas buru-buru meminta bawahannya yang menunggu di depan pintunya untuk menyuruh pelayan menyiapkan teh dan camilan yang Anna minta.
"Aku tidak tahu kau suka macaron." Bisik Xavier pada Anna setelah duduk di sampingnya. "Dan teh earl grey? Maksudku, aku ingat kau suka camilan manis dan teh pekat. Ternyata seleramu masih tetap sama."
Yang Xavier maksudkan adalah selera Zhera seribu tahun yang lalu. Tapi Anna mengerti maksudnya.
Anna mengangkat bahu dengan enteng, "Aku suka semua camilan manis, tapi seribu tahun yang lalu macaron belum diciptakan. Dan aku masih menyukai semua jenis teh yang diseduh pekat. Tapi teh earl grey lah yang biasa disajikan di Istanaku di Schiereiland. Aku merindukan cita rasa teh itu. Seseorang membuatku tidak bisa lagi menikmati teh itu di Istanaku setelah menyerang kerajaanku dan membunuh ayahku."
Penyesalan dan rasa bersalah itu kembali terlihat dari raut wajah Xavier. "Maafkan aku..."
"Sudah lah." Anna berusaha tidak membahasnya lagi karena ternyata dia tidak mau sepenuhnya menyalahkan Xavier atas apa pun yang terjadi malam itu. "Kalau aku tidak salah hitung kau sudah puluhan kali mengucapkannya hari ini. Asal kau tahu saja, aku tidak benar-benar menyalahkanmu, Xavier. Sekarang, ayo kembali ke peran kita."
"Apa yang kau inginkan, Xavier?" Tanya Nicholas kembali usai memberi perintah pada bawahannya.
"Putri Anastasia adalah 'Yang Mulia', tapi aku hanya 'Xavier'? Aku tersinggung." Kata Xavier sambil mendecak. "Pertama-tama, silahkan duduk dulu, Nick."
...****************...
"Tempat istirahat, pakaian baru, pelayan, dan pasukan. Juga makanan enak." Xavier menyebutkan apa yang dia inginkan dari Nicholas setelah menyesap tehnya. Anna di sampingnya sedang melahap macaron keduanya yang berwarna merah muda. Rasa stroberi. Xavier tidak bisa menahan senyum saat melihat Anna dapat kembali makan dengan lahap usai kepergian Leon. Dia menambahkan pada Nicholas, "Dan koki yang dapat membuat macaron serta segudang teh earl grey."
Versi cerita yang diceritakan Xavier pada Nicholas adalah versi yang tidak seratus persen benar dan sudah dibumbui berbagai kebohongan : Putra Mahkota Nordhalbinsel yang dinyatakan mati ternyata terhanyut di sungai. Putri dari Schiereiland yang entah bagaimana terpisah dari pengawal pribadinya menemukannya dan menyelamatkan nyawanya. Merasa berhutang nyawa, Putra Mahkota Nordhalbinsel itu memutuskan untuk membantu Sang Putri untuk kembali ke kerajaannya dan merebut kembali kekuasaannya. Dan untuk itu, mereka membutuhkan bantuan dari Nicholas Francis yang masih memegang kekuasaan sebagai Duke.
"Apa?" Tanya Nicholas.
"Oh, perlu kuulangi? Tempat istirahat, pakaian—“
"Aku tahu, Xavier. Aku mendengarnya. Tapi kenapa kau butuh pasukan juga? Kau mau berperang?"
"Aku kan sudah bilang. Aku berhutang nyawa pada Putri Anastasia jadi aku memutuskan untuk membantunya merebut kekuasaannya dari kerajaan yang sudah menganggap diriku sudah mati. Siapa yang tahu siapa saja yang telah merencanakan kematianku di kerajaanku sendiri. Aku tidak bisa mengambil risiko dengan kembali ke Istanaku saat ini."
"Untuk itu, kami butuh Istanaku." Kata Anna, melengkapi kata-kata Xavier seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
"Istana?" Ulang Nicholas.
"Tempat istirahat yang disebutkan oleh Yang Mulia Putra Mahkota tadi. Istana. Kau memberikanku Istana sebagai hadiah pertunangan kita. Istana itu sudah menjadi milikku. Bahkan walaupun pertunangan itu dibatalkan, pemilik sah Istana itu tetap aku. Istana itu adalah satu-satunya tempat yang tidak diketahui oleh pihak Nordhalbinsel, jadi disana pasti aman."
"Kurasa itu akan sulit, Yang Mulia." Kata Nicholas.
"Kenapa?"
"Aku dan istriku berencana pergi ke sana tepat setelah acara di sini selesai." Sepintas ada rasa bersalah di raut wajah Nicholas saat menyebut Rumelle dengan sebutan 'istriku' di depan Anna. Tapi saat melihat Anna tidak bereaksi sama sekali, dia melanjutkan, "Para warga juga akan berada di jalanan menyambut kedatangan kami. Akan sangat sulit untuk kalian pergi ke sana."
Xavier tampak berpikir sejenak. Dia menatap Anna dan Nicholas bergantian. Lalu tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Nicholas, ada apa? Apa aku boleh masuk?"
Anna memang tidak pernah bertemu dengan Rumelle Rochelle yang kini sudah menjadi istri dari mantan tunangannya itu. Tapi Anna yakin itu suaranya.
Nicholas tampak tegang. Dia baru akan mengatakan sesuatu tapi Xavier mengisyaratkannya untuk diam. "Aku ingin bertemu dengan mempelai wanita. Persilahkan dia masuk. Tapi jangan beritahu dia siapa kami. Biar aku yang memberitahunya."
Nicholas menurutinya seolah tidak punya pilihan lain. Dia membukakan pintu dan menuntun masuk seorang gadis seusia Anna mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Anna sudah buru-buru mengenakan kembali tudung jubahnya, menutupi rambut merahnya. Dia dan Rumelle mungkin sama-sama belum pernah bertemu satu sama lain dan tidak mengetahui wajah satu sama lain, tapi beberapa putri bangsawan di Schiereiland biasanya tahu bahwa Putri Kerajaan mereka memiliki warna rambut merah yang sangat langka.
Rumelle memiliki tata krama yang luar biasa. Meski dia belum tahu siapa tamu dari suaminya itu, dia lebih dulu menyampaikan salam hormat. Anna tahu alasannya. Nicholas tidak akan mengundang sembarang orang masuk ke ruang kerjanya. Hanya bangsawan, atau anggota keluarga kerajaan.
Anna menoleh ke arah Xavier yang tampak sedang menilai Rumelle. Lalu Xavier menoleh ke arah Anna. Melihat gaunnya. Lalu melihat gaun pengantin Rumelle. Tiba-tiba Anna menyadari apa yang sedang direncanakan Xavier.
Xavier membalas salamnya, "Senang bertemu denganmu, Duchess. Nicholas mungkin belum menceritakannya, tapi kami adalah teman baik. Dan seperti yang kau tebak dari aksen bicaraku, aku memang berasal dari utara." Anna menyadari gaya bicara Xavier terdengar lebih angkuh. Lebih ningrat daripada biasanya. Benar-benar terdengar seperti orang-orang utara yang terkenal sombong. Senyumnya penuh siasat saat menoleh ke arah Nicholas di samping Rumelle yang tampak tegang. "Nicholas yang cerdas, pasti memiliki istri yang luar biasa cerdas juga. Kuduga kau sudah bisa menebak siapa aku."
Rumelle mengangguk sambil masih menunduk, tidak berani menatap ke arah Xavier seolah benar-benar sudah tahu siapa Xavier hanya dari beberapa kalimat itu saja. "Merupakan kehormatan yang amat besar bagi kami dapat menyambut Anda di rumah ini, Yang Mulia Raja Nordhalbinsel."
Anna terkejut mendengarnya. Dia bertanya-tanya bagaimana Rumelle bisa mengetahui hal itu. Bahkan Rumelle menyebut Xavier sebagai Raja. Bukan lagi Putra Mahkota.
"Belum." Tapi Xavier tersenyum puas. "Aku belum melalui proses penobatan. Untuk itu, aku harus kembali dulu ke kerajaanku. Dan aku butuh bantuanmu, Duchess."
"Saya akan membantu Anda, Yang Mulia. Apa pun itu."
"Rumelle—“ Nicholas baru akan menyela, tapi Rumelle menggenggam tangannya dengan erat seolah menjadi isyarat bagi Nicholas untuk mempercayakan hal ini pada Rumelle.
Kini Rumelle memberanikan diri menatap Xavier di hadapannya. Anna melihat tekad kuat dari tatapannya yang berapi-api. Anna mengerti apa yang disukai Nicholas dari gadis itu. "Saya akan melakukan apa pun asalkan warga kami tetap selamat." Tak ada sedikit pun ketakutan pada nada suara Rumelle saat mengatakannya.
"Tentu saja." Kata Xavier, masih dengan tingkat keangkuhan yang tadi. "Apa kau punya gaun pengantin lain, Duchess?"
...****************...