The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 35 : Le Donjon



Ludwig memperhatikan ujung anak panah itu. Hitam. Racun mematikan.


"Morta. Dari mana—“ Kata-katanya terhenti begitu saja saat dia menyadarinya. Matanya menyipit, tak percaya. Suaranya sepelan bisikan. "Kau mencurinya dariku? Untuk membunuhku?"


Anna memperhatikan sekitarnya. Ada sekitar dua puluh atau lebih pengawal Ludwig. Bukan hal yang sulit untuk dihadapi oleh mereka bertiga, terlebih lagi saat ini, tanpa disadari siapa pun, beberapa anggota Red Queen sudah memasuki menara akibat keributan yang terjadi di tempat itu. Yang sulit adalah menghadapi sihir Ludwig. Bahkan Eleanor masih diam tak bergerak.


Tapi saat Anna melihat kilatan singkat di mata Eleanor, matanya yang sesaat berubah warna menjadi biru es kemudian kembali menjadi kelabu, Anna tahu artinya.


Eleanor bukan diam karena sihir Ludwig menahannya. Eleanor menanti saat yang tepat saat Ludwig sedang lengah. Constanza sepertinya turut menyadari hal itu, karena Anna melihat Eleanor mengangguk singkat pada Constanza.


Constanza tidak tampak takut sedikit pun meski dua puluh pedang dihunuskan padanya. Dia menatap Ludwig, mengumpulkan kobaran dendam dan kebencian itu dalam satu tatapan mematikan. Seolah dia belum pernah mendengar pengakuan dari Feyna tentang apa yang terjadi pada Ludwig selama ini. Tentang apa yang sudah dilakukan oleh Ludwig untuk adik-adiknya.


"Aku mempelajarinya dari kaummu. Mencuri dan membunuh." Suara itu sarat penghinaan dan penuh kebencian. "Mencuri kerajaan kami dan membunuh raja serta rakyat kami. Membunuh orang tuaku! Bedanya, skala yang kulakukan tidak sebesar itu, Ludwig sayang."


Saat itulah, saat Constanza menyebut nama Sang Pangeran—meski dengan cara yang kasar, Anna bersumpah melihat tatapan Ludwig mencair seperti salju terakhir di awal musim semi. Kerinduan terpancar dalam tatapan sedingin es itu tak peduli seberapa keras usaha Ludwig untuk menyembunyikannya. Anna melirik ke arah Eleanor yang sudah tersenyum puas. Dari ekspresi itu, Anna tahu Eleanor sudah melakukan sesuatu dengan sihirnya tanpa sepengetahuan siapa pun. Bahkan Ludwig tidak sadar bahwa jerat sihirnya sudah hilang dari Eleanor.


Ludwig menurunkan pedangnya dari leher Eleanor.


"Turunkan senjata kalian." Suara itu dingin. Perintah mutlak dari putra kedua Raja. Bahkan Anna sendiri terkejut saat mendengarnya. Cara bicara itu milik Eleanor meski kata-kata itu keluar dari bibir Ludwig.


Para pengawal tampak bingung. Mereka saling menatap rekan mereka, ragu untuk menurunkan senjata. "Tapi, Yang Mulia—“


"Turunkan! Ini perintah!" geramnya.


Serentak semua pengawalnya menurunkan pedang mereka masing-masing. Constanza turut menurunkan busur dan anak panahnya setelah melihat isyarat dari Eleanor.


Anna tahu apa yang terjadi. Ini masuk ke dalam rencana mereka, meski Anna tidak menyukai cara ini. Eleanor sebelumnya sudah mengatakan padanya bahwa dia mungkin akan menggunakan sihir yang dilarang jika mereka dalam keadaan terdesak. Sihir hitam yang pernah dipelajari oleh leluhurnya dari Klan Grimoire. Mengendalikan orang lain. Ludwig saat ini dikendalikan oleh Eleanor, menjadi bonekanya. Anna merasa sangat bersyukur bahwa Sang Ratu adalah sekutunya. Tidak terbayang jika Eleanor menjadi musuhnya, akan sangat mustahil melawannya.


"Tidak akan mudah, terlebih saat ini aku hanya memiliki setengah dari kekuatan sihirku yang biasa. Aku hanya bisa menggunakannya sebentar saja. Dan setelahnya, selama beberapa saat, aku tidak akan bisa melakukan sihir apa pun, sesederhana apa pun. Tapi ini tidak akan berbahaya. Ini memang berisiko, tapi pasti berhasil." Jelas Eleanor sesaat sebelum mereka memasuki menara.


"Adakah syaratnya? Cara agar sihir itu berhasil?"


"Kita harus tahu kelemahannya. Bukan secara fisik. Tapi kelemahan hatinya."


Kelemahan Ludwig adalah Constanza. Eleanor berhasil menggunakan sihir itu saat tadi Constanza menyebut nama Ludwig. Dia merindukan Constanza Dia merindukan namanya disebut oleh mantan tunangannya itu. Kerinduannya itu melemahkan hatinya. Menurunkan kewaspadaannya. Hingga akhirnya melemahkan sihirnya.


Tak lama setelah para pengawal menurunkan pedang mereka masing-masing, dengan satu isyarat dari Constanza, puluhan anak panah membanjiri mereka dari atas. Anggota Red Queen membuat mereka semua pingsan. Anna mengamati, memastikan tidak ada yang terluka parah atau mati sebelum melanjutkan jalan menuju kurungan para budak anak-anak.


Dengan dikendalikannya Ludwig, mereka dapat mengetahui lokasi para budak anak-anak itu dikurung. Tidak hanya itu, Ludwig mengantarkan mereka langsung. Saat melewati penjaga, para anggota Red Queen kembali menembakkan panah mereka. Membuat mereka pingsan. Menggunakan sihir Eleanor akan membuat pekerjaan mereka semakin lebih mudah. Melumpuhkan penjaga, membebaskan anak-anak dan lainnya. Tapi saat ini, Eleanor harus memusatkan seluruh kekuatan sihirnya yang tersisa untuk mengendalikan Ludwig sampai batas akhirnya.


Anna terus menerus memperhatikan Eleanor sambil berjalan memasuki kurungan bawah tanah. Kulit Eleanor mulai memucat. Kilau biru es pada matanya meredup. Ada beberapa tetes keringat di keningnya. Jika penggunaan sihir biasa membuat para penyihir semakin muda dan rupawan, penggunaan sihir hitam akan mengikis energi dan hidup mereka dengan cepat. Bahkan nafasnya kini terengah seolah dia sedang mengangkat beban berat. Eleanor memegangi perutnya—janinnya.


"Ini terlalu berisiko. Jangan memaksakan diri—“


"Aku bisa. Ini tidak sesulit itu. Aku masih bisa melakukannya. Jangan khawatirkan aku dan fokus pada rencana." Kata Eleanor sambil terus mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempertahankan kendalinya atas Ludwig. "Dia berusaha melawan. Jauh di dalam sana, dia sedang melawan kendaliku. Putra Selena benar-benar tidak bisa diremehkan." Eleanor menjelaskan. Dia kemudian menoleh kembali pada Anna dan berkata, "Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Jadi kau tidak perlu memasang ekspresi seperti itu. Ini penebusan dosa bagiku, setelah apa yang sudah kulakukan padamu."


"Apa maksudmu?"


"Malam itu di taman Tulip Kristal, aku yang mendatangkan hujan—ilusi hujan lebih tepatnya. Aku membuatmu teringat kembali pada kejadian mengerikan itu. Sekarang setelah aku tahu bagaimana rasanya melihat orang yang ku sayangi dibunuh di depan mataku, aku sadar betapa kejamnya perbuatanku saat itu. Bagimu, itu hujan, bagiku... api. Api yang kulihat membakar kekasihku. Terkadang aku masih kesulitan bernafas setiap kali melihat api—aku bahkan tidak menyalakan perapian di Istana sedingin apa pun udara di sana—karena terus teringat pada kejadian itu. Hal itu benar-benar mengerikan. Perasaan seolah kejadian itu terus diputar berulang kali di depan mata. Aku sudah berbuat jahat padamu. Maafkan aku."


"Tidak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja sekarang." Xavier sudah menyembuhkanku. Tapi Anna tidak mengatakan itu.


"Tetap saja. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu dan rakyat Schiereiland. Aku tidak ingin namaku tercatat dalam sejarah sebagai ratu yang kejam. Sebagai penyihir jahat. Sekarang saja sudah banyak rakyat di selatan sini yang membenciku dan memberiku sebutan-sebutan yang kurang mengenakan hati. Aku hanya ingin namaku dikenang sebagaimana kau dikenang dalam sejarah. Diagungkan dan dipuja."


Diagungkan dan dipuja. Kata-kata Eleanor itu terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Anna memang tahu itu. Betapa sosok dirinya di masa lalu dianggap sebagai pahlawan, sosok kudus, Ratu yang tidak tergantikan di hati para rakyatnya. Literatur kuno tentang dirinya ada banyak sekali dan di terjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan masuk ke dalam sejarah kuno yang wajib diketahui oleh semua orang baik bangsawan maupun rakyat jelata. Kisah-kisahnya diceritakan dari mulut ke mulut oleh orang tua ke anaknya. Betapa masa kepemimpinan Ratu Agung Zhera adalah masa keemasan. Semua rakyat hidup makmur dan sejahtera.


Tapi dirinya yang sekarang tidak merasa seperti itu. Dia hanya seorang putri kerajaan yang sudah terlalu sering bergantung pada orang-orang di sekitarnya sehingga tidak dapat melakukan apa pun saat satu persatu orang-orang di sekitarnya harus pergi. Pertama ayahnya, Sang Raja yang meninggalkannya. Tanpa ayahnya, dia bahkan bukan lagi seorang putri kerajaan karena kerajaannya direnggut darinya. Lalu tanpa ibu dan adiknya, dia merasa seperti bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, sehingga dia bertekad untuk menemukan ibu dan adiknya. Beruntung saat itu Leon masih ada bersamanya. Tapi kemudian Leon juga pergi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Leon pergi meninggalkannya saat dia sedang sangat membutuhkan Leon di sisinya. Dia sudah terlalu sering bergantung pada Leon, sudah terlalu terbiasa dengan keberadaannya di sekitarnya sehingga saat Leon pergi, dia merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Seperti kehilangan sebelah tangan atau sebelah kaki.


Dan saat dirinya mulai belajar untuk menerima bahwa Leon tidak akan selamanya berada di sisinya, bahwa Leon suatu hari nanti akan memiliki hidupnya sendiri, bukan sebagai pasangannya maupun pengawalnya, di saat itu, Xavier ada untuknya. Mengisi hari-harinya dan menemaninya. Mencintainya. Tapi tidak lama setelah dia mulai terbiasa dengan keberadaan Xavier di sekitarnya, dengan perhatiannya, hal itu juga direnggut darinya saat racun menumbangkannya.


Semesta seolah sedang menyuruh Anna untuk belajar mengatasi semuanya sendiri.


Dia menoleh ke sampingnya, ke arah Sang Ratu Nordhalbinsel. Eleanor bisa memimpin negerinya seorang diri tanpa seorang Raja meski semua di sekitarnya tampak memusuhinya dan meragukannya. Lalu di sisi lainnya, Constanza, yang bangkit sendiri dan mengumpulkan pasukannya sendiri untuk melawan penjajahan Nordhalbinsel di tanah airnya. Tiba-tiba saja Anna mendapat keyakinan bahwa dia juga pasti bisa melalui semua ini seperti halnya Eleanor dan Constanza.


Tapi saat dirinya sampai di ruang bawah tanah, dimana sel-sel jeruji besi berderet di sepanjang lorong berpenerangan temaram, menampilkan anak-anak Schiereiland yang dikurung, dia merasa hancur seketika. Anak-anak itu berusia sekitar lima sampai dua belas tahun. Anna tidak bisa membedakan mana yang putra-putri bangsawan dan mana yang berasal dari kalangan rakyat biasa karena mereka semua sama-sama mengenakan pakaian yang lusuh dan tampak kurus seperti kurang gizi. Tubuh mereka penuh luka—luka lebam, luka cambuk, luka nanah, luka bakar dan lainnya. Udara rasanya dipenuhi bau darah dan luka nanah dari anak-anak itu. Anak-anak itu bahkan tidak repot-repot mendongakkan kepala saat melihat pintu menuju penjara mereka terbuka. Seolah tahu, siapa pun yang membuka pintu itu, tidak akan bisa menyelamatkan mereka keluar dari menara. Seolah harapan telah diusir dari mata yang seharusnya menyimpan ribuan impian. Mereka masih hidup, tapi harapan mereka telah lama mati.


Bahkan saat Eleanor susah payah menggunakan sihirnya untuk membukakan sel-sel mereka, mereka sama sekali tidak beranjak. Mereka hanya duduk diam dan menatap dengan kosong.


"Apa yang terjadi pada mereka semua?" Constanza bertanya, tidak pada siapa pun.


"Kalian semua sudah bebas. Ayo cepat keluar dari sini." Ucap Anna. Dia tidak dapat menyembunyikan suaranya yang bergetar. Anna kemudian berjongkok di hadapan salah satu anak perempuan dengan rambut pirang yang kotor. Dia sama sekali tidak mengenali anak itu. Anak itu hanya salah satu dari puluhan anak-anak Schiereiland yang telah dirampas harapannya oleh orang-orang dewasa yang kejam. "Siapa namamu?" Anna mencoba bertanya dengan suara sepelan mungkin.


Anna kemudian menyadari tiap anak memakai papan bertuliskan angka yang terbuat dari kayu yang dikalungkan di leher mereka. Mereka bahkan tak lagi bernama. Mereka hanya angka-angka yang dikumpulkan para penyihir menara untuk mengisi kekuatan mereka dan membangun menara mereka. Tidak ada rantai yang mengikat mereka, pintu-pintu sel penjara pun sudah dibuka lebar oleh sihir Eleanor. Tapi tidak satu pun dari mereka yang pergi meninggalkan tempat itu.


"Mereka... bahkan tidak mengingat... nama mereka sendiri." Eleanor tampak kesulitan berkata-kata. Bukan hanya karena shock, Anna menyadari. Eleanor kembali ke wajah aslinya. Sihirnya tidak cukup kuat untuk mempertahankan penyamarannya. Kekuatan sihirnya hampir terkuras habis. Tidak lama lagi, Pangeran Ludwig akan terbebas dari kendali Eleanor.


"Kita harus cepat membawa mereka semua keluar sebelum ada yang menyadari bahwa para penjaga pingsan. Sebelum efek racun dari panah Red Queen hilang." Kata Constanza. Sambil mengatakannya, matanya sibuk mencari-cari di antara puluhan anak-anak itu. Anna tahu dia masih belum bisa memercayai ucapan Feyna tentang Pangeran Ludwig yang mengamankan adik-adiknya. Constanza masih mencari tiga adiknya di ruangan penuh sesak itu.


"Apakah ada cara yang dapat membuat mereka semua keluar dari sini?" Tanya Anna.


"Sihir pengendalian. Jika saja aku cukup kuat untuk mengendalikan semua anak-anak ini dengan sihirku sebagaimana aku mengendalikan Pangeran Ludwig. Atau sihir teleportasi, tapi aku hanya bisa melakukannya satu-persatu. Akan sulit untuk membawa mereka semua sekaligus. Aku mungkin bisa—“


"Tidak." Anna langsung memotong ucapan Eleanor. "Sudah cukup. Jangan menggunakan sihirmu lagi. Bahkan sekarang pun kekuatan sihirmu sudah hampir mencapai batasnya. Kalau kau memaksakan diri, bisa berakibat buruk padamu dan janinmu."


Anna memikirkan beragam skenario untuk membuat anak-anak ini bisa pergi dari ruang bawah tanah itu secepatnya. Sihir mungkin bisa mengembalikan kesadaran anak-anak itu. Tapi saat ini, satu-satunya penyihir yang memihak mereka justru sedang kesulitan.


Sementara itu, Constanza berusaha menyadarkan anak-anak itu dengan mengajak mereka bicara dan menjelaskan pada mereka bahwa mereka sudah bebas dan boleh keluar. Tapi tak satu pun dari anak-anak itu yang menghiraukannya.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Para anggota Red Queen yang sudah berhasil memasuki menara saat ini sedang berjaga di ambang pintu menuju penjara bawah tanah ini. Bersiap dengan panah mereka. Tapi para anggota Red Queen itu, sama halnya dengan Anna dan Constanza, tidak dapat melakukan banyak hal untuk membuat puluhan budak anak-anak ini beranjak dan pergi.


Saat mereka sedang berusaha mengajak anak-anak itu untuk keluar, dengan kata-kata maupun berusaha membuat mereka berdiri, Anna mendengar suara jatuh yang keras.


"Eleanor!"


Wajah Sang Ratu tampak sangat pucat. Keringat dingin melapisi kulitnya. Nafasnya terengah-engah. Dia duduk, merintih kesakitan sambil memegang perutnya.


Anna langsung menghampiri Eleanor. Sang Ratu berusaha berdiri, tapi langsung jatuh lagi. Bahkan dia tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri, jadi Anna membantunya berdiri. Tenaganya terkuras habis.


Kekuatan sihirnya terkuras habis.


Saat Anna menoleh ke arah Pangeran Ludwig yang sudah terbebas dari kendali sihir Eleanor, Constanza sudah memojokkannya dan menahannya dengan belati ditempelkan ke leher Sang Pangeran. Anna refleks mengeluarkan pedangnya, bersiap jika harus melawan Ludwig.


Tapi Ludwig bahkan tidak tampak melawan. Dia hanya menatap Constanza yang masih mengancamnya dengan belatinya.


"Pergi lah." Kata Ludwig, pelan dan tenang seolah tidak ada belati yang siap menyayat lehernya kapan saja. Matanya tidak beralih dari Constanza. "Anak-anak itu tidak akan bisa kalian selamatkan. Mereka sama saja sudah mati."


"Mereka belum mati. Jantung mereka masih berdetak. Mereka masih bernafas. Mereka belum mati!"


"Jiwa dan pikiran mereka telah tiada." Kali ini Ludwig menoleh pada Eleanor yang hampir pingsan. Pupil matanya melebar saat melihatnya. Anna turut melihat ke arah pandang Ludwig. Anna tahu apa yang dilihatnya hingga dia tampak terkejut seperti itu. Gaun panjang Sang Ratu tersingkap sedikit, memperlihatkan kaki telanjangnya. Darah mengalir di sana. Darah. Sesuatu terjadi pada kandungannya. "Cepat! Dia bisa mati. Atau paling tidak bayinya tidak akan selamat. Kalian harus membawanya pergi ke tabib secepatnya. Kalau kalian menunda, para penyihir menara akan segera datang dan tidak satu pun dari kalian akan selamat."


Tapi Eleanor menggeleng, menatap Anna. Tatapan itu menyiratkan kekukuhannya. "Aku baik-baik saja. Aku bisa menyembuhkan diriku sendiri. Kita harus menyelamatkan anak-anak ini."


"Jangan gila! Kau membutuhkan bayi itu untuk mempertahankan posisimu. Tanpa keberadaan bayi itu, akulah yang akan duduk di singgasana dan mengenakan mahkota. Bukan kau maupun anak haram yang sedang kau kandung itu."


"Jaga ucapanmu, pangeran. Dia pewaris sah kerajaan!"


"Pewaris sah?" Ludwig tergelak. Tawanya menghina. “Menjijikkan sekali mendengar mu bicara seperti itu. Dia bukan putra kakakku! Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan budak Istana Utara itu? Kalau bukan karena mendiang kakakku yang sangat menghormati dan menyayangimu, aku mungkin sudah membantu ibuku membuktikan pada semua orang bahwa anak yang kau kandung itu bukan anak dari kakakku. Aku sudah cukup bermurah hati dengan diam saja saat rapat pemilihan pewaris takhta. Sebaiknya kau manfaatkan itu baik-baik."


Dari perkataan itu, Anna teringat pada Ludwig yang membantunya malam itu. Tentang bagaimana Ludwig memintanya untuk pergi jauh dan tersembunyi. Lalu Anna teringat pada perkataan Xavier tentang adik tirinya itu.


"Kau tidak pernah menginginkan takhta." Anna tanpa sadar mengucapkannya.


Ludwig tertawa sinis, "Kau salah, Putri Anastasia. Aku sangat menginginkan takhta itu. Seharusnya aku yang menjadi Raja Nordhalbinsel jika saja dia berkata jujur bahwa anak yang dia kandung bukan anak dari kakakku."


Constanza, yang masih menghunuskan belatinya pada Ludwig, menggeleng tak percaya. "Kau pernah bilang bahwa kau tidak ingin menjadi Raja." Itu bukan lagi suara Constanza si pemimpin pemberontakan. Bukan Constanza yang pemberani, yang memperjuangkan kemerdekaan para budak. Itu adalah suara gadis muda yang mendambakan cinta. Gadis muda yang jatuh cinta pada pangeran yang menjadi musuhnya. "Kau bilang akan meninggalkan kerajaanmu, keluargamu dan segalanya lalu tinggal di Schiereiland bersamaku. Kau pernah bilang akan melakukan semua itu untukku. Apa semua itu juga hanya kebohongan untuk menutupi rencana busukmu dan keluargamu yang akan mengambil alih Schiereiland? Apa selama ini... selama ini semua itu hanya bohong?"


Tatapannya melunak pada Constanza saat dia berkata, "Jika aku menjadi Raja, Constanza... Kau bisa menjadi Ratuku. Orang tuamu tidak akan mati, adik-adikmu masih bersamamu. Dan aku bisa saja membebaskan Schiereiland dan tidak akan ada bangsawan yang berani melawan karena aku putra Selena. Karena mereka semua lebih tunduk padaku dibandingkan pada Eleanor."


"Selena akan mengendalikanmu. Dia menginginkanmu duduk manis di singgasana, mendandanimu dengan mahkota hanya untuk menjadikanmu raja boneka. Dia lah yang akan berkuasa!" Eleanor memprotes, masih sambil meringis kesakitan.


"Jaga bicaramu, Baginda. Ibuku bukan orang yang seperti itu. Dia tidak akan memperalat putranya sendiri." Perkataan Ludwig setajam bilah es. Tapi kemudian tatapan dinginnya mencair saat melihat Eleanor merintih tersiksa. "Udaranya diberi racun sihir. Sesuatu seperti Morta, hasil penelitianku selama bertahun-tahun. Racun yang ini hanya berefek pada anak-anak. Seharusnya tidak berbahaya bagi orang dewasa. Tapi kau... Bayi itu bisa mati dalam kandungan karena kau menghirup udaranya."


Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat. Beberapa. Banyak. Anna menduga sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang. Efek racunnya sudah hilang. Atau mungkin itu para penyihir menara yang sadar pada apa yang terjadi di bawah sana. Anna langsung menoleh pada Constanza. "Bagaimana dengan para pemanah?"


"Mereka siaga. Tapi kita kalah jumlah jika dibanding dengan semua penyi—“ Kata-katanya terhenti saat Ludwig mencengkeram tangannya. Ludwig mendekatkan belati itu pada lehernya sendiri hingga kini darah segar menetes dari sana.


"Kau lengah, Constanza. Jika aku seburuk yang kau pikirkan, jika selama ini semua di antara kita hanya kebohongan belaka, aku sudah memanfaatkan saat tadi untuk balik menyerangmu. Kau bahkan tidak dapat memegang belatimu dengan benar. Kau hanya bisa memanah dengan sangat baik. Kau tidak pernah mendapat pelatihan untuk bertarung terlebih melawan para penyihir." Lalu Ludwig mengedarkan pandangannya pada Anna dan Eleanor. "Kalian semua akan kalah. Aku tahu para anggota Red Queen sudah memasuki menara. Tapi kalian akan tetap kalah jika melawan puluhan penyihir menara dan prajurit Nordhalbinsel. Lebih baik kalian pergi dari sini. Aku akan mengurus sisanya agar mereka tidak mengejar kalian." Ludwig kembali menatap Constanza. Suaranya melirih, “Pergi lah, Constanza.”


...****************...