
Sementara itu, di Istana Utama Nordhalbinsel...
Leon baru pertama kali menginjakkan kaki di Istana itu. Berbeda dengan Schiereiland yang hanya memiliki satu bangunan istana yang luasnya dapat mencangkup seisi kota, Nordhalbinsel memiliki kompleks Istana yang terdiri dari empat bangunan besar. Istana Utama yang terletak paling depan, Istana Ratu di bagian kanannya, Istana Putra Mahkota di bagian kirinya serta Istana Selir yang terletak lebih jauh di belakang bangunan lain.
Setelah berita kematian Putra Mahkota beredar, Istana Utama tetap diisi oleh Raja Vlad yang masih beristirahat karena kondisi kesehatannya, sementara Ratu Eleanor tinggal di Istana Putra Mahkota dan hanya pergi ke Istana Utama untuk urusan kenegaraan. Istana Ratu, tempat yang Leon yakini merupakan tempat dimana Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis tinggal sebelumnya kini kosong—atau paling tidak begitu lah yang dia ketahui. Sementara itu, Istana Selir masih dipenuhi oleh selir-selir Raja Vlad serta beberapa pangeran, saudara-saudara tiri Xavier. Leon tidak diajak berkeliling semua istana itu, tapi Elias Winterthur menjelaskan semuanya sebagai bagian dari tugas yang diberikan oleh Xavier.
Pagi itu, setelah semalaman dia tidak bisa tidur di salah satu kamar di Istana Utama, Leon akhirnya dipertemukan dengan Ratu Eleanor.
Leon sudah mendengar desas-desus dari semua orang yang dia kenal baik pria maupun wanita, bahwa Eleanor Winterthur disebut-sebut sebagai gadis tercantik yang bisa membuat para dewa mendirikan kuil untuknya dan para dewi menyembahnya. Leon tidak sependapat. Dia tampak seperti mayat hidup yang memakai gaun mahal. Kurus dan pucat. Seperti tidak benar-benar hidup. Apa dia sedang sakit?
Leon mengamatinya seperti dia biasa mengamati lawannya. Ada sesuatu dari cara berjalannya yang membuatnya terlihat angkuh dan berkuasa. Tapi kemudian jalannya terhenti sebentar, tubuhnya tidak setegak seharusnya, tampak seperti menahan rasa sakit. Mungkin karena sepatu hak tinggi itu. Yang Mulia Putri paling tidak suka memakai sepatu seperti itu, pikir Leon. Lalu Leon sadar, Sang Ratu sedang mengenakan tamengnya. Cara jalan yang angkuh itu, berbagai perhiasan yang dia kenakan, gaun mewah yang berkilauan serta sepatu hak tinggi itu, seolah dia ingin diperlakukan layaknya wanita yang menguasai suatu kerajaan. Dia menginginkan pengakuan dari orang-orang yang melihatnya.
Artinya dia belum mendapat pengakuan yang dibutuhkannya. Leon menarik kesimpulan.
Ratu Eleanor balas menatapnya. Sang Ratu memaksakan senyum tipis seolah berusaha bersikap ramah pada tamunya. Tapi dari tatapan mata biru es itu terlihat jelas dia tidak menyukai tamunya.
"Saya menghadap Ratu Nordhalbinsel." Kata Leon sambil menurunkan pandangannya dengan menundukkan sedikit kepalanya tanpa benar-benar merendah. Tidak benar-benar bersikap tunduk pada Sang Ratu di hadapannya. Dia bukan ratu di negaraku. Aku tidak tunduk pada siapa pun di sini, pikirnya.
"Selamat datang di kerajaan Nordhalbinsel, Jenderal Leon." Suara Eleanor sedingin dan setajam es. Aksen bicara khas orang-orang utara membuat nada suaranya terkesan sarat penghinaan. Ketidaksukaannya pada tamunya terdengar jelas padahal kalimatnya terkesan pura-pura ramah.
"Asal Anda tahu, saya tidak datang untuk mengabdi pada kerajaan ini." Kata Leon langsung tanpa basa-basi.
Bibir merah muda Eleanor melengkung ke samping membentuk senyuman. Tidak banyak laki-laki yang bersikap sombong padanya. "Saya tahu, Jenderal. Xavier yang mengirim Anda bukan?" Eleanor kemudian menoleh ke arah Elias yang sejak tadi berdiri membisu di sampingnya. "Aku tahu kau tidak akan menceritakan apa pun padaku. Tapi kurang lebih aku bisa memahaminya. Kau boleh pergi, Elias."
"Jangan menyuruh-nyuruh."
"Aku tetap Ratu, Elias."
Elias tidak menuruti perkataan saudari kembarnya itu. Leon mengamati kemiripan mereka. Sama-sama keras, dingin dan tajam seperti es.
Eleanor menghela napas, memijat-mijat pelipisnya. Tahu bahwa Elias tidak akan pergi dari sisinya, Eleanor memilih untuk mengabaikannya. Dia menatap Leon di hadapannya dengan pandangan menilai.
"Sudah sejauh mana yang Anda ketahui, Jenderal Leon?" Tanya Eleanor.
"Langsung saja ke intinya. Saya tidak berniat berlama-lama di kerajaan Anda."
"Baiklah. Ayo kita langsung ke intinya saja." Eleanor duduk di kursi singgasana tunggal itu. Selalu ada satu kursi di sana selama dua puluh tiga tahun belakangan ini. Sebelum dirinya dinobatkan, pemimpin kerajaan Nordhalbinsel adalah Raja Vlad, Raja tunggal tanpa Ratu. Kini pemimpin kerajaan itu hanya dirinya seorang, Ratu tunggal tanpa Raja. Eleanor menyilangkan kakinya, duduk dengan angkuh di hadapan tamunya yang sombong itu.
Tapi Leon lebih teliti dalam mengamati gerak-gerik lawan. Dia menyadari Sang Ratu duduk karena mulai merasa pusing. Kemudian Leon ingat bahwa Sang Ratu sedang hamil. Dugaannya itu terkonfirmasi setelah melihat Elias tampak gelisah memperhatikan saudarinya seolah saudarinya itu bisa pingsan kapan saja jika dia mengalihkan pandangannya.
"Untuk memutus sihir—“ Eleanor mengambil napas panjang, berusaha mengenyahkan pusing dan mual yang dirasakannya, lalu dia melanjutkan, "Anda harus menghadapi sihir menggunakan sihir."
"Kalau begitu kenapa tidak Anda saja yang melakukannya, Penyihir?"
Elias meradang mendengar nada bicara itu dari Leon, menghunuskan pedangnya ke arah Leon, "Jaga bicaramu di hadapan Ratu Nordhalbinsel!"
"Elias!" Suara Eleanor menggema ke seluruh ruangan. Dia melemparkan tatapan tajam pada saudaranya. Eleanor mengernyit, memejamkan mata, menahan diri agar tidak tumbang. Leon menyadari wajah Sang Ratu yang semakin pucat. "Ingat kata Xavier. Kita membutuhkannya. Jaga sikapmu."
"Xavier mengatakan kita membutuhkannya dalam keadaan hidup. Dia tidak pernah bilang aku tidak boleh menghilangkan salah satu lengannya." Kata Elias, pedangnya masih terhunus.
Leon bahkan tidak repot-repot menarik pedangnya untuk memberikan ancaman yang sama. Dia tidak perlu mengancam untuk membunuh musuh negaranya. Dia dapat melakukannya langsung dengan cepat.
"Hidup, dan utuh." Kini Eleanor tampak menahan amarah pada saudaranya. "Dia tidak bisa memutus sihir hanya dengan satu lengan. Kau bisa tunggu di luar kalau tidak bisa mengendalikan emosimu."
Elias menyarungkan kembali pedangnya.
Eleanor kembali menatap Leon, pembawaannya tenang. Rupanya Ratu Negeri Es mahir bersandiwara, memperlihatkan seolah dirinya baik-baik saja. "Nah, Jenderal, Anda sebaiknya bersikap sopan pada saya karena biar bagaimana pun Anda berada di kerajaan saya, saya tetap seorang Ratu dan Anda adalah tamu." Katanya. Dia menarik napas dalam perlahan, tampak berjuang melawan mual dan pusing, "Untuk memutus sihir hitam milik Selena, dibutuhkan pedang Raja Zuidlijk. Tapi dari yang sudah saya pelajari, hanya Anda yang bisa menggunakan pedang itu sebagai pemutus sihir. Orang lain tidak bisa. Sudah hukumnya seperti itu. Masalahnya, Anda tidak punya keahlian sihir sama sekali." Dalam setiap kalimat, Eleanor tampak kesulitan menarik napas. Tapi dia berhasil mengatakan semuanya.
"Lalu apa yang Anda inginkan, Baginda Ratu?" Tanya Leon, kini lebih sopan dari sebelumnya. Dia mau tak mau teringat pada Ratu Isabella di masa-masa awal kehamilan saat sedang mengandung Putra Mahkota Alexis. Ratu Isabella juga sempat kesulitan seperti itu. Leon jadi merasa sedikit simpati pada Eleanor.
"Belajar lah."
"Apa?"
"Anda harus mempelajari sihir, Jenderal."
"Maaf, sepertinya saya salah dengar. Memangnya semudah itu mempelajari sihir?"
Leon mengepalkan tangannya di samping, menahan diri untuk tidak membentak Ratu yang tampak pucat itu. Dia tidak tega. "Saya tidak punya waktu sebanyak itu, Baginda Ratu. Saya harus segera kembali pada Putri Anastasia."
"Tentu saja. Saya tahu itu. Tapi Anda akan bisa mempelajari sihir lebih cepat dari siapa pun, bahkan lebih cepat dari saya. Karena Anda akan memiliki guru terbaik."
Leon mengangkat sebelah alisnya, "Siapa?"
"Saya sendiri."
Leon tertawa sinis.
Leon sudah biasa mempelajari segala hal dengan cepat dan selalu berhasil menguasai semua pelajaran di Istana. Sewaktu Ratu Isabella belum melahirkan Putra Mahkota Alexis, berbagai pelajaran yang seharusnya dipelajari oleh putra pertama Raja diberikan padanya. Pelajaran bahasa, sejarah, politik, sosial dan ekonomi. Begitu pun dengan latihan berpedang di Westeria. Leon selalu dapat menguasai semuanya dengan mudah dan cepat.
Tapi kali ini, sihir lah yang akan dipelajarinya. Jelas sekali mustahil mempelajari sihir dengan cepat meski dari guru terbaik sekalipun jika dirinya tidak terlahir sebagai penyihir atau tidak memiliki orang tua penyihir.
"Saya serius." Kata Eleanor dengan tegas. "Dan Anda harus dapat menguasai pelajaran dari saya dalam hitungan hari. Lima hari seharusnya cukup. Kita mulai hari ini."
Mendengar Eleanor bicara seperti itu, Leon memahami kenapa Xavier mempercayai gadis rapuh yang tampak seperti akan tumbang kapan pun itu untuk menduduki takhtanya. Eleanor Winterthur memiliki mental yang kuat dan percaya pada kemampuannya sendiri. Bagaimana pun dia adalah putri dari Sang Raja Serigala dan salah satu penyihir Grimoire terkuat. Dia dibentuk untuk menjadi seorang Ratu sejak hari dia dilahirkan.
"Baiklah. Ayo mulai." Kata Leon, sama seriusnya seperti Eleanor.
"Tidak di sini, Jenderal. Tidak lama lagi Pangeran Yi dari Orient akan datang. Saya dengar Anda cukup terkenal. Jadi saya mengasumsikan orang-orang timur itu akan mengenali Anda. Kita tidak dapat mengambil risiko, mereka akan curiga jika melihat Anda di Istana ini." Eleanor menoleh ke arah Elias, memberi perintah tanpa kata-kata seperti yang pernah Leon lihat dilakukan juga oleh Xavier. Elias mengangguk patuh kali ini dan keluar dari ruangan. "Elias sedang mempersiapkan semuanya. Kita akan pergi ke kediaman Winterthur, rumah saya. Anda boleh pergi untuk berkemas."
...****************...
Leon berjalan menuju kamarnya di Istana Utama. Dulu saat di Schiereiland, dia memiliki kamar di Istana, tapi dia jarang tidur di sana karena lebih sering berjaga di kamar Putri Anastasia atau tidur di tenda saat perang. Kamarnya di Istana Utama Nordhalbinsel tampak sebesar dan semewah kamarnya di Istana Schiereiland. Kamar seorang putra Raja, bukan sekedar kamar tamu. Bedanya, kamar yang dia tempati di Nordhalbinsel terasa dingin dan mencekam. Dia tidak sabar untuk segera pergi meninggalkan Istana itu dan berharap kediaman Winterthur lebih terlihat seperti rumah.
Saat dia akan berbelok menuju salah satu koridor yang menuju ke arah kamarnya, dia mendengar suara seorang gadis.
"Saya sudah bilang berkali-kali! Saya tidak mau!" Dari nada suaranya, gadis itu terdengar marah. Leon tidak berniat menguping pembicaraan, tapi gadis itu mengenakan seragam yang pernah dia lihat dikenakan oleh Putri Anastasia saat sedang menjadi pengawal pribadi Xavier. Jadi dia berhenti, memperhatikan dari jauh.
"Kau tidak dalam posisi bisa menolak, Nona Welsh." Itu suara Elias.
Itu memang Elias, Leon baru menyadarinya. Elias memojokkan gadis berseragam pengawal itu. Leon memperhatikan gadis itu tidak terlihat seperti orang-orang utara. Usianya mungkin sama seperti Putri Anastasia, tingginya pun sama. Rambutnya yang hitam panjang diikat ekor kuda. Leon tidak dapat memastikan warna matanya dari jarak sejauh itu, tapi jika dilihat dari warna kulitnya yang tidak sepucat kulit orang-orang utara dan tidak segelap orang-orang Westeria, dia tahu gadis itu orang timur. Leon penasaran kenapa gadis dari Orient dapat bekerja sebagai pengawal di Istana Nordhalbinsel.
"Ini tindakan tidak sopan pada salah satu pengawal Ratu. Saya akan melaporkannya." Ucap gadis itu. Kali ini nada bicaranya mengancam seolah dia tidak sedang berhadapan dengan saudara kembar dari Ratu sekaligus putra dari seorang Grand Duke.
Elias tertawa. "Kau mungkin lupa, jadi biar kuingatkan lagi, aku adalah saudara kembarnya Ratu."
Leon memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Dia berhenti tidak jauh dari mereka. "Apa aku menginterupsi sesuatu?" Tanyanya.
Elias menoleh ke arahnya, dan saat itu, gadis tersebut tampak memanfaatkan kelengahan Elias dengan memuntir tangannya dan membuat Elias jatuh ke lantai. Leon menyadari pernah melihat gerakan bela diri itu pada Putri Anastasia saat dia menjatuhkan Xavier dalam latihan mereka. Leon tidak pernah mengajarkan gerakan itu pada Sang Putri, jadi dia menduga Putri Anastasia mempelajari gerakan itu sewaktu bekerja sebagai pengawal pribadi Xavier.
Mungkin semua gadis yang bekerja di sini diajari teknik bela diri seperti itu. Pikirnya.
Gadis itu berkata pada Leon tanpa melirik sedikit pun ke arahnya, "Terima kasih Tuan, tapi Anda tidak perlu—“ Kata-katanya terhenti begitu matanya bertemu dengan Leon. Dia tampak terkejut seperti melihat hantu. "Demi Naga..." Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan seolah menahan teriakan, dia bangkit dan memandang Leon dari atas ke bawah lalu ke atas lagi, mengamati setiap detail di wajah Leon, memastikan bahwa yang ada di hadapannya benar-benar bukan hantu. Dia sepenuhnya melupakan Elias yang sudah membebaskan diri darinya. "Lebih tampan dari yang ada di lukisan..." Gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Tapi Leon dapat mendengarnya.
"Maaf?" Leon mengangkat sebelah alisnya.
Dia gadis Orient. Leon mengkonfirmasi setelah melihat matanya. Mata milik orang-orang timur. Tapi gaya bicaranya sangat mirip seperti orang-orang utara.
"Dia mengganggumu?" Tanya Leon.
Gadis itu menggeleng dengan cepat.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Leon lagi karena kini gadis itu tampak pucat.
Sebelum Leon bisa bertanya apa pun lagi, gadis itu sudah berlari pergi jauh darinya seolah takut padanya.
"Dia kenapa?" Tanya Leon pada Elias.
"Kau yang kenapa!" Elias membentaknya. "Dia Honey Welsh. Gadis Orient yang kata Xavier mungkin tahu sesuatu tentang keberadaan Putri Seo-Hwa. Aku memintanya untuk ikut ke dalam timku untuk mencari Putri yang menghilang itu. Padahal aku akhirnya dapat bertemu dengannya setelah berhari-hari dia terus menghindariku. Tapi kau malah—Sudah lah!" Elias mendengus kesal, lalu pergi meninggalkan Leon yang masih bingung dengan tingkah laku gadis Orient tadi.
...****************...