The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 12 : Larme de Déesse



Mereka sampai di Cleteland yang merupakan salah satu wilayah di Schiereiland yang berbatasan langsung dengan Nordhalbinsel kemarin malam. Meski sempat mengalami sedikit kesulitan saat melewati perbatasan, namun mereka dapat menanganinya dengan baik berkat Tuan Schmidt dan berkat kecerdikan Ratu Isabella.


Begitu sampai di Cleteland, mereka disambut dengan aroma manis di udara dan bunga-bunga Goddess Tear yang mulai bermekaran pertanda musim semi sudah datang di Schiereiland. Mereka terus melanjutkan perjalanan pada malam hari dan istirahat pada siang hari.


Sementara Tuan Schmidt tidur di dalam kereta kudanya, siang itu mereka berhenti di salah satu hutan di Cleteland yang tidak terjamah pemukiman penduduk. Mereka membiarkan kuda-kuda merumput sambil meluruskan kaki sesaat dan menikmati langit cerah serta udara sejuk namun tidak dingin membekukan yang hanya bisa mereka dapatkan di Cleteland pada musim semi.


Tak jauh dari kereta kuda Tuan Schmidt, mereka dapat melihat sungai mengalir. Suaranya menentramkan berpadu dengan kicauan burung di dahan-dahan pohon yang beberapa masih ditutupi sedikit salju. Air sungainya sangat jernih. Tidak salah lagi, itu merupakan salah satu ujung sungai Scheine. Pertanda mereka benar-benar telah meninggalkan Negeri Es dan sampai di Schiereiland. Anna merasa terhibur dengan kenyataan itu. Dirinya sudah kembali ke negeri asalnya.


Dari kejauhan Anna dapat mendengar sayup-sayup suara gemuruh air yang jatuh secara bersamaan. Air terjun, pikir Anna. Anna berusaha mengingat kembali buku-buku yang pernah dibacanya di perpustakaan Istana. Tapi Anna tidak ingat ada air terjun di daerah Cleteland.


"Ibu mendengarnya juga?" Tanya Anna. Sang Ratu yang ada di sampingnya mengangguk.


"Ada beberapa tanaman penyembuh luka yang hanya bisa tumbuh di dekat air terjun. Jika itu benar-benar air terjun, mungkin kita bisa menemukan tanaman itu. Tunggulah di sini, putriku." Sang Ratu kemudian pergi mencari air terjun itu. Louis dan Xavier ikut mendampinginya.


Anna kesal karena disuruh menunggu, tapi kalau dia ikut, dia mungkin hanya akan memperlambat mereka. Jadi Anna duduk bersandar di bawah salah satu pohon Goddess Tear yang rimbun, membiarkan angin musim semi membelai lembut wajahnya, menenangkan hati dan jiwanya. Bahkan angin di Schiereiland terkesan lebih ramah. Anna bisa saja membiarkan dirinya tertidur di bawah pohon itu, tapi dia menolak memejamkan mata. Pemandangan di sekitarnya terlalu indah untuk dilewatkan. Beberapa kelopak bunga Goddess Tear yang seputih salju berjatuhan tertiup angin. Sebagiannya jatuh di rambutnya. Anna mengambil salah satu kelopak bunga itu.


Ada cerita yang terkenal terkait bunga tersebut. Konon katanya, suatu hari seorang gadis cantik turun dari langit, rakyat mempercayai gadis cantik itu adalah seorang Dewi. Sang Dewi menangis saat melihat nasib manusia yang hidup menderita di bumi. Perang tak berkesudahan, anak-anak kelaparan setelah para ayah mati dalam perang dan para ibu bersedih hati. Namun dari air mata Sang Dewi yang jatuh di tanah Cleteland, muncul lah pohon-pohon yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Pada musim semi, pohon itu mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna putih yang sangat cantik dan wangi sehingga bisa menghibur hati mereka yang sedang bersedih, sedangkan daun-daunnya yang berwarna hijau cerah dapat menjadi obat demam. Saat musim panas, bunga-bunga itu berubah menjadi buah-buahan segar berwarna merah muda yang dapat dimakan dan mengenyangkan perut anak-anak yang kelaparan. Saat musim gugur, saat seluruh buah sudah dipetik dan daun-daun sudah berguguran, batang pohonnya dapat ditebang untuk dijadikan kayu bakar atau bahan utama untuk membuat rumah yang kuat. Dan saat musim dingin, akar pohon tersebut menjadi umbi-umbian yang dapat direbus dan dinikmati bersama keluarga. Pohon Goddess Tear akan tumbuh kembali dengan sendirinya setiap musim semi selama ujung akarnya masih tertanam dalam tanah. Pohon itu menjadi semacam ikon akan kuasa Dewa dan Dewi.


Tapi saat melihat bunga-bunga Goddess Tear yang berjatuhan, bukan cerita itu saja yang Anna ingat.


"Itu bukan Dewi..." Anna bergumam sendiri sambil memperhatikan bunga-bunga putih Goddess Tear di salah satu ujung pohon.


"Apa?" Leon datang dan mengambil beberapa kelopak bunga yang jatuh di rambut Anna dan menyodorkannya pada Anna.


Anna terkejut. Biasanya dia selalu menyadari keberadaan Leon di sekitarnya. Dia terlalu terhanyut dalam pikirannya tadi. Anna segera mengambil kelopak-kelopak bunga Goddess Tear itu dari tangan Leon. Mitos di Schiereiland mengatakan kalau meniup kelopak bunga Goddess Tear sambil mengucapkan permohonan, maka permohonan itu akan terkabulkan. Anna tidak percaya pada mitos semacam itu, tapi Anna tetap meniup kelopak bunga itu dari tangannya.


Semoga kami semua akan selalu baik-baik saja, semoga Schiereiland baik-baik saja. Semoga kami bisa menemukan Alexis secepatnya atau paling tidak bertemu dengan naga lain.


"Tadi kau mengatakan sesuatu?" Tanya Leon sambil duduk di sampingnya.


Anna menoleh padanya, "Leon, kau ingat cerita tentang Dewi yang turun dari langit dan memberkahi manusia dengan menumbuhkan pohon Goddess Tear?"


"Ya... Itu hanya dongeng belaka, Yang Mulia."


Anna memutar bola mata. "Naga juga hanya dongeng belaka sebelumnya."


"Jadi?"


"Itu sungguhan, Leon." Bantahnya. "Tapi gadis cantik yang turun dari langit itu bukan Dewi. Dia adalah salah satu Naga." Ucap Anna dengan penuh keyakinan. "Itu adalah Naga Bumi, Earithear. Cleteland adalah tempat Earithear turun dari langit! Aku mengingatnya, Leon!"


Tiba-tiba saja, tepat setelah Anna mengingat tempatnya menemukan Earithear di masa lalu, terdengar suara gemuruh guntur dari langit.


Langit tidak menggelap, tetap cerah seperti sebelumnya, tapi dari bintik-bintik di tanah yang terkena tetesan air dan permukaan sungai yang mulai beriak, Leon tahu hujan mulai turun perlahan. Pandangan Leon langsung tertuju pada Anna. Bersiap pada kemungkinan buruk yang terjadi. Hujan selalu membuat Anna teringat kembali akan peristiwa itu. Tapi kali ini gadis itu terlihat baik-baik saja.


Anna justru tampak terpukau saat melihat hujan seolah itu adalah hujan pertama yang dilihatnya setelah sekian lama. Anna memang merindukan hujan. Aroma yang menenangkan dari tanah yang basah, titik-titik air di atas dahan, serta suara gemercik di air sungai ketika hujan itu turun. Orang-orang di Schiereiland secara umum menyukai hujan dan menganggap hujan sebagai suatu berkah dari langit. Ketika itu, hujan tidak lagi mengingatkan Anna pada kejadian malam itu di Istana Schiereiland saat ayahnya mati terbunuh. Anna memang masih mengingat kejadian itu, tapi kini dia tidak lagi takut. Kini hujan mengingatkan Anna pada saat dia sedang menyamar menjadi Eleanor. Saat Xavier menciumnya. Wajahnya memanas, pipinya merona saat ingatan itu terlintas lagi di benaknya.


Ini gila. Kenapa aku mengingatnya lagi?


Anna membiarkan dirinya mengingat lebih jauh lagi. Ada alasan kenapa dirinya menyukai hujan. Anna teringat saat usianya tiga belas tahun. Saat Leon pulang dari tugas di perbatasan yang diberikan oleh mendiang ayahnya. Saat itu, saat Leon kembali, hujan turun sangat deras. Dia ingat saat itu mengenakan gaun berwarna biru cerah dan para pelayan baru saja selesai menata rambutnya saat dia mendengar kabar kepulangan Leon. Anna berlari dengan cepat melewati lorong-lorong, melewati koridor-koridor, melewati taman-taman yang diguyur hujan. Anna tidak memedulikan teriakan dari para pelayan di belakangnya yang mengejarnya sambil memohon untuk memelankan larinya agar mereka bisa memayunginya. Anna juga tidak memedulikan tata krama kerajaan yang sudah sangat dikuasainya bahwa seorang putri tidak boleh berlari. Dirinya hanya berhenti berlari saat akhirnya melihat Leon baru saja keluar dari aula usai penyambutan dari Raja Edward.


Anna mengingat betapa seluruh gaunnya basah, rambutnya yang tadinya tertata rapih tampak berantakan, dia merasa sangat tidak pantas untuk menyambut kepulangan Leon, tapi saat Leon berkata "Aku kembali dengan selamat, Yang Mulia." sambil membungkuk padanya, Anna segera menghambur memeluk Leon dengan erat. Hujan menghapus rasa rindunya saat itu.


Anna lupa betapa dia sangat menyukai hujan.


"Yang Mulia, kau baik-baik saja?" Tanya Leon dengan hati-hati.


"Ya?" Anna tersadar dari lamunannya. Dia menatap Leon yang sedang memperhatikannya dengan tatapan khawatir. Anna tahu kenapa Leon bersikap seperti itu. Sebelumnya hujan selalu membuatnya teringat pada kejadian mengerikan malam itu. Malam yang rasanya sudah terjadi lama sekali hingga Anna sudah tidak merasa takut lagi. Anehnya, dia baik-baik saja sekarang. "Ya, Leon. Aku baik-baik saja." Jawab Anna sambil tersenyum cerah.


Untuk beberapa saat, Leon lupa cara berkedip saat melihat senyumannya. "Syukurlah..." ucapnya.


Sambil menunggu hujan reda, Anna dan Leon berteduh di bawah pohon sambil mengingat masa kecil mereka bersama. Berada di Schiereiland kembali membuat suasana di antara keduanya membaik. Anna bukannya berhenti mengingat tentang penolakan dari Leon, dia hanya ingin bersikap seperti biasa. Paling tidak, dengan cara begitu, Leon akan tetap berada di sisinya.


Mereka mengingat bagaimana kepala koki Istana terkadang lupa mengunci gudang bahan makanan sehingga Anna dan Leon bekerja sama untuk menyusup untuk mengambil beberapa ikan segar.


"Leon, kau harus membantuku! Ini perintah. Kucing itu memiliki bayi-bayi mungil yang akan kelaparan kalau tidak kita beri makan." Tuntut Anna. Saat itu dia masih berusia lima tahun.


"Kalau ketahuan, kita akan dihukum, Yang Mulia."


"Kita tidak akan dihukum."


"Kau yang tidak akan dihukum. Aku mungkin akan dicambuk sampai mati. Atau lebih buruk lagi, dipecat dan dibuang."


"Tidak mungkin. Ayah dan Ibu menyayangimu."


"Baginda Raja dan Baginda Ratu sudah sangat baik kepadaku. Aku tidak mau mengecewakan mereka."


"Kalau begitu jangan sampai ketahuan."


Leon tetap terlihat tidak setuju. Tapi dia tidak tega melihat Anna murung. Mereka kemudian akan berkeliling Istana untuk mencari kucing liar yang sering keluar masuk Istana dan memberi makan kucing-kucing liar itu dengan ikan dari gudang bahan makanan. Hingga akhirnya pada suatu hari kepala koki menangkap mereka. Tentu saja Anna tidak dihukum. Tidak ada yang berani menghukum Putri Raja. Tapi Leon harus menerima hukuman dari kepala koki berupa beberapa sabetan ganas ranting apel di kakinya. Anna kemudian menceritakan hal itu pada Ratu Isabella sambil menangis karena Leon terluka. Setelah itu, Ratu Isabella memanggil dokter Istana untuk Leon dan merubah detail anggaran belanja dapur istana, memastikan 'ikan segar untuk kucing liar' selalu dibeli dan tersedia dalam anggaran. Sang Ratu juga menegur koki istana agar tidak menyakiti Leon lagi.


"Perlakukan dia sebagaimana kau memperlakukan putra dari Raja dan Ratumu."


Anna menceritakan pada Leon tahun-tahun ketika dia harus menunggu Leon kembali dari perang. Anna mengatakan bahwa saat itu, Ratu Isabella akan berusaha mencarikan teman untuk Anna. Ratu kemudian mengundang Constanza, sepupunya dari keluarga Grand Duke Smirnoff, ke Istana untuk menjadi teman Anna. Tapi alih-alih menjadi teman, mereka justru bermusuhan.


Sesudahnya, Constanza tidak mau lagi diundang ke Istana. Dan Anna lebih memilih menghabiskan waktu sendiri di perpustakaan Istana untuk membaca karya-karya sastra serta berlatih merangkai kata-kata yang indah untuk menyurati Leon.


Mereka mengingat tentang festival musim semi yang biasa diadakan di Schiereiland. Istana akan mengadakan pesta dansa setiap tahunnya pada musim semi. Dan setiap tahunnya Anna akan datang bersama Leon. Kecuali pada musim semi tahun kemarin saat dirinya berstatus sebagai tunangan dari Duke Francis.


Tahun kemarin, Anna datang ke pesta dansa bersama Duke Nicholas Francis. Saat itu Anna mulai berusaha untuk mencintai pria yang akan segera menikah dengannya, jadi dia sebisa mungkin mengabaikan Leon yang datang ke pesta bersama Constanza Smirnoff. Meskipun Anna tahu Leon mendampingi Constanza Smirnoff sebagai tugasnya, karena tunangan gadis itu tidak dapat hadir ke pesta tersebut. Tetap saja Anna merasa pesta dansa tahun itu adalah salah satu kenangan terburuknya. Anna mengatakan betapa dia sangat menyesal karena saat itu dia harusnya datang bersama Leon.


"Tapi Lady Smirnoff tidak seburuk itu kok. Dia tidak terlalu suka berdansa jadi kami lebih banyak mengobrol. Dia pintar menyesuaikan diri. Kami lumayan nyambung." Kata Leon, menanggapi.


"Dia pernah mengharapkanmu mati dipanah orang-orang Orient. Dan kau masih bisa bilang dia tidak seburuk itu?"


"Saat itu dia masih kecil. Dan meski kasar, perkataannya memang benar. Panah Orient tidak pernah meleset. Sayangnya tidak satu pun dari mereka berhasil membidikku. Mereka keburu mati oleh pedangku sebelum sempat menembakkan anak panah. Jadi Lady Smirnoff tidak sepenuhnya salah."


"Ha! Para pria dan ketertarikan mereka pada bintang pergaulan kelas atas, Lady Constanza Smirnoff yang jelita. Kalian semua sama saja. Mungkin jika Constanza mengatakan bahwa Nordhalbinsel memiliki suhu terpanas di dunia, kau akan tetap mengatakan bahwa dia tidak sepenuhnya salah."


Leon menahan tawa mendengar nada iri dalam kata-kata Anna. "Semua pria yang pernah bertemu atau mendengar tentangnya pernah paling tidak sekali dalam seumur hidupnya jatuh cinta pada Lady Smirnoff..." Kata Leon, yang mana langsung membuat Anna melemparkan tatapan tajam padanya, jadi dia buru-buru melanjutkan, "Tapi aku tidak. Aku kebal pada kecantikannya."


"Benarkah?" Tanya Anna separuh tidak percaya, tapi sekaligus senang mendengarnya. "Aku heran, bisa-bisanya kau membela Constanza—“


"Yang Mulia... jika saat itu kau tidak bersama Duke Francis, tentu aku akan lebih senang mendampingimu." Mata Hazel Leon tampak cerah berkilauan di bawah sinar matahari.


Anna mengalihkan pandangannya meski sulit. Dia berharap suara detak jantungnya tidak terdengar oleh Leon. "Bisa tidak kau berhenti membuatku berdebar." Pipi Anna merona.


"Maaf—“


Sebelum suasana diantara keduanya menjadi canggung, Anna buru-buru menambahkan, "Aku tahu kau mengatakan itu karena dibandingkan aku, Constanza sama sekali tidak pandai berdansa. Berapa kali kakimu diinjak malam itu?"


Leon tertawa, "Aku berhenti menghitung di angka dua puluh. Aku jadi iba pada tunangannya."


Tunangannya adalah Pangeran Ludwig. Tapi Anna tidak mengatakannya.


"Aku jadi curiga kalau tunangannya memang sengaja tidak datang waktu itu."


Mereka terus mengobrolkan berbagai hal. Anna jadi merasa kembali ke masa-masa kehidupan mereka di Istana Schiereiland. Masa-masa menyenangkan dimana dirinya dan Leon dapat menghabiskan waktu seharian dengan membicarakan perihal banyak hal tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan Schiereiland.


Langit semakin cerah, dan hujan perlahan mulai mereda. Hanya tersisa gerimis kecil. Namun mereka masih duduk di bawah rindangnya pohon Goddess Tear. Berharap waktu bisa berhenti dan semua hal membaik begitu saja.


"Leon..." Panggil Anna saat dia ingat ada sesuatu yang selalu ingin dia bahas dengan Leon tapi waktunya selalu tidak tepat. Entah karena saat itu sedang ada Ratu Isabella di sekitar mereka atau karena ada Xavier. Tapi kali ini hanya ada mereka berdua. Anna bisa membahasnya leluasa dengan Leon. Hal yang selalu dia takutkan namun mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. "Jika kita—jika Schiereiland berperang dengan Nordhalbinsel, apakah—“


"Kita akan menang." Jawab Leon langsung saat melihat kekhawatiran di wajah Anna. "Kita akan baik-baik saja."


"Kau yakin sekali."


"Aku bukan sekedar bersikap optimis, Yang Mulia. Aku punya alasan kenapa aku bisa yakin kalau kita akan menang."


Belakangan ini Anna ingin mempelajari strategi perang untuk berjaga-jaga jika rencana mereka tidak berjalan dengan mulus dan jika Raja Vlad maupun Ratu Eleanor atau bahkan mungkin Xavier sendiri menolak untuk melepaskan Schiereiland dengan cara baik-baik. Anna memang tidak menginginkan adanya perang, tapi jika tidak dapat dihindari, Anna ingin ikut memperjuangkan kebebasan negaranya dari cengkeraman Nordhalbinsel.


"Kenapa?" Tanya Anna. "Beri aku alasan yang logis kenapa kau bisa seyakin itu?


"Pertama, itu karena Putra Mahkota Xavier tidak akan ikut serta dalam perang. Jelas kita akan kalah telak jika Naga Api Agung ikut dalam perang. Manusia biasa tidak bisa mengalahkan raja dari para naga. Dia mengatakannya padaku, jika nanti perang benar-benar tak dapat dihindari, dia berjanji tidak akan ikut berperang melawan Schiereiland."


Xavier tidak pernah mengatakannya pada Anna, tapi dia mengatakannya pada Leon. Anna tidak tahu Xavier dan Leon bisa sedekat itu. Tapi Anna bersyukur mengetahui bahwa Xavier menolak untuk ikut serta dalam perang. Entah bagaimana Anna tidak suka membayangkan dirinya sendiri harus melawan Xavier. Selama ini Xavier sudah sering menyelamatkannya. Anna merasa berhutang padanya, tapi jika suatu saat mereka bertemu di medan perang, Anna tidak akan sanggup melawannya. Kalau pun bukan karena hubungan mereka di masa lalu, itu karena Xavier adalah penolongnya. Teman seperjalanan mereka. Orang yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawanya.


"Lalu siapa yang memimpin Nordhalbinsel dalam perang?" Tanya Anna.


"Ada kemungkinan, Jenderal Orthion Richterswill. Namun aku curiga bahwa Serigala Gila Winterthur itu sendiri yang akan memimpin."


"Elias?"


Sekarang Anna bergidik ngeri membayangkan dirinya akan menghadapi Elias di medan perang. Anna memang tidak tahu persis kemampuan berpedang Jenderal Elias, tapi Anna sering mendengarnya dari desas-desus para prajurit Nordhalbinsel. Elias tidak akan menjadi lawan yang mudah. Tapi Leon sepertinya tidak berpendapat demikian.


"Karena sekarang ayahnya sudah tidak akan ikut campur dalam urusan militer dan menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya kepada putranya, maka Jenderal Elias Winterthur akan berhadapan denganku."


"Denganku juga." Kata Anna. Anna tahu Leon akan melarangnya, tapi Anna sudah bertekad.


"Yang Mulia tidak boleh—“


"Kau sedang meremehkanku sekarang Jenderal Leon? Jangan bilang karena aku seorang wanita, karena setahuku, satu-satunya orang yang pernah memimpin ratusan bahkan mungkin ribuan pasukan melawan Orient adalah seorang wanita. Jenderal Irene adalah seorang wanita."


Saat mendengar Anna menyebut-nyebut soal Jenderal Irene, Leon mau tak mau teringat pada perkataan Xavier beberapa malam yang lalu. Jenderal Irene adalah Ratu Irene dari Nordhalbinsel, ibunya Xavier. Itu artinya Jenderal Irene adalah Irene Winterthur, putri dari Grand Duke Winterthur yang sebelumnya. Tidak mengherankan lagi kalau Jenderal Irene memiliki kemampuan berpedang yang luar biasa karena dia berasal dari Klan Winterthur. Sama seperti Wolfgang Winterthur.


"Aku tahu, Yang Mulia." Kata Leon. "Bukan itu maksudku. Serigala Gila itu akan babak belur dan kehilangan harga dirinya kalau kau turun tangan juga. Ampunilah dia dan biarkan aku saja yang menghadapinya."


Anna tak dapat menahan senyumnya. Leon selalu tahu cara untuk menolaknya dengan sangat baik seolah sudah menjadi kebiasaan. Tapi Anna tetap akan ikut berperang apa pun yang Leon katakan.


"Kau begitu yakin dapat mengalahkannya."


"Kalau Wolfgang Winterthur yang maju ke medan perang, aku mungkin tidak akan seyakin ini. Aku sendiri heran kenapa Si Raja Serigala itu terburu-buru sekali menyerahkan kuasa militernya pada putranya. Padahal seharusnya dia masih bisa menjadi Jenderal setidaknya sampai lima tahun ke depan. Aneh sekali, padahal usianya tidak setua itu. Dari yang kudengar pun kemampuan berpedangnya masih sama hebatnya seperti sepuluh tahun yang lalu, dia masih kuat dan sehat."


"Entah lah... Mungkin ada alasan lain." Kata Anna. Tapi sambil mengatakan itu, tiba-tiba terbesit sesuatu di benaknya. Kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Tapi hal itu segera ditepisnya jauh-jauh. Enggan mencurigai orang-orang yang sudah berbuat baik padanya. "Mungkin Xavier mengetahui sesuatu." katanya.


...****************...