The Rose Of The South

The Rose Of The South
Chapter 14 : Earithear



Anna sudah pernah melihat naga sebelumnya. Dia sudah dua kali melihat wujud naga Xavier. Sebesar kastil, berkulit tebal seperti dilapisi baja dan bersisik-sisik sewarna dengan lahar merah dari gunung berapi. Naga Api Agung merupakan perwujudan sempurna dari gambaran api abadi yang dapat melahap satu dunia. Menggentarkan, sekaligus tampak agung. Seolah semua yang melihatnya akan segera bersujud di hadapannya. Tapi Naga Bumi berbeda.


Mereka sama-sama memiliki mata berwarna merah yang Anna yakini adalah Mata Naga. Mata yang mirip seperti milik adiknya. Mata yang pernah dia miliki di masa lalu. Tapi Naga Bumi tampak indah. Dia seperti pemandangan yang dilukis oleh tangan dewa. Dia tidak sebesar Naga Api Agung, tapi tubuhnya memenuhi seisi danau. Lalu sadar lah Anna bahwa mereka sudah sampai di Ozero Slez, Danau Air Mata.


Danau itu terlihat seperti bentuk cair dari langit malam, airnya bercahaya laksana ribuan bintang yang berkelap-kelip.  Dari danau ini lah aroma manis di udara yang memabukkan itu berasal. Danau yang terbuat dari air mata Earithear yang bersembunyi di dalam gua ini dahulu kala. Danau di bawah cakarnya tampak seperti genangan air untuknya, hanya merendam sebagian telapak kakinya.


Berbeda dengan Naga Api Agung, kulit Earithear tidak tampak bersisik-sisik. Kalau pun dia bersisik, Anna tidak dapat melihatnya karena seluruh kulitnya yang berpendar berwarna kehijauan dilapisi oleh rumput-rumput panjang serta lumut-lumut tebal. Sulur-sulur Ivy mengelilingi leher dan kaki-kakinya. Sepasang sayapnya yang hijau cerah dan berlapis dedaunan dilipat rapih melekat pada tubuhnya. Anna tergoda ingin melihat sayap-sayap itu dibentangkan, tapi Anna tahu gua ini terlalu sempit untuk Sang Naga. Dan saat Anna berpikir ada dua batang pohon tumbuh di atas kepala Naga Bumi, Anna mendapati bahwa itu adalah tanduknya. Tanduk Sang Naga Bumi terlihat seperti mahkota yang terbuat dari pohon bercabang banyak dan berhias bunga-bunga putih. Bunga Goddess Tear.


Naga tersebut menekuk kedua kakinya dan merendahkan kepalanya hingga hampir menyentuh tanah, ke hadapan Anna dan Xavier. Sadar lah Anna bahwa Naga tersebut sedang memberi salam hormat padanya. Anna buru-buru turut memberi salam hormat pada Naga Bumi dengan membungkuk rendah.


Naga tersebut menggeram. Bukan menandakan ancaman, tapi menerima salamnya dan memintanya untuk berdiri tegak. Anna bersumpah dapat melihat sudut bibir Naga Bumi sedikit terangkat membentuk senyuman, memperlihatkan sebagian giginya yang tampak seperti ribuan pedang. Dan saat itu, bunga-bunga pada tanduk-mahkotanya bermekaran semakin banyak lagi. Beberapa kelopak bunga berjatuhan sehingga tampak seperti ada hujan kelopak bunga Goddess Tear di dalam gua itu.


Anna terpaku, terpesona memandangi pemandangan di hadapannya yang sulit dipercaya. Naga Bumi tampak sangat cantik, layaknya seorang wanita bangsawan yang anggun dan mempesona. Seperti melihat taman bunga yang hidup. Seperti perwujudan dari musim semi itu sendiri. Seperti melihat teman lama.


"Halo, kita bertemu lagi, ya." Kata Anna dengan canggung, tidak tahu harus mengatakan apa. Lalu dia menoleh ke arah Xavier di sampingnya. "Dia mengerti bahasaku kan?" bisiknya pada Xavier.


Xavier masih memperhatikan Earithear di hadapannya. "Kau mau aku menerjemahkan bahasa Naga?" Xavier balas berbisik. Anna mengangkat alisnya, setengah tak percaya bahwa bahasa Naga memang ada. Lalu senyum jail mengembang di wajah Xavier, membuat pipi Anna bersemu malu, "Bercanda. Tentu saja dia mengerti." Katanya. "Tapi sebagai Naga, kami akan kesulitan menjawabmu. Kecuali kau seorang Saintess yang bisa membuat siapa pun, bahkan batu sekali pun bicara padamu."


Earithear mendekat pada Anna, melihat kakinya. Uap hangat mengepul keluar dari moncongnya. Dia menggeram lirih kali ini.


"Ada apa?" Tanya Anna. Lalu sadar lah Anna bahwa sama seperti Xavier, Naga Bumi juga bisa tahu bahwa dia terluka. "Kau tahu? Itu tidak terlalu sakit kok. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."


"Dia kesakitan." Kata Xavier pada Naga Bumi. "Kau juga tahu itu kan? Kau merasakannya juga kan? Bisa tolong sembuhkan dia?"


Naga Bumi menganggukkan kepalanya. Dia memberi isyarat pada Anna untuk duduk dan memperlihatkan kakinya yang terluka.


Tanpa menimbang-nimbang, Anna segera menuruti Naga Bumi. Dia membuka perban yang dililitkan oleh Louis pagi ini dan memperlihatkan lukanya yang sudah semakin parah karena dipakai untuk berjalan terus menerus. Naga Bumi melirik ke arah Xavier yang masih bergeming di tempatnya. Naga Bumi mengisyaratkan pada Xavier untuk mundur beberapa langkah.


"Apa? Aku kan tidak mengganggumu. Kau tetap bisa menyembuhkan—“


Naga Bumi menggeram lagi. Kepulan uap hangat kembali mengepul. Jelas tidak suka jika permintaannya ditolak. Anna menahan tawa.


"Sepertinya kau dan adikmu tidak terlalu akur." Ucap Anna pada Xavier.


Xavier menuruti permintaan Naga Bumi, dia mundur agak jauh dari Anna dan Naga Bumi. "Dia hanya merasa gugup. Dia mungkin sudah lama tidak menggunakan kekuatannya."


Tanpa menggubris perkataan Xavier, Naga Bumi menyentuh luka di kaki Anna dengan cakarnya. Berbeda dengan saat Naga Api Agung menyembuhkan luka Anna di pinggir sungai Scheine, saat Naga Bumi menyentuh lukanya, rasa sejuk yang membuat Anna tenang dan damai menjalari kakinya, kemudian ke seluruh tubuhnya. Anna serta merta merasa dirinya rileks dan semua lelahnya kontan lenyap. Rasa sakit di kakinya langsung hilang sekejap bersamaan dengan kulit kakinya yang kembali mulus tanpa luka.


Naga Bumi kemudian melirik kembali ke arah Xavier seolah sedang menyombongkan diri bahwa dia telah berhasil menyembuhkan Anna. Asap mengepul ke udara dari lubang moncong Sang Naga.


"Dasar tukang pamer." Xavier mendengus kesal. Tapi dia tersenyum pada Naga Bumi kemudian berkata "Terima kasih banyak, Earithear." dengan sungguh-sungguh.


Tapi Naga Bumi ternyata belum selesai. Setelah menyentuh kaki Anna, kini dia menyentuh kepalanya dengan ujung cakarnya. Saat itu, rasanya seisi dunia seperti dijejalkan ke dalam kepala Anna. Seluruh ingatan yang sebelumnya hanya berupa potongan-potongan kecil yang terpisah-pisah dan tidak lengkap kini menjadi lengkap. Tapi sensasi saat semua ingatan itu merasuki kepalanya terasa sangat menyakitkan. Anna mengerang kesakitan hingga berlutut ke tanah sambil memegangi kepalanya. Air matanya keluar begitu saja. Anna sendiri tidak yakin, tapi sepertinya dia berteriak hingga tenggorokannya sendiri terasa perih. Hingga dia sendiri merasa akan kehilangan suaranya. Hingga suara teriakannya memenuhi seisi gua.


"Earithear! Apa yang kau lakukan?" Xavier terdengar murka. Anna dapat mendengar langkah Xavier mendekat, tapi gua kembali bergetar sehingga sulit bagi Xavier untuk menghampiri baik Anna maupun Naga Bumi. "Hentikan!"


Naga Bumi seolah tidak mengizinkan Xavier mendekat. Dia menciptakan dinding dari sulur-sulur duri mawar di sekitar Xavier. Sulur-sulur duri itu membelit pergelangan kaki dan tangannya sehingga Xavier tidak dapat bergerak.


Anna merasa seluruh tubuhnya mengingat rasa sakit yang pernah dia rasakan. Dadanya terasa sesak dan pandangannya mengabur. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan baginya. Anna kemudian menyadari dirinya masih berteriak kesakitan. Kemudian dia tidak lagi berada di dalam gua.


Dia sedang berada di tengah medan perang. Jeritan dan tangisan terdengar dari kejauhan, suara janda-janda dan anak-anak yang ditinggal mati ayah mereka. Mayat-mayat prajurit bergeletakan di sekitarnya dalam keadaan tidak utuh dan berdarah-darah. Senjata-senjata kuno bergeletakan sembarang di sekitarnya. Asap-asap api pembakaran membumbung tinggi ke udara. Tanah itu layaknya lautan api dan darah. Sayup-sayup suara burung gagak terdengar mendekat. Bau anyir darah memenuhi indra penciumannya. Dia bahkan dapat merasakan beberapa tulangnya patah dan mengecap darah di mulutnya. Sekujur tubuhnya seolah dihancurkan dari dalam. Pandangannya buram, lalu menggelap.


Lalu suasana itu langsung berubah.


Dia kemudian berada di sebuah ruangan di Istana. Bukan istananya. Dan Anna melihat dirinya sendiri terpejam, terbaring di atas altar mengenakan gaun putih sepucat kulitnya. Tidak ada warna dalam wajahnya selain rambut merahnya yang teramat panjang yang membingkai wajah pucatnya. Dia tak bernapas. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Setangkai bunga mawar didekap di dadanya. Dia tidak melihat siapa pun di sekitarnya tapi dia dapat mendengar suara tangis, raungan amarah, beberapa orang bertengkar dan bisik-bisik sendu doa dari yang lainnya, kemudian lebih banyak lagi tangisan.


Dari semua hiruk pikuk tak berwujud di sekitarnya, Anna menangkap suara tangisan anak kecil dari kejauhan dan suara kakak laki-lakinya yang berusaha menenangkan si adik kecil sambil menahan tangisannya sendiri. Dan tanpa terasa, dirinya ikut menitikkan air mata. Dalam hati dia tahu siapa anak kecil yang menangis itu. Dua Raja cilik yang kelak menjadi raja-raja pertama dari dua kerajaan yang saling bermusuhan. Zuidlijk dan Nordlijk. Anak-anaknya.


"Kembali padaku..." Anna kemudian mendengar suara seseorang—seorang pria dewasa—berbisik. Seolah tengah berbisik padanya. Suara itu dingin dan hancur. "Jangan tinggalkan aku... Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Kembali lah... kumohon..."


Tidak. Agak berbeda. Sama putus asanya, tapi masih begitu hidup. Tapi Anna tidak melihat siapa pun di sekitarnya selain mayatnya sendiri.


Lalu Anna sadar dirinya tidak lagi berada di dekat altar tempat mayatnya berbaring. Hanya ada kegelapan total di sekitarnya sekarang.


"Dia harus ingat semuanya agar adil. Biar dia sendiri yang menentukan harus bagaimana kedepannya." Suara lainnya menggema. Itu suara seorang perempuan. Suaranya jernih sekaligus tegas. Tapi Anna tidak dapat melihatnya.


Tiba-tiba Anna merasakan panas. Di depan matanya sendiri, dunia gelap nan kosong di sekelilingnya terbakar.


"Earithear, hentikan! Ini perintah!"


Anna tidak yakin apa yang terjadi. Barusan Xavier tidak terdengar seperti dirinya sendiri. Suaranya terdengar seperti gemuruh petir, seperti badai, seperti letusan gunung berapi. Terdengar menakutkan dan kejam, sekaligus sangat familier baginya. Dan dalam sekejap, rasa sakit di kepala Anna menghilang. Dia kembali dapat menghirup udara manis dari gua. Dia susah payah menghirup udara itu banyak-banyak seperti minum air setelah dahaga berkepanjangan. Dia membuka matanya dan sadarlah dirinya bahwa dia masih berada di dalam gua sedang terengah-engah, berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit. Earithear Sang Naga Bumi membantunya berdiri dengan cakarnya.


Saat menoleh ke naga tersebut, Anna sekilas dapat melihat wajah Earithear di masa lalu dalam wujud manusianya. Bukan seekor naga besar yang diliputi dedaunan serta bunga-bungaan. Melainkan seorang gadis teramat cantik berambut pirang dan bermata merah. Dia mengenali wajah itu sekaligus merasa asing. Sorot mata Sang Naga tampak menyesal seolah ingin meminta maaf padanya.


Lalu Anna melihat sekitarnya. Tanah berbatu di sekitarnya tampak dilapisi asap-asap tipis beraneka warna menuju ke beragam arah. Tapi warna-warna itu tidak dikenalnya dan asap-asap tipis itu tidak berbau. Bukan asap, pikir Anna. Tapi setelah mengerjap beberapa kali, asap-asap itu hilang. Anna berpikir itu hanya efek akibat dia memejamkan matanya terlalu kuat tadi sehingga penglihatannya terasa agak aneh.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Xavier yang kini sudah ada di sampingnya. Dinding sulur yang sebelumnya menahannya sudah hangus terbakar. Anna memperhatikan mata Xavier kini semerah api. Dia menatap Earithear dengan tajam seolah bisa membumihanguskan naga itu hanya dengan melihatnya. Earithear tampak gentar, dia mundur beberapa langkah dan mendengus, membumbungkan asap dari moncongnya.


"Aku baik-baik saja. Tidak pernah merasa sesehat ini." Jawab Anna. Tapi suaranya bergetar karena tubuhnya mengingat rasa sakit yang tadi dia rasakan. "Tadi itu apa?"


"Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya Earithear berniat mengembalikan semua ingatanmu sekaligus. Aku bahkan tidak tahu dia bisa melakukan itu."


"Apakah tadi itu berbahaya?" Anna bertanya, tidak tahu harus menanyakan itu pada Xavier atau pada Earithear.


Earithear menggeleng.


"Lalu apakah kau berhasil?" Kali ini dia bertanya pada Earithear.


Naga itu kembali menggeleng.


"Hanya sebagiannya ya..." Anna bergumam. Dia berpaling pada Xavier yang kini warna asli matanya sudah kembali. "Kenapa kau menghentikannya? Bukankah bagus kalau aku ingat semuanya? Kita dapat menemukan para naga dengan mudah."


"Kita tidak tahu apa efek sampingnya. Kita tidak tahu apakah kau benar-benar akan mendapatkan semua ingatanmu atau mati."


"Dia bilang itu tidak berbahaya."


"Jelas-jelas tadi kau berteriak kesakitan." Kini Xavier tampak kesal. Tapi dia mengontrol nada suaranya dengan baik agar tidak terkesan marah. "Kau tidak boleh percaya pada naga begitu saja."


Anna mengerjap, terkejut pada pernyataan itu. "Aku percaya padamu, jadi kenapa aku tidak boleh percaya padanya?"


"Kalau begitu jangan percaya padaku."


Anna baru akan membuka mulutnya lagi untuk mendebat perkataan  Xavier. Tapi Xavier buru-buru berpaling padanya, tampak menyesali perkataannya.


"Maaf... Tadi kau benar-benar tersiksa. Jangan pikir aku tidak ikut merasakan sakitnya. Aku... Aku hanya takut." Katanya.


"Aku baik-baik saja." Ucap Anna dengan sungguh-sungguh.


Anna berpaling menghadap Earithear, "Terima kasih banyak." Katanya. Meskipun tadi itu sangat menyakitkan baginya, tapi Earithear hanya bermaksud baik padanya. Naga itu ingin Anna mengingat semuanya. Naga itu bahkan sudah menyembuhkan kakinya. Jadi bagaimana mungkin Anna bisa tidak percaya padanya. "Sekarang kau akan ke mana?"


Earithear tidak menjawab. Dia mundur menjauh dari Anna dan Xavier. Anna memperhatikan naga itu tampak sedih. Sebutir air mata jatuh ke atas air danau tempatnya berdiri. Dan di tempat air mata naga itu jatuh, gunung kecil tanah muncul ke permukaan, sebuah tunas pohon muncul di tengahnya. Awalnya hanya tunas kecil, lalu membesar dan meninggi menjadi sebuah pohon kecil. Lalu pohon itu terus bertumbuh dengan cepat hingga menjadi pohon besar dengan batang yang kokoh berwarna cokelat gelap kelabu yang dapat berdiri di tengah Danau Air Mata. Daun-daunnya yang rimbun berwarna merah muda. Tak lama kemudian, beberapa kunang-kunang berwarna ungu keluar dari balik dahan-dahan pohon tersebut. Seolah kunang-kunang ungu tersebut adalah bunga-bunga dari pohon itu. Kunang-kunang ungu itu beterbangan di sekitar danau dan mengelilingi pohon tersebut. Pemandangan yang ada di hadapannya saat ini mirip seperti danau dekat sungai Scheine yang dia lihat bersama Leon di hutan tempat mereka bersembunyi dulu.


Anna begitu terpesona melihat keajaiban di depannya hingga dia tidak sadar Earithear sudah pergi sangat jauh. Anna hendak mengejarnya, tapi Xavier menahannya.


"Biarkan dia pergi, Anna. Kalau kau memang tidak mau memanfaatkan kekuatan kami, atau pun mencabut jantung kami, biarkan pergi."


...****************...