
Aku kini berada di taman istana, dengan melihat banyaknya para pelayan yang berlalu lalang, untuk meyiapkan jamuan utuk pembukaan acara berburu yang akan di lakukan di dalam hutan, sedangkan jamuan akan di lakukan di dalam istana.
Aku duduk di taman dengan gaun merah dengan desain bunga yang melilit tubuhku, sambil memakan eskrim yang berada di tanganku yang ku ambil dari ruang jiwaku.
Sedangkan Naya, aku memintanya untuk membawakanku peralatan tulis. Aku berniat untuk membuat novelku yang akan ku jual di berbagai kalangan.
" Sedang apa? " tanya Viko, dengan memegang bahu Jean, lalu ikut duduk di samping Jean dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Aku melihat kebelakang dan tampaklah Viko yang tersenyum padaku, aku membalas senyum itu.
" Aku lagi bersantai " jawabku, sambil menjilati eskrim ku yang sepertinya sudah sedikit meleleh.
" Udara dingin."
" Yah... Tapi aku sangat bosan berada di kamarku terus " ucapku, lalu menoleh kesamping dengan cemberut dan ekspresi jenuh yang ku buat - buat. Walaupun kenyataannya benar sih.
Viko hanya menganggukkan kepala, lalu melihat makanan yang di penggag Jean.
"Makanan apa yang kau makan!, aku tidak pernah melihatnya " tanya Viko dengan menyegitkan alisnya.
" Ini eskrim " jawabku yang masih asik melahap eskrim ku.
"Em... Oh "
" Kakak mau " tawar ku pada Viko yang sepertinya ragu - ragu untuk memintanya.
" Apa boleh ! " tanya Viko yang masih ragu.
" Tentu saja boleh, ini.. " ucapku lalu mengeluarkan eskrim dari ruang jiwaku, lalu memberikannya pada Viko.
Viko mengambil eskrim dari Jean, dan terasalah hawa dingin yang keluar dari eskrim itu.
" Kamu makan-makanan yang dingin di musim dingin " ujar Viko yang merasakan kedinginan dari eskrim yang ku berikan.
"Yah...itu hanya dingin di luar, di dalam tidak " ujar ku yang menatap Viko sesaat lalu kembali menjilati eskrimku yang dengan rasa coklat.
Sedangkan Viko aku memberikannya rasa Vanili.
Viko meniru gaya Jean saat memegang eskrim itu, setelah itu Viko juga menjilati eskrim itu, dan betapa nikmatnya eskrim yang di berikan Jean padanya, itu meleleh dalam mulutnya, dan juga rasanya sangat enak, saat memakannya tidak ada meninggal bau dan jejak.
" Di mana kamu membelinya! " tanya Viko yang penasaran karena seumur hidupnya tidak pernah menemukan makanan yang seperti ini.
" Jangan tanyakan itu. Jika kau menginginkannya lagi minta saja padaku " ujar ku dengan jutek.
"Baiklah aku tidak akan menanyakan lebih dalam, tapi janjinya kamu akan memberikan eskrim ini lagi pada ku " ujar Viko menatap Jean penuh harap.
Aku hanya menganggukkan kepala, kembali melihat pemandangan indah yang ada di depann ku.
" Besok apa kau mau ikut berburu! " tanya Viko yang memecah keheningan.
" Yah... Jika di perbolehkan " jawabku, lalu meletakkan sampahku di samping tempat dudukku.
" Tentu saja kau boleh ikut " ujar Viko yang melihat Jean dengan senyum manisnya. Dengan noda eskrim yang sedikit mengotori wajahnya.
Aku hanya tersenyum lucu saat melihat hal itu. Aku mengambil sapu tanganku, lalu melap kotoran yang menempel wajah Viko.
" Kekanakan " kekeh ku setelah membersihkan kotoran itu.
Viko terkejut saat melihat hal itu, Viki tidak percaya, namun itu nyata. Setelah mendengar kekehan Jean, Viko tersadar, lalu mengusap lembut rambut Jean dengan senyum manisnya yang terpampang di wajahnya.
" Tuan putri ini bukunya " ujar Naya sambil berjalan ke arah Jean, lalu memberikan buku itu pada Jean yang tekah di sertai pena di salamnya.
" Baik terimakasih " ucapku lalu mengambil buku itu dari tangan Naya.
" Apa yang ingin kau lakukan dengan itu! " tanya Viko saat melihat buku yang berada di gegaman Jean.
" Aku hanya ingin menulis " jawabku, sambil membuka buku itu.
" Hari dingin lebih baik di dalam. Nanti kamu sakit " bujuk Viko pada Jean.
" Baiklah kalau begitu, aku kembali ke kamar ku " ucapku lalu berdiri dari dudukku dan membersihkan salju yang menempel di baju dan rambutku. Setelah itu aku tersenyum singkat dan pergi dari sana. Saat telah melihat Viko yang mengangguk dan tersenyum padanya.