
" Tuan putri kita sudah sampai " ujar kusir itu dengan ke raguan.
" Hoam... "
Aku merentangkan tanganku lalu mengecek mataku, aku sangat bosan dan lelah, walaupun aku sudah mengunakan sihir, tetap saja kereta kuda ini lamban, karena macetlah, ataupun hal - hal lainnya.
" Huh... "
" Tuan pitri ayo kita keluar, lihatin kesemua orang kecantikan surgawi putri " ujar Naya bersemangat, lalu merentangkan tangannya untuk mempermudah ku turun.
Aku hanya memutar bola mata jengah. Aku turun dari kereta kuda dengan hati - hati karena gaun yang ku kenakan sangatlah merepotkan.
Saat ku turun, semua padang mata, menatap ku dengan takjub ataupun dengan muka tanda tanya, aku bodo amat tentang itu, karena di duniaku dulu, hal seperti ini sudah sangat sering terjadi.
" Siapa gadis cantik itu, dia seperti bidadari "
" Aku juga punya anak secantik itu "
" Sepertinya itu keluarga kerajaan deh"
" Iya lihat rambangnya itu, seperti lambang istana emas "
" Apa dia anak yang terabaikan itu, yang di bicarakan itu ?"
" Anak itu sangat imut "
" Aku ingin punya adik seperti itu "
" Lihatkan tuan putri " ucap Naya dengan senyum bangganya.
Ingin sekaliku pukul wajah Naya dengan sepatuku sekarang, aku sudah sangat lelah dengan sifatnya yang terlalu lebay itu.
Aku melangkahkan kaki menuju aula akademik, dengan menulikan pendengaran ku, tentang pendapat semua orang yang ada di sini.
" Krek..." ( Suara pintu terbuka ).
Sedangkan Naya sudah sangat takut, karena Jean tidak memberikan hormat pada kaisar tapi juga senang karena bisa mempermalukannya, pokoknya perasaannya sedang bercampur aduk antara takut, gelisah dan senang.
" Dari mana asal anak itu !, dia sangat berani "
" Ia, dia bahkan melewati kaisar "
" Anak itu sangat cantik "
" Aku ingin punya anak seperti dia juga "
" Aku iri dengannya "
Selang beberapa waktu akhirnya acara di mulai dengan pembukaan. Setelah itu berlanjut ke acara inti, yaitu pengujian bakat.
" Saya mau nanya sama anda, apa anda sendiri saja datang ke sini? " tanya salah satu tamu yang berada di depan Jean dengan wajah penuh dengan keberanian.
" Saya " tunjuk ku pada diriku sendiri.
" Yah siapa lagi " jawab orang itu.
" Saya tidak sendiri, apa mata anda buta?, lihat di samping kiri kanan saya ada siapa " sindir ku dengan halus, dengan wajah acuh.
" Apa hubungannya sama meraka?, meraka cuma pelayan " ujarnya dengan wajah penuh penghinaan.
" Merekakan manusia juga, apa mungkin kau bukan manusia? " tanya ku dengan menaikan alisnya.
" Kau.. "
Bentaknya dengan marah, dia adalah Heri yang merupakan perdana menteri istana, yang memiliki sifat sombong yang terkenal di seluruh istana, meraka semua ingin mencaci maki Heri, namun karena kuasanya yang besar membuat semua orang berpikir - pikir untuk menghina Heri.
" Apa kau tidak tahu siapa saya? " tanya Heri dengan wajah memerah, menahan amarah.
" Anda perdana menteri. Oh.. teryata anda orang yang suka memusuhi anak kecilnya , apa mungkin anda tidak sanggup lagi melawan orang sepadan dengan anda jadinya memusuhi orang yang berada di bawahmu. " sindir ku dengan terang - terangan masih menampilkan wajah tenangnya tampa rasa takut saat berbicara. Hal itu mengundang perhatian para tamu yang ada di aula meraka menatap tak percaya dan juga mengagumi atas keberaniannya.