
Mentari telah menampakkan sinarnya , namun Jean tidak ada tanda - tanda akan terbangun dari tidurnya di atas kasur yang cukup empuk dengan kain tipis yang membungkus tubuhnya, yang berupanya menghilangkan sedikit rasa dinginnya yang sebenarnya tidak ada hasilnya.
Musim dingin atau juga bisa di sebut musim Lux telah mendatangi benua Barat. Salju belum berjatuhan, baru dingin yang mengawali ke datangan salju.
Aku menggeliat dari tidurnya , karena hawa dingin yang masuk ke pori - pori kulitnya, ia membuka matanya pelahan, agar menyesuaikan cahanya di ruangan ini.
Aku memandang ruangan yang ia tempati, ia menyingitkan alisnya pertanda bingung akan keberadaannya, ia ingat kali terakhir sebelum pinsan ia berada di hutan, namun kini ia berada di ruangan yang gelap , tirai hitam yang menghalangi sinar masuk kedalam ruangan, dengan desain ukiran bunga mawar hitam di setiap sudut ruangan dan benda - benda yang bewarna merah dan hitam, tidak ada warna selain itu, yah... Dia sadari ini kamar milik Arfa, karena dari desain bunga dan juga warna yang dominan hitam dan merah di setiap ruangan, sama seperti ruangan yang ia kunjungi pertama kali.
" Crek " ( Suara pintu terbuka )
" Sudah bangun " ucap Arfa masih tampa epresi, dengan membawa teko yang berisi air di tangannya. Ia mendekati Jean yang masih diam tampa sepatah katapun.
"Kita dimana sepertinya kita tidak di akademik X! " tanyaku pada Arfa, ia merasakan hawa berbeda dari akademik X, di sini memiliki aura yang cukup mencekam.
" Hutan Akrilik perbatasan kerajaan Emas. " jawab Arfa, lalu duduk di sebalah Jean, menatap Jean yang sudah kembali ke bentuk semula, karena efek pil yang di minumnya sudah habis. Teryata pemikirannya salah tentang Jean yang melubah wujudnya menjadi anak kecil. Ia sengaja memberikan pil yang ia berikan bukan hanya pil perubah wujud menjadi dewasa, namun juga ada pil perubah wujud menjadi bentuk semula setelah efek itu habis. Namun tidak ada perubahan wujud lain selain anak yang berumur 5 tahun.
Jean memiringkan kepalanya, saat melihat Arfa yang menatapnya dengan diam.
" Ada apa denganmu! " tanyaku sambil melambaikan tanganku di depan wajahnya.
Arfa tersadar dari lumunannya, lalu menatap Jean sesaat, kemudian berdiri dari duduknya, pelahan melangkah keluar ruangan, sebelum ia menutup pintu ia berkata pada Jean.
" Setelah benar - benar pulih, kau bisa kembali " ucap Arfa, lalu menutup pintu kamar yang Jean tempati, meninggalkan segelas teko yang berisi air di meja. Setelah itu menutup pintu kamar yang di tempati Jean.
Aku bangun dari tidurnya, melangkahkan kakinya menuju tirai hitam, lalu membuka tirai hitam itu.
Dahan pohon yang beserakan, dengan pohon - pohon yang menjulang tinggi, namun tidak ada satupun dedaunan yang tubuh di pohon - pohon itu, seakan pohon itu kering, tapi seolah hidup tampa dedaunan yang ada. Dan ranting - ranting pohon yang berserakan, tanpa terlihat satupun daun yang ada.
pandanganku kosong, tidak seperti biasanya , yang biasanya tenang, dingin, cuek sekarang telihat kosong. Entahlah sepertinya ada sesuatu yang ganjal , seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi ia tidak tahu. Walaupun ia tahu, akhir cetitanya seperti apa, namun ia ingin merubah alur ceritanya, tentu saja itu akan membuat kisah yang berbeda dari alur cerita yang bahkan ia tidak ketahui lagi, apa yang akan terjadi kedepannya. 'Huh... Sudahlah jalankan saja. '
Setelah puas melihat, aku menutup kembali tirai itu, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan, mencari keberadaan Arfa, ia merasakan ke anehan dari Arfa, dalam plot cerita tidak ada sekalipun kisah yang menceritakan hutan ini.
Aku melihat Arfa yang sedang duduk diam sambil membaca buku di luar, terlihat fokos akan bacaanya.
" Arfa " pangilku yang sudah berada di sampingnya.
" Hm " ucap Arfa tampa menoleh ke arah Jean.
" Aku mau kembali, nanti orang rumah pada tahu kepergianku jadi aku nggak mau lama - lama di sini " ujarku sambil melihat sekelilingku yang lebih menyeramkan dari pada lihat di luar jendela tadi, hutan ini cocok untuk suting horor jika di dunianya.
" Baik, mau ku antar " ujar Arfa yang mengalihkan padanganya dari buku mengarah padangannya padaku.
" Tidak biarkan aku sendiri, aku cuma mau pamit, by " setelah aku mengatakan itu, aku berteleportasi ke istanaku, tepat berada di kamarku yang untungnya tidak ada para pelayan yang berada di kamarku yang ada hanya robot yangku jadikan penggantiku yang kini sedang tertidur.
Aku melangkahkan kakiku menuju ranjang, lalu aku membuka bagian punggug robot yang berisi rekaman yang terjadi selama aku tidak ada di rumah ini.
Aku mengembalikan robot itu ke ruang jiwaku, lalu mengambil laptopku untuk melihat rekaman itu. Yang teryata tidak terjadi apa - apa dan tidak ada yang curiga, akan sikap anehku yang sedikit kaku.
Besok aku juga akan melakukan perjalanan ke pusat kota, tepatnya di tengah - tengah taman kota, untuk melihat pohon kehidupan, besok aku akan membiarkan Joane menyentuh pohon itu duluan setelah itu, aku yang akan menyentuhnya setelah itu. yang tentunya akan di lihat semua orang yang ada di sana, sekalian aku juga akan melihat sifat asli dari Joane.