
" Apa kau orang yang di kirim kaisar!" tanya lelaki itu dengan dingin.
" Tidaklah... Aku malahan disini mau mengajukan kontrak kerja sama antara kita, Pangeran Arfa " ucapku dengan senyum kecil.
Pupil pria itu melebar sesaat kemudian datar kembali.
" Dari mana kau tahu gadis kecil ! " tanya Arfa itu dengan datar.
" Hoho, bahkan rakyat jelata tahu bagaimana bersikap dengan tamu " ejek ku pada Arfa tampa memedulikan pertanyaan yang di lontarkan Arfa itu, aku sangatlah kesal padanya sejak awal , dia mengabaikan salam ku bahkan dia tidak menyuruhku sekedar duduk ataupun menyambut ku. Kurang ajar banget gak sih?.
" Silahkan duduk di sebelah sana "
Aku pun melangkahkan kakiku, ke meja tamu itu yang telah terletak banyak hidangan manis. Tampa ba bi bu aku duduk mendahului Arfa.
Saat ini aku duduk berhadapan dengan Arfa dengan pembatas meja yang berbentuk bulat yang di atasnya terdapat banyak hidangan manis.
" Kontrak apa? " tanya Arfa dengan dingin.
" Kontrak bekerja sama antara kita, aku tahu pembunuhan yang terjadi di pusat kota kemarin itu adalah ulah sekte mu, dan niatmu juga baik, kau hanya membunuh orang yang salah, jadi aku ingin bekerja sama dengan mu " ujar ku panjang lebar lalu meminum teh yang telah terhidang itu.
" Apa keuntungan bagiku? " tanya Arfa lagi yang masih dengan ekspresi datarnya.
" Cih... Jika kau tidak mau ya sudah... Kau yang rugi... Saat tiba waktunya kau akan menyesal namun itu semua sudah terlambat, sia - sia " ujar ku dengan raut wajah kesal menatap Arfa dengan dingin.
" Apa maksudmu !" tanya Arfa dengan raut wajah bingung.
" Ah... Aku tidak bisa memberitahumu yang penting, masa depanmu akan terancam " ujar ku lalu mengangkat cangkir teh lalu menyeruput tehnya perlahan. Setelah itu aku mengambil beberapa kue yang ku rasa enak dan makanya dengan santai.
Sambil menatap Arfa yang sepertinya masih bingung dengan perkataan ku tadi.
" Baik, tapi harus ada perjanjian antara kita gadis kecil " ucapnya yang masih menatap datar ke arahku.
" Oke... Ini surat perjanjian yang ku buat " ucapku lalu mengeluarkan gulungan yang bersisi surat perjanjian yang telah ku buat sebelum aku pergi dari istana, lalu aku memberikan gulungan itu pada Arfa.
Keheningan terjadi selama dua puluh menit, aku yang dari tadi bersantai dengan memakan ke dapan yang ada di depanku, jujur aku sangatlah lapar, sedangkan Arfa masih setia membaca gulungan yang ku beri, terlihatlah keseriusan di wajahnya.
Tiba - tiba saja aku merasakan tatapan tajam yang berasal dari orang yang berada di hadapanku , tapi mohon maaf aku sekarang hanya ingin menikmati makananan ku dulu setelah perutku terisi, baru aku akan meladeni mu, itung - itung sebagai waktu untuk kau pertimbangkan.
Selang beberapa menit Arfa berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya, aku hanya mengangkat bahuku, mungkin Arfa setuju dengan persyaratan yang ku buat, dan dia juga akan membuat persyaratannya sendiri. Aku masih menikmati makan ku, tatapan kami bertemu hanya beberapa detik setah itu aku melanjutkan acara makan ku dengan santai.
Wanita itu sangat aneh, aku merasakan aura kedewasaan darinya, namun saat ku lihat lagi, dia masih kecil dengan umur lima tahun. Apa dia menyamar menjadi anak kecil ?, sepertinya itu tidak mungkin, aku tidak merasakan sihir itu walaupun sekecil apapun.