
Setelah selesai mandi , aku mengunakan gaun yang di berikan Naya, setelah itu berkata....
" Ayo sekarang kita pergi "
Tapi sebelum aku melangkah ke luar kamar, Naya menghentikan ku seolah itu hal yang tidak masuk akal.
" Berhenti di tempat putri, berhenti di sana "
Naya memblokir pintu masuk, mengunakan kedua tangannya, dengan ekspresi tidak terimanya, seolah dia tidak akan pernah membiarkan aku keluar ataupun melangkahkan kakiku walau hanya selangkah.
" Kenapa ? " tanya ku dengan mengerutkan dahinya.
" Putri harus berdandan dan itu wajib"
" Aku sudah bedakan tadi "
Namun, Naya menggelengkan kepalanya, dengan mata yang berkata jangan bicara omong kosong.
" Tidak bisa Putri, anda harus membuktikan kepada orang itu bahwa anda baik - baik aja tampa ada dia di sisi tuan putri, anda harus berdandan "
" Kita sudah terlambat Naya "
" Lebih konyol pergi seperti ini dari pada terlambat, anda harus berdandan, putri anda juga akan pergi sendiri kok, mengunakan kereta kuda yang telah di siapkan, putri waktu sarapan sudah habis jadi kita hanya akan pergi ke akademik, putri tidak akan terlambat "
Aku menggelengkan kepala, namun Naya masih keras kepala, dengan menyuruhku duduk di depan meja rias dan ia mengambil kosmetik dan kuas yang ku berikan padanya dari ruang jiwaku, sejak itu dia tergila - gila dengan merias orang, aku jadi nyesel memberikan Naya kosmetik.
" Aku sudah cantik tampa riasan " ujarku dengan nada kesal, ia tahu setelah duduk di sini, ia akan menghabiskan waktu 1 jam untuk sekedar merias doang.
" Ini akan lebih cantik Putri, bahkan seluruh dunia akan memuja dan semua orang yang ada di sana tidak akan bisa lepas pandangannya darimu putri " ucap Naya, dengan membayangkan apa yang akan terjadi.
Naya dengan semangat 45, mulai meriasku. Dengan api membara ingin merubahku.
Aku menangis dalam hati, dengan membayangkan nasibku, setelah ini ia akan duduk di kereta kuda dalam beberapa jam setelah itu berdiri di akademik utuk menunggu giliran. Huhuhu....
" Nona tenang saja, saya adalah ahli tata rias " ujarnya yang masih fokus mendandani ku dengan semangat dan senyum yang terukir di bibirnya.
" Sejak kapan kau menjadi ahli tata rias! " tanyaku dengan heran. Dulu sebelum ia memberikan benda - benda kecantikan pada Naya, Naya sekalipun tidak tahu dengan dunia ke cantikan dan sekarang, dia sudah menjadi ahli tata rias.
" Sejak Putri memberikanku Kosmetik, hemm.. Tapi entahlah, saya tidak terlalu tau " jawab Naya santai.
Oh...sepertinya aku salah telah memberikan dia kosmetik, hidupku akan lebih berat dari ini nanti, kedepannya, akan ku pertimbangkan lebih jauh apa dampak dan keuntungannya.
" Akhirnya selesai " ujarnya dengan bahagia.
" Lihat putri anda cantik dan imut "
Aku melihat pantulan wajahku dari cermin dan juga mengagumi kehebatan Naya dalam merias, wajahku tetap asli namun ada kesan berbeda yang tidak bisa di ungkapkan seperti lebih bersinar.
" Hem... Kau hebat juga, Yasudah ayo kita pergi "
" Baik putri "
Kamipun menuju depan gerbang untuk menaiki kereta kuda, sepanjang jalan banyak yang memujiku mengagumi ku, aku hanya menulikan pendengaran ku.
" Salam putri "
" Hm, ayo jalan " pintaku setelah menaiki kereta kuda. Aku menggunakan sihir ku, untuk mempercepat perjalananan dan juga sihir untuk membuat pantatku agar tidak sakit, karena goncangan dari kereta kuda.