The Reincarnation Of A Genius Woman

The Reincarnation Of A Genius Woman
Bab 2 (7)



Ini adalah waktunya ia mendapatkan harta karun, di dalam plot cerita di ceritakan bahwa pedang Qing Rot, berada di genggaman gadis kecil dengan pakaian kumuh, ia hanya perlu mencari keberadaan gadis itu yang berada di ibu kota, tepatnya berada di pasar ibu kota.


" Sampai tuan putri "


Aku turun dari kereta kuda, yang bisa di lihat banyak orang yang berada di ibu kota memperhatikan ku, dengan bisikan - bisikan yang seperti biasanya. Aku hanya memutar bola mataku malas.


Setelah itu aku pergi dari sana bersama Naya, mengelilingi pasar ibu kota, yang niatku hanya mencari keberadaan gadis tersebut.


" Putri kita mau kemana! " tanya Naya pada Jean dengan wajah bingung, di sadari Jean hanya mengamati sekelilingnya tampa ada niatan menuju toko, ataupun memilih barang.


Aku tidak menggubris pertanyaan Naya, ia memegang dagunya, dengan mengamati gadis kumuh tepat berada di depannya, dengan pakaian compang - camping dengan tingkah aneh, ia merasa gadis yang di carinya adalah dia.


Naya melihat Jean yang berlari, seperti mengejar sesuatu, aku mengikutinya dengan memanggilnya.


" Putri anda mau kemana! " teriak Naya dengan raut khawatir, karena Jean berlari, ia takut jean akan jatuh.


Setelah beberapa menit aku mengejar Jean yang teryata Jean sedang mengejar gadis itu, yang berada cukup jauh di depan kami.


' Apa yang akan di lakukan putri ' tanya batin Naya dengan bingung , ia tidak ingin mengganggu Jean, ia hanya akan mengikutinya saja.


Setelah 1 jam Aku dan Naya mengikuti gadis itu dari belakang, dan tiba - tiba, ada lelaki berperawakan gemuk menghampiri gadis itu, berkepala botak, berwajah jelek, kumis lebat dan berpakaian ala bangsawan.


Aku dan Naya bersembunyi di balik tembok , lalu mengamati interaksi antar mereka.


" Sa-ya su-dah me-nyelesaikan-nya tuan " jawab gadis itu dengan takut, bahkan bisa terlihat jelas tubuh gadis itu bergetar.


" Bagus, ikut saya " ujar lelaki gemuk itu , lalu berjalan menjauh dari lokasi.


" Naya ikut saja, jangan banyak tanya" ucap ku sebelum Naya, membuka suara.


Naya hanya mengangguk, sebelum ia bisa bertanya, lalu mengikuti Jean yang kembali mengikuti lelaki gemuk itu dan gadis itu.


Tibalah kami di mension yang tidak terlalu besar, kami masih mengikuti meraka, dengan sihir menghilang sehingga kami tidak ketahuan, sihir ini merupakan sihir hitam, aku tidak memberi tahu Naya, hanya menyuruhnya tetap mengikutinya.


Setelah tiba di ruangan yang cukup sepi, Lelaki itu berhenti dan mulai berbincang.


" Cepat berikan benda itu, pada ku " minta lelaki gemuk itu dengan kasar.


Gadis itu mengeluarkan pedang dari kantong di mensinya, dapat di lihat pedang itu sangat indah sekaligus mengerikan, karena hawa yang di keluarkannya sangatlah mencekam.


Sebelum gadis itu memberikan pedang itu ke tangan lelaki gemuk itu aku langsung mengambil pedang itu dari tangan gadis itu, setelah itu pedang itu juga hilang dari padangan lelaki itu dan gadis itu, karena aku telah menyimpannya dalam ruang jiwanya.


" Kemana pedang itu!, kau... Apa kau membohongiku! " tanya lelaki gemuk itu dengan amarahnya, lalu mencekam lengan gadis itu dengan kuat, sedangkan gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan tubuh bergetar takut.


Aku yang melihatnya sangatlah kesal, aku meninju perut gendut lelaki itu dengan tinjuku, dengan kekuatan penuh, sehingga lelaki gemuk itu terlempar jauh hingga mengenai tembok yang membuatnya bukan hanya perutnya sakit sekaligus punggungnya yang terasa remuk.