The Reincarnation Of A Genius Woman

The Reincarnation Of A Genius Woman
Bab 3 (8)



" Baiklah adik ku memang benar - benar jenius "


Viko memberikan aku jempol,  aku hanya memandangnya malas,  aku yakin setelah ini pasti tersebar desas desus tentang ini.  Tapi untungnya meraka tidak tahu siapa aku,  sampai pada hari ulang tahunku yang akan di adakan dua hari lagi,  baru semuanya terbongkar di masyarakat.


Saat di depan gerbang terlihatlah kaisar dan pangeran pertama menunggu di depan gerbang dengan wajah datar menatap kerata yang ku tumpangi.


" Hey... Kau... Apa ada tamu yang akan datang , sehingga kaisar berdiri di sana! " tanyaku pada Viko, namun Viko juga sama denganku, dia juga menampilkan wajah bingung menatap ke depan sana.


Kamipun turun tepat di depan kaisar, aku dan Viko memberikan salam penghormatan pada kaisar dan juga Pangeran pertama.


" Kemana saja kalian! " tanya kaisar dengan wajah dinginnya, menatap kami berdua dengan tajam.


" Kami tadi pergi belanja " jawabku dengan polos, tapi... Memang benar kalau meraka pergi belanja...


" Kalian anggap istana ini milik kalian, sehingga tidak meminta izinku, jika kalian keluar " ucap Alex dengan geram, menatap kami.


Kami hanya diam tidak berani berkata apa - apa memang benar sih di sini kita yang salah, tapi tidak sepenuhnya salahku, tapi ini salah orang yang berada di sebelahku , dianya aja yang membuat suatu hal menjadi repot, pakai kereta kuda lagi, itukan mengundang para perhatian orang lain, tadi aku menolaknya, namun ia bersikeras tetap ingin memakai kereta kuda, aku yang besar ini, harus ngalah dong sama anak kecil.


" Kalian di hukum tidak boleh keluar dari istana selama sebulan " perintah Alex mutlak. Sedangkan kami hanya mengangguk saja, agar masalah tidak jadi panjang.


________


Hari ini aku akan belajar sihir dengan penyihir terkuat kedua setelah kaisar dia adalah Verdian , ia pernah bertemu dengannya saat pengetesan bakat waktu itu, yang bagiku sangat menyebalkan, untung tidak tersebar desas desus ataupun di permasalahkan tentang kejadian itu.


" Senang bertemu denganmu guru Verdian " ucapku dengan sopan dengan memberikan salam anggun.


" Jangan terlalu formal " ucapku dengan sopan.


" Baiklah putri, kalau begitu mari kita belajar tentang sihir "


Aku duduk di sofa , dan guru Verdian berdiri dengan memegang bukunya.


" Pertama - tama saya akan menjelaskan tentang pembagian sihir pada putri, yang pertama ada sihir pemula, sedang dan tinggi. Jika dalam tahap sihir juga memiliki tahap yang berupa warna, warna sihir itu ada empat macam, ada warna putih, kuning, jingga dan merah. Jika kamu ingin berlanjut ke tahap berikutnya kamu harus melewati itu semua "


' Guru aku benar - benar bosan, aku sudah tahu itu semua, apa tidak ada yang lebih menentang dari ini yang hanya sekedar duduk lalu bercerita, itu lebih baik di jadikan dongeng sebelum tidur... Huh... Sangat membosankan ' ucap batin ku dengan memainkan buku yang ada di depannya.


" Em.. Itu... Saat pengetesan kemarin saya belum tahu elemen apa yang putri punya , apa putri sudah tahu! " tanya Verdian dengan ragu, menatapku dengan penuh harap yang terlihat jelas di matanya itu.


Aku hanya menghela nafas kasar, lalu berkata " aku punya sihir api dan air " jawabku, lalu menoleh untuk melihat ekspresi yang di berikan Verdian.


" Hah... Putri.. sihir itu bisa saling bertabrakan jika tidak di kendalikan dengan cepat " ucap Verdian dengan nada khawatir, menatap Jean dengan penuh rasa ke tidak percayaan.


" Yah... Makanya...anda harus mempraktekkannya bukan hanya sekedar teori "


" Baiklah besok saya akan memulainya, saya akan meminta izin pada kaisar " ujar ku, sambil membereskan barang - barang yang di bawanya.


" Baiklah putri pelajaran kita sampai sini dulu, saya pamit undur diri " Verdian memberikan hormat setelah itu keluar dari ruangan dan tinggallah aku sendirian di sini.


Setelah itu aku membaca buku di perpustakaan utama ini, aku memilih - milih buku yang ku anggap menarik lalu membacanya. Agar mengusir kebosanan ku.