The Reincarnation Of A Genius Woman

The Reincarnation Of A Genius Woman
Bab 4 (7)



Setelah itu aku mengeluarkan semua robotku, untuk membangun desa ini  dan tentunya dengan bantuan masyarakat  yang juga sepertinya sangat antusias untuk membantu.


Dengan semangat juang dan tenaga kerja yang cukup serta bahan - bahan yang aku kumpulkan, kami bisa membangun desa ini dengan cepat.


Kami memperbaiki rumah - rumah yang rusak , menanam kembali tanaman yang pernah mereka tanam serta membangun tembok pembatas dengan batu bata.


Di saat pembangunan selesai kamipun mengadakan perayaan dengan memasak bersama.


Terlihatlah seyum bahagia dari para penduduk desa,  aku sangat senang bisa membantu meraka,  lelahku di bayar dengan seyum manis dari para penduduk desa.


Aku makan dengan para penduduk, banyak dari meraka menanyakan siapa aku, aku menceritakan, kisah tentang kehidupan duluku.


Aku menceritakan bahwa aku adalah anak yang nakal yang ingin sekali berkeliling dunia , dan juga pembuat onar yang ingin tahu segala sesuatu yang ku inginkan , aku juga menceritakan kisah lucu yang pernahku alami,  dulu aku pernah mengadu 100 ayam melawan 100 ayam,  namun bukan melawan satu sama lain,  malah mereka mengejarku, aku mengelelilingi kota dengan berlari berbelit - belit,  sampai rumahku, bahkan aku melupakan reputasiku,  media masa menampilkan vidioku,  namun aku bukannya marah,  aku malah tertawa saat melihat epresi wajahku.


" Hahahhahaha,  itu kisah masa kecil yang lucu " ucap salah satu warga , sambil tertawa dan memenggag perutnya yang sakit karana terlalu lama tertawa.


Lalu di susul dengan tawa warga,  aku juga ikut tertawa,  karena terbawa suasana. Bukannya malu,  aku malah menertawakan diriku sendiri,  mungkin urat maluku sudah putus.


Malampun tiba,  aku masih terjaga,  aku duduk diatas rumah kepala desa,  dengan menatap bintang yang berkelap kelip di langit,  sedangkan para warga sudah tertidur dengan nyiyak, mungkin karana aktivitas yang di lakukan hari ini cukup melelahkan. Sedangkan aku masih terjaga menunggu para bandit itu dan juga makluk yang bernama LCR Conian.


Aku  duduk termenung,  sambil melihat tanganku yang kecil,  aku sudah memakan pil perubah wujud  agar tidak ada yang tahu siapa aku dan juga untuk mempermudah pegerakanku,  ku pikir dengan wujudku yang seperti ini, usiaku sekitar  18 tahun. Aku juga ingin membuat pil,  agar aku bisa mempunyai setok pil perubah wujud yang banyak dan juga pil - pil menakjubkan lainnya.


Para bandit sudah mulai berdatangan, yang di pimpin bandit Likel, yang sedang berbincang - bincang dengan temannya didalam kereta kuda.


" Nanti kita akan mengambil semua gadis dan juga anak - anak dari desa itu,  lalu kita jual di ras manusia,  dan kita akan benar - benar hancurkan desa itu sekarang,  sudah cukup kita memberi mereka kesempatan, sekarang kita akan menjadikan desa itu menjadi markas kita " kata bandit Likel.


" HAHAHAHA,  iya,  sudah cukup kita membuat meraka menderita " ucap salah satu bandit


Tapi saat meraka sudah dekat dengan desa, meraka tiba - tiba berhenti karena di desa itu di pasang Beriher sihir dan juga tembok pembatas.


" Sejak kapan,  desa ini ada tembok dan juga ada sihir " ucap Likel dengan terkejud.


Tiba - tiba ada sosok yang keluar dari kabut malam dengan aura membunuhnya dan memiliki kesan menyeramkan.


Semua bandit merinding saat melihat sosok itu,  tapi Likel si ketua bandit tidak takut dengan sosok itu,  ia keluar dari kereta kuda untuk melihat lebih jelas sosok itu.


" Siapa di sana ? " tanya Likel sambil menuju sosok itu, agar bisa melihatnya lebih jelas.


Sosok itu hanya terseyum , setelah bandit itu tepat berada di depannya. Sosok itu adalah Jean.


" Hallo, saya malaikat kematianmu " ucap Jean dengan seyum menyeramkan.


Likel mengeluarkan pedangya , ia berniat menembasnya, namun sebelum ia mengarahkan pedangnya pada sosok itu, padangnya sudah meleleh, dan tangannya terasa terbakar.


Para bandit lainnya keluar saat mengetahui ketuanya belum kembali sejak tadi. Betapa kagetnya mereka saat melihat pedang ketuanya meleleh.


" Ketua..." pangil mereka secara bersamaan lalu melangkahkan kakinya mendekati ketua.


" Berani sekali kau " ucap Likel dengan marah bahkan matanya sudah memerah.


Likel mengarahkan tangannya ke bawah lalu muncullah sebuah cahanya dari tanah.


" Hahaha, lihatlah seranggaku yang memiliki insting membunuh ini, yang ku beri nama LCR Conian " Teriak Likel , lalu muncullah seekor serangga raksasa yang berjenis kelabang.


Kelabang raksasa itu dengan cepat menyerangku dengan cepat aku menghindar dari serangan itu dan juga racun - racun yang di keluarkan dari mulutnya, bukan hanya itu, kelabang - kelabang kecil keluar dari telingganya yang juga ikut menyerangku dari berbagai sisi.


Aku mengunakan sihir apiku, untuk menyarang kelabang - kelabang kecil yang sangat gesit ini, bahkan aku sangat kewalahan menyarang mereka, yang tidak ada habis - habisnya.


Cara yang apuh adalah melawan induknya, namun bagaimana bisa, aku menyerang induknya!, lihatlah ini kelabang - kelabang kecil terus menyerangku , kelabang - kelabang itu makin bertambah banyak, walaupun sudah ku musnahkan meraka dengan sihir apiku.


" HAHAHAHA, lihatlah kekuatan hewan peliharaanku dia sangatlah hebat, kau tidak akan bisa menang " ucap Likel dengan bangga.


Aku sangat sebal dengan ketua bandit itu,


Aku mengurung para bandit itu, di bola air yang ku buat, sehingga tidak ada yang bisa lari dari ku dan aku tidak akan mendengar suara jelek para bandit itu, aku akan menyelesaikan makhluk ini, baru aku akan melenyapkan para bandit itu.


Aku menyerang dengan kekuatan penuh, tangan kiriku, akan menyerang kelabang - kelabang kecil ini dengan kekuatan api sedangkan tangan kananku akan menyerang induknya dengan kekuatan api dan juga petir.


" Sttt... "


Setelah aku menyerang kelabang - kelabang itu dengan kekuatan penuh, aku terpental jauh ke belakang, untung tidak ada pohon di belakangku.


" Ah... "


Aku memengagi dadaku yang terasa sakit, mungkin ini karana aku memaksa untuk mengeluarkan sihirku terlalu banyak, sedangkan tubuh ini masih tidak kuat untuk menahannya.


" Ah... Hewan peliharaanku " teriak Likel dengan prustasi, saat melihat hewan yang di bangga - banggakan telah lenyap terbakar api.


Aku tersryum devil pada ketua bandit itu, sambil menuju Arah para bandit itu yang telahku kurung di bola air buatanku.


" Sekarang giliran kalian " ucapku bagaikan malaikat maut.


Telihatlah raut wajah para bandit itu yang ketakutan, meraka berusaha keluar dari bola air buatanku namun tidak bisa. Aku yang lelah, tampa lama - lama aku langsung membasni para bandit itu.


Aku mencabik - cabik para bandit itu yang masihku kurung di bola airku, lalu menyincang - nyincang meraka dengan pedang ke sayanganku, setelah semua bandit itu mati, Jean kembali ke akademik X, meninggalkan para bandit itu yang sudah tidak lagi bisa di satukan, karena meraka sudah menjadi beberapa bagian.