The Reincarnation Of A Genius Woman

The Reincarnation Of A Genius Woman
Bab 5 (1)



" Keluarlah " ujar ku,  setelah membuka ngembok itu,  lalu membuka pintu itu dengan lebar.


Rehan keluar dari sana dengan dingin seolah memancarkan ketidak peduliannya.


Tampa satu katapun kami keluar dari sel penjara,  dengan mengendap - endap,  melihat kiri kanan.


Kami hanya melihat penjaga yang hanya diam tampa epresi dengan bibir yang tertutup, seolah meraka hanyalah patung penjaga tampa ada kehidupan di dalamnya.


Kami keluar dari penjara dengan aman tampa ada kesulitan apapun.


Angin menyambut kedatangan kita,  dengan dingin yang menerpa kulit dengan lembut,  sejuklah yang di rasakan.  Namun makin lama akan menyakitkan dengan kesejukan yang di beri.


Aku memengag tangan Rehan lalu berteleportasi ke istana merah tepatnya di kamarku.


" Kau pergilah ke benua bagian selatan,  nanti aku akan pergi kesana juga,  jadi tunggulah aku di sana,  ini ada cincin ruang,  di sini berisi koin mas,  jangan lagi kau mencuri atau bergabung ke organisasi pembunuh,  berdanganglah kamu,  aku menunggu kabar ke suksesanmu " ucap ku dengan seyumnya,  lalu mengulurkan tanggannya dan memberikan cincin ruang itu pada Rehan.


" Untuk apa kau lakukan ini semua! " tanya Rehan dengan tajam menatap Jean dengan niat membunuh. Namun anehnya tidak ada kehidupan yang hadir dalam matanya,  mata merah itu jika di tatap tidak akan berujung.


" Aku hanya ingin kau di pihakku " jawab ku santai,  seolah pertanyaan yang di beriakan hanyalah pertanyaan koyol.


" Pergilah aku ngantuk " ucap ku lagi,  lalu berjalan menuju ranjangnya.


" Baik saya pergi dulu " ucap Rehan sambil memberikan hormat pada Jean dengan satu tangan di dada dan kepala menunduk.


Aku hanya melambaikan tangan, lalu menyelimuti dirinya, karena musim sudah memasuki musim Lux,  sebentar lagi turun salju,  mungkin setelah ia pulang dari pusat kota salju akan turun.


Rehan keluar dari istana dengan pemikiran yang bercampur aduk namun tidak bisa ia pecahkan karena ia tidak bisa bertanya lebih lanjut tentang kebebasannya, orang yang menyelamatkannya mengisaratkan agar tidak bertanya lebih lanjut dengan tingkah yang di tunjukkannya.


Pagipun tiba aku sudah berada di kereta kuda bersama ayah dan kakak-kakakku yang dari tadi hanya menatapku, aku duduk di samping ayahku sedangkan kakak - kakakku duduk di depanku.


" Kamu aneh deh " ujar Viko yang melihat Jean dari atas sampai bawah.


" Apa! " tanya ku yang masih menatap luar jendela yang terlihat hiril mudik kereta kuda, meraka juga sama tujuannya denganku, Meraka menuju pusat kota untuk melihat pohon kehidupan itu.


" Kemarin matamu itu kanya nggak hidup, nah... Sekarang udah ada tanda - tanda kehidupan, walaupun masih irit bicara " ucap Viko yang membayangkan mata Jean kemarin saat makan pagi bersama.


" Emang Kakak mau aku mati " ucap ku to the point, mengalihkan padangannya dari luar mengarah pada Viko yang tersentak kaget saat kata yang di berikanku.


" Nggak, gitu...itu aneh aja " ucapnya dengan ragu.


Aku hanya memutar bola mataku malas. Kembali melihat luar jendela.


" Kalian setelah ini ku tugaskan cari lelaki yang berwajah seperti ini " ucap Alex dengan menunjukkan wajah Rehan.


Aku yang melihatnya hanya tersenyum kecil, lalu kembali menatap luar jendela.


Kamipun akhirnya sampai di taman pusat kota, telihatlah banyak orang yang sudah hadir di sana mengelilingi pohon kehidupan, saat kaisar datang banyak orang - orang yang mengalihkan tatapannya dari pohon kehidupan mengarah ke arah kami, meraka memberikan jalan pada kaisar, hingga mempermudah kami berjalan tampa ada hambatan.


Kami sudah di sediakan duduk sehingga tidak perlu capek - capek untuk berdiri dengan senang hati aku duduk di sebalah kaisar.


" Baiklah saya hanya ingin mengatakan jika pohon kehidupan ini layu sudah beberapa hari ini, namun ada gadis perempuan yang menyelamatkannya walaupun tidak sepenuhnya, gadis itu bernama Joane Kila Putri "


Joane berjalan menuju ke arah pohon kehidupan dengan langkah angun, dengan mata kuning, rambut kuning, kulit putih dan gaun bewarna putih, seolah dia adalah malaikat yang turun dari bumi, semua orang mengagumi kecantikan Joane, walaupun Jeanlah yang lebih cantik darinya.


" Terimakasih karena kau telah menyelamatkan pohon kehidupan ini. Apa kau bisa menyentuhnya kembali!" pinta Alex dengan datar, Joane hanya mengaguk dengan seyum manisnya lalu menyentuh pohon kehidupan itu.


Dulu tubuh ini, dia ingin mengambil perhatian ayahnya sehingga dia berlari lalu menyentuh pohon kehidupan itu secara bersamaan, namun orang-orang hanya tahu jika Joanelah yang telah menghidupkannya 100 % , meraka menganggap Jean hanyalah pengaggu, namun sekarang tidak ia akan bersabar setelah itu baru dia yang menyentuhnya.


Selang beberapa menit tidak ada perubahan di pohon kehidupan itu. Akhirnya Joane memutuskan tanganya dari pohon itu. dengan epresi kecewanya.


" Tidak apa nak, yang peting kamu sudah membantu " ucap salah satu pengunjung dengan ramah.


" Ya, paman " jawab Joane dengan seyum manisnya.


" Bolehkan aku mencobanya " tanya Jean yang berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya menuju pohon itu.


" Baiklah kau boleh mencobanya " ucap Kaisar yang juga penasaran.


Akupun memengag pohon itu, lalu menutup mataku secara pelahan hanya untuk lebih terlihat benar-benar fokos, tapi hanya mengang aja sudah bisa pohon ini hidup, lalu muncullah cahanya terang, sontak semua orang yang ada disana menutup matanya, secara pelahan sinar itu hilang.


Aku membuka mataku, dan melihat ke atas yang sudah mulai tubuh dedaunan di sana, lalu tatapan mataku tertuju pada tangan kecil yang juga menyentuh pohon itu, saat ku lihat dia adalah Joane yang terseyum manis padaku.


" Wah... Pohon itu hidup "


" Tapi siapa yang melakukannya !, tuan putri Jean kah atau Nona Joane " tanya salah satu pengunjung.


" Paman saat keluar cahanya dari pohon ini, apa Nona Joane memengang pohon ini atau tidak! " tanyaku dengan polos, dengan epersi binggung yang di buat-buat, tapi dalam hati ia kesal sama Joane dengan sok polosnya menatap ke depan.


" Tidak, dia tidak memengangnya " jawab Kaisar dengan dingin, menatapku dengan seyum kecil, seperti sebuah isyarat ' aku membantumu '


" Iya dia baru mengang saat ada cahanya "


" Ah.. Bukan maksudku berkata seperti itu, pasti kau kaget makanya kau memengang pohon ini secara tidak sengaja " ucapku dengan raut wajah bersalah, menatap Joane.


" Iya, aku kaget, aku yang harusnya minta maaf karena telah menggangumu " ucap Joane dengan mata berkaca - kaca dengan raut wajah penuh bersalah.


" Ah, tidak papa wajar kok, siapapun pasti akan berbuat seperti itu, ah... Sepetinya aku harus pulang, sampai ketumu lagi " ucapku dengan seyum lebar, lalu melambaikan tanganku. Setelah itu aku mengajak ayah dan kakakku pulang. Kami pun kembali ke Istana Emas.