The Reincarnation Of A Genius Woman

The Reincarnation Of A Genius Woman
Bab 5 (2)



" Sepertinya kau cerdik juga " ucap Alex yang terseyum miring,  menatap Jean yang duduk dengan tenang manatap jendela.


Aku mengarahkan pandangannya pada Alex, lalu terseyum manis.


" Itu sebuah kebenaran,  atau... Kau beranggapan yang lain " ucapku pada Alex dengan satu alis terangkat.


" Baiklah itu sama saja " Alex mengarahkan padangannya ke luar jendela,  percuma saja berkata lagi hasilnya akan sama Jeanlah yang akan memenagkan adu mukutnya.


Aku hanya terseyum kecil, lalu kembali mengalahkan padangannya keluar melihat kegiatan rakyat yang sedang bekerja, anak - anak yang berlari dengan seyum tulus dan kesungguhan para orang tua untuk mencari uang dengan keringat yang bercucuran.


Tiba - tiba saja kereta kuda berhenti, tubuh ku spontan maju kedepan, namun sebuah tangan yang memengangi perutku membuatku tidak terjatuh ,aku melihat orang itu yang teryata Alex, aku terseyum kecil setelah itu Alex melepaskan tangannya dari tubuhku, aku kembali ke posisi awal dengan anggun.


" Ada apa!, kanapa berhenti! " tanya Viko pada prajurit di luar.


" Salam pangeran, kita di kepung dengan orang berbaju hitam " jawab salah satu penjaga.


Viko membuka tirainya lebar - lebar, terlihatlah bergerombolan orang yang berbaju hitam mengepung kami dengan pedang dan panah yang meraka bawa.


" Ada apa! " tanya Alex pada Viko.


Viko menutup tirainya " Kita di kepung " jawab Viko dengan dingin.


" Jangan keluar " perintah Alex pada Jean, setelah itu Alex keluar dari kereta kuda yang di susul Viko dan Bira.


Aku hanya menatap kepergian Alex, Viko dan Bira dengan diam.


' Dalam plot tidak ada kejadian seperti ini, sepertinya ceritanya sudah berubah '


Aku mengintip sedikit keluar jendela, lalu tampaklah bergerombol orang berbaju hitam yang mengepung dengan senjata tajam yang dibawa, dengan cadar yang melengkapinya.


Lalu salah satu kerumunan menggakat pedangnya lalu berteriak "Semuanya mari kita basni keluarga kerajaan "


Lalu teriakkan lainnya terus menggema di udara. Mereka seperti arus pasang saat meraka melesat ke depan secara berurutan, dari situ tahu berapa banyak pasukan yang di bawa orang yang berbaju hitam, tampa tahu apa motif meraka. Dari jauh seperti lautan pedang yang mengalir.


" Kalian kelilingi kereta kuda, lindungi putri " perinrah Alex pada para prajurit yang di angguki para prajurit yang menyebar di setiap sisi.


"Aku akan menyerang dari depan " ucap Viko lalu berlari ke arah depan yang dimana itu adanya kuda-kuda yang sedang mengamuk yang sedang di tenangkan si kusir kuda.


" Aku belakang " ucap Bira lalu berlari ke sisi belakang dengan pedang yang sudah di tangannya.


Aku hanya melihat peperangan itu dengan tenang seperti tanyangan film, tampa ada niatan membantu hanya membaca gerakan Meraka dengan bunyi pedang seperti lagu.


Sudah satu jam berlalu peperangan itu belum selesai hanya beberapa yang tubang dan itupun dari pihak kekaisaran. Peperangan yang terjadi tidak merata membuat pihak kekaisaran sangat susah untuk melawan orang berbaju hitam.


Aku yang sudah bosan dengan peperangan ini, lalu mengibaskan tanganku, dengan menyembunyikan aura sihir dari tubuhku dengan menekannya.


Tiba - tiba angin keluar dari celah - celah pepohonan. Angin membawa keharuman yang menyenangkan, namun sangat membahayakan.


Angin itu melepas semua cadar orang yang berbaju hitam, lalu menutup semua hidung orang kekaisaran.


Selang beberapa menit banyak orang berbaju hitam tumbang dengan teratur, setelah semuanya pinsan tibalah gelombang air yang menyedot orang berbaju hitam itu masuk kedalamnya setelah itu gelombang itu mengikatkan dirinya di belakang sisi kereta kuda yang melayang ke atas hingga tidak ada beban yang di buatnya.


Meraka yang melihat hal itu hanya membulatkan matanya hingga sebuah suara menyadarkan meraka.


" Ayah apa udah selesai !" tanyaku dengan muka polos yang membuka sedikit tirainya..


" Ah..sudah, ayo kembali " pinta Alex, lalu masuk kedalam kereta kuda. Yang di susul lainya, akhirnya kereta kuda kembali berjalan menuju istana Emas.


" Ada apa ayah!, aku dengar ada buyi pedang! " tanyaku dengan muka polos, menatap Alex yang juga sedang menatapku.


" Masalah kecil " jawab Alex dengan datar.


Aku hanya menggukkan kepalaku, lalu kembali menatap luar jendela.


" Siapa yang melakukan itu semua!, kalau di medang perang pakai cara gituan, tampa ada pertumpahan darah bisa langsung menang " tanya Viko dengan takjub dengan mata yang berbinar - binar.


" Yah.. Itu benar " Bira menggukkan kepalanya.


" Kalian berdua melihat orang yang mencurigakan! " tanya Alex dengan wajah serius.


" Tidak, aku fokos dengan musuhku " jawab Bira sambil mengingat kejadian tadi.


" Baiklah kita bahas nanti " ujar Alex lalu turun dari kereta kuda, yang teryata sudah sampai di gerbang istana.


Aku keluar, lalu kembali kediamanku bersama Naya yang sudah menungguku di gerbang istana dengan seyum manisnya yang membawakanku baju penghangat, yang memasangkannya di tubuhku.