
Pangeran pertama dia memiliki mata bewarna hitam dan pangeran kedua memiliki warna mata biru, sama seperti warna mataku... Nama pangeran pertama adalah Pangeran Dika Kirana Karin yang memiliki elemen Api dan juga angin sedangkan pangeran kedua, bernama Viko Kira Karin yang memiliki elemen Api dan juga bumi.
Meraka melihatku dengan tatapan aneh sekaligus bingung, mungkin meraka lupa kalau mereka memiliki adik, sama seperti kisah yang di ceritakan dalam buku kalau meraka tidak mengetahui siapa diriku, kalau dalam buku jiwa tubuh asli ini mungkin akan terasa tersinggung sekaligus sakit, tapi beda halnya dengan diriku, aku sama sekali tidak akan tersinggung dengan apa yang meraka katakan, malahan aku yang akan memutar balik cerita, dengan menyinggung meraka.
" Salam yang mulia kaisar " ucap Dika dan Viko berbarengan, dengan menunduk dan satu tangan di dapan dada.
" Hm "
" Duduk " perintah Alex pada Dika dan Viko, merekapun duduk di sebelahku, masih menatapku dengan penuh tanda tanya.
" Ada apa ayah memanggil kita kesini!" tanya Bira, sambil melirik jean.
Aku hanya acuh saja, ia memakan cemilan manis yang ada di depannya dengan tenang.
Bira dan Viko sontak syok saat melihatku, memakan- makanan tampa di suruh, aku yang melihatnya hanya memutar bola mata malas, lalu melanjutkan memakan - makananku, bagiku untuk apa di sediakan banyak makanan kalau hanya untuk di pajang lebih baik di makan saja.
"Eh... " Alex berdehem, memecahkan keheningan yang terjadi.
" Saya membawa kalian ke sini untuk mengatakan, jika gadis di samping kalian adalah adik kalian " ujar Alex dengan wajah datar.
Dika dan Viko. Melototi saat mendengar perkataan kaisar.
Viko menatap Jean dalam diam yang berada di sebelahnya, dan berpikir kembali saat - saat sebelum ia bertemu Jean, hanya mendengarnya dari para pelayan yang berbincang, bahkan informasi tentangnya sangatlah sedikit, tidak ada yang tahu bagaimana dia, dan apa yang terjadi selama ini tentangnya. Ia sebelumnya tidak menyukai Jean terakhir di dunia ini, tapi ia tidak membencinya. Hanya saja ia tidak terima jika ibunya harus meninggalkan ia, hanya demi gadis itu.
Entah mengapa ia jadi tertarik pada Jean, saat pertama kali ia bertemu dengannya di akademik , gadis itu terlihat sangat misterius bahkan menarik para perhatian, walaupun dia tidak menginginkan mendapat perhatian orang lain, tapi sikapnya yang begitu dewasa dan cerdas membuatnya sangat tertarik padanya sekaligus bangga pada adiknya, ia sempat meragukan adiknya dengan sikap seperti itu, ia sangka adiknya itu sudah sangatlah dewasa dengan karisma dan keanggunan yang di berikan seolah dia adalah penguasa di sana.
Aku yang melihat Viko yang terus menatapnya, menjadi risih.
" Kenapa " tanyaku memiringkan kepalanya dengan heran.
" Kau sangat imut " Viko mengeluarkan tangannya lalu mengacak - ngacak rambut ku dengan gemas dan tersenyum manis pada ku.
Aku menatap Viko dengan malas, lalu melanjutkan acara makannya.
" Sebentar lagi hari ulang tahunmu, apa kau ingin merayakannya! " tanya Alex, masih dengan wajah datarnya.
Aku melihat kaisar, sekilas lalu melambaikan tanganku dengan berkata " Setelah "
" Baik persiapkan dirimu, aku akan memberikan guru untukmu " ucap Alex padaku, dengan tatapan tajamnya, karena tidak menyukai jawaban Jean yang seperti itu dan juga tingkahnya.
"Hm"
Sedangkan Dika masih tetap diam, menatapku, tampa ada niatan berkata apapun. Sikapnya acuh padaku, bahkan tertera di wajahnya, ke tidak pedulian padaku, aku bodo amat dengannya, yang penting tampanya aku masih tetap hidup.