
Aku melanjutkan perjalananku, sekarang aku sudah benar- benar di pertengahan hutan.
Aku melihat hutan yang membentang luas tampa ada rumah ataupun manusia yang ada, hanya ada ke suyian.
Aku menatap tiga pohon yang berada di depanku dalam plot cerita pohon yang berada di tengah - tengah inilah tempat untuk menuju sekte, dengan tenang aku mengambil daun yang berada di atas pohon dan memasukkannya ke dalam lubang kecil itu, inilah kunci untuk menuju sekte X, benar - benar hebat, aku juga sangat mengagumi sekte ini saat aku membaca kisahnya. Apa lagi ketua saktenya. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.
" WUSHHH "
Tiba - tiba saja tubuhku , seakan melewati pembatas yang tak kesat mata , dan juga secara perlahan cahaya masuk ke dalam mataku, hal itu membuatku harus menutup mataku, saat ku membuka mataku aku sudah berada di gerbang dengan ukiran kono, terlihat sangat mewah namun elegan, dengan papan besar berada di tengah - tengahnya yang bertulisan " Sekte X "
" Akhirnya sampai juga "
Aku masuk kedalam gerbang itu yang sepertinya tidak ada yang menjaga, dengan satai aku masuk kedalam, sambil melihat kiri kananku, sepertinya masih sunyi... aku terus masuk kedalam hingga terlihatlah banyak orang yang berlalu lalang di sekitarku... Yang sepertinya tidak memedulikan ku.
Hingga tiba sebuah suara yang memanggilku.
" Hey... Gadis kecil... Dari mana asal mu!" tanya lelaki dari seberang sana, terlihatlah lelaki muda yang cukup tampan dengan rambut yang berwarna kuning, hidung mancung, mata coklat dan kulit kuning langsat.
" Aku ingin bertemu dengan ketua " ucapku dengan nada dingin, agar orang di depannya tidak meremehkan ku yang hanya seorang anak kecil.
" Apa kau orang suruhan! " tanya pemuda itu tampa memedulikan, keinginanku.
" Tidak " jawabku dengan ekspresi datar.
" Ikut aku " perintah pemuda itu, aku hanya mengangguk dan mengikutinya, dari belakang, hingga sampailah, di pintu yang cukup besar dari pada yang lainnya sepertinya ini ruangan ketua.
" Tuan ada yang ingin mencari mu " teriak pemuda itu sambil mengetuk pintu ruangan. Tidak berselang lama akhirnya ada jawaban dari dalam ruangan.
" Masuk "
" Dah sana kamu masuk, aku nggak ikutan " ujarnya lalu berlalu pergi dari hadapanku sambil melambaikan tangan.
Aku membuka pintu, lalu masuk kedalam, terlihatlah lelaki dengan pakaian Gitlo bewarna hitam dengan guri merah , ia sedang duduk dengan elegan sambil meminum tehnya.
Aku memandangi lelaki yang berada di depannku, dengan kagum.
Rupanya sangat menawan dan juga tampan , dengan redupnya cahaya seperti cahaya malam menambah keindahannya , dengan rambut hitam gelap dan dua bola mata bewarna merah yang sangat berkilau, seakan menyimpan beribu rahasia di dalamnya , dengan tubuh tegap dan tinggi dan postur ideal, ditambah dekorasi di belakangnya yang bergambar mawar hitam, itu membuatnya seperti karya seni alami.
Secara tidak sadar aku telah melihatkan ekspresi kagum ku dan terpana ku pada lelaki yang ada di depan.
" Aku tahu aku tampan "
Suara serak dari lelaki itu, membuatku sadar atas sikap konyol ku, dengan deheman aku mengembalikan ekspresi ku menjadi datar.
" Salam saya padamu tuan, perkenalkan nama saya Jeana Kirana Karin, saya dari kerajaan Emas " salam ku pada lelaki yang ada di depanku, dengan menunduk sedikit, setalah itu kembali ke posisi semula.