
Aku memegang lengan gadis itu dan Naya lalu pergi dari sana, Jean mengirim gadis itu ke panti asuhan yang terbaik, setelah itu ia kembali tepat di depan kereta kuda miliknya.
" Putri " ucap Naya refleks, dengan wajah terkejutnya.
" Masuk " pintaku pada Naya yang masih mematung.
" Eh... Baik "
Setelah Naya memasuki kereta kamipun kembali ke istana.
Setelah itu aku kembali ke kamar, lalu menidurkan diriku di atas ranjang.
" Putri " panggil Naya dengan wajah ragu.
" Ya " jawab ku santai, lalu mengeluarkan androidnya dari ruang jiwanya.
" Hm... Itu pedang yang putri curi itu.. Itukan pedang legendaris yang bernama pedang Qing Rot " ucap Naya dengan suara kecil, yang masih dapat di dengar Jean.
Aku melototi ku Naya saat, Naya berkata kalau ia mencuri pedang.
" Enak aja, aku nggak curi kok, itu namanya ke beruntungnya " ucap ku yang membantah artian kata dari Naya.
" Tapi... " ucap Naya dengan ekspresi bingung, berusaha mencerna kata dari Jean.
" Kau ini...lelet banget... Coba deh ingat , pas kita di sana, kita kan berada tepat di depan meraka, merakanya aja yang nggak peduli dengan ke datangan kita " ujar ku santai lalu mengambil bantal gulingnya.
" Hm... Iya juga, tapi... Putri, anda sangat beruntung, anda mendapatkan pedang Qing Rot. Putri tahu pedang itu dapat menghancurkan satu negara hanya dengan satu tembas saja. Pedang itu dulu punya Raja kegelapan, namun sejak kejadian 500 tahun lalu, saat dimana ada peperangan antara Raja kegelapan dan Raja Cahaya yang di lakukan dengan sangat sengit, sehingga membuat banyak nyawa dan wilayah hancur, raja kegelapan memakai pedang dan juga kekuatan fisiknya sedangkan raja cahaya memakai sihirnya, tapi menurutku itu sama sekali nggak adil masa sihir dengan pedang, yah... Pasti kalah raja kegelapan, tapi takjubnya.. raja kegelapan bisa bertahan bertarung hingga seminggu, setelah itu dia meninggal, karena tidak sanggup lagi menghindar dari serangan raja cahaya...tapi... apa yang terjadi selanjutnya saya tidak tahu.. Ceritanya sampai situ doang, kemana pergi pedangnya saya juga tidak tau.. "
" Hemm... " aku menumpang daguku dengan kedua tangan ku.
Saat aku baca di buku juga tidak terlalu di jelaskan tentang pedang ini, tapi intinya pedang ini sangatlah kuat.
" Putri, bolehkah saya melihat pedang itu lagi " pinta Naya dengan antusias dengan mata berbinar penuh harap.
Aku mengeluarkan pedang itu dari ruang jiwanya.
Wowwwww
Pedang ini sangat menakjubkan, saatku pegang, aura inmindasi pedang ini sangat mengerikan, tapi...ini cocok untukku.. Hehehe...
" Em... Putri, lebih baik anda simpan lagi deh.. " ucap Naya dengan wajah takutnya dan tubuh bergetarnya saat merasakan aura dari pedang itu, pedang itu sangat mengerikan dan sangat - sangat menakutkan.
" Tapi tadi kamu yang memintanya, bagaimana sih.. " ujar ku dengan iseng mendekatkan pedang itu pada Naya, sedangkan Naya menghindar agar pedang itu tidak menyentuhnya.
" Putri , jangan gitu dong " ucap Naya dengan wajah memelas.
" Hayo... " ucap ku tepat di depan Naya, ia menggunakan telepotasinya untuk tepat berada di depan Naya.
Terlihatlah wajah Naya yang sudah pucat, dengan tubuh bergetar, karena pedang itu tepat berada di depan dadanya.
" Pu-tr-i "
" HAHAHAHA "
Tawaku pecah saat melihat ekspresi takutnya Naya.
" Putri... " ujar Naya dengan marah dan kesal saat pedang itu sudah hilang dari pandangannya.
" Tok... Tok... " ( Suara ketukan pintu ).
Aku yang awalnya ingin lebih mengerjai Naya, jadi di urungkan saat mendengar ketukan pintu.
" Sana kamu buka " pinta ku lalu kembali tidur di ranjang.
Naya membuka pintu itu, terlihatlah sosok lelaki tua yang berbadan kekar, mata hitam, rambut hitam dia adalah kasim kaisar.