
" Salam, saya di utus kaisar untuk memanggil putri keuangannya " ujar kasim itu.
" Untuk apa? " tanyaku yang sudah berada di depan meraka.
" Saya tidak tau tuan putri " jawab kasim itu, sedikit menunduk untuk memberikan salam penghormatan dengan satu tangan di dada.
" Baiklah, tunjukan jalan " pintaku yang juga penasaran, di dalam plot cerita kaisar akan memanggilnya saat umurnya 5 tahun, setelah tadi pagi ia tidak pergi menemui kaisar karena Naya yang memilih baju sangat lama.
" Mari tuan putri " ucap Kasim itu memberikan jalan pada Jean.
" Putri " ucap Naya, yang terlihat khawatir akan kepergian jean.
" Tenang saja, anda taukan aku punya apa " ucap ku yang menenangkan Naya.
" Baiklah tuan putri " ujar Naya dengan pasrah.
Aku dan kasim itupun pergi ke ruangan kaisar.
( Ruangan Kaisar Alex )
Terlihatlah lelaki yang berparas tampan , dengan hidung mancung, putih bersih, mata indah, dan alis mata yang sangat tertata.
Namun dengan ekspresi datarnya duduk di singgasananya sedang mengerjakan tugasnya yang terdapat berbagai gulungan - gulungan yang berisi berbagai macam masalah dan politik.
Tidak lama kemudian pintu utama terbuka dan para penjaga memberitahu dengan berteriak.
" Tuan putri dan Kssim Hu datang "
" Selama yang mulia kaisar ini tuan putri " ucap kasim Hu memberikan hormat dengan tangan di dada.
" Hm... Kau boleh keluar " ucap Alex dengan dingin, menatap Jean dengan penuh intimidasi.
" Baik yang mulia " kasim Hu keluar dari ruangan dan tinggallah Jean dan Kaisar yang saling menatap dengan beribu pertanyaan di kepala kaisar sedangkan Jean hanya acuh saja.
" Apa kau tahu siapa saya? " tanya Alex dengan dingin, menatap Jean tajam.
" Selain itu " tanya Alex lagi yang masih tidak puas akan jawaban dari Jean.
" Anda manusia " jawab ku lagi, yang sebenarnya sudah tahu , jawaban apa yang di minta kaisar, tapi ia akan pura - pura tidak tahu aja, kalau kaisar itu ayahnya, ia akan memberikan beribu rasa sakit dalam hati kaisar, kalau dia masih menganggap dirinya anaknya kalau tidaknya, nggak bakal mempan.
" Selain itu "
" Anda menyuruh saya datang ke sini hanya untuk menanyakan siapa anda" ujar ku dengan penuh penekanan dan ekspresi datar di wajahnya, sehingga tidak bisa di tebak apa yang sedang di pikirannya.
" Tidak, saya mau tanya apa kau tahu siapa ayahmu !" tanya Alex lagi, dengan menatap Jean tajam berharap mendapatkan jawaban dari ekspresinya, namun ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari ekspresinya.
" Tidak, mungkin ayah saya sudah mati " jawab ku asal.
Alex geram akan jawaban yang di berikan Jean, wajahnya sudah memerah dengan rahang yang sudah mengeras, menatap jean penuh rasa ingin membunuh.
" Apa tidak ada yang memberi tahu anda tentang siapa ayahmu! " tanya Alex dengan dingin, menatapku dengan tangan mengepal.
" Saya saja yang tidak ingin tahu, mana mungkin ada orang tua yang tidak melihat pertumbuhan anaknya sendiri, jadi saya ogah banget mau tahu siapa ayah saya " Jawab ku dengan suara yang di buat jijik.
Jrep
Kata - kata yang di berikan Jean telah membuat luka di hatinya, hatinya sakit seakan telah di hantam beribu pisau yang menyayat hatinya.
Aku yang melihat ekspresi kaisar, sangatlah senang, akhirnya ia bisa memberikan pelajaran pada lelaki berengsek itu.
" Tanyakan pada para pelayanmu siapa ayahmu dan besok kau datang kemari lagi setelah menemui jawabannya " ujar Alex yang menatap Jean dengan tajam.
Aku yang melihat kaisar menahan amarah, hanya tersenyum kecil, setelah itu mengangguk.
" Baiklah kau boleh pergi "
" Salam "
Aku keluar dari ruangan kaisar dengan senyum bahagianya dan rasa kemenangan, akhirnya ia bisa membalas kata - kata pedas yang di berikan, tentunya dengan isyarat yang terdapat di dalam perbincangan tadi.