
" Wah... Kenyang " Naya mengelus perutnya.
Aku melihat sekelilingku, lalu mataku tertuju pada danau indah itu, aku menginginkan mencari kepiting, untuk para pelayan yang ada di istanaku.
" Naya, bagaimana kalau kita mencari kepiting untuk para pelayan yang ada di istana! " tanyaku dengan semangat.
" Baiklah kalau begitu, ayo kita memancing " ujar Naya dengan riang.
Aku dan Naya pergi ke arah danau itu, sebelum Naya melangkah lebih dekat ke danau, tiba - tiba saja pilar air naik dari permukan danau sampai menutupi pandangan.
Teryata di dalam pilar air itu terdapat kepiting raksasa dengan warna merah bercorak hitam setinggi 15 meter jika di hitung dengan kaki yang berada di dalam permukaan air.
Naya ternganga saat melihat keping raksasa itu.
" I-tu mo-nste-r " ucap Naya dengan kata terbata - batanya.
" Hehehe"
" Ada permainan baru " Aku tersenyum devil dengan aura membunuh.
Aku berlari ke arah kepiting itu yang sudah mengeluarkan Sychte ke arah ku dengan cepat aku menghindar dan berjalan di atas air, Syche itu terus menyerang ku dengan brutal, aku menghindar dari setiap serangan yang di berikan, hingga aku tepat berada di bawah perutnya , aku mengeluarkan pedang Qing Rot yang ku dapatkan kemarin, untuk menguji berapa hebatnya pedang ini. Aku membelah perut kepiting itu dengan kekuatan penuh dan dengan kecepatan angin.
" Sret... "
Akhirnya aku membelah kepiting itu menjadi dua bagian, lalu ku angkat kepiting itu dengan sihir ku ke daratan, agar tidak tenggelam.
Sedangkan Naya masih syok atas apa yang terjadi, Naya masih diam membeku di tempat, berusaha mencerna apa yang terjadi.
Aku menyadarkannya dengan tepukan di punggungnya, setelah itu Naya tersadar dari syok yang di alami.
Tapi Naya masih menatapku dengan tatapan kosong, walaupun aku telah menyadarkannya dari syok yang di alami.
Namun nihil Naya masih diam membeku menatapku dengan aneh dan tidak percaya. Mungkin itu hal yang tidak wajar untuk di lihat, manamungkin anak berumur 4 tahun sudah bisa melakukan hal seperti yang ku lakukan tadi itu pasti baginya di luar nalar.
Aku hanya bisa menghela nafas kasar, lalu membakar kepiting itu dengan sihir apiku, aku membakar kepiting itu, seperti bola api yang menyelimuti kepiting itu, aku menunggu kepiting itu hingga masak dengan menambahkan beberapa bumbu yang ku masukkan ke dalamnya.
Setelah mencium bau harum aku menghilangkan api itu dan terlihatlah kepiting itu yang bewarna merah ke orenan, aku masih membuat kepiting itu melayang di udara lalu aku membelah ke piting itu dengan pedang yang ku pakai untuk membunuh ke piting itu, setelah menjadi beberapa bagian aku membungkus kepiting itu dengan menambahkan saus ke dalam kepiting itu di setiap ke masan setelah itu aku menaroknya ke dalam ranjang.
" Naya " panggil ku lagi.
" Ah... Ia putri " ucap refleks Naya, menatapku dengan wajah bingung, takjub dan lainnya, bercampur menjadi satu.
" Ayo kembali, ini sudah siang " ajak ku, pada Naya.
Naya mengangguk, lalu membereskan semuanya, aku juga membantu Naya, membereskan peralatan yang telah kita bawa tadi.
" Putri anda benar - benar titisan malaikat " ujar takjub Naya dengan menatapku dengan penuh rasa memuja.
" Biasa saja "
Aku melangkahkan kakiku menjauh dari danau itu dan kembali ke Istana Merah.
" Putri tunggu " panggil Naya, lalu mengejar Jean.
" Lamban " ucapku dengan dingin.
" Huh.. Huh... "
Naya mengambil nafas rakus lalu menatapku kesal.
" Sudahlah, berikan kepiting itu pada semua orang yang ada di istana " pintaku pada Naya. Lalu aku melambaikan tangan dan pergi menjauh, menuju kamarku.