
"Putri saya dengar anda yang telah menghidupkan Pohon Kehidupan itu" ucap Naya, saat setelah tiba di kamar.
Aku hanya menghela nafas panjang, baru duduk sudah di ajukan pertanyaan.
"Aku sangat lelah.." ucapku, lalu menjatuhkan diriku di kasur dengan kedua tangan telentang.
" Mau saya pijatkan Putri " tanya Naya yang mendekati Jean, lalu duduk di samping ranjang.
"Nggak perlu, kamu bisa nggak siapkan aku pakaian istirahat, aku mau mandi setelah itu baru tidur " pintaku menatap Naya sesaat lalu memejamkan mataku.
" Baiklah putri " ucap Naya, lalu berdiri dari duduknya melangkah mendekati remari pakaian, mencarikan baju yang pas untuk Jean.
" Ini Putri " ucap Naya, lalu menarok pakaian itu di sebalah Jean.
" Baiklah kalau begitu, aku mau sendiri " pintaku, lalu bangun dari tidur, membawa pakaian yang telah di pilihkan Naya untukku, aku melangkahkan kakiku kekamar mandi.
" Baik putri " ucap Naya, dengan tubuh yang sedikit menunduk, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Usai mandi aku pergi keruang jiwaku untuk melatih sihirku, aku meletakkan bantal guling, lalu menyelimutinya tampaklah seperti orang sedang tertidur, aku juga mematikan lampu kamarku.
Aku ingin melatih kekuatan manaku, agar bisa menyeibangi kekuatan sihirku.
Jika mana yang di miliki sedikit maka itu juga akan mempengaruhi sihir yang bisa di gunakan.
Aku duduk dengan memyilangkan kedua kakiku, lalu aku memejamkan mataku, memfokoskan pikiranku untuk menyerap mana yang ada di sekitarku. Dengan cara membanyangkan angin yang bewarna putih masuk ke wadah yang kosong. Setelah satu jam aku berhasil memenuhi wadah itu menjadi penuh.
Dan sekarang aku akan melatih kekuatan sihirku, sebelum itu aku menggunakan sihir pembaikan agar sesuatu yang ku hancurkan kembali seperti semula, ini prinsipnya seperti ruang kaca.
Setelah itu aku melatih sihirku, aku melatih sihirku dengan membanyangkan sesuatu jika air aku membayangkan tanah kosong yang luas lalu aku mengisinya dengan air hingga penuh.
Aku melihat tangganku yang sudah membentuk bola air besar, aku kembali menyerapnya, hingga air itu hilang dari pandanganku.
Jika api juga sama, aku mebanyangkan bola api kecil berada di tanganku, lalu aku melemparnya ke arah pohon yang jauh dari ku, kira - kira sekitar 200 Meter. Aku melukannya seperti melakukan tolak peluru.
Bola itu menghanguskan lima pohon dengan berderetan.
" Sepertinya aku terlalu menggunakan tenaga " gumamku saat melihat lima pohon yang terbakar hangus dengan lobang di tengah - tengahnya.
Setelah merasa cukup, aku kembali kekamarku, lalu membaringkan tubuhku di kasur, pelahan aku menutup mataku..
Belum sempat aku menutup mataku secara penuh.. Tiba - tiba saja ada yang mengangetkanku dengan menyebut namaku.
" Jean " panggil Arfa dengan kedua tangan telipat di depan dada.
" Hah.. " aku langsung terduduk lalu menatap kesumber suara, telihatlah Arfa yang berdiri dengan wajah dingin dan kedua tangan di lipat di depan dada.
" Apa! " tanyaku dengan jutek, menatap Arfa dengan sebal.
" Siapa kau sebenarnya! " tanya Arfa yang menatap Jean dengan tajam, masih pada posisi awal.
Aku menatap Arfa sebentar, pertanyaan itu sungguh membuatku kaget. ' Apa tingkahku ini mencurigakan! ' tanya batinku dengan satu tangan di dagu.
" Apa yang kau pikirkan! " tanya Arfa yang menyikitkan kedua alisnya.
" Aneh saja, masa ada orang yang nanya siapa aku!, emang kamu pikir aku siapa! " tanyaku balik dengan wajah polos, sepolos-polosnya, dengan memiringkan kepalaku.
" Kau tidak seperti anak se usiamu " jawab Arfa yang duduk di sebelah Jean dengan satu kaki menumpu kaki satunya.
" Emang anak seusiaku seperti apa! " tanyaku balik, aku membalikan keadaan hingga bukan aku yang di interogasi namun malah sebaliknya.
" Cik.. Tidak jadi " Arfa pergi dari kamar Jean dengan kesal, ia tujuannya menginterogasi Jean malah ia yang kena.
Aku hanya menutup mulutnya dengan satu tangannya untuk menahan tawa, setelah itu kembali ketujuan awalnya... Yaitu tidur.