
Setelah satu jam keheningan tampa ada percakapan ataupun ada niatan membuka suara, akhirnya Arfa berdiri dari kursi lalu melangkah menuju arahku dengan gulungan kertas yang berada di tangannya.
" Ini " Arfa menyerahkan gurungan itu pada Jean, yang langsung di ambil Jean. Seterah itu Jean langsung membaca gulungan itu, selang beberapa menit, Jean menutup gulungan itu dan manatap Arfa.
" Baik, aku setuju " ujar Jean lalu terseyum kecil.
" Aku akan mengujimu, aku tidak menampung anak lemah " ujarnya masih dengan epersi datar.
" Baik, siapa takut, " ucap Jean dengan santai.
" Nih ambil "
Arfa melemparkan dua buah pil, lalu aku memgambilnya dengan ke dua tangan ku. Pil itu merupakan pil perubah ujud menjadi dewasa dan juga menghilangkan aura manusia.
" Kau akan pergi ke benua alpen dan masuk dalam wilayah ke rajaan ukirania, tempat itu adalah tempat tinggalnya makluk non - human selesaikan masalah yang terjadi di sana, bunuh makhluk LCR Conian dan para bandit dari ras manusia yang membawa wanita - wanita dari ras non - human, dan pil yang ku beri itu adalah pil perubah ujut menjadi dewasa dan juga pil yang akan menghilangkan bau manusia, misimu di sana ku beri waktu dua hari setelah itu kembali , selesai ataupun tidak di situ aku akan menentukan kau lulus atau tidak "
Aku menganguk dengan antusias, akhirnya aku bisa berpetualangan, lalu aku menelan pil itu tampa air.
" Huk... Huk... " ( Batuk)
Aku lupa jika aku hanyalah seorang anak kecil sekarang, tidak mungkin bagiku menelan dua pil sekaligus.
" Kau siap " tanya Arfa masih dengan nada dinginnya tampa memedulikan batukku.
" Eh.... Tunggu dulu " ujarku dengan kedua tangan telentang ke depan, aku tidak terima pergi tampa melihat wajah yang ku miliki sekarang.
" Ada apa! " tanya Arfa dengan menyikitkan alisnya.
" Ada kaca " tanya Jean yang melihat kiri kanannya.
Tiba - tiba saja Arfa mengeluarkan kaca dari kantung jiwanya, lalu menghadapkannya padaku.
Aku melihat pantulan wajahku dari cermin, terlihat cantik dan imut, waw... Ku pikir aku hanya menjadi orang biasa saja teryata pemikiranku salah, dan juga pakaian yang ku kenakan masih sama.
Arfa membuat lingkaran hitam, akupun pergi ke lingkaran hitam itu.
Seketika aku tiba di lembah pegunungan yang bewarna hijau.
Saatku ingin melangkah tiba - tiba saja aku mendengar suara rauman.
" Goar.... "
Aku melihat ke arah belakangku, tiba - tiba ada kerbau hutan yang berlari ke arahku , aku langsung menghindar dari tanduk yang mengarah padaku.
Kerbau itu sangat besar dengan mata yang merah dan juga tanduk yang runcing.
Kerbau itu terus menyerangku dan aku hanya menghindar, karena malas untuk berlama - lama di lembah ini, aku langsung membunuhnya.
Aku kembali mengambil pistolku lalu mengarahkan senapanku tepat di kepala kerbau itu.
" Bummm " kerbau itu terjatuh dan tegeletak tak sadarkan diri.
Aku langsung mengeluarkan mobilku, karena di sini sangatlah terik, kulitku terasa terbakar, hingga aku memutuskan untuk menggunakan mobil agar melindungi kulitku.
Dengan bersenandung kecil tentunya.
"Di sini serang di sana serang di mana - mana aku di serang. "
Aku bersenandung kecil sambil mengendarai mobilku menuju desa itu. Sambil mengingat kemanapun ia pergi, pasti ada hewan - hewan yang berlari ke arahnya lalu menyerangnya.
Aku sudah mengendarai mobilku selama satu jam, hingga mataku tertuju pada desa yang sudah hancur, namun masih di tinggali penduduk.
Aku langsung mengendarai mobilku dengan cepat menuju desa itu lalu berhenti tepat di gerbang desa itu.
Aku turun dari mobil, lalu memasukkan kembali mobilku ke dalam ruang jiwa, aku menatap sekelilingku dan mengamati rumah - rumah penduduk yang tidak layak pakai lagi, namun masih di tempatkan oleh mereka, ia juga melihat semua orang yang sangat kurus ku pikir jika ada angin kencang tubuh meraka bisa ikut terbang berasama angin.