The Reincarnation Of A Genius Woman

The Reincarnation Of A Genius Woman
Bab 4 (8)



Aku kembali ke akademik, aku berkeliling akademik hanya untuk menemukan Arfa,  namun sampai sekarang aku belum melihat batang hidungnya.


Aku tidak sengaja meoleh ke samping,  dan tampaklah lelaki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam yang membelakangiku,  aku yang penasaran tampa pikir panjang langsung menuju tempat sosok itu dan teryata... Dia adalah Arfa.


" Arfa " pangilku dengan melambaikan tangan.


Arfa menoleh ke arah suara yang teryata itu adalah Jean.


" Kau sudah pulang " ucap Arfa yang tidak percanya.


" Ya... Hebat aku kan " ucapku dengan bangga.


" Oh iya,  Btw kamu lagi ngapain nih!" tanyaku pada Arfa , saat melihat tingkah anehnya Arfa,  dia seperti sedang membentuk formasi.


" Aku mau pergi kehutan Sirkui, jadi aku membuat pertahanan "


" Hah,  ngapain !,  em... Boleh nggak aku ikut " tanyaku pada Arfa.


" Hm..Baik... Ini sebagai tambahan misimu,  karana misi yang ku Berikan telah selesai sebelum watunya,  dan kita akan melakukan misi kali ini hanya satu hari " ucap Arfa dengan datar.


" Baik " ucapku dengan antusias,  akhirnya ada lagi misi yang menantang. Namun sedikit kesal dalam hati karana tidak ada ucapan selamat atau pujian yang di lontarkan dari mulut Arfa,  hanya epresi datar yang di berikan,  ingin sekali ku hancurkan wajah itu. Namun niatku,  ku urungkan.


Sudah lebih dari dua jam kami pergi dengan mobilku,  yang awal saat mengeluarkan mobil ini , banyak pertanyaan yang di lontarkan Arfa. Arfa seperti ibu - ibu kompleks,  aku membuang dalam - dalam fikiran yang mengatakan Arfa misterius, ternyata dia sangatlah bawel,  Arfa selalu bertanya tentang mobil ini,  namun aku hanya diam saja tampa ada niatan berbicara dan juga membuat alasan jika sedang mengendarai mobil tidak boleh berbicara.


Sepanjang perjalanan yang kita lalui tidak ada kejadian ataupun sesuatu yang membahayakan nyawa. Alam begitu damai, seolah meraka menyambutnya di alam ini,  namun bagiku itu terasa aneh,  dari kemarin,  kemanapun aku pergi aku selalu di serang nah... sekarang damai.


Mobilku juga cukup bergoyang - goyang,  karena batu , ranting dan juga semak - semak yang di laluinya. Membuat mobil ini tidak terlalu nyaman untuk di tenpati,  lain halnya dengan orang yang di sebelahnya yang masih santai,  seolah goncangan ini tidak ada artinya baginya.


" Hey,  kamu nggak merasa aneh dengan hutan ini! " tanyaku pada Arfa yang masih duduk dengan tenang.


" Yah... Seperti yang kau pikirkan " jawab Arfa cuek.


Aku memiliki perasaan yang tidak enak sejak aku datang kehutan ini,  tempat ini suasananya sangatlah senyap,  tidak ada hewan yang datang kearahnya dengan niatan membutuh.


Entahlah... Perasaanku tidak enak sejak aku memasuki hutan ini, apa lagi saat aku terus melakulan perjalanan . Aku juga merasakan aura tanah yang juga aneh, walaupun aku tidak memijakkan kakiku di tanah, namun aku bisa merasakannya.


" Apa hutan ini tidak ada penghuninya! " tanyaku pada Arfa, ia merasa aneh, sejak ia memasuki hutan, ia bahkan tidak mendapatkan marabahanya sekecil semutpun, biasanya hutan itu adalah tempat paling berbahaya, tapi...ini, ia bahkan tidak menemukan satu hewanpun.


" Sejak kapan hutan tampa penghuni " ucap Arfa yang masih cuek, ia melihat kedepan dan kiri, tapi tidak ada hewan sedikitpun, bahkan ia tidak bisa berteleportasi langsung ke tujuan, hutan ini seolah miliki sihir.


" Btw, kita kehutan ini mau ngapain sih! " tanya Jean, yang menyingitkan alisnya, ia tadi lupa menanyakan misi apa yang akan di lakukan, saking bahagianya karana ada misi baru yang akan menanti.


" Memusnahkan bunga penyerap "


Aku hanya mengaguk, iya juga tahu jika bunga penyerap itu, sering kali menyerap energi manusia dan juga memakan manusia, yang berada di sekitarnya. Itu cukup berbahaya sih, karena menyerap energi, kalau tidak berhati - hati mungkin akan dalam masalah.


Malam semakin sunyi, namun tidak terdengar suara auman binatang, hanya ada ke sunyian. Udara semakin dingin seiring berjalannya waktu, hanyalah penghangat ruangan yang bisa menghangatkan orang yang berada dalam mobil.


" Sampai " ucap Arfa datar.


" Hah.. Aku mengaruk kepalaku yang tidak gatal, lihatlah... di depanya sekarang hanya ada pepohonan, tampa ada bunga itu.


Arfa turun dari mobil, akupun mengikutinya setelah menaruh kembali mobilku dalam ruang jiwaku. Aku mengikuti kemana Arfa pergi dengan diam, tanpa banyak bicara, walaupun banyak pertanyaan di dalam pikiranku.


" Srek... Srek... "


Mataku mengejap beberapa kali, dan teligaku di pertajam. Sebuah tangan hangat memenggag lengannya dan baru aku sadari teryata itu adalah Arfa.


" Mundur " teriak Arfa, namun aku sudah telanjur menginjakkan kakiku di lumut hijau yang ada di depannya, satu kakinya masuk kedalam lumut hijau itu, aku berusaha melepaskan diri namun nihil. Badanku seiring waktu mulai melemah, sepertinya bunga itu sudah mulai menyerapku, teryata bunga itu bisa menyerap saat kaki atau bagian tubuh seseorang terperangkap di lumut ini.


Aku bisa melihat Bunga itu sangatlah besar, lebih besar dari pada aku, bunga itu hanya berbentuk kuncup yang belum mekar, namun terbuka dan tertutup, aku tidak pernah melihat bunga seperti ini. Oh... Dunia yang ku tempati, betapa tidak masuk akalnya dunia ini.


Arfa tidak ada lagi di belakangnya ia tidak tahu dimana arfa sekarang, mataku secara pelahan tertutup, badanku juga sudah sangat lemah, tidak lagi sanggup menahan tubuhku, namun sebelum aku jatuh ke tanah, ada tangan yang menangkapku, namun aku tidak tahu siapa dia, mungkin itu Arfa.


Arfa mengambil ke sempatan saat bunga itu lagi fokos menyerap, ia secara diam - diam menyerang bunga itu dari belakang , ia memotong batang bunga itu, dengan mudah ia melenyapkan bunga itu, yang sudah terbelah menjadi dua, lalu dengan cepat aku menangkap tubuh Jean, dan pergi dari hutan itu, yang teryata sihir teleportasi tidak bisa di gunakan karana bunga ini, bunga itu menyerap kekuatan tanah, yang membuatnya tidak bisa mengunakan sihir teleportasi, makanya sejak awal, tanah hutan ini sangatlah aneh.