
Adam menatap Smith dengan tatapan tak biasa. Smith, siapa pun tahu bahwa Smith adalah anggota paling dingin di kelompok ini, terutama pada wanita.
Namun hari ini, seorang Smith yang terkenal dingin pada wanita, kini menunjukkan effortnya pada kacung milik preman sekolah. Oleh sebab itu, Adam merasa terusik.
Meski Rea sama sekali tidak menanggapi, tetap saja Adam tidak suka mainannya diusik, biar pun itu sahabatnya sekali pun.
"Adam, kenapa tidak kau bawa Rea saja nanti malam? Kalau dilihat-lihat, gadis ini lumayan juga, meski sebenarnya dia berasal dari keluarga menengah." ucap Nicole pada Adam.
Adam menyipitkan pandangannya, kemudian melihat ke arah Rea yang menatap bingung padanya juga.
"Jangan macam-macam Adam! Aku pikir Rea bukan gadis semacam itu!" sanggah Smith, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran teman-temannya.
Adam mengangkat alisnya, menatap rendah gadis lugu itu. "Why not? Siapa yang tahu, kalau sebenarnya gadis ini adalah gadis liar yang bersembunyi di balik wajah polosnya?" kata Adam.
"Adam!" Smith menyela.
"Diam Smith, jangan ikut campur urusanku. Dia milikku!" ucap Adam tegas pada Smith.
Smith terdiam, pria itu menatap tajam Nicole yang juga senang akan keputusan Adam.
"Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa!"
***
"Masuk!" sebuah mobil sport berwarna merah merona, tiba-tiba berhenti di hadapan Rea. Adam ada di dalam sana, menatapnya dingin.
Rea menggeleng, "Aku mau pulang. Aku harus membantu ibuku." tolak Rea halus.
"Dalam hitungan ketiga, jika kau belum masuk, kupastikan usaha orang tuamu hancur hari ini juga!" ancam Adam.
Rea mengigit bibirnya, dengan keterpaksaan, gadis itu masuk ke dalam mobil Adam.
"Pakai seat beltnya!"
Rea yang belum pernah menaiki mobil mewah sebelumnya, kebingungan, maniknya dengan polos menatap Adam.
Adam berdecak, "Dasar kampungan!" umpatnya. Dengan setengah hati, pria itu memasang seat belt gadis itu.
"Kenapa kau sangat miskin?!" setelah selesai, Adam melajukan mobilnya.
Rea tidak sakit hati mendengarnya, ucapan Adam yang kasar sudah menjadi hal biasa baginya.
"Hei jawab aku! Kenapa kau sangat miskin?!" sentak Adam, karena Rea mengabaikannya.
"Kau ingin aku jawab apa?" ucap Rea.
Adam menatap gadis itu sengit, kemudian kembali fokus ke jalan. Adam bisa melihat kesedihan dalam mata polos nan lugu itu.
Rea tidak tahu kemana Adam membawanya. Tetapi ketika mobil memasuki sebuah gerbang rumah megah bak istana, Rea tidak dapat menyembunyikan kekagumannya.
Sebuah gedung putih raksasa, yang dikelilingi oleh taman asri, serta hamparan bunga-bunga yang luas mengelilingi rumah itu.
Karena terlalu menikmati pemandangan rumah itu, Rea tidak sadar, Adam telah keluar dari mobil.
"Hei! Kau ingin di sana selamanya?" Adam membuka pintu mobil, menyadarkan Rea dari rasa kagumnya.
Rea segera membuka seat beltnya, tetapi dia kesulitan. Membuat Adam kembali berdecak kesal.
"Membuka ini saja tidak bisa. Dasar kampungan!" gerutunya sambil membuka sabuk pengaman Rea.
Rea mengikuti langkah Adam yang panjang memasuki rumah megah itu. Sesuai dengan ekspektasi Rea, dari luar saja rumah itu sudah memikat hatinya, apalagi di dalamnya. Rea merasa seperti berada di surga.
"Adam, kau sudah pulang?"
langkah Adam terhenti, begitu pun Rea ketika seorang wanita muncul dari sebuah ruangan. Seorang wanita paruh baya berpenampilan glamor dan mewah, dengan segala aksesoris mahal yang tidak terhitung harganya.
"Mommy."
Rea menundukkan kepalanya ketika wanita cantik itu menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Wanita itu menilai Rea.
"Siapa gadis ini?"