The Mistress

The Mistress
Tiada Hentinya Mengganggu



Rea menjadi pusat perhatian semua orang, begitu juga dengan Ayah dan Ibunya yang segera berlari dari dapur, ketika melihat putri mereka membuat kekacauan.


"Rea, kau tidak apa-apa Nak?" John membantu Rea berdiri, sementara Ibunya membereskan makanan yang berhamburan di bawah meja.


"Aku tidak apa-apa Ayah. Aku hanya kurang hati-hati saja." ucap Rea. Kemudian langsung menundukkan kepalanya pada Adam. "Tuan, maafkan saya. Saya ceroboh. Saya akan mengganti makanan Anda segera, dan Anda tidak perlu membayarnya." cecar Rea, dengan perasaan penuh ketakutan.


Rea takut, Adam melakukan sesuatu yang buruk pada orang tuanya.


Adam tersenyum, namun Rea menganggap senyuman itu adalah senyuman paling mengerikan.


"Tidak perlu. Aku tidak berselera makan lagi." Adam bangkit berdiri, meletakkan kedua tangannya di kantung celananya. "Tapi kalian pasti akan membayar ini." ucap Adam sebelum pergi begitu saja meninggalkan kekacauan itu.


Ayah dan Ibu Rea kebingungan akan ucapan Adam, sementara Rea yang paham maksud dari ucapan itu, hanya bisa diam terpaku. Tidak cukupkah Adam menindasnya di sekolah? Haruskah kedua orang tuanya mengalami apa yang dia rasakan?


***


"Hei..." Rea mengernyitkan keningnya, ketika merasakan seseorang menendang kursinya. Gadis yang tadinya menelungkupkan wajahnya di atas meja, menegakkan tubuhnya. Sosok bertubuh jangkung menjulang tinggi di depannya.


"Mana tugasku?" suara berat Adam, menyapa Rea yang memiliki kantung mata di wajahnya.


Rea mengambil sebuah buku dari laci mejanya dan memberikannya pada Adam. Adam tersenyum, menepuk dua kali puncak kepala gadis itu, "Kerja bagus."


Setelah Adam pergi, Rea kembali menenggelamkan wajahnya di atas meja. Rea sangat mengantuk, karena tadi malam dia harus mengerjakan tugasnya dan milik Adam dalam waktu bersamaan. Alhasil jam tidurnya terganggu.


Sudah beberapa kali Rea seperti ini, mengantuk dan tidak bersemangat di sekolah karena harus membuat salinan tugas Adam


"Rea...." bukan Adam, melainkan sebuah suara lembut kembali menjemput Rea dari tidurnya.


"Wil, ada apa?" jawabnya dengan wajah lesu.


Wil tersenyum, lalu memberikan sebuah kotak bekal, "Dari Mamiku. Mami titip salam untukmu. Mami terus menanyakanmu karena kau tidak pernah lagi ikut kerja kelompok."


Wil mengangguk, "Aku mengerti. Kalau begitu aku pergi dulu."


Rea memang sudah dekat dengan keluarga William, terutama Ibunya. Dalam seminggu, Rea dan teman-temannya selalu belajar bersama di rumah Wil, bergantian di rumah teman yang lain.


Namun, akhir-akhir ini, Rea tak lagi ikut belajar bersama. Semua itu karena Adam, yang tidak puas menyiksanya di sekolah, tetapi juga di kehidupan luar sekolah.


Adam mengawasinya, dan membuat Rea merasa sesak setiap saat.


"Sepertinya senang sekali mendapat hadiah dari calon mertua."


Rea hampir menjatuhkan kotak bekalnya, saat suara Adam tiba-tiba menyapa.


Adam tersenyum sinis, membuat Rea gemetaran.


"Buka!" perintahnya.


Rea ragu, tetapi saat tatapan Adam menajam, mau tak mau gadis itu akhirnya membuka bekal pemberian William.


Adam mengangkat alisnya, sangat menyukai permainan ini.


"Makan!"


Rea mengerutkan keningnya, "Aku bilang makan!"


Sekali lagi, dengan penuh keterpaksaan, Rea menyendokkan makanan itu. Rea hampir memasukkan makanan itu ke mulutnya, tetapi gagal ketika sendoknya melayang dan terjatuh ke lantai.


Rea terpaku, melihat Adam yang terlihat puas melihatnya menderita.


"Bagaimana rasanya? Enak bukan?"